Embun pagi adalah kristalisasi hari. Uap, asap, debu, kabut, yang terakumulasi selama sehari penuh, akan mengalami transformasi akibat kondensasi dan sublimasi, menjadi embun pagi yang murni, suci, bersih. Demikian pula Firman Tuhan, sering tersamar dalam kotornya hari, namun selalu muncul kembali dalam bentuk murni di pagi hari. Asalkan kita rela luangkan waktu, bersihkan hati, biarkan Roh itu bekerja.
Monday, April 26, 2010
Dan Pastor Pun Membasuh Kaki Umatnya
Yohanes 13:14 - 15
Bagi umat Katolik, pada Misa Kamis Putih sebelum Paskah, Pastor biasanya melakukan ritual membasuh kaki jemaatnya. Hal ini dilakukan untuk memperingati tindakan Tuhan Yesus saat sebelum mengadakan perjamuan terakhir, dimana tertulis dalam Yohanes 13, bahwa Ia membasuh kaki para muridNya. Biasanya, dua atau tiga orang dipilih dari jemaat, untuk kemudian disiapkan duduk di tengah koridor. Lalu, sebelum pembagian Komuni, sang Pastor akan melepaskan jubah kepastorannya, mengenakan kain putih, lalu membasuh kaki jemaat yang dipilih tersebut.
Namun, pada suatu hari, ada seorang Pastor yang merasa gundah dengan ritual tersebut. Ia merasa, bahwa tatacara pelaksanaan ritual tersebut sudah tidak sesuai dengan makna dari pembasuhan kaki itu sendiri. Oleh karena itu, sebelum Misa Kamis Putih, ia berkata pada para sukarelawan gereja yang biasanya mengatur jemaat mana yang akan dibasuh kakinya, untuk tidak memilih siapapun tahun itu, bahkan tidak perlu menyiapkan baki dan kain. “Lalu bagaimana Pastor, apakah Pastor akan memilih seseorang langsung dari mimbar? Nanti terlihat tidak rapi lho Pastor, apalagi kalau baki dan lapnya tidak siap. Jangan-jangan umat akan merasa persiapan kita kurang matang…” kata Ibu Agnes yang menjadi sukarelawan dengan kuatir. Sang Pastor hanya menjawab dengan tersenyum.
Kemudian, Liturgi Misa pun berjalan seperti biasa. Namun, tidak ada kursi khusus di tengah koridor, tidak ada baki dan kain, walaupun ritual pencucian kaki jemaat masih ada di liturgi. Ibu Agnes, dan beberapa sukarelawan lain, nampak makin gelisah ketika liturgi makin mendekat ke upacara pembasuhan kaki. Bagaimana ini? Sama sekali tidak ada persiapan, pikir mereka. Namun, suara sang Pastor yang tetap tegas dan tenang, menunjukkan bahwa ia sudah punya rencana. Apakah Pastor akan meniadakan ritual ini? Apakah ia merasa ritual ini sudah tidak cocok dengan kehidupan jaman sekarang? Atau, jangan-jangan Sang Pastor merasa terlalu merendahkan diri, jika ia membasuh kaki jemaatnya? Mungkin Pastor merasa, tidak semestinya seorang Pastor yang adalah gembala jemaat, justru membungkuk-bungkuk berlutut di bawah kaki jemaatnya?
Kemudian, tibalah saat ritual pembasuhan kaki jemaat. Ibu Agnes makin panik, sudah mau pingsan rasanya. Suasana sunyi senyap, musik pun berhenti, menunggu apa yang akan dilakukan oleh Pastor. Namun, Sang Pastor tetap tenang. Ia menanggalkan jubah luarnya, lalu ia melepaskan jubah putihnya, sehingga Sang Pastor hanya berkemeja biasa. Ia lalu mengambil nampan perak yang ada di Altar, yang biasanya digunakan untuk meletakkan kain hosti. Sang Pastor berkata dengan tenang “Para jemaat, mohon menunggu sebentar ya”. Iapun turun dari mimbar, dan melenggang keluar melalui pintu gereja, dengan membawa nampan perak di tangan kiri dan jubah putihnya di tangan kanan. Para jemaat mulai gelisah, Bu Agnes merasakan napasnya semakin sesak. Ruang gereja dipenuhi bisik-bisik yang menimbulkan bunyi seperti menggumam, menggema di relung-relung atap gereja yang tinggi dan megah itu.
Tak lama kemudian, Sang Pastor kembali masuk. Ia tidak sendiri. Ia menggandeng tangan seseorang yang nampak akrab di mata semua jemaat. Siapa dia? Ya, dia adalah Pak Saleh, pengemis yang setiap minggu mangkal di pagar gereja. Ia sudah tua renta, mungkin 70-an tahun umurnya, konon sudah tidak punya keluarga dan tidak punya rumah lagi. Pakaiannya kumal, badannya hitam legam karena tidak pernah mandi. Rambutnya yang putih dibiarkan acak-acakan, kulitnya wajahnya yang keriput nampak membuat penampilannya semakin menyedihkan. Ada apa gerangan, mengapa Pak Saleh kok dibawa masuk gereja?
“Ayo, duduk Pak. Duduk, nggak apa-apa” kata Sang Pastor sambil tersenyum. Pak Saleh nampak grogi, tidak tahu harus berbuat apa, tiba-tiba bisa masuk ke gereja yang megah ini. Apalagi, dipersilakan duduk oleh Pastor yang menyediakan sebuah kursis persis di depan Altar, di depan bapak-bapak dan ibu-ibu yang ganteng, cantik, dan wangi. Pak Saleh merasa rikuh, merasa ia begitu kotor, begitu hina, sebenarnya tidak layak untuk masuk apalagi duduk di depan seperti ini. “Anu, Pastor, saya….” kata Pak Saleh, namun senyum Sang Pastor, yang nampak ramah dengan kemeja coklatnya, meluluhkan hatinya. Iapun duduk.
Sang Pastor meminta seorang diaken untuk mengisi baki perak tersebut dengan air. Ia meletakkannya di samping kaki Pak Saleh. Pak Saleh menggunakan sebuah sepatu kulit tua yang sudah kumal, bolong di sana-sini, dan sudah terbuka sol bagian depannya. Tanpa kaus kaki, karena ia sudah tidak mampu membelinya. “Mohon ijin ya Pak Saleh…” kata Pastor lembut, diikuti oleh anggukan Pak Saleh. Pastor lalu membuka sepatu Pak Saleh, menampilkan telapak kakinya yang kotor, kapalan, bahkan ada luka borok di tumitnya. Langsung tercium bau busuk, sampai-sampai beberapa jemaat yang duduk di depan mulai menutup hidung. “Waduh, Pak Saleh jarang mandi ya Pak…” kata Pastor, disambut senyum Pak Saleh dan tawa jemaat, seolah-olah mencairkan suasana yang sedari tadi sunyi senyap.
Dengan telaten, Pastor mulai menggunakan nampak perak sebagai tempat air, menggunakan jubah putihnya sebagai kain, dan membasuh kaki Pak Saleh. Dicelupkannya kaki yang borokan itu ke dalam nampak perak tersebut, lalu disekanya pelan-pelan dengan kain jubahnya. Sela-sela jari kaki yang berdaki membuat kain yang tadinya putih langsung ternoda hitam. Lalu, diaken sudah menyiapkan sabun Lux, yang digunakan Pastor untuk menyabuni kaki Pak Saleh. Ujung-ujung kukunya, yang menebarkan bau busuk yang amat sangat, dibersihkannya satu-persatu dengan ujung kain jubahnya, sampai bersih. Dengan sabun, ia membersihkan telapak kaki serta tumit yang berborok itu. Digosoknya kaki Pak Saleh perlahan-lahan, sampai kulitnya menjadi bersih. Sampai terlihat bedanya antara telapak kaki dengan betisnya, yang masih hitam legam.
Setelah selesai, diaken membantu Pastor mengambil jubah dan nampan tadi, sekaligus mengambilkan sepasang sendal jepit untuk Pak Saleh. “Pak Saleh, sudah makan belum?” kata Pastor. “Belum Pastor, nggak ada uang…” jawabnya lirih. “Pak Koster baru saja masak sayur asem dan tempe goreng di pastoran. Pak Saleh mandi saja di pastoran, lalu makan dulu ya? Ditemani sama Pak Koster. Hari ini kan bukan hari Minggu, anggap saja Pak Saleh cuti dulu sehari…” kata Pastor setengah becanda, disambut lagi oleh tawa riuh para jemaat. Lalu, Pastor berjalan lagi keluar gereja melalui pintu samping, mengantar Pak Saleh menemui Koster. Kemudian, dengan tenang, seolah-olah tidak terjadi sesuatu yang aneh, Sang Pastor mencuci tangannya, kembali lagi ke Altar, mengenakan jubah putih yang baru, lalu mengenakan jubah ungunya kembali. Ketika Pastor sedang mengenakan jubah, seorang jemaat mulai bertepuk tangan, yang kemudian disambut dengan jemaat lainnya, dan terus-menerus sampai seluruh ruang gereja riuh rendah. Beberapa jemaat dengan spontan berdiri, seperti memberikan standing ovation untuk sebuah pertunjukan opera kelas dunia.
“Bapak Ibu sekalian” kata Pastor, sambil mengangkat tangan untuk meredakan tepukan tangan para jemaat.
“Mengapa saya melalukan hal ini hari ini? Saya merasa, bahwa ritual pembasuhan kaki yang biasa kita lakukan sudah keluar dari makna aslinya. Ritual pembasukan kaki kita begitu bersih, begitu agung, begitu rapi direncanakan, sampai-sampai para jemaat sudah siap-siap dari rumah pakai kaus kaki paling bagus, kalau perlu kakinya disemprot minyak wangi, siapa tahu dipilih oleh Ibu Agnes!” katanya, disambut tawa jemaat.
“Tapi, pada waktu Tuhan Yesus membasuh kaki para muridNya, suasananya sama sekali bukan seperti itu. Baru beberapa minggu sebelumnya, berturut-turut terjadi peristiwa yang menyenangkan hati para pengikut Yesus. Ia diurapi di Betania. Kemudian, Lazarus dibangkitkan oleh Tuhan Yesus, menandakan kuasaNya yang luar biasa. Lalu, Tuhan Yesus disambut bak seorang Raja ketika Ia masuk ke Yerusalem. Semua pengikut Tuhan Yesus merasa bahwa mereka diatas angin, inilah saatnya Tuhan Yesus akan menang, dan semua musuhnya akan dibinasakanNya”
“Jadi, ketika Tuhan Yesus ingin membasuh kaki para muridNya, tidak seorangpun mengerti maksudnya. Ada yang bilang, ‘Jangan sekali-kali Tuhan membasuh kakiku!’, ada juga yang bilang ‘Jangan kakiku saja Tuhan, sekalian wajah dan badanku!’. Padahal, dengan tindakanNya ini, Ia ingin memberikan sebuah teladan, sebuah revolusi dalam dunia rohani manusia. Ia menyatakan dengan lantang, bahwa seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya, ataupun seorang utusan dari pada dia yang mengutusnya, dan setiap orang Kristen dituntut untuk melayani sesamanya. Mulai sekarang, Tuhan bukanlah Dewa yang haus darah, atau Dewi yang menuntut disembah, tetapi Tuhan adalah Kasih yang melayani, yang menuntut umatNya untuk melayaniNya dengan melayani sesamanya. Ubi caritas, et amor, Deus ibi est! There is charity, selfless love, God is truly there! Jadi, wujud Tuhan adalah kasih, yang menjadi kesaksian bagi orang lain.”
“Sejak itulah lahir kekristenan yang melayani. Dari sanalah hadir jutaan jiwa manusia yang diselamatkan karena sekolah-sekolah Katolik, hati-hati yang tersentuh oleh kesembuhan dari rumah sakit-rumah sakit Katolik, tubuh-tubuh yang disegarkan oleh bantuan bencana dari yayasan sosial Katolik. Dari sanalah lahir Ibu Theresa, Romo Mangunwijaya, Paus Yohanes Paulus II, dan masih banyak lagi orang suci lainnya, yang menjadi teladan melalui kasih mereka terhadap sesama sebagai pelayan, bukan sebagai jenderal perang yang menghabisi musuh. Itulah esensi dari peristiwa pembasuhan kaki ini. Amin, dan selamat Paskah!”
Hangzhou, 03.04.2010
Monday, February 15, 2010
On Being 33
“I’m 33 at the moment,
I’m still a man, but you see I’m a they
Kid on the way, babe, a family on my mind…”
‘100 years’ by Five for Fighting
Well, yes, fellas, I officially turn 33 today.
If I think about it, 33 ain’t so bad. And for me becoming 33, it ain’t so bad either. I think I have achieved, thanks to the blessings of the the Lord, more things than most 33-year-olds can achieve.
