Wednesday, February 23, 2022

Ambisi Yang Mulia

“Supaya kami tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia”

FIlipi 2:15

“Ada yang mau jadi ketua disini?”

Senyap.

Sebuah pemandangan yang sudah biasa bukan? Gabungan antara ajaran Kristen yang dipahami salah kaprah, dengan budaya Timur yang dulu bikin kita terjajah. “Masak di gereja mau berambisi?” begitu kata beberapa orang. “Jangan saya, saya belum siap, masih berlumuran dosa…” kata yang lain. Padahal, nggak ada yang bilang bahwa untuk melayani di gereja harus suci dulu bukan? Tapi, itulah kenyataan yang ada, yang mengakibatkan terjadinya “brain drain” hebat di gereja. Bagaimana seseorang yang sigap bersemangat di tempat kerja, berubah jadi pasif melongo di gereja, dengan dalih diatas tadi. Lalu, harus bagaimana?

Saya pernah punya pengalaman yang tak terlupakan. Ketika dalam sebuah persekutuan kecil yang tidak penting, nggak ada juga nggak apa-apa, terjadi dialog seperti diatas. Kalau tidak ada yang mau, ya bubar jalan. Nggak apa-apa kok, kan masih banyak persekutuan lain! Semua menjembrengkan alasan dirinya tidak bisa menjadi pemimpin, atau lebih tepatnya pelayan, dalam kegiatan ini.

Saya ada disitu, dan saya terpikir oleh sesuatu. Saya seolah melihat Tuhan Yesus, duduk di sudut ruangan, mengamati kami. Dan saya membayangkan, bagaimana perasaan saya, jika saya menjadi Dia? “Baru kemarin, Aku menolong si Joko yang duduk disitu, supaya tidak jatuh ketika motornya oleng” kataNya. “Si Polan, yang di sebelah Joko, sudah bertahun-tahun Aku selamatkan dari resiko bangkrut” sambungNya lagi. “Ratna? Baru saja bulan lalu Aku beri mukjijat supaya dia punya cukup uang untuk memperpanjang kontrak rumahnya” kataNya lagi. Dan ketika ditanya: siapa yang mau maju melayani Aku disini? Semuanya membisu… Joko, Polan, Ratna, semuanya merasa sibuk…

Untung, saya bukan Tuhan Yesus. Kalau iya, maka langsung ada petir menyambar dan menghanguskan semua orang di ruangan itu! Kenyatannya, Tuhan Yesus begitu mengasihi kita, sehingga Ia tidak marah. Dan tentu saja Ia tidak membalas, meskipun Ia berhak. Tapi saya yakin, jika ada satu orang yang angkat tangan: “Ya, saya mau!” – maka Tuhan Yesus pasti senang. Ia pasti bangga, akhirnya ada juga yang mau membela! Memang, Ia tidak perlu dibela. Tapi kalau ada yang belain, ya boleh toh tersenyum sejenak?

Pada dasarkan, punya ambisi yang mulia dalam pelayanan adalah sederhana: mau membuat Tuhan Yesus tersenyum. Sama seperti senyum kita ketika anak kita yang baru saja memecahkan gelas mahal, tiba-tiba menyodorkan kertas bergambar buruk bertuliskan “I am sorry Daddy”. Bukankah sang daddy kemudian akan memeluk anaknya, dan membelikan apa yang membuatnya bahagia – meskipun besoknya giliran piring yang ia pecahkan? Yuk, kita bikin senang hati Tuhan!

Serpong, 23 Februari 2022

Tuesday, February 22, 2022

Kasih Yang Bekerja

 “Inilah perintahKu kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain”

Yohanes 15:17

 

Membaca perintah ini, apa yang kamu bayangkan? Suasana yang santai bukan? “Kasihilah seorang akan yang lain, peace bro!” kira-kira begitu. Bayangkan interior sebuah coffee shop kekinian, lokasinya di Uluwatu Bali, berinterior bambu, music instrumental, tentu saja pemandangan ke arah laut dengan ombak berdebur. Lalu, kita tinggal leyeh-leyeh di bangku-bangku, sambil sayang-sayangan. Itulah “kesan” utama dunia mengenai kekristenan: kasih, sayang, cinta, santai!

