Monday, May 25, 2009

Mengapa Tuhan Membisu?

‘Lalu kataNya kepada mereka: “Dimanakah kepercayaanmu?” Maka takutlah mereka dan heran, lalu berkata seorang kepada yang lain: „Siapa gerangan orang ini, sehingga Ia memberi perintah kepada angin dan air dan mereka taat kepadaNya?“’
(Lukas 8:25)


Apakah kita pernah merasa, bahwa Tuhan seolah membisu? Kita sudah berdoa berulang-ulang kepadaNya, kita sudah bersujud berkali-kali, namun tetap saja Ia diam seribu basa. Kita sudah berpuasa, bahkan bernazar, dan sudah dalam posisi yang sangat terjepit, namun Ia seolah diam seribu basa. Betapa enaknya Daud, yang bisa melihat tangan malaikat langsung turun dari langit dan menulis di dinding? Betapa enaknya para Rasul, yang bisa melihat lidah-lidah api sebagai jawaban doa mereka? Mengapa Tuhan seolah selalu diam seribu basa?

Jika kita memperhatikan dalam Alkitab, kapan kira-kira Tuhan mulai diam? Ya - sejak Tuhan Yesus lahir di bumi. Ketika Tuhan Yesus dicobai oleh iblis (Lukas 4:1-13), apakah cobaan terberat Tuhan Yesus? Memanggil BapaNya. Inilah yang berkali-kali dicoba oleh iblis, berusaha membujuk Tuhan Yesus untuk memanggil BapaNya, membuka tingkap-tingkap langit dan membiarkan BapaNya bicara. Dan yang paling penting: membiarkan seluruh isi dunia yang sesat ini melihat sendiri, betapa Tuhan Yesus mampu membuat BapaNya bicara! Tapi, tidak! Tuhan Yesus dengan gagah, dengan tegas, menolak semua permintaan iblis. Tidak sekalipun Ia memanggil BapaNya, memintaNya turun atau mengeluarkan suara geledekNya dari langit. Ia hanya teguh, diam, dan tidak bergeming di tengah cobaan iblis.

Demikian pula pada saat Ia disalibkan. Adalah absurd, bahwa dari semua dewa-dewa dan tuhan-tuhan di dalam berbagai budaya, Tuhan Yesus kita-lah yang paling lemah. Biasanya dewa dipuja karena kekuatannya, kebesarannya, kemegahannya. Namun, hanya Tuhan Yesus yang dipuja karena penderitaanNya, penyalibanNya, dan kelemahanNya. Seolah-olah, Ia tidak berdaya, di hadapan Ahli Taurat, Pontius Pilatus, dan para prajurit Romawi yang keji. Ia - yang katanya Anak Allah - malah babak belur, berdarah-darah, diludahi, dan diinjak-injak oleh manusia yang paling hina. Mana suara Allah? Mana tangan malaikatNya yang turun dari langit? Mengapa Allah diam seribu basa? Dan ingat, bahwa tidak sekalipun Tuhan Yesus mengeluh. Hanya satu kalimat Ia ucapkan: “Eli, Eli, lama Sabakhtani?”, sebelum Ia wafat di kayu salib. Bukan kalimat minta tolong, melainkan sebuah pertanyaan retoris: pernyataan bahwa Allah memang benar-benar sudah meninggalkan Tuhan Yesus. Bahwa Ia, kini telah menjadi ia - manusia biasa. TugasNya, telah selesai.

Kehidupan Tuhan Yesus adalah bukti nyata betapa Ia tidak pernah meminta campur tangan dari BapaNya. Ia tidak berseru-seru terus menerus, dan BapaNya menjawab dari Surga. Ia terus bekerja, menyembuhkan yang sakit, menolong yang lemah, dengan mukjijatNya, tapi tanpa keterlibatan Allah secara pribadi. Apakah benar bahwa Allah selalu membisu? Apakah benar bahwa Allah memang harus membisu?

Cobalah kita melihat kehidupan kita. Jaman sekarang ini, banyak sekali orang berbicara. Perdebatan politik dan selebritis yang banyak di televisi hanyalah pertukaran kata tanpa pemikiran yang mendalam. Kata dibalas kata, dibalas dengan kata-kata lagi. Alhasil, yang terjadi adalah sebuah kesemrawutan - tanpa sedetikpun kerja terjadi. Semuanya hanya bicara, tapi tidak bergerak. Berkata-kata, tapi tidak bekerja.

Ketika saya merenungkan hal ini, dan melakukan introspeksi terhadap kehidupan saya, saya terkejut. Ternyata, Allah memang tidak bicara, tapi Ia bekerja. Ia mengatur langkah hidup saya, meniti saya satu-persatu. Bahkan bukan hanya saya, tapi seluruh keluarga, dan teman-teman saya, Ia atur sedemikian rupa. Ketika saya lemah, selalu ada yang mendampingi saya. Ketika saya kuat, terlalu kuat, ia menyimpan satu titik lemah, yang kemudian terkuak, sehingga saya terjatuh, dan tidak tenggelam dalam kesombongan. Memang, keinginan saya tidak terpenuhi 100%. Tapi, 100% semuanya ditangani, dengan cara yang lebih indah, yang bahkan tidak terbayangkan oleh saya.

Demikian pula Tuhan Yesus - bukankah akhir ceritanya begitu indah? Dari penderitaan dan wafatNya, dari membisunya Allah pada penderitaanNya, datanglah satu konsep yang jadi penyelamat dunia yang akan hancur waktu itu: kasih. Pilar kasih inilah yang sampai sekarang tidak bisa ditentang bahkan oleh ilmuwan tercanggih sekalipun. Betapa peraturan dan hukuman kini bertiwikrama menjadi kasih, sebuah kekuatan indah yang berwajah cantik dan berjiwa rela mati demi orang lain. Betapa wafat dan kebangkitan Yesus, melahirkan gelombang orang-orang yang penuh kasih, yang merawat dunia yang sakit, dan membawa manusia menuju peradaban baru.

Ya, mengapa Tuhan membisu? Karena Ia tidak sempat bicara. Karena Ia sibuk bekerja, menyelamatkan kita!

24 May 2009
-Harnaz-