This year, for example, I have made a step in my career to move into a new position abroad. This brings me out from good old
From the traveling world, I still kept my promise to visit 2 new islands or provinces every year in
In the hobby world, some achievements have also been made. I wrote several articles to the Jakarta Post after seeing many interesting concerts. One of them was a performance by the Nusantara Symphony Orchestra in Balai Sarbini,
From the financial side, it has also been not so bad, although there are still challenges for the future. My house is completely paid for this year, which I learned about after the bank rejected my installment for the mortgage (What was the problem? Why was the transfer rejected? Hello? Oh, all paid for? No more mortgage payment? I tell ya, it takes some getting use to not paying anything after all these years of mortgage installments). Then I applied for a business mortgage, renew the machines of my laundry, refurbished the whole house/laundry, making part of my dream ‘to live in a house that looks and feels just like a room at the JW Marriott Hotel Surabaya’ partly come true (32 inch flat TV, yes, air conditioning, yes, carpet and sofa, naaaah). The laundry is now gearing up to pay the mortgage, still struggling with manpower and low orders. We’ll manage. Not bad, for a 33 year old businessman wannabe.
But still, I am not happy. I know God has blessed me with all these, and I am sure he is smiling now at me, looking down on me, sitting in my room in Tomang, writing on my laptop. Do you want to know, what I think he’s saying? “OK now boy, watcha gonna do?”. That’s that.
Yes, when you’re young, and by ‘young’ I can still gladly say, in the 20-s, the world belongs to you. You have nothing, zero, and can only progress to positive, even with the slightest progress. So, you have nothing to loose! You think you can do something, and you do it. And for someone like me, I think I can do everything. I dare to try, that’s my philosophy. Managing position? Why not! Washing other people’s underwear to earn money? Hell, I can do that! Writing as a part-time journalist? Oh yeah, bring it on. Writing a travel journal? That’s a piece of cake! Have your own business? Come to papa!
So here I am, a most-of-the-time expatriate manager, part-time laundry owner, part-time journalist, part-time travel writer, part-time business owner. All in parts, nothing in wholes!
And when I get to know that Pramoedya Ananta Toer dedicated all of his life to writing, even without pen and paper; that Warren Buffet dedicated his life to investing, even without an inheritance; that Bill Gates dedicated his life to software, even without a degree in computing; I blushed. Here I am, a 33 year old, achieving partly of everything and being really good at nothing. Not good, not good at all.
I remembered in my high school days, when I was in the same situation. I tried to play organ, learn karate, study, and became active in student’s organizations, until I get sick of all of them. Then, I met a bunch of friends who were doing nothing but playing all day, from house to house, from one video game to another. Then I told my mom and dad, that I want to stop trying so hard. I want to relax now, afterall, highschool years come only once in life. I just want to enjoy life, hang with my friends, have fun. I warned them that my performance at school was probably going to slightly slip from the usual no. 8th or 9th. They said, yes, by all means, do it. And I did it. And you know what? My performance was not worse, it was better! My rank was lifted up to 3rd, 2nd, even 1st at times. I excelled far better then I was before, until I was eligible for the best Technical Institute in the country (that was when all the fun stop, though). Anyway, I felt ‘the call of nature’ back then to relax, and just do what I enjoy the most, forget trying to be best at everything, just be excellent at one thing. And I did. And I was.
Now, I am feeling this ‘call of nature’ again. I think, I have to do something. I have to forget trying to be best at everything, and seek out within myself, what I want to do the most. Is it becoming a professional manager with suits and ties? Or an enterpreneur with laundry uniform? Or a writer and a journalist? I believe I have the talents from God to do these things. That’s why, even with so little time invested, I still get good responses. But without focus, it’s nothing. It’s just occasional blogs, without a book, occasional articles, without front-page, occasional manager, without the board. So I have to be serious now, because like high school times, 30-s also only happens once in life. Once I screw up here, I’d be too old for everything, too late for anything, and it’ll be too long to achieve something. I have to stop, tell myself to relax, and do the things I like to do the most, and focus on it. Then, I’d become someone.
What do I want to achieve anyway? An interesting comment came from one of my closest friends. When I told her about my achievements in business life, with salaries, status, and management levels, she smiled. “That’s not what you’re looking for, isn’t it? You are aiming for something else, aren’t you?”. Yes. She is right. I don’t think I want to be remembered as a manager who successfully manage a division until retirement. I don’t think I want to be remembered as a businessman who marvels in cheating banks into giving credits that made me a millionaire. Perhaps, I don’t even want to be a millionaire. What do I want to be then?
I remember back in my university, I was queuing for a payphone in the library (yes, if you turn 33 years old today, you’d remember the day). There was a much older person queuing in front of me, with a simple coat and an old, ugly leather bag. I thought he looked like a postman. But when he picked up the phone and started to talk, I was surprised. He spoke with a very fluent american english, starting with, “Hello, this is Professor Joko. May I speak to…”. My God. When I told this story to my dad, he wisely said, “Son, that man needs no Rolex watch or Louis Vuitton bag to make other people respect him. People respect him for what he is”. Wow. Cool. That, I want to be.
So I guess I’d have to tell my parents, that I am not going to be a millionaire. Maybe not even a rich director of a company. Or at least, I am not going to invest so much time, effort, energy, thoughts, talents, brainpower, attitude, earnest work, willpower, and prayers, to become one. But I will invest all of those to become noble. To be the first indonesian to win a noble prize, either peace or literature (hell, maybe chemistry!). To be remembered as a person, blessed with talents, having a one-track-mind to achieve a single goal, using all of his effort, to be… well… remembered. To leave a mark for the society. To stand for
That’s that. Happy 33th birthday, Harry Hardianto Nazarudin. May your dreams, come true.
And, yes. Getting married. I know. It’s already late. You’re starting to sound like my parents…..
Sunday, February 14, 2010
Xin Nien Kuai Le
Sudah dua bulan berturut-turut Republik Rakyat Cina, termasuk kota Kunshan tempat saya tinggal sekarang, dihajar oleh hawa dingin yang tak terperi. Apalagi dalam masa yang disebut ‘san ciu’, atau 3 x 9, 27 hari sesudah Winder Solstice yang tahun lalu jatuh pada tanggal 22 Desember. Tiba-tiba angin dingin seperti AC busway, bertiup kencang berhari-hari, berbulan-bulan. Suhu langsung jatuh dibawah nol, bahkan mencapai –5 celcius di Kunshan.
Rumah-rumah di Shanghai kebanyakan tidak memiliki radiator penghangat seperti di Eropa. Ini merupakan sisa aturan jaman dulu, karena Chairman Mao mengatakan bahwa radiator (atau boiler) hanya untuk wilayah utara Sungai Kuning. Sementara wilayah Selatan Sungai Kuning dianggap ‘cukup hangat’ sehingga pemerintah tidak menyediakan sarana penghangat, boiler, atau radiator. Memang, tidak seperti Beijing atau Qingdao, suhu di Shanghai tidak pernah lebih dari –10 celcius. Tapi, Shanghai letaknya sangat dekat dengan Sungai Kuning, sehingga termasuk apes gara-gara peraturan ini: dingin iya, tapi belum cukup dingin untuk dibuatkan infrastruktur seperti boilet!
Akibatnya, musim dingin menjadi sangat menyiksa. Jendela-jendela bocor, tidak dilengkapi penyekat untuk negara empat musim seperti Eropa. Satu-satunya penghangat adalah AC yang meniupkan angin panas, tetapi udara menjadi pengap dan bau. Dan, untuk masyarakat kebanyakan, satu-satunya sumber panas dalam rumahnya adalah kompor! Namun demikian, dengan gigi gemeretak menahan dingin, masyarakat tetap berkegiatan seperti biasa. Naik sepeda dan motor, dalam suhu –5 celcius, angin kencang pula, demi mencari sesuap nasi. Benar-benar ulet orang-orang ini, pikir saya.
Sampai Senin kemarin, 8 Februari 2010, mendadak seluruh Kunshan diliputi kabut supertebal. Saya bahkan tidak bisa melihat gedung kantor saya dari pagar! Ada apa gerangan, pikir saya. Esoknya, cuaca cerah, dan – bukan sulap bukan sihir – suhu langsung naik dari –5 menjadi +12 celcius! Sejak itu, setiap hari suhu mulai menanjak, karena angin hangat tiba-tiba bertiup kencang setiap hari. Guangzhou sudah +22 celcius, Kunshan +15, saya sudah bisa melepas sweater waktu tidur dan menyetir dengan jendela terbuka. Selamat datang musim semi!
Masyarakat pun riuh rendah menyambut tahun baru. Disini, tidak ada kue keranjang, yee shang, atau semua ornamen Imlek yang kita kenal. Yang ada adalah camilan, seperti berbagai macam kacang (pistachio, almond, walnut), dan kue-kue kering, yang biasanya sulit didapat dan cukup mahal, kali ini nampak berlimpah ruah waktu saya masih ke hipermarket Auchan. Chaos dimana-mana: orang berebut kacang, berebut makanan diskon, maklum di Cina segalanya serba besar dan banyak karena jumlah penduduknya yang besar. Banyak petasan dijual, dengan tulisan-tulisan berwarna emas/merah bertulisnya ‘New Year’ dan bergambarkan harimau. Orang-orang sibuk pulang kampung, naik dari jendela kereta api, berebut naik pesawat. Persis suasana libur Lebaran di negri kita!
Perayaan Imlek memang sudah berubah, didera oleh sejarah dan politik. Di Cina daratan sendiri, ada Revolusi Kebudayaan tahun 1960-an, yang memakan korban lebih dari 30 juta jiwa. Revolusi ini secara sistematik menghancurkan sisa-sisa budaya feodal Cina dan menggantikannya dengan budaya ‘baru’, komunisme. Semua kelenteng, buku, bahkan furniture, dihancurkan, sehingga generasi seumur saya di Cina daratan sudah tidak mengenal lagi apa itu hio, meja persembahan, dan kelenteng. Apa yang dulu ada di Cina daratan, kini masih bisa dijumpai di Taiwan dan Hong Kong, yang relatif tidak terlalu kena dampak revolusi kebudayaan.
Di Indonesia sendiri, kebalikannya: justru pergulatan politik tahun 1960-an mengakibatkan pemerintahan Orde Baru mengeraskan kepalannya kepada masyarakat Tionghoa di Indonesia. Karakter Cina dilarang, perayaan Imlek selalu didahului oleh surat edaran yang ‘menghimbau’ dan mengajurkan ‘pembauran’. Yang bisa dilakukan, hanya tutup – menutup usaha kami, selama satu hari. Tiba-tiba, di tengah usaha pemerintah waktu itu untuk ‘meniadakan’ kaum kami, mendadak kaum kami ‘tidak ada’ beneran selama satu hari, dan masyarakat begitu kehilangan. Kue-kue favorit hilang dari pasar, toko-toko langganan tutup, bengkel langganan tutup, salon tercinta tutup, bahkan simbok penjaja kue jajan pasar pun ikut libur, karena pabrik kuenya tutup!
Kini, jamannya sudah berbeda. Terima kasih pada demokrasi, kini Imlek bahkan merupakan hari libur nasional, yang bisa saya banggakan di tempat saya kerja, sebagai simbol kebhinekaan Indonesia. Kami bersyukur, bahwa perayaan Imlek boleh dilakukan dengan bebas. Kue keranjang sudah berevolusi, menjadi makanan Indonesia dengan berbagai bentuk dan variasi. Ikan gurame goreng asam manis, kue lapis legit, dan kue keranjang dengan parutan kelapa, misalnya, menjadi simbol imlek asli Indonesia. Demikian warga Tionghoa lainnya di Malaysia, Singapura, Taiwan, bahkan Toronto dan San Francisco, menemukan caranya masing-masing.
Kini, orang Tionghoa sudah menjadi diaspora. Yang di Indonesia menjadi orang Indonesia, turut berjuang dan menemukan identitasnya yang baru. Demikian pula di Singapura, juga di Malaysia dan negara-negara lainnya. Bahkan Cina Daratan, yang dulu dijadikan momok sebagai ‘musuh’ karena paham komunisnya, kini menjadi lokomotif ekonomi dunia. Jadi, dinding-dinding ideologi yang dulu dibangun, kini runtuh. Dan, masyarakat Tionghoa perantauan sudah menjadi 100% warga Indonesia, Malaysia, Singapura, dan bahkan Taiwan. Namun, setahun sekali, ijinkanlah kami merayakan Imlek. Bukan untuk menunjukkan bahwa kami berbeda, melainkan sekedar untuk kami mengingat asal-usul kami, mengingat sejarah perjalanan kami. Dan, mengingat, betapa beruntungnya kami menjadi warga Indonesia, sekaligus menyadarkan kami, bahwa kami masih punya satu tugas, yaitu untuk menunjukkan bakti bagi negara dan bangsa Indonesia.
Monday, January 18, 2010
Kuatkanlah Lututmu Hai manusia
Di dalam ruangan itu, nampak beberapa mahluk Sorgawi dan malaikat yang sedang mengadakan rapat. A, salah seorang malaikat, merasakan ada seorang mahluk Sorgawi yang ingin berkomunikasi denganNya. Iapun menoleh dan mendapati seorang mahkul Sorgawi di dekat pintu.