Tapi, sebenarnya ini sangat jauh dari pesan sesungguhnya yang Tuhan Yesus mau kita lakukan. Pastor Kenny Goh dalam khutbah di JPCC bulan Februari tahun 2022, menyatakan bahwa kasih itu bukan perasaan, melainkan perbuatan. Kok perbuatan? Bukan cuma sekadar perbuatan pulak! Coba lihat Yohanes 15:13, perikop yang sama: “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya unuk sahabat-sahabatnya”. Jiah, “kasih” bisa sampai berkorban nyawa?

Di ayat 15, Tuhan Yesus menjelaskan lagi, bahwa yang disebut “mengasihi” adalah BERBUAT apa yang Ia perintahkan pada kita. Kasih juga mengandung perintah, dalam ayat 16: “Supaya kamu pergi dan menghasilkan buah”… lalu “Supaya apa yang kamu minta kepada Bapa diberikanNya kepadamu”. Rupanya, “kasih” bukan leyeh-leyeh saling membelai! Kasih adalah perbuatan, menghasilkan buah. Kasih adalah action, sampai berkorban nyawa! Dan reward dari kerja kasih ini nyata: bahwa permohonan kita akan dikabulkan.

Jadi, bayangan kita mengenai “kasihilah satu sama lain” harus berubah: bukan cafĂ© tempat leyeh-leyeh, tapi melihat suatu proyek bangunan. Dimana sekelompok orang bekerja, membawa bata, membuat tembok, memasang kayu, mengecat, sementara di sekelilingnya mungkin terlihat berantakan, tapi pelan-pelan muncul sebuah bangunan yang indah. Ya – mereka kotor, belepotan semen dan debu. Tapi, itulah gambaran “kerja kasih” yang sesungguhnya, yang Tuhan Yesus ingin kita sebagai pengikutNya, turut melakukan. Dan di ayat 9, Ia memberikan satu alasan, mengapa kita harus rela bekerja seperti kuli bangunan dalam kasih: “Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikian juga Aku telah mengasihi kamu!” katanya. Ya, Bapa sudah lebih dulu bekerja melalui Tuhan Yesus, dan Tuhan Yesus sudah lebih dulu mengorbankan nyawaNya bagi kita para sahabatnya!

Serpong, 22 Februari 2022

Monday, January 04, 2021

Terima Kasih JPCC!



Angus Deaton, pemenang hadiah Nobel ekonomi tahun 2015, punya sebuah cerita yang mengejutkan. Dalam Podcast "Nobel Prize Conversations", beliau mengisahkan bagaimana terjadi degradasi terhadap standar hidup warga negara Amerika Serikat berkulit putih yang berpendidikan dibawah S1 (non-college educated). Fenomena "death of despair" atau kematian akibat penderitaan terus meningkat angkanya di kelompok masyarakat ini. Padahal, mereka tidak " terlihat miskin": kalau kita lihat di TV atau di Amerika, mereka justru kebanyakan overweight, berbaju kaus Champion atau Nike, dan punya mobil walaupun butut. Namun, problemnya bukan disitu: kebahagiaan hidup mereka merosot jauh. 

Angka perceraian tinggi, banyak anak-anak terlantar dan tidak punya orang tua lengkap. Kematian bayi meningkat, gizi anak menurun. Padahal, bukankah Amerika Serikat adalah negara terkaya di dunia? Mengapa bisa seperti ini? "Salah satunya adalah karena gereja" kata Angus. "Berkurangnya peranan gereja menjadi penyebab utama fenomena ini!" sambung Angus. Biasa, si pewawancara langsung nyinyir: kok gereja? Apa hubungannya? Namun jawaban Angus tegas.

Negara bisa menjamin upah minimum, tetapi tidak bisa menjamin rasa cukup. Perusahaan/pekerjaan bisa menjamin pemasukan (gaji), tetapi tidak bisa menjamin kebahagiaan. Lalu, siapakah yang bertanggung jawab untuk kebahagiaan warga negara? Disinilah peran organisasi sosial dan keagamaan seperti gereja. Hanya organisasi sosial/keagamaan yang bisa membina kebahagiaan, rasa cukup, dan rasa sejahtera dari warganya. Itulah, fungsi agama yang sesungguhnya!