“Ada apa? Kami sedang rapat” kataNya.
“Iya Pak, tetapi ada sesuatu yang mendesak. Tentang manusia N Pak” katanya perlahan.
“Ah ya, manusia N” kata A sambil sedikit tersenyum.
“Apakah jawabannya sudah tiba?”
“Sudah Pak. Jawabannya negatif”
“Apa?! Negatif? Bagaimana bisa?!” jawab Malaikat A dengan nada tinggi. Air mukanya berubah, sayapnya bergetar kaget.
“Iya Pak. Alasannya sama: tidak ada perasaan, Pak” jawab sang Mahluk Sorgawi lagi.
Malaikat A merenung sejenak, lalu berkata singkat: “Baiklah, Saya akan pamitan dulu, sesudah itu mari kita bicarakan di ruang kerja Saya.”
Iapun berpamitan, kemudian melayang diikuti Mahluk Sorgawi yang menemuinya, menuju sebuah ruangan tempatNya bekerja. Iapun duduk, berhadapan dengan Mahluk Sorgawi yang mengikutinya.
Sambil menghela napas, Ia mulai bertanya.
“Jadi bagaimana ceritanya?”
“Ini kami peroleh dari monitor kami Pak” jawabnya pelan.
“Jawabannya negatif. Ia benar-benar tidak bisa menerima manusia N menjadi kekasihnya”
“Apa yang menjadi alasannya?”
“Ia merasa tidak ada feeling, Pak, walaupun ia tahu manusia N ini baik hati, berbakat, dan….”
“Punya masa depan cerah, ya, ya, semua tahu itu! Tapi, selalu ada tapinya!” potong Malaikat A
“Dan sebagai tanda terima kasih, manusia C memberikan hadiah pada manusia N, Pak”
“Apa hadiahnya?”
“Sebuah lilin kecil, Pak” jawab sang Mahluk Sorgawi, sambil setengah berbisik.
“Astaga – sebuah lilin kecil!” kata Malaikat A dengan suara meninggi.
“Mengapa harus lilin itu lagi?!”
Malaikat A teringat kira-kira sepuluh tahun dunia yang lalu, ketika Ia menjaga manusia N melewati masa-masa terpenting dalam hidupnya. Manusia N pada waktu itu memiliki iman yang sangat kuat, percayanya kepada Allah sangat dominan. Ia aktif di gereja, punya banyak teman, dan sangat berbakat. Namun, ketika tiba waktunya manusia N mencari pasangan, nampaknya ada sesuatu yang menghalanginya. Rupanya manusia N sangat canggung menyatakan perasaannya, sebuah kelemahan yang bisa dilihatNya dengan jelas melalui mata batinnya. Berkali-kali cintanya ditolak, sampai-sampai manusia ini nyaris putus asa.
Beberapa lama kemudian, manusia N jatuh cinta pada manusia D, seorang rekannya di gereja. Manusia N berdoa begitu kerasnya, supaya manusia D menerima cintanya. Waktu itu, Ia pun begitu yakin, bahwa manusia N bisa mencapai apa yang diinginkannya. Ia memulai maneuver untuk mengabulkan doa sang manusia: ia bertemu dengan Malaikat Penjaga manusia D, ia mengadakan pertemuan dengan AtasanNya, sampai-sampai mengorganisir sebuah pertemuan khusus untuk itu. Namun, keputusan ternyata jauh dari yang diharapkan. Manusia D menolak cinta manusia N, karena tidak ada perasaan cinta, katanya. Sebagai tanda terima kasih atas perhatian manusia N selama ini, ia memberikan sebuah lilin kecil.
Sesudah itu. manusia N begitu kecewa, hatinya begitu terluka. Ia bisa melihat bilur-bilur kekecewaannya, pertanyaannya yang menusuk, mengapa doanya tidak dikabulkan. Ia begitu marah dan sakit hati, sampai-sampai Malaikat A harus memanggil bala bantuan untuk membisikkan suara hati supaya si manusia ini terhibur. Ia ingat, betapa manusia A melemparkan lilin kecil itu keluar jendela rumahnya di lantai tiga, dan memandang pecahan lilin di lantai dengan mata nanar, seolah membayangkan pecahan kepalanya sendiri. Betapa manusia N sudah mulai memanjat jendela untuk melompat dan bunuh diri, ketika Ia mengirimkan bala bantuan dari Sorga untuk menghibur dan menguatkan si manusia kecil itu. Walaupun secara fisik ia bisa diselamatkan, namun hatinya tetap terluka. Setelah peristiwa itu, si manusia berjalan gontai kesana-kemari, tenggelam dalam dosa dan kenajisan, karena akar pahit dalam hatinya.
Sampai akhir-akhir ini, ketika si manusia ini bertemu dengan manusia E, yang dicintainya. Manusia E yang memberinya harapan, bahwa mungkin, kali ini, permohonannya akan dikabulkan. Mungkin, inilah akhir pencariannya, setelah begitu banyak rekan seusianya menemukan kekasih. Ia sudah begitu beku, sudah begitu kaku, setelah hampir sepuluh tahun didera kebuntuan cinta. Baru saja ia belajar kembali terbuka, belajar kembali jujur pada dirinya, dan berbicara apa adanya tanpa kebohongan. Ia masih ingat, kemarin waktu dunia, baru saja manusia N pulang dengan hati berbunga-bunga. Ia begitu lega, melihat senyumnya, melihat kebahagiannya – yang masih jauh dari sempurna, namun setidaknya ada secercah harapan.
Sampai kepada keputusan hari ini. Dengan hadiah lilin yang sama pula! Betapa hancur hati sang manusia, dan betapa ironis kejadiannya – dengan hadiah yang sama, di hari yang sama!
“Baiklah kalau begitu” kata Malaikat A setelah sejenak merenung.
“Saya akan memohon waktu bertemu Atasan Saya, untuk menanyakan masalah ini. Terima kasih atas informasinya, dan tolong monitor terus manusia N. Kalau ada apa-apa yang berbahaya, segera beritahu saya” katanya.
Mahluk Sorgawi di hadapannya mengangguk, lalu melayang pergi.
Iapun menutupkan sayapnya, memejamkan matanya, dan mulai berkonsentrasi. Ia memohon waktu untuk bertemu AtasanNya. Permohonannya dikabulkan, dalam waktu sepuluh menit waktu Sorgawi, Ia akan bertemu AtasanNya.
Iapun melayang, menuju tempat pertemuan itu. Koridor demi koridor dilaluiNya, sampai kepada sebuah tabir yang besar berwarna kesumba. Ia masuk, tanpa menyibakkan tabir tersebut. Beberapa Malaikat nampak berjaga-jaga di dalam Ruang Suci, dan segera mendapatkan konfirmasi melalui komunikasi Illahi, bahwa Ia sudah punya janji untuk bertemu AtasanNya. Iapun masuk ke Ruang Mahasuci, sebuah ruangan yang sederhana namun agung. Ia duduk, berkonsentrasi, memejamkan matanya, mengatupkan sayapnya, dan bersiap menghadapi kehadiran AtasanNya. Tak lama kemudian, ruangan itu dipenuhi cahaya. AtasanNya telah tiba.
“Bapa, mengapa Engkau begitu berat mencobai manusia N, anakMu ini?”
Tanyanya dengan sedih.
“Hamba tahu ia penuh dosa dan kotor sekarang, tapi bukankah ia berusaha sekuat tenaganya, ya Bapa? Bukankah dosanya selama ini didasari atas kekecewaannya? Ketidak mengetiannya akan cinta dan kasih?”
“Hamba mengerti, bahwa si manusia ini begitu lemah tenaganya, begitu sulit berjuang melawan kelemahannya. Ia begitu tidak berdaya, dan ia sendiri pun nyaris tidak bersemangat untuk bertarung. Tetapi, tidakkah ia sudah berusaha sekuat tenaganya, ya Bapa? Mengapa Engkau tidak memberikan kesempatan kepadanya? Mengapa Engkau memberi kesempatan kepada rekan-rekannya, tetapi tidak kepadanya? Mengapa ia Kaubiarkan terpuruk kembali? Mengapa ia Engkau hujamkan kembali ke tanah, bahkan dengan lilin kecil yang sama pula? Mengapa Engkau tidak mau menolongnya, memberinya mukjijat, sekali ini saja? Mengapa ia Kaubiarkan hancur kembali?”
Malaikat A berhenti berkata-kata. Ia sedih, sayapnya bergetar menahan perasaannya sendiri. Namun, cahaya lembut nampak berpendar di dekatnya. Ia merasakan senyum AtasanNya yang agung, sebelum Ia mulai berkata demikian”
‘Sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak, “Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkanNya,
Karena Tuhan menghajar orang yang dikasihiNya, dan ia menyesah orang yang diakuiNya sebagai anak.”
Jika kamu harus menanggung ganjaran, Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya?
Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran yang harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang
Selanjutnya dari ayah kita yang sebenarnya kita beroleh ganjaran, dan mereka kita hormati, kalau demikian bukankah kita harus lebih taat kepada Bapa segala roh, supaya kita boleh hidup?
Sebab mereka mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusanNya
Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya.
Sebab itu kuatkanlah tangan yang lemah dan lutut yang goyah,
Dan luruskanlah jalan bagi kakimu, sehingga yang pincang jangan terpelecok, tetapi menjadi sembuh.
Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan.’
Malaikat A menghela napas, ketika AtasanNya selesai. Cahaya di ruangan itupun meredup, dan Ia mulai membuka matanya.
Ia melayang keluar, kembali ke koridor-korikor yang kini mulai kosong. Hari sebentar lagi akan berganti menjadi hari ketujuh, dimana seluruh penghuni Sorga beristirahat.
Ia melayang menuju ruang pemantau. Ia mencari salah satu dari lima milyar layar disana. Setelah beberapa saat berkonsentrasi, Ia menemukan layar manusia N. Ia mendekat ke layar itu, sendirian, sambil memandanginya dengan sedih.
Manusia N, manusia kecil dan rapuh itu, sedang tertidur kelelahan. Sebuah hari yang melelahkan, pikirNya. Hari yang penuh kegiatan, termasuk salah satunya kekecewaan sepuluh tahun lalu yang hadir kembali. Kekecewaan yag terulang kembali, yang belum sembuh, dan kini tersayat kembali.
Namun, lihatlah manusia N itu. Dulu, ia begitu hancur. Begitu putus asa, begitu tidak berdaya. Kini, ia tertidur lelap. Sebuah dus kecil berisi lilin nampak tergeletak di meja kamarnya – ia bahkan tidak sanggup membukanya. Namun, kali ini ia tidak melompat keluar untuk bunuh diri. Ia tertidur lelap, setelah menimbang-nimbang sampai larut malam. Ia terluka, ia sedih, namun ia jauh lebih kuat dari sepuluh tahun lalu. Ia masih tidak tahu kemana ia akan pergi, ia masih terpuruk dan terluka. Namun, ia tidak berantakan. Ia utuh, dan lebih kuat sekarang.
Lewat mata batinnya, Ia bisa melihat, betapa manusia itu kini berkilau, seperti pisau yang semakin tajam diasah. Seperti perkakas tembaga yang baru dibersihkan, seperti sepatu yang baru disemir. Mengkilap, walau hanya sedikit.. Mudah-mudahan, ia bisa segera menemukan pasangannya, pikirNya sedih. Mudah-mudahan, AtasanNya bermurah hati menunjukkan arah langkah selanjutnya.
Dada manusia kecil itu nampak naik turun dengan tenang.
“Kuatkanlah hatimu, Nak!” kataNya pelan.
“Kuatkanlah…..”
Amin
Apakah 2012 Akan Kiamat?
Matius 24:40 – 42
Setiap kali membaca ayat ini, seringkali terdengar seperti dongeng anak-anak saja, bukan? Seolah-olah apa yang dijelaskan adalah sebuah perumpamaan saja, bukan kejadian yang sebenarnya. Mungkin, Tuhan Yesus hanya bermaksud menakut-nakuti murid-muridNya saja, supaya mereka lebih paham bahwa masalah pertobatan bukan masalah ‘nanti, masih lama’, tetapi harus dilakukan segera dan mendesak.
Namun, apa yang disabdakan Tuhan Yesus ternyata benar adanya. Bencana, seperti yang dikisahkan dalam perikop diatas, seringkali terjadi begitu cepat, begitu mendadak. Apakah Anda sudah menonton film 2012? Film yang menghebohkan ini menggambarkan tentang kira-kira apa yang terjadi jika dunia kiamat pada tahun 2012 nanti. Ide kiamat tahun 2012 didapat dari penanggalan kuno bangsa Maya. Bangsa Maya yang berasal dari Amerika Tengah ini memiliki teknologi yang sangat tinggi, mampu membangun piramid-piramid raksasa dengan ketelitian yang sangat tinggi. Tapi, bangsa ini seolah lenyap ditelan bumi, dan sisa-sisa keturunannya pun sangat sedikit. Salah satu peninggalan bangsa Maya adalah sebuah penanggalan (kalender) yang akurat. Nah, kalender ini masih bisa menunjukkan waktu bahkan ribuan tahun sesudah bangsa Maya sendiri punah. Kalender ini, berakhir pada tahun 2012!
Sebenarnya, Indonesia pernah mengalami sebuah ‘kiamat kecil’ yang menimpa propinsi Nanggroe Aceh Darussalam, 5 tahun yang lalu. Menyimak cerita-cerita tentang kedatangan tsunami, terdengar persis seperti apa yang diceritakan dalam Alkitab. Ada seorang bapak yang pagi-pagi naik motor untuk mencari sarapan pagi, membeli lontong sayur di daerah yang agak tinggi. Ia kaget mendengar berita gempa, dan ketika kembali ke rumahnya, semua sudah lenyap – rumahnya, desanya, bahkan 12 anggota keluarganya! Banyak sekali cerita seperti itu terdengar, persis seperti yang dikisahkan di perikop diatas. Orang bekerja, kawin dan mengawinkan, sampai ketika ‘air bah’ datang!
Saya pernah mendengar sebuah kisah yang sangat menyedihkan, dari seorang rekan asal Aceh yang membantu rekan saya di PBB yang bertugas di Aceh. Ia terlihat sebagai seorang yang biasa-biasa saja, bahasa Inggrisnya cukup bagus, dan ekonominya juga lumayan. Namun, rekan saya terkejut ketika diundang ke rumahnya untuk makan malam. Di garasinya, ada sebuah mobil kijang miliknya sendiri, dan sebuah bangkai mobil yang hanya tersisa rangkanya saja, hancur berantakan, namun dibungkus dengan sangat rapi dan dipajang seperti sebuah karya seni. Ketika rekan saya bertanya, ternyata jawabannya sangat mengharukan. Sang rekan asal Aceh ini kehilangan segala-galanya pada waktu tsunami – rumah, 3 orang kakak, 2 orang adik, serta keponakan-keponankan (2 kakaknya sudah menikah), termasuk orang tua dan kakek-neneknya, yang dulu tinggal serumah. Ketika ia pulang mendapati semuanya hilang, yang dapat ia temukan adalah bangkai mobil ini, yang merupakan bangkai mobil milik kakaknya dulu. Tidak ada foto, video, atau album yang selamat. Jadi, kini, hanya bangkai mobil itulah, yang mengingatkannya pada masa lalunya.
Jadi, memang betul apa yang dikatakan di dalam perikop ini. Bahwa ada yang diambil, ada yang tidak; ada yang selamat, ada yang tidak; dan semuanya terjadi dengan begitu cepatnya dan tidak terduga. Siapa menyangka, bakal ada gelombang besar yang menyapu sampai mampu melemparkan kapal laut puluhan kilometer ke daratan? Bahkan teknologi manusia hanya bisa bengong menyaksikannya lewat satelit, dan tidak bisa berbuat apa-apa untuk mencegahnya. Memang, bencana demikian bisa dan bahkan sudah pernah terjadi. Apa yang akan terjadi tahun 2012? Mungkin tidak ada yang tahu sekarang. Namun, camkanlah, bahwa apa yang dikatakan Tuhan Yesus bukanlah dongeng belaka, bukan sebuah perumpamaan, melainkan suatu peringatan. Peringatan, agar kita segera berubah dan memperbaiki diri kita agar kita seperti Rexona – siap setiap saat!
Amin
Where and When
Matthew 26:27-28
Seorang pendeta di GKY Grenvil dalam khotbahnya memberikan sebuah ilustrasi yang menarik. Ada seorang wanita yang sedang berkonsultasi dengan pendetanya.
“Saya tidak mengalami lagi damai Kristus, Pak” katanya. “Saya tidak merasakan damai lagi, saya betul-betul kehilangan iman saya. Saya merasa tidak terpanggil untuk berdoa, apalagi pergi ke gereja!” katanya lagi dengan gelisah.
Sang pendeta hanya tersenyum dan berkata “Where and when – dimana dan kapan – Saudara mulai kehilangan iman?”
Sang wanita tadi segera menjawab dengan suara meninggi: “Ini bukan soal kapan, Pak, ini adalah masalah hati. Hati saya tidak menemukan lagi kedamaikan dalam Kristus, mungkin karena begitu banyaknya aktivis gereja yang ternyata bobrok, atau majelis gereja yang ternyata ikut korupsi. Saya betul-betul kehilangan kepercayaan pada gereja, Pak!”
Namun, dengan tenang dan tetap tersenyum, sang pendeta tetap bertanya dengan pertanyaan yang sama : ‘Where and when – kapan dan dimana – Saudara mulai kehilangan iman?”
Demikianlah pembicaraan itu berlanjut. Sang wanita tadi terus berputar-butar menghindar, namun akhirnya mengakui. Beberapa tahun lalu ia lari dari rumah untuk tinggal bersama pacarnya. Itulah saatnya – where and when – ia mulai kehilangan iman.
Ilustrasi ini menarik untuk direnungkan. Memang, setiap orang yang merasa imannya lemah, jika berani jujur, pasti punya satu titik balik – where and when – ketika iman itu mulai dilemahkan atau melemah. Seorang penyair yang akhirnya berpindah kepercayaan, Sitor Situmorang, bahkan membuat sebuah puisi tentang sebuag gereja diatas bukit yang kosong, yang menunjukkan kehampaan iman Kristennya. Jadi, sang pendeta tadi memang bijak. Langkah pertama kita, jika kita merasa iman kita melemah, adalah bertanya: where and when.
Namun, jika kita perhatikan – what, atau apa yang bisa melemahkan iman kita sebegitu hebatnya? Kalau bicara dosa, setiap hari kita berdosa – dari memaki motor yang menyerempet mobil kita sampai melirik pada seseorang bertubuh aduhai. Tapi, dosa macam apa yang begitu kuatnya, sampai bisa melemahkan iman kita? Dalam ilustrasi diatas, jelas bahwa dosa sang wanita adalah ketika ia memutuskan untuk lari dari keluarganya dan hidup bersama pacarya. Ya, memang tidak dijelaskan apa agama pacarnya itu. Tetapi, apakah hal ini relevan?
Sebenarnya tidak. Jika kita renungkan, jenis dosa yang dilakukan wanita ini adalah dosa menahun. Maksudnya, dosa yang dipendam, dosa yang dipelihara bertahun-tahun. Dan dosa yang saya maksud bukanlah dosa karena berzinah atau hidup dengan pacarnya. Tetapi, ada satu dosa yang lebih berbahaya – dosa kebohongan. Bisa Anda bayangkan, ia pasti mencintai pacarnya luar biasa. Namun, dalam hatinya pasti sedih, ketika ia lari dari rumah, dan tidak bisa bertemu dengan orang tua ataupun saudara-saudaranya lagi. Dalam hatinya pasti ada kerinduan yang luar biasa kepada keluarganya, namun ada akar pahit yang luar biasa pula, karena ia tidak mengerti mengapa keluarganya tidak setuju ia perpacaran dengan arjunanya ini.
Demikianlah akar pahit itu – rasa berdosa, rasa bersalah, rasa rindu, kecewa, sekaligus benci – tertanam dalam hatinya bertahun-tahun. Nah, kalau diibaratkan shio atau zodiac tionghoa, akar pahit menahun adalah shio macan, dan iman Kristen adalah shio kelinci – keduanya disebut ciong, atau tidak cocok, karena macan cenderung memangsa kelinci. Konon, pernikahan dari shio macan dan shio kelinci tidak baik menurut fengshui. Demikian pula iman Kristen wanita ini, dan akar pahitnya kepada keluarganya. Iman Kristen selalu menganjurkan kedamaian, kejujuran, dan ketulusan. Iman Kristen tidak mengijinkan adanya pemotongan sapi atau sebuah upacara adat tertentu untuk menghilangkan akar pahit seperti ini. Dalam iman Kristen, solusinya cuma satu: kembali ke keluarganya, mohon maaf dari mereka, dan berdamailah dengan mereka. Itu saja! Mudah, tetapi luar biasa sulit!
Jadi, bukan hidup bersamanya yang jadi masalah disini. Yang jadi masalah adalah akar pahitnya – dan setiap kali ia ke gereja, setiap kali ia berdoa, setiap kali ia membaca Alkitab, ia diingatkan untuk berdamai, dan itu justru tidak mau ia lakukan. Ia akan secara refleks menghindari doa, menghidari Alkitab, sehingga lama-lama imannya pun melemah. Mengapa ia tidak menemukan kedamaian lagi dalam iman Kristennya? Karena iman Kristennya selalu menantangnya untuk berdamai dengan masalahnya – namun, dengan cara yang tidak ia kehendaki.
Jadi, jika Anda merasa iman Anda mulai melemah, langkah pertama adalah: jangan pakai tedeng aling-aling. Tanya saja pada diri Anda sendiri: “Where and when?” Apakah dimulai sejak Anda memulai suatu proyek dimana Anda harus menyogok rekanan Anda? Apakah dimulai saat Anda mulai rajin jalan-jalan dengan sekretaris Anda? Jika Anda sudah mendapatkan where and when-nya, maka segeralah merenung dan mencarui jalan keluarnya. Ini dunia moderen, dan saya tidak menganjurkan Anda hidup di gua dan berdoa terus-menerus. Berbicaralah pada rekanan Anda – siapa tahu, Anda bisa membantu yang bersangkutan dengan cara lain sehingga tidak perlu terang-terangan ‘menyogok’ lagi. Jika Anda mulai jalan-jalan dengan sekretaris Anda, berbicaralah pada istri Anda, apa yang Anda rasakan kurang darinya, sampai-sampai mencari pelampiasan pada orang lain? Intinya, cobalah cari akar permasalahannya. Seringkali, masalahnya bukan pada perbuatannya itu sendiri, melainkan dari kepahitan, kekecewaan, dan kebohongan yang terus meneruk dipupuk, untuk menutupi perbuatan itu.
Dan jangan kuatir! Dalam Perjanjian Lama, jika kita mencari kata ‘dosa’ do www.sabda.org, tema yang paling sering dibicarakan adalah penghukuman. Tapi dalam Perjanjian Baru, justru yang paling sering adalah pengampunan! Betapa Tuhan Yesus sudah menumpahkan darah, mengorbankan diriNya untuk melawan dosa. Kita punya satu backing – satu Penolong yang kuat, yang mampu mengalahkan dosa, bahkan sekelam apapun. Jadi, jangan takut! Datanglah kepada Dia, maka Ia akan mengampuni dosa Anda. Dan, yang lebih penting lagi, Ia akan memberikan kekuatan pada kita untuk berdamai dengan masalah kita. Dengan cara yang benar, tanpa jalan pintas!
Amin.
Cikarang, 27 Desember 2009
KH Abdurrahman Wahid – Berani Tidak Keren
Roma 5:7-8
“Janganlah kamu mencari dan mengikuti kebenaran karena tokohnya, tetapi carilah kebenaran itu sendiri niscaya kamu akan tahu siapa tokohnya”
Ali bin Abi Tholib
Bangsa Indonesia baru saja kehilangan salah seorang putra terbaiknya. KH Abdurrahman Wahid atau lebih dikenal dengan nama Gus Dur, meninggal dunia pada tanggal 30 Desember 2009. Biasanya, Gus Dur dikenal di media dengan sebutan ‘bagus, tapi’. Bagus, tapi selalu ada ‘tapi’-nya. Misalnya, pluralis, tapi eksentrik. Jadi presiden, tapi kemudian dijatuhkan oleh MPR. Dikagumi, tapi juga banyak mengundang kritik. Bahkan dalam tulisan-tulisan obituari mengenai dirinya di surat kabar seperti Kompas sekalipun, kekaguman atas Gus Dur selalu diimbangi dengan ke-‘tapi’-an yang tak kalah dominan. Gus Dur memang orang yang dikagumi, tetapi – dengan meminjam istilah beliau yang ‘slengean’ – kurang keren.
Mengapa Gus Dur kurang terlihat keren? Bukan karena beliau posturnya tidak tinggi besar, atau senyumnya kurang menawan. Justru itulah sifat Gus Dur yang paling membuatnya menjadi manusia luar biasa: keberaniannya untuk tidak keren. Keberaniannya untuk nyeleneh, untuk menentang pendapat banyak orang, dan untuk bergerak ke kiri ketika orang sekampung lari ke kanan. Dengan bertindak aneh begitu, seseorang tersebut pasti disebut kurang keren, tidak ikut mode, mau beda sendiri. Tapi, disitulah kualitas agung seorang Gus Dur – perimbangan antara intelektualitas yang jauh melebihi kalangannya dan kekeraskepalaan dan sifat saakelijk a la Jawa Timuran yang sangat kentara.