Kami bergereja di Jakarta Praise Community Church atau JPCC. Sejak awal pandemi, ketika berpindah ke moda daring, JPCC sudah giat mengirimkan survey untuk mengetahui kondisi jemaatnya. Dan sebagai respons, banyak seminar-seminar daring kemudian diadakan dengan tema "Bagaimana Menghadapi Stress". Bahkan salah satu sesinya sangat menginspirasi kami: bagaimana dalam masa pandemi, level stress bisa saja sama dengan non-pandemi, tetapi kemampuan kita untuk menahannya menurun karena tidak bisa jalan-jalan dan melakukan aktivitas menyenangkan. Menarik!

Dan gongnya adalah ketika kami memenangkan voucher untuk menginap di sebuah hotel di Jakarta, dalam acara Vision Day awal tahun 2020. Voucher hampir expire, ketika pandemi belum juga reda. Akhirnya kami memutuskan memakai vouchernya di bulan November 2020, dan untuk pertama kali sejak pandemi mulai, kami sekeluarga menginap di hotel diluar rumah. Wow, sebuah pencerahan yang luar biasa! Ternyata, kami stress, sangat stress, ketika terjebak di rumah dan tidak bisa melakukan hobby traveling. Sejak saat itu, kami kemudian mempelajari cara traveling yang aman, sehingga kemudian memberanikan diri melakukan perjalanan darat ke Bali. 

Puji Tuhan, semuanya berjalan baik, sehingga kami bisa menutup tahun 2020 dengan senyum simpul sekeluarga, semuanya sehat, hati senang baru kembali dari Bali. Namun semuanya itu tidak akan terjadi tanpa voucher tersebut - yang datang dari Tuhan melalui JPCC - serta kelas-kelas lain yang kami ikuti. Tanpa semua itu, kami mungkin masih terjebak dalam pusaran stress yang gelap dan suram! 

Apakah jaman sekarang masih berguna punya agama? Yuval Noah Harari dalam bukunya "Sapiens" sudah menjelaskan dengan gamblang, apa sebenarnya fungsi agama. Sains bisa memberikan jawaban atas permasalahan teknis, namun agamalah yang perlu menjawab masalah etis. Sains bisa menjawab "bisa dan tidak", tetapi agama menjawab "boleh dan tidak". Jika berada dalam ranah-nya masing-masing, maka agama dan sains akan membawa suatu bangsa ke puncak peradabannya: misalnya jaman Ottoman Turki atau jaman Pencerahan di Eropa. Tetapi jika fungsi mereka dicampuradukkan, yang terjadi adalah fanatisme, perang, dan kehancuran. Pilih yang mana?

Terima kasih JPCC, dan mari arahkan agama dan sains ke jalur yang benar!

Salam, 

Harnaz

4 Januari 2021

Monday, November 09, 2020

Zombie

 "Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semua itu"

Filipi 4:8

"In your head, in your head

Zombie, zombie, zombie-ie-ie"

Zombie, the Cranberries


Salah satu khotbah yang paling saya ingat seumur hidup adalah khotbah Pendeta Yusak Susabda di gereja masa kecil saya, GKI Taman Cibunut Bandung. Mungkin karena sosok Pendeta Yusak yang sangat dikagumi oleh orang tua saya, kata-katanya yang menggelegar di relung ruang kebaktian GKI Taman Cibunut masih menggema sampai sekarang. "The mind is a battlefield!" katanya tegas, sambil menunjuk ke dahinya. Betul Pak Pendeta, pikiran adalah medan peperangan!

Sejak kecil, saya memiliki kecenderungan memiliki kekhawatiran. Padahal, secara fisik saya baik-baik saja, bahkan secara intelektual saya memiliki bakat yang cukup baik. Namun, setiap kali mau ujian, saya bukannya melenggang dengan gagah, tetapi justru meringkuk di sudut kamar karena ketakutan. Bagaimana jika saya tidak lulus? Bagaimana jika saya gagal? Buat teman-teman yang mengenal saya, pasti kaget ketika saya bercerita seperti ini, karena saya selalu juara kelas dan bahkan lulus kuliah dengan predikat Cum Laude. Tetapi, kenyataannya begitu! Bahkan ketika curhat ke beberapa teman dekat, mereka heran. "Saya saja yakin kamu pasti berhasil, kok kamu sendiri ragu?" begitu jawaban seorang teman. 