Coba saja bayangkan: di jaman edan ini, semua orang cenderung ingin terlihat keren. Contohnya adalah pandangan mengenai agama: ngaku saja, untuk menjadi radikal itu jauh lebih keren daripada menjadi moderat, bukan? Apabila berbicara mengenai penyerangan Amerika ke Irak, bukankah lebih keren dan terlihat gagah, jika seseorang berteriak lantang soal kebencian terhadap agama Islam oleh Amerika yang dikuasai Yahudi, daripada sebuah tindakan meredam kekuatan negara berbahaya yang sudah menyerang negara Islam tetangganya secara sepihak? Kalau bicara mengenai golongan Tionghoa, bukankah jauh lebih terlihat perlente berbicara tentang betapa rakusnya orang-orang Tionghoa yang menguasai ekonomi, daripada berbicara tentang betapa orang Tionghoa memperoleh diskriminasi pada jaman Orba sekalipun sudah mengharumkan nama bangsa lewat prestasi di bulutangkis? Ya – akui saja – menjadi radikal, pasti lebih keren!
Dalam kalangan Kristen, radikalisme juga terlihat lebih keren bukan? Ketika bicara mengenai semangat iman, bukankah lebih terlihat rohani jika kita bicara mengenai penginjilan, yang berarti membawa jiwa-jiwa baru alias berusaha mengkristenkan orang yang sudah beragama? Padahal, jangankan menerima jiwa baru, di negara ini orang yang sudah Kristen saja masih banyak yang tidak terurus. Pernahkah Anda melihat kondisi gereja-gereja di Sumba atau di Papua? Kondisi gereja-gereja di pedalaman itu – bahkan nampak juga di lereng Merapi, tidak perlu jauh-jauh ke luar pulau – sangat menyedihkan, dan masyarakatnya bahkan masih kekurangan gizi. Justru merekalah jiwa-jiwa yang harus kita selamatkan – bukanlah Tuhan Yesus berkata, dimanakah kalian pada saat Aku lapar? Lalu, apakah bukan tanggung jawab orang Kristen juga, kalau Indonesia termasuk salah satu negara terkorup di dunia? Sadarkah Anda, bahwa untuk tidak korupsi saja, iman kita masih terlalu kecil?
Nah, hal-hal begini – yang tentu saja tidak terlihat keren – justru adalah hal-hal hakiki yang benar. Disinilah kekuatan iman seorang Gus Dur – beliau mampu, cukup tangguh, dan sangat berani untuk tidak keren dan tidak populer. Beliau tidak segan membela hak-hak kaum minoritas. Ketika radikalisme menjadi keren, beliau justru teguh mempertahankan pluralisme dan sikap moderat. Moderat yang bukan berarti permisif, tapi inklusif.
Kalau diperhatikan, bukankah itu juga yang menjadi sifat Tuhan Yesus dalam hidupNya? Iapun sangat dibenci oleh orang Farisi dan Ahli Taurat – tokoh-tokoh agama pada masaNya – karena sikapnya yang tidak keren, bahkan cenderung kurang ajar. Mengapa Ia bergaul dengan pemungut cukai? Mengapa Ia mau berbicara dengan seorang perempuan sundal? Mengapa Ia berbicara soal pengampunan dosa yang gratis, tidak melalui korban sembelihan? Mengapa pula Ia berani memetik gandum pada hari Sabat? Ya – Tuhan Yesus juga sangat berani untuk tidak tampil keren. Ia berani berkata bahwa yang miskin itu lebih berbahagia dari yang kaya, yang menyumbang dua perak lebih berarti daripada yang menyumbang emas permata. Ia berani mengobrak-abrik meja dagangan di Bait Suci dan Ia tak segan menyindir para pemimpin agama yang korup. Alhasil, Tuhan Yesus menjadi tokoh yang dibenci oleh para pemimpin agama, tetapi dicintai rakyat. Begitu pula Gus Dur, yang seringkali membuat rikuh para petinggi bangsa, namun bisa membuat seorang petani miskin merasa nyaman duduk selonjoran di halaman Istana Negara.
Jangan marah dulu, saya tidak menyamakan Gus Dur dengan Tuhan Yesus. Saya hanya mengajak Anda untuk merenung, betapa sulitnya meneladani sikap Tuhan Yesus. Dan salah satu contoh manusia yang berhasil meneladani sikap Tuhan Yesus dalam membela yang lemah, selain sederet orang seperti Ibu Teresa dan Mahatma Gandhi, adalah seorang Indonesia kelahiran Jombang, Jawa Timur, yang bernama KH Abdurrahman Wahid. Sikapnya yang berani tidak keren, tidak takut terlihat beda sendiri, dan kegigihannya membela kebenaran, patut menjadi teladan kita semua. Dalam tulisan Rasul Paulus kepada jemaat di Roma, dituliskan bahwa untuk orang yang baik mungkin ada yang rela mati. Tetapi, untuk orang yang benar, sangat sedikit orang yang rela mati – apalagi untuk orang yang berdosa. Tuhan Yesus rela mati untuk kita yang berdosa. Gus Dur rela pontang-panting kesana-kemari, kadang-kadang mengabaikan kesehatannya sendiri, untuk membela yang benar, meskipun yang benar itu lemah atau tidak baik.
Untuk menutup tulisan ini, saya ingin menganjurkan agar kita mengenang Gus Dur bukan sebagai tokoh yang ‘bagus, tapi’, melainkan sebagai tokoh yang ‘bagus, walaupun’. Ia bisa menjadi presiden, walaupun tidak punya gelar doktor. Ia tetap menjadi tokoh yang disegani, walaupun sudah tidak jadi presiden lagi. Ia bisa menjadi seorang kiai yang taat, walaupun tak segan membantu dan membela kaum minoritas. Sayangnya, ia sudah meninggalkan kita, walaupun masih banyak masalah yang menghadang bangsa ini di masa depan. Harapan kita hanya tertuju pada tokoh-tokoh muda yang kini bermunculan. Mudah-mudahan, akan ada seorang pemimpin sekaliber Gus Dur, yang akan muncul ke panggung politik bangsa ini. Mudah-mudahan, Tuhan memberikan kepada kita pengganti Gus Dur, yang sama-sama berani tidak keren. “Ya tunggu aja! Gantinya kan pasti ada!” kata Gus Dur dalam bayangan saya. “Gitu aja kok repot!”
Selamat jalan, Gus Dur!
-Harry Nazarudin-
Catatan: tulisan ini adalah pendapat pribadi yang murni tanpa muatan politik maupun agama. Jika Anda merasa keberatan, bisa menghubungi saya di harnaz@gmail.com, supaya kita bisa berdiskusi. Terima kasih!
Saturday, November 21, 2009
[Resensi buku] Hening - Shusaku Endo
Saya pernah dengar mengenai Shusaku Endo, namun sama sekali tidak tahu bahwa beliau adalah seorang jepang beragama Katolik. Novelnya yang berjudul ‘Hening’ ditulis berdasarkan kehidupan misionaris di Jepang abad ke-17. Menurut sejarah, agama Katolik dibawa ke Jepang oleh misionaris Portugis pada abad ke-16. Mula-mula, kekristenan berkembang dengan sangat pesat di Jepang, karena menemukan lahan subur: kalangan petani miskin di pesisir Jepang yang ditindas oleh kaum samurai dan pemilik tanah. Namun, pada abad ke-16, tepatnya tahun 1587, tiba-tiba Hideyoshi, seorang kaisar, memerintahkan agar semua orang Portugis diusir dari Jepang, dan melarang agama Kristen di seluruh Jepang. Bukan hanya itu - para pemeluknya dicari, ditangkapi, dan kemudian disiksa sampai mau mengingkari iman mereka. Jepang menjadi Roma kedua, dan Iemitsu (Kaisar Tokugawa ketiga) menjadi Nero kedua.
Novel ini mengisahkan tenang Pastor Rodriguez, yang datang ke Jepang secara sembunyi-sembunyi sesudah agama Kristen dilarang di Jepang. Endo mengarang plot dengan sangat cantik, dimulai dari surat-surat Rodriguez kepada para Superior di Macao, berlanjut dengan mengisahkan Rodriguez dengan sudut pandang orang pertama, sampai di akhir cerita kembali dikisahkan dalam bentuk surat, catatan seorang penulis Belanda di Jepang. Melalui penuturan seperti ini, pembaca mendapatkan kesan betapa misteriusnya Jepang pada masa itu, seperti seolah-olah menonton sebuah film flashback.
Endo menempatkan dua tokoh dalam kisahnya dengan jalinan kisah yang ironis, sedikit menggelikan bahkan, yaitu Pastor Rodriguez dan Kichijiro. Kichijiro adalah seorang penganut Kristen yang mengantar Rodriguez ke Jepang, tapi dia pulalah yang melaporkan Rodriguez ke para pengawal sehingga ia tertangkap. Rodriguez dikisahkan mengalami nasib yang jungkir balik, dari seorang pastor yang dengan bangga melayani umatnya di gereja bawah tanah, sampai menjadi tahanan dan tertangkap, kemudian disiksa lebih lanjut di penjara dekat Nagasaki, sampai-sampai ia menginjak gambar Kristus, simbol pengingkaran yang paling hakiki. Dalam tiap fase inilah, muncul Kichijiro menghampirinya - selalu dalam bentuk yang kotor, menjijikkan, licik, lemah, pengkhianat, namun konsisten.
Melalui Kichijiro, Endo melukiskan kejatuhan - atau lebih tepat disebut transformasi - sang Pastor melalui pembandingan dengan Kichijiro yang konstan. Bahkan sampai akhir hayat sang mantan Pastor, Kichijiro dikisahkan masih ada di situ dengan segala kelemahannya. Namun, di mata Kichijiro, sang Pastor tetaplah sang Pastor, representasi Deus atau Tuhan - walaupun sudah mencukur janggutnya, menguncir rambutnya, mengenakan kimono hitam, dan berganti nama menjadi Okada San’emon. Sebuah penuturan yang indah, ironi yang menyayat hati, kepiawaian Endo dalam menguras emosi pembacanya.
Ada dua masalah yang ingin dikemukakan oleh novel ini. Pertama-tama adalah dualisme antara kekristenan dan Jepang. “Kekristenan adalah seperti wanita buruk rupa dengan cinta obsesif pada pria yang adalah Jepang” kata Inoue, dalam sebuah argumen dengan sang Pastor. Bangsa Jepang dikenal memiliki karakter budaya yang kuat, sehingga apapun pengaruh asing yang masuk, akan ‘dijepangkan’ dan diubah dari wujud aslinya. Jepang diibaratkan seperti ‘rawa-rawa’, yang menghisap segala sesuatu yang hinggap diatasnya. Sebagai seorang Katolik, tentulah Endo mengalami dilema yang sama sejak kecil - mengenai dualisme antara Jepang dan kekristenan. Dualisme - atau lebih tepat disebut paradox - inilah yang membuat Endo menjadi unik, dan mampu menghasilkan karya sastra kelas dunia seperti novel ini. Orang-orang yang lahir dengan tendensi berparadox memang punya potensi sebagai penulis hebat, seperti Elfriede Jelinek dari Austria atau Franz Kafka yang legendaris itu. Dalam novel ini, Endo menyajikan sebuah dialog antara sisi Jepang dan sisi Katoliknya, menghasilkan sebuah intrik dan plot yang begitu ironis, kejam, dan lucu sekaligus.
Yang kedua adalah masalah yang dihadapi semua orang Kristen masa kini: kebisuan Tuhan dan eksistensinya. Kita bisa mudah berargumen menentang komentar salah seorang pengawal Kristus ketika Ia disalib, “Kalau benar Engkau Anak Tuhan, selamatkanlah diriMu sendiri!”. Namun, ketika kita sendiri yang sedang disalib, atau menyaksikan orang yang kita kasihi dalam penderitaan, pertanyaan ini menjadi sulit dijawab. Kalau benar Ia Allah, mengapa Ia diam saja? Mengapa Ia membisu menyaksikan penderitaan para petani Jepang itu, yang disiksa berhari-hari? Atau menyaksikan penderitaan umat Kristen diseluruh dunia, yang sakit, yang tersiksa, yang miskin?. Inilah dilema yang diajukan oleh Endo. Kalau Ia membisu, lalu apakah Ia ada? Kalau Ia ternyata tidak ada, betapa menggelikannya seluruh perngorbanan para misionaris, betapa sia-sianya semua waktu kita di gereja, betapa nihil jadinya hidup di dunia ini! Inilah jeritan sang Pastor terus-menerus di akhir cerita, yang nampaknya merepresentasikan jeritan Endo sendiri, dan jeritan banyak orang Kristen yang mengalami penderitaan.
Lalu, apakah Endo memberikan jawaban pada akhir novelnya? Tidak. Endo tidak bisa memberikan jawaban tegas, dan sepertinya tidak seorangpun bisa. Endo bisa menjawab paradox-nya - bahwa sang Pastor yang kini secara resmi menjadi mantan pastor, hidup selama 30 tahun dalam tahanan rumah di Jepang, sebagai orang Jepang, Namun, sebenarnya sang Pastor tidak murtad, melainkan disebut ‘mencapai keimanan baru’. Sang pastor - yang tetap memberikan sakramen pengakuan dosa untuk Kichijiro bahkan sesudah mencukur janggutnya - seolah berada dalam hubungannya yang baru dengan Tuhan, yang kini ada sebagai Tuhan, tidak memiliki simbol-simbol kekristenan. Bahkan ia kemudian membantu pemerintah Jepang menumpas simbol-simbol itu, dalam paksaan tentu saja. Namun, ia tidak merasa Kristus meninggalkannya. Kristus tetap ada.
Bagaimana dengan problem kebisuan Tuhan? Nampaknya masalah ini tidak ada penyelesaiannya. Namun, jika kita renungkan akhir ceritanya, ada satu pemahaman tentang Tuhan yang tersembunyi. Yakni, bahkan antara kekristenan dan keimanan ada sebuah jarak. Kekristenan - dalam hal ini lembaga gereja - bukanlah sebuah institusi yang menentukan keimanan, melainkan keimanan lebih adalah sebuah kedekatan pribadi dengan Tuhan. Kedekatan pribadi inilah yang paling hakiki, yang murni dan tidak dicampuri oleh ambisi politik maupun organisasi. Dan kabar baik dari novel ini adalah bahwa kebisuan Tuhan inilah yang membawa sang Pastor - ironisnya, ketika ia menjadi mantan Pastor - kedalam suatu hubungan iman yang diperbaharui dengan Tuhan. Tuhan yang Esa, tidak terikat simbol-simbol agama. Tuhan yang universal, dan tidak bisa dicapai dengan akal manusia. Sang Pastor, seperti tertulis dalam 1 Korintus 13:12, telah bertemu muka dengan muka dengan Tuhan, melalui kebisuanNya.
Amin.
Sunday, November 08, 2009
Kehampaan Yang Mengisi Kehampaan
Matius 18:20
Karen Armtrong adalah seorang penulis asal Inggris yang mengkhususkan diri di bidang komparasi agama. Salah satu karyanya adalah buku “A History of God”, yang mengisahkan sejarah pergumulan antara tiga agama samawi: Kristen, Islam, dan Yahudi. Karen, seorang mantan biarawati Katolik, dalam buku ini menulis dengan sudut pandang orang ketiga dan sangat piawai dalam menempatkan tiga agama tersebut secara adil. Namun, ada satu kesimpulan yang ia tarik, yang menarik untuk dibahas hari ini.
Setelah mendalami sejarah perjalanan agama Kristen dari kebangkitan Tuhan Yesus sampai lahirnya gerakan kharismatik, perjalanan agama Yahudi dari jaman Nabi Musa sampai aliran Kaballah, dan perjalanan agama Islam dari Nabi Muhammad SAW sampai gerakan Wahabi, beliau menarik sebuah kesimpulan. Bahwa, agama adalah sesuatu yang dinamis, karena manusia sendiri juga sangat dinamis. Manusia – seberapapun maju teknologinya atau tinggi ilmu filsafatnya, akan merasakan sebuah kehampaan (void) dalam dirinya. Kehampaan inilah yang membuat manusia gelisah, berusaha mengisinya dengan kegiatan rohani, bahkan berani memulai suatu revolusi rohani, karena ia merasa kebutuhan yang amat sangat untuk mengatasi kehampaan dalam dirinya.
Salah satu contoh kehampaan ini juga bisa kita lihat dalam buku “Eat, Pray, Love” oleh Elizabeth Gilbert. Dalam buku ini, Elizabeth mengisahkan perjalanan hidup seseorang yang merasa hampa dalam hidupnya. Tokoh dalam buku tersebut adalah seorang yang kaya dan tinggal di daerah mewah di New York, Amerika Serikat. Tapi kemudian ia menjual semua miliknya dan berkelana ke Italia, dimana ia berusaha mengisi kehampaan itu dengan makanan yang enak-enak dan pemandangan yang cantik. Kemudian, ketika kehampaan itu ternyata masih bercokol, ia terbang ke India, dan berguru di sebuah biara yoga disana. Di dalam biara ini, ia belajar bermeditasi, terus-menerus, sampai ia merasakan sebuah ‘kekuatan spiritual’ yang ada dalam dirinya. Namun, kehampaan itu masih ada! Akhirnya, Elizabeth pergi ke Pulau Bali, dimana ia bisa belajar tentang hidup yang saling membantu, saling mengasihi – Love. Rupanya, Elizabeth mengisi kehampaannya dengan kekuatan dirinya sendiri di Italia dan India, tetapi di Bali-lah ia menemukan keseimbangan. Justru interaksi dengan orang lain, menjadi anggota sebuah keluarga – itulah yang pada akhirnya berhasil mengisi kehampaan dalam dirinya.
Saya saat ini sedang berada di Republik Rakyat Cina (RRC). Negara yang kini sedang maju sangat pesat ini, memang sangat mengandalkan kekuatan diri sendiri. Rekan-rekan saya disini, terutama yang seumur dengan saya, selalu heran ketika saya menundukkan kepala untuk berdoa. “Mengapa harus berdoa? Bukankah kita mengandalkan kekuatan sendiri?” katanya – bukan dalam nada menginterogasi atau mengecilkan agama, tetapi karena betul-betul tidak mengerti mengapa orang berdoa. Ia betul-betul tidak paham, apa gunanya memejamkan mata dan berbisik dalam hati – seolah-olah ada yang mendengar diatas sana. Sesudah itu saya selalu bercanda kalau kita sedang mengerjakan sesuatu yang resikonya besar: “I hope to God, and you hope to yourself, that the machine will work!”
Minggu lalu, saya sedang mengurus Surat Ijin Mengemudi di pinggiran kota tempat saya tinggal, ditemani seorang rekan dari kantor. Seperti biasa, lokasi Kantor Polisi berada di sebuah jalan yang hiruk-pikuk, dengan perumahan padat dan jejeran pabrik-pabrik tidak jauh dari situ. Ternyata saya harus mengambil pas foto, sehingga kami menyeberang menuju tempat pengambilan fotonya. Betapa terkejutnya saya, bahwa di tengah-tengah kepadatan pinggiran kota ini, ada sebuah gereja, persis di depan tempat foto! Sebuah gereja katolik yang sangat sederhana, tanpa ukiran apapun. Dindingnya bersih, nampaknya baru dicat. Ketika masuk, hanya ada sebuah meja altar sederhana, dengan hiasan bunga plastik dan guntingan kertas warna. Diatas tabernakel, ada patung Tuhan Yesus besar – tidak dalam posisi disalib, tetapi berjubah dan sedang mengangkat tangan. Saya menduga, patung itu sebenarnya patung Yusuf – karena biasa dalam gereja Katolik ada patung Maria di sebelah kiri dan Yusuf di sebelah kanan, tapi kali ini hanya ada patung Maria saja. Di dalam gereja, ada kursi-kursi yang sudah reot, dengan bantal-bantal jerami sebagai alas untuk berlutut. Benar-benar mengingatkan saya pada gereja-gereja sederhana di pedalaman Flores. Sebuah ruang gereja yang kosong, dengan langit-langit tinggi, yang memberikan rasa teduh dalam hati, terpisah dari hingar-bingar di luar sana.
Saya kemudian masuk ke dalam gereja itu, dan duduk sejenak untuk berdoa. Sejak pindah ke Cina, saya larut dalam keseharian masyarakat disana. Hiruk-pikuk pekerjaan, setiap hari berjuang mendapatkan pesanan, menyelesaikan masalah, untuk mendapatkan uang. Uangnya untuk apa? Untuk belanja, membeli barang mewah. Bahkan, banyak orang menggunakannya untuk kesenangan pribadi – wanita dan minuman keras, sampai-sampai ritual ‘mabuk’ menjadi ritual yang umum dalam dunia bisnis di Cina. Dimana-mana ada kebebasan duniawi – mau apa saja boleh, asal ada uang. Tetapi, apakah semua kesenangan duniawi ini membawa kebahagiaan? Tidak. Tingkat stress makin tinggi, bahkan tidak sedikit orang bunuh diri atau membunuh orang lain karena mengendarai mobil sambil mabuk. Kehampaan itu – walaupun dalam kondisi ekonomi yang begitu baik – mulai muncul dan dirasakan oleh setiap orang. Lalu, apa yang bisa mengisi kehampaan ini? Apa yang bisa mengisi kekosongan ini?
Jawabannya ada pada gereja kecil ini – sebuah kekosongan, kehampaan! Lalu, bagaimana kehampaan bisa mengisi kehampaan? Ya – karena dalam kehampaan di gereja ini, ada Tuhan! Ketika rekan saya yang berasal dari Cina datang menjemput saya, ia ikut masuk ke dalam gereja. Karena kami masih harus menunggu, ia pun duduk di dekat saya, sambil ikut menundukkan kepala. Ia bahkan berbicara sambil berbisik dan mematikan suara ponselnya. Di Cina, hal ini sangat tidak lazim. Budaya Cina memang terbiasa dengan bicara dengan suara keras dan ponsel yang berbunyi – dan diangkat – setiap saat. Hal ini juga terjadi ketika pimpinan kami dari Eropa datang – sehingga kami sering harus menjelaskan supaya sang tamu tidak tersinggung, karena beginilah budaya di Cina. Lalu, mengapa di ruang kosong ini – di tengah kehampaan ini, rekan saya mendadak berbisik dan mematikan suara ponselnya? Padahal ia tidak mengerti apa itu agama, apalagi mengenal Tuhan Yesus?
Berarti, bahkan seseorang yang sangat pragmatis seperti rekan saya, bisa merasakan kehadiran Tuhan di gereja kecil itu. Benarlah apa yang Ia katakan dalam Matius 18:20, “Dimana dua-tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, Aku ada disana!”. Tuhan memang sungguh-sungguh ada dan hadir di dalam kekosongan ruang gereja itu. Dan, justru kekosongan inilah yang dibutuhkan oleh manusia! Kekosongan yang berarti jeda, istirahat, terpisah dari hingar-bingar dunia luar. Terputus dari kekuatan uang, kekuasaan, dan alkohol, tercerabut dari nafsu-nafsu duniawi. Sebuah ruang kosong, ruang hampa, dimana yang ada hanya kita – manusia, dan kehadiran Tuhan, Allah kita. Sebuah kekosongan yang bisa mengisi kekosongan dalam diri kita. Sebuah ruang hampa, yang disediakan Tuhan, supaya kita bisa duduk tenang, bersandar padaNya, berserah kepada rencanaNya.
Amin.
Prinsip Matius
Matius 25:29
Penjelasan Tuhan Yesus mengenai talenta ini sudah sering dibahas di berbagai khotbah. Tapi, kalau diperhatikan, bukankah perikop diatas ini kelihatannya bertentangan dengan prinsip yang biasanya diajarkan oleh Tuhan Yesus? Biasanya Tuhan Yesus selalu membela yang pihak yang lemah. Ia selalu berada di pihak yang miskin, sakit, atau tidak berdaya, bahkan Ia pernah berkata: “Kemarilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat” (Mat 11:28). Tapi di perikop ini tidak demikian. Ia justru seolah-olah bertindak dengan kejam!
Bayangkan: karena mau keluar negri, si Boss menitipkan uangnya pada tiga pegawainya: satu orang mendapat Rp 50 juta, orang kedua Rp 20 juta, dan orang ketiga Rp 10 juta. Pegawainya ini bukan manajer, bukan pula direktur. Si Boss juga tidak memberikan instruksi apa-apa, tahu-tahu dia pergi saja. Nah, para pegawainya pun kebingungan, dan bertindak sendiri-sendiri. Yang dapat Rp 50 juta, pontang-panting buka toko, memberi kredit, dan akhirnya mendapat untung Rp 50 juta lagi. Total Rp 100 juta! Yang kedua sama: dengan Rp 20 juta, ia membuka usaha MLM dan mendapat untung 20 juta. Yang mendapat modal paling kecil, cuma Rp 10 juta, tentu saja bingung menjalankan uangnya. Modal Rp 10 juta, mau buat apa? Akhirnya, ia simpan saja sampai si Boss pulang. Wajar bukan? Masih untung tidak ia bawa kabur atau dikorupsi. Toh si Boss tidak memberikan instruksi apa-apa, apalagi mengajarinya menjalankan uang. Namanya juga nitip, kembali modal wajar dong?