The mind, is a battlefield. Karena apa yang ada di pikiran kita tidaklah selalu mencerminkan kenyataan yang ada. Dan di jaman sosial media, ketika pikiran kita dibentuk bukan oleh hal nyata, melainkan oleh citra-citra yang kita serap dari sosial media, pernyataan ini menjadi semakin akurat. Kok bisa kawan saya liburan ke Bali di hotel berbintang lima lalu posting di Instagram? Bukankah dia dulu begitu jauh dibawah saya? Dan seterusnya...

Perbedaan ini semakin jelas ketika kita menyaksikan dua orang yang berselisih paham. Betapapun cerita awalnya terdengar "Si A yang salah, B yang benar!", ketika kita mendengarkan A dan B menceritakan kejadiannya melalui persepsi masing-masing, terlihat bahwa medan peperangan ada di pikiran masing-masing. Si A berpikir bahwa si B telah menghina luar biasa ketika dia menyebut nama ibunya, si B tidak tahu bahwa si A anak yatim dan dibesarkan hanya oleh ibunya. Sementara si B karena anak bungsu, biasa akrab dengan ibunya yang dianggapnya teman biasa! Saya berpikir, betapa sulitnya pekerjaan seorang hakim, karena tiap orang punya cerita! Masing-masing bertarung dengan pikirannya...

Dan jika pikiran tidak dikendalikan, maka yang terjadi adalah zombie - seperti yang dinyanyikan oleh the Cranberries. Zombie yang ada di kepala kita, berjalan tanpa tujuan, tanpa mengerti mengapa hal ini dilakukan, tanpa mencari apakah ada jalan terbaik. Zombie yang hanya mengejar ego, memajukan agenda diri sendiri. Tak tertutup kemungkinan, zombie inilah yang mendorong orang untuk saling berkelahi, membunuh, berperang. Zombie yang memakan korban jiwa, merusak keluarga, menghancurkan iman. 

Filipi 4:8 juga dikutip oleh Pendeta Yusak Susabda sebagai solusi untuk maju perang dalam pikiran kita. Sederhana, namun manjur: isilah pikiran kita dengan hal-hal yang baik! Sama seperti makan, sangat mudah untuk makan mie instan siang malam, tetapi kita tahu bahwa sayuran itu baik untuk kesehatan. Brokoli memang kurang menarik, tapi penting untuk tubuh kita! Dan jika kita terbiasa makan brokoli, maka ketika badan mulai terasa kurang enak, otak memberi sinyal untuk makan brokoli. Ya, jika kita terbiasa mengisi pikiran dengan hal-hal baik, maka kita semakin peka. Jika perlu, istirahatlah sejenak, buat gencatan senjata, dan isilah amunisi kabar baik dalam pikiran Anda. Niscaya Anda terhindar dari memelihara zombie dalam pikiran, yang bisa membawa Anda ke tempat yang tidak Anda kehendaki. 

Salam,


Harnaz

Tuesday, October 27, 2020

Ask How God, Not Why God

“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.”

‭‭Filipi‬ ‭4:8‬ ‭TB‬‬


https://www.bible.com/bible/306/php.4.8.tb


Dalam sebuah khotbah di JPCC, pendeta menganjurkan kita untuk tidak “melihat Tuhan melalui masalah kita”, melainkan “melihat masalah kita melalui Tuhan”. Artinya, kebaikan Tuhan selalu menjadi kacamata, filter, yang merevisi pandangan kita sehingga masalah yang ada di depan kita menjadi kecil. Sementara sebaliknya, melihat Tuhan melalui filter “masalah”, membuat kita cenderung menyalahkan Tuhan.

Saya kemudian berpikir, bagaimana caranya “melihat masalah melalui Tuhan”? Bagaimana saya bisa melakukan hal ini - menempatkan Tuhan antara kita dan masalah kita, bukannya menempatkan masalah diantara kita dan Tuhan?

Saya teringat tahun 2007, ketika saya kehilangan adik bungsu saya. Di blog ini, saya menulis “Don’t Ask Why” - yang intinya jangan bertanya “Mengapa” kepada Tuhan. Waktu itu, saya hanya berpikir, sebabnya adalah karena tidak bakal ada jawabannya sampai kita bertemu Tuhan sendiri. Namun, ternyata ada pemahaman lain di baliknya.