Biasanya, kisah ini akan berakhir happy ending a la Alkitab: yang dapat untung besar akan dapat pujian dari si Boss, sementara sang pegawai malang yang dapat modal paling kecil, juga akan dihargai oleh si Boss, karena minimal ia tidak mencuri atau mengkorupsi. Yang lemah harus dibela bukan? Tapi, apa yang terjadi disini? Si Boss bukannya berbaik hati! Lihat saja komentarnya: “Kalau begitu, uang Rp 10 juta itu kamu transfer ke Joni yang dapat Rp 100 juta, biar bonus dia bertambah Rp 10 juta!” (ref. Mat. 25:28). Waduh, kejam sekali! Masak sudah miskin, diambil pula uangnya, diberikan pada yang paling kaya lagi! Bukan cuma itu: “Untuk kamu, saya akan PHK sekarang juga, supaya masuk ke kegelapan paling gelap!” (ref. Mat. 24:30). Nah. Bukan cuma diambil uangnya, sang pegawai yang malang ini malah di-PHK pula. Padahal, ia tidak bersalah bukan? Si Boss kan tidak memberi target, berapa yang harus ia capai? Si Boss juga tidak memberi training, bagaimana caranya menjalankan uang. Lalu, mengapa si Boss begitu kejam?
Malcolm Gladwell, seorang penulis asal New York dalam bukunya “Outliers”, mengajukan sebuah teori menarik mengenai kesuksesan. “Outliers” berarti seseorang yang luar biasa, atau berhasil mencapai sesuatu diluar kebiasaan umum. Dalam buku ini, ia menganalisa kesuksesan orang-orang terkenal, baik atlit, konglomerat, maupun politikus. Ia menyinggung tentang ‘prinsip Matius’ dalam bab kedua: bahwa mereka yang mempunyai akan diberi, dan yang kekurangan akan dikurangi.
Contohnya sederhana: ia menganalisa daftar tanggal lahir dari tim hoki nasional Kanada dan tim nasional sepak bola Ceko (Anda bisa mencoba pada tim Persib atau Persija!). Ia mendapatkan bahwa hampir semua pemain lahir pada bulan Januari sampai Maret! Mengapa demikian? Ini disebabkan oleh proses penentuan pemain berbakat yang diambil dari tim sekolah. Sekolah di Kanada dan Ceko memiliki cut-off date atau tanggal batas kelas pada 1 Januari. Jadi, anak yang lahir 2 Januari akan sekelas dengan anak yang lahir 31 Desember pada tahun yang sama. Apa akibatnya? Tentu saja Anton yang lahir 2 Januari badannya lebih besar, larinya lebih cepat, dan perkembangannya lebih maju, dibanding Toni yang lahir 31 Desember!
Jadi, ternyata, anak yang masuk seleksi tim terbaik bukanlah yang paling berbakat, tapi yang lahir duluan. Dengan lahir duluan, sang anak tumbuh lebih dulu, masuk tim nasional, lebih banyak dapat waktu latihan, lebih banyak dapat teman latih setanding, dan seterusnya, sampai sang anak bisa jadi atlit terkenal - hanya gara-gara ia lahir lebih dulu - bukan karena ia berbakat. Inilah yang disebut prinsip Matius: sudah untung karena lahir lebih dulu, makin untung karena dapat berbagai kemudahan! Bagaimana dengan yang lahir belakangan? Tidak hanya dalam olah raga, dalam pelajaran pun sering tertinggal, akhirnya dicap sebagai anak ’bodoh’, sampai-sampai tumbuh menjadi orang yang tidak percaya diri. Nah - yang lahir belakangan - sudah kurang, makin dikurangi pula!
Berarti, Tuhan Yesus memang jenius. Selama ini kita mengira bahwa kesuksesan adalah murni dari bakat sendiri, hasil usaha sendiri, buah kerja keras dan kesungguhan hati. Ternyata tidak! Ada orang yang memang dilahirkan untuk sukses - karena punya fasilitas, keluarga, bahkan tanggal lahir - yang cocok. Sementara ada orang yang kurang beruntung, dilahirkan pada waktu yang salah, dari keluarga broken home pula. Menyedihkan memang, tapi, sejarah membuktikan, begitulah adanya! Dan hal ini sudah dikemukakan oleh Tuhan Yesus, dua ribu tahun yang lalu. Bahwa ada orang yang memang punya 5 talenta - artinya punya banyak kesempatan untuk sukses, dan ada yang punya 1 talenta - punya lebih sedikit kemungkinan untuk sukses.
Lalu, apa pelajaran yang bisa ditarik dari perikop Matius ini? Perhatikan bahwa Tuhan Yesus justru mengecam orang yang memiliki 1 talenta. Mengapa? Karena sikapnya! Yang 5 talenta dapat 5 talenta, yang 2 talenta dapat 2 talenta. Pastilah si Boss juga akan senang, kalau saja yang 1 talenta itu bertambah 1 saja, jadi 2 talenta. Cukup! Talenta yang sedikit bukan alasan untuk tidak berusaha, tidak bekerja keras. Talenta adalah tanggung jawab - dan berapapun jumlahnya, harus diusahakan. Sang pegawai yang malang ini dihukum bukan karena ia modalnya sedikit, tapi karena ia tidak berusaha sama sekali untuk mengembangkan modalnya. Padahal, dengan keterbatasannya, justru ia harus berusaha lebih keras untuk berhasil.
Banyak diantara kita yang bersikap seperti si pegawai bertalenta satu ini. Merasa lahir dari kondisi yang kurang beruntung, dan tambah tidak beruntung karena sikap kita yang pasif. ”Memang nasib sudah begini...” kata yang satu. ”Mungkin ini kehendak Tuhan...” kata yang lain. Padahal, omong kosong! Apakah Tuhan menghendaki kita pasrah? Apakah Tuhan menghendaki kita mengubur talenta kita dalam tanah dan meratapinya? Tidak! Tuhan ingin kita berusaha. Tuhan ingin kita bekerja, mengubah nasib, dan menjadi sukses - darimanapun kita berasal. Ia bukan Tuhan yang kejam - buktinya, Ia cukup puas mendapat 5 talenta dari modal 5, dan 2 talenta dari modal 2. Ia tidak mengharapkan 100 talenta dari modal 5 talenta. Tapi, inilah intinya - talenta itu harus berkembang, tidak boleh dikubur dalam tanah dan ditangisi seumur hidup. Jadi, mulailah berusaha. Jangan menyalahkan Tuhan atau nasib, karena ini dan itu. Bahwa beberapa orang lebih beruntung dari kita, itu sudah wajar di dunia ini. Tapi bukan berarti kita tidak bisa sukses. Bangun dan kejarlah talenta itu, supaya kita tidak dihukum oleh Boss kita!
Kunshan, 25 Oktober 2009.
Monday, August 17, 2009
Menguduskan Hari Tuhan
Ibrani 4:9-10
Di Indonesia, hak cuti atau liburan seringkali jarang digunakan. Bukan saja bagi karyawan, tapi bagi para manajer pun nampaknya hal cuti bukanlah satu hak yang penting. Ada cerita klasik, bahwa kalau ada seorang supervisor yang mau cuti, maka atasannya dengan berbagai alasan dan argumen akan berusaha sekuat tenaga supaya cuti itu tidak jadi diambil. Jadi, kesempatan cuti hanya ada pada harpitnas, itupun hanya satu atau dua hari saja.
Hal ini sangat lain dengan kondisi di Eropa atau di Amerika. Hak cuti, disana sangat dihargai. Di Jerman, seorang pegawai berhak cuti 25 hari setahun, dan tidak bisa diganggu gugat. Artinya, adalah tugas atasannya untuk menyiapkan pembagian tugas jika sang karyawan ingin cuti, sehingga ia bisa cuti kapan saja. Saya ingat, pertama kali masuk kerja, saya menerima pesan bahwa rekanan saya sedang cuti sampai sebulan! Di Indonesia, kalau cuti sebulan, waktu kita kembali, sudah ada orang lain yang duduk di meja kita, alias dianggap mengundurkan diri!
Tapi, karena saya punya bisnis sendiri kecil-kecilan, saya punya pengalaman yang unik. Saya memiliki sebuah laundry, dan laundry tentu saja dituntut untuk memberikan pelayanan tanpa libur. Akhirnya, saya membuat program bahwa karyawan bisa menukar hari libur mereka dengan uang. Ide saya ini disambut baik oleh karyawan, yang katanya toh tidak akan kemana-mana, sekalipun cuti. Tapi, apa yang terjadi kemudian? Para karyawan dilanda perasaan tidak puas terus-menerus. Sering terjadi keributan di kantor karena satu karyawan bertengkar dengan yang lainnya. Akhirnya, satu persatu mengundurkan diri, bahkan untuk gaji yang lebih rendah. Ada apa ini?
Rupanya, dengan bekerja tanpa cuti, paya karyawan memang senang menerima uang lebih, tetapi tanpa disadari mereka menjadi stress, sehingga lama-lama tidak tahan dengan kondisi ini. Sehingga, sejak saat itu, saya memutuskan bahwa cuti wajib diambil dan tidak boleh ditukar dengan uang atau lembur sekalipun! Sejak itu, tidak seorangpun karyawan mengundurkan diri.
Setiap manusia perlu perhentian. Ini adalah konsep yang diajarkan sejak jaman Musa, bahwa hari ketujuh adalah hari peristirahatan. Dari hari peristirahatan, atau yang disebut dengan hari Sabat ini, ada dua hal yang bisa kita pelajari.
Kata ‘Sabat’ pertama kali dalam Alkitab pada Keluaran 16:23, ketika dikisahkan mengenai manna. Diceritakan bahwa Tuhan memberi makan manna pada bangsa Israel setiap hari selama empat puluh tahun dalam pengembaraan mereka di padang pasir. Tapi, sistem yang diterapkan Tuhan cukup aneh: bangsa Israel akan memperoleh manna setiap hari selama enam hari. Pada hari keenam, mereka akan mendapat jatah dobel, dan pada hari ketujuh tidak ada manna. Apa yang Tuhan ingin ajarkan pada umat Israel? Hal ini dapat kita lihat pada Keluaran 16:27. Tuhan murka, ketika mengetahui bahwa bahwa pada hari ketujuhpun ada orang Israel yang keluar mencari-cari manna!
Intinya, Tuhan ingin mengajarkan manusia tentang keserakahan. Apa yang terjadi ketika pada hari keenam, manusia mendapat jatah dobel? Ya - semua dilahap habis, tanpa berpikir panjang. Jadi, adanya hari perhentian adalah pelajaran bahwa tidak sepatutnya manusia terus-menerus bekerja, mengumpulkan harta tanpa henti. Tuhan memberi rejeki cukup untuk seminggu, sehingga kita bisa libur sehari. Kalau kita masih mencoba-coba mengumpulkan lebih dari jatah kita, maka Ia akan murka!
Konsep kedua kemudian diajarkan oleh Tuhan Yesus, karena penerapannya sudah salah kaprah. Konsep ‘perhentian’, yang lebih berarti istirahat, diterjemahkan secara ekstrim oleh pemuka agama Yahudi menjadi sebuah keharusan untuk berdiam diri. Yang tadinya sebuah anjuran, diterjemahkan menjadi larangan, hukuman, dan cara untuk mencari untung! Itulah sebabnya, ketika Tuhan Yesus memetik gandum untuk makan (Mat 12:1-8) atau menyembuhkan orang sakit (Yoh 5:1-18), yang diterimaNya dari pemuka agama Yahudi adalah kritikan, bukan pujian. Dengan perbuatan ini, Tuhan Yesus justru ingin mengembalikan makna hari Sabat yang sesungguhnya. Bukannya sebuah hari larangan, melainkan sebuah hari anjuran - hari dimana manusian dianjurkan untuk beristirahat. Untuk memberi waktu bagi diri sendiri dan Tuhan, untuk mengalami jeda dari kegiatan sehari-hari mencari nafkah. Inilah makna kedua hari Sabat yang diluruskan kembali oleh Tuhan Yesus: bahwa Sabat adalah waktu istirahat, bukan berarti dilarang melakukan kegiatan apa-apa. Melainkan, mengarahkan kegiatan kita untuk hal-hal yang tidak kita lakukan di hari kerja biasa.
Lalu, bagaimana kita di dunia modern sekarang ini menyikapi hari Sabat? Ya, hari Sabat adalah hari istirahat. Istirahat menurut definisi psikologi bukan berari tidur atau mengaso seharian, tetapi melakukan kegiatan yang berlawanan dengan kegiatan kita sehari-hari. Artinya, kalau sehari-hari kita banyak berpikir, istirahat berarti memancing. Atau, kalau kita berprofesi sebagai nelayan, maka merawat tanaman bunga di kebun juga adalah istirahat! Dan, jangan lupa bahwa peristirahatan ini adalah anugerah dari Allah, sehingga kita harus bersyukur padaNya. Kita harus mengisi hari Minggu dengan kegiatan rohani, berbakti kepada Tuhan. Ia tidak menuntut kita melakukannya setiap hari, bukan? Bersyukurlah atas satu hari itu!
Amin
Tuesday, August 04, 2009
Gembala Yang Jahat
Zakharia 11:13
“But the chief priests took the silver pieces and said, ‘It is not lawful to put them into the treasury, because they are the price of blood’. And they consulted together and bought with them the potter’s field, to bury strangers in”
Matthew 27:6-7
Kalau kita sudah sering mendengar mengenai gembala yang baik, hari ini saya mau berbicara soal gembala yang jahat. Apakah ada gembala yang jahat? Apa yang dimaksud dengan gembala yang jahat?
Zakharia 11:4-17 mengisahkan tentang Nabi Zakharia yang sedang memerankan seorang gembala yang jahat. Lihatlah apa yang dikatakannya pada Zakharia 11:9 - diterjemahkan dalam bahasa sehari-hari - “Saya sudah bosan ngurusin kalian! Yang mau mati silakan mati, yang mau hilang ya hilang, yang masih ada, ya silakan makan teman sendiri!”. Waduh, betapa jahatnya sang gembala ini - domba kok disuruh makan domba?
Dalam perikop ini, ada tiga peran penting yang perlu kita renungkan. Yang pertama, adalah domba-domba sembelihan. Pernah menonton film Charlotte’s Web? Film yang mengharukan ini mengisahkan persahabatan antara seekor anak babi, bebek, ayam, sapi, dan laba-laba di sebuah kandang. Mula-mula mereka menjalin hubungan sebagai keluarga yang harmonis dengan sang pemilik yang nampak baik hati. Namun, ketika bebek dan ayam memberikan telur, sapi memberikan susu, apa yang bisa diberikan oleh seekor babi? Ya - seekor babi hanya bermanfaat jika dipotong! Betapa sedihnya sang anak babi ketika menyadari tentang hal ini. Sama halnya dengan domba sembelihan - yang ada hanya untuk disembelih. Hanya berguna kalau mati! Memang ada domba untuk ternak dan domba untuk diambil bulunya, tetapi Tuhan secara khusus meminta Zakharia menggembalakan ‘domba sembelihan’.
Yang kedua adalah para pedagang domba. Dalam ayat 5, dijelaskan, bahwa sang pedagang domba ini tidak akan merasa bersalah kalau dombanya dipotong, dan yang menjualnya malah akan bersyukur dan berkata: “Horee! Saya kaya, dombanya laku!”. Kasihan ya, domba-domba ini? Sudah ditakdirkan untuk dipotong, pemiliknya pun tidak kehilangan kalau domba ini dipotong. Sebagai ilustrasi, kita bisa melihat pada pedagang domba di kota-kota sebelum Hari Raya Kurban bagi umat muslim. Mereka memancang dombanya dimana saja - di trotoir, di pinggir jalan, atau bahkan di lapangan parkir, dengan memberi rumput seadanya. Betapa kontrasnya perilaku ini dengan pemilik domba-domba tersebut di tempat asalnya - seperti yang pernah ditayangkan di serial ‘Jika Aku Menjadi’. Para pemilik domba yang memelihara domba sejak kecil, begitu sayang dengan domba-dombanya, sampai-sampai rela kena kencing domba ketika memberi mereka makan!
Pihak ketiga adalah sang gembala itu sendiri - diperankan oleh Nabi Zakharia. Nah, dalam perikop ini, Nabi Zakharia betul-betul menjadi gembala yang tidak patut dipuji. Boro-boro mempertahankan dombanya dari serigala - memberi makan saja ia ogah! Ditulis dalam ayat 8 bahwa sang gembala muak terhadap domba-dombanya, dombanya sendiri pun muak terhadap gembala yang satu ini! Akhirnya, ia meminta upah dari pedagang domba - sebesar tiga puluh keping perak - yang kemudian diberikan kepada tukang periuk di Bait Allah.
Tiga puluh keping perak? Rings a bell? Ya - sama persis seperti upah Yudas Iskariot ketika menyerahkan Tuhan Yesus. Dan, dalam Matius 27, persis seperti dalam perikop Zakharia, uang ini pun diserahkan kepada tukang periuk di Bait Allah. Disini, kita mulai mengerti perumpamaan yang sedang diperankan oleh Zakharia.
Sang gembala yang jahat itu, tak lain adalah Yudas Iskariot. Yudas sebenarnya adalah seorang gembala umat. Ia mengikut Yesus sejak lama, dan ikut mendengar semua ajaranNya. Tetapi, ia tidak peduli akan umatnya - ia hanya peduli pada tujuannya sendiri. Ada yang mengisahkan bahwa Yudas adalah seorang pejuang Yahudi yang memimpikan kemerdekaan Israel dari Romawi ketika itu. Ketika Tuhan Yesus jelas menunjukkan bahwa Ia tidak berminat untuk memimpin sebuah pemberontakan militer, Yudas pun kecewa, dan menerima bayaran 30 keping uang perak dari Imam Kepala dan orang Farisi.
Siapa yang memerankan Imam Kelapa dan orang Farisi? Ya - para pedagang domba! Ketika Nabi Musa menurunkan Sepuluh Perintah Allah, kaum Lewi dan pemuka agama dipilih Tuhan untuk menggembalakan domba-dombaNya, yakni umat Israel. Namun, apa yang terjadi? Para pemuka agama ini justru menjadi semena-mena, suci sendiri, dan mengganggap umatnya sebagai ‚domba sembelihan’ - objek penderita yang selalu berdosa dan harus membayar. Bukankah para pemuka agama yang memberikan harga 30 keping perak? Mengapa mereka tidak mau menerimanya kembali? Itulah kemunafikan - padahal mereka yang merencanakan, tapi ketika terlaksana, mereka masih bertindak ‚sok suci’, dan menolak uang tersebut, untuk diberikan pada tukang periuk!
Terakhir, domba-domba sembelihan, adalah Anda dan saya, manusia umat Tuhan. Kita begitu tidak berdayanya melawan dosa, begitu hopeless. Apalagi berada di tangan gembala yang jahat dan pedagang domba - semakin kita menderita, justru mereka semakin senang! Inilah yang digambarkan oleh agama-agama palsu pada jaman Maya atau Inca, misalnya. Begitu ada musibah, yang dikorbankan adalah rakyat! Dijadikan persembahan untuk Dewa Matahari, disembelih di muka umum. Kasihan bukan? Hopeless!
Tapi, untung Tuhan masih berbelas kasih kepada manusia. Masih ada Tuhan Yesus, yang dalam Yohanes 10:1-18 menjelaskan mengenai gembala yang baik. Lalu, apa bedanya antara Tuhan Yesus dengan gembala yang jahat dalam Zakharia? Ada satu perumpamaan lagi yang perlu kita perhatikan. Dengan apakah sang gembala yang jahat menggembalakan domba-dombanya? Dengan dua tongkat bernama ‚Kemurahan’ dan ‚Ikatan’! Jadi, kemurahan Allah ada batasnya, demikian pula status ikatan istimewa antara bangsa Israel dengan Allah. Dalam Zakharia, dikisahkan bahwa kedua tongkat itu dipatahkan - tidak berlaku lagi! Secara sederhana, Allah berkata: kalau modalnya cuma kemurahan hati dan ikatan janji, lupain aja deh! Kedua ‚modal’ itu tidak akan cukup untuk menyelamatkan manusia. Lalu, apa tongkat yang digunakan Tuhan Yesus? Nyawa-Nya! (Yoh. 10:17). Nyawa yang dikorbankan menurut kehendakNya, yang melambangkan cinta kasihNya kepada umat manusia. Tongkat kasih dan pengorbanan inilah yang tidak bisa dipatahkan, dan pada akhirnya menjadi penyelamat bagi domba-domba sembelihan seperti kita ini.
Amin!
Wednesday, July 15, 2009
Setia Sampai Akhir
“Aku telah mengakhiri pertandingan dengan baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman“
2 Timotius 4:7
Tanggal 15 Juli, dua tahun yang lalu, sebuah berita yang mengejutkan sampai di rumah kami di Bandung, Jawa Barat. Waktu itu kira-kira pukul sepuluh pagi, ketika saya dan ibu saya baru pulang dari gereja. Tiba-tiba bunyi telefon berdering. Ayah saya berbicara dengan suara panik di telefon, mengatakan agar kami segera pulang, karena ada sesuatu yang terjadi pada Erina.
Erina, atau nama lengkapnya dr. Erina Natania Nazarudin, pada waktu itu sedang bekerja sebagai dokter PTT di Fakfak, Papua Barat. Sesudah beberapa tahun melayani di Puskesmas Cikawari, Erina memutuskan untuk melanjutkan PTT di Fakfak, Papua Barat. Selain karena ia ingin melayani di tempat baru dan berpetualang ke daerah lain, Erina juga ingin melihat pelayanan gereja di tempat lain. Beliau adalah seorang aktivis di GKI Taman Cibunut Bandung, dari Komisi Pemuda sampai Komisi Musik. Karena jangka PTT-nya hanya 6 bulan, dr. Erina bahkan sempat menitipkan tugasnya di Komisi Musik pada rekannya. Toh, 6 bulan kemudian, dr. Erina akan bisa kembali dan melanjutkan pelayanan di gerejanya.
Namun, hari itu, semuanya berubah. Kabar lewat telefon yang kami terima di rumah mengatakan bahwa dokter Erina Natania Nazarudin meninggal dunia dalam kecelakaan ambulans yang dikendarainya. Ia seharusnya tidak mengendarai ambulans tersebut, tapi sehari sebelumnya, ada seorang ibu yang mengalami kesulitan persalinan di klinik tempatnya bekerja di Kokas. Karena kondisi sang ibu sudah gawat, sementara waktu itu tidak ada supir yang bisa mengendarai ambulans, maka dr. Erina memutuskan untuk mengambil resiko melalui jalan berliku tajam antara Kokas dan Fakfak, untuk mengantar sang ibu dan bayinya ke rumah sakit yang lebih besar disana. Belum sempat istirahat, dr. Erina harus segera kembali ke Kokas di hari Minggu itu, karena di klinik itu terdapat seseorang yang sedang sakit. Dalam perjalanan kembali ke Kokas itulah, ambulans yang dikendarai dr. Erina mengalami kecelakaan.
Kami sangat bersedih ketika mendengar kabar tersebut. Ketika peti jenazah dr. Erina tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, kami datang menjemput dengan perasaan yang bercampur aduk. Namun, ketika kami melihat sendiri, betapa banyak orang yang hadir untuk memberikan penghormatan mereka, terselip rasa bangga yang luar biasa. Banyak sekali pengunjung yang datang dari berbagai macam latar belakang, semuanya bertujuan sama, memberikan penghormatan pada pengorbanan dan keteladanan dr. Erina, yang dengan berani mengorbankan nyawanya demi keselamatan seorang ibu, seorang bayi, dan seorang pasien yang sedang sakit. Hati kami pilu, namun terharu, melihat perhatian yang begitu besar yang tercurah pada kami dan dr. Erina di hari itu.
Perhatian itu berlanjut sampai ketika kebaktian penghiburan dilaksanakan di Bandung. Ada satu hal yang saya ingat pada waktu itu. Karena semasa hidupnya dr. Erina aktif di kegiatan pemuda di GKI Taman Cibunut, maka vocal group dan paduan suara gereja setia mendampingi kebaktian setiap hari. Namun, seperti biasanya, mereka menyiapkan lagu-lagu sedih untuk mengiringi kebaktian penghiburan. Ketika kebaktian disiapkan, tiba-tiba saya dibimbing oleh Roh Kudus dan berkata kepada paduan suara: ”Lupakan semua lagu sedih! Saya tidak mau dengar kata-kata ’Kita ’kan berkumpul di Sorga’ atau ’DidalamNya ada penghiburan’. Saya mau dengar lagu ’Hari Ini Kurasa Bahagia’, atau ’Bagai Rajawali’, karena hari ini, seorang Anak Tuhan sudah jadi pahlawan bagi bangsanya!’. Seketika itu, paduan suara bernyanyi tanpa teks, karena lagu dalam teks tidak ada yang cocok dengan yang saya minta. Tapi mereka bernyanyi dengan bersemangat, dan kami yang bersalaman dengan para pengunjung pun tidak merasa seperti dalam suasana duka, melainkan seperti bersalaman dengan tamu di sebuah pesta pernikahan. Benar-benar rasa sukacita dan penyertaan Tuhan yang kami rasakan!
Betapapun pahitnya, kepergian dr. Erina Natania Nazarudin adalah sebuah kebanggan bagi umat kristiani di Indonesia. Sebagai seorang Kristen yang taat dan selalu aktif dalam pelayanan, Firman Tuhan selalu mendasari setiap tindakan dr. Erina. Namun, ini tidak membuatnya terbatas dalam pergaulan. Ketika melayani pasien maupun saat masih tinggal di Fakfak, dr. Erina dikenal sebagai seorang yang ramah, suka menolong, mudah bergaul. Keteladanannya sebagai seorang dokter yang menyelamatkan nyawa manusia, juga didasari oleh pemahamannya yang mendalam tentang kasih Kristus, yang rela mengorbankan diriNya untuk disalib demi menebus dosa umat manusia. Dari Kristus-lah ia belajar tentang arti pengorbanan dan cinta kasih. Dan dari dr. Erina, dunia bisa belajar tentang prinsip kekristenan: pengorbanan yang didasari oleh cinta kasih.
Harry Hardianto Nazarudin