Pertanyaan mengapa - WHY - berbahaya karena selalu didahului oleh premis “jika” atau IF. IF God is good, IF God is kind to me, IF God wants me to have a good life........ then WHY? Jadi pertanyaan “Mengapa” alias WHY, menyangsikan kebaikan Tuhan. Dan jika pertanyaan itu tidak terjawab, maka IF menjadi NO. God is NOT good, God is NOT kind... Berbahaya bukan? Ini yang namanya menempatkan masalah antara kita dan Tuhan - Tuhan semakin jauh karena masalah kita!

Lalu, bagaimana kita harus merespon jika kita mengalami masalah? Jangan bertanya WHY, tetapi bertanyalah HOW atau “Bagaimana”. How am I going to survive this... atau bahkan, How are You going to help me, Lord Jesus? Pertanyaan ini mengandung iman, mengandung keyakinan bahwa Tuhan itu baik. Dan voila.... dengan waktu, kita akan melihat jawabanNya! Dengan bertanya, “Bagaimana, Tuhan?” - kita menempatkan Tuhan diantara kita dan masalah kita. Haleluya, amin!

Jadi, don’t ask “Why, God?” - ask, “How, God?” - dan Dia akan menjawab!

Salam

Harnaz

Monday, October 05, 2020

The Manna Times

 

“Orang Israel makan manna empat puluh tahun lamanya, sampai mereka tiba di tanah yang didiami orang; mereka makan manna sampai tiba di perbatasan tanah Kanaan”

Keluaran 16:35

 

Jika kita mendengar kisah mengenai manna, maka yang ada di kepala kita adalah: wow betapa enaknya bangsa Israel! Tidak perlu bekerja, tidak perlu berusaha, tinggal tidur saja dan Tuhan memberikan manna di depan pintu mereka! Namun, ada sebuah pemahaman lain yang menarik mengenai manna ini.

Artikel ini ditulis di tahun 2020, dimana pandemi Covid-19 melanda dunia termasuk Indonesia. Dalam masa ini, banyak bisnis dan usaha mengalami kesulitan, karena tidak boleh buka atau mengalami goncangan pasar. Apalagi usaha saya sendiri, yang baru berusia 3 tahun. Untuk usaha baru, yang berusaha bangkit dari kelesuan ekonomi akibat Pemilu tahun 2019, pukulan ini terasa sangat sulit.

Sebenarnya kami cukup beruntung, karena bisnis kami ada dua: merawat mesin yang sudah terjual, dan menjual mesin untuk proyek baru. Bisnis perawatan mesin kami melonjak naik, dan setiap bulan rata-rata lebih tinggi daripada tahun 2019. Namun, di bulan Oktober 2020, kekuatiran baru mulai muncul: belum ada satupun mesin baru yang terjual. Dalam bisnis ini, jika tidak ada mesin baru yang terjual, maka resikonya ada dua: pertama, bisnis perawatan kami stagnan karena tahun depan tidak ada mesin baru yang bisa dirawat. Kedua, principal atau produsen mesin di Eropa, akan memberi nilai rapor merah dan bisa mencari agen baru, yang akan mematikan bisnis kami secara keseluruhan.

Sementara itu, banyak kisah sukses yang kami dengar dari kawan-kawan. “Saya sedang tidur, tiba-tiba ditelepon dan dapat order mesin baru!”… “Wah, sedang mujur nih, kok pelanggan lama tiba-tiba menelepon dan memberik order mesin baru!”. Sementara dalam pembukuan kami: nol besar. Proyek yang diperjuangkan tidak kunjung berhasil, bahkan mulai batal. Sementara “telepon mujur” itu juga tak kunjung berdering.

Setelah mengalami “kekeringan” selama tahun 2019 dan sampai Oktober 2020, saya mulai bimbang. Haruskah saya tutup usaha ini? Karena bukankah Tuhan menjanjikan kelimpahan, dan bukan cuma kecukupan? Selama tahun ini, Tuhan beberapa kali “menyelamatkan” kami, namun hanya untuk menjadi cukup saja. Tidak lebih. Padahal kami sangat hemat, namun tetap saja “kelimpahan” itu nampak seperti fatamorgana. Logika pun bermain: kalau Tuhan tidak memberikan kelimpahan, apakah berarti Tuhan tidak menghendaki saya membuka usaha ini? Apakah Ia sedang berkata, “Tinggalkanlah semua itu dan pergilah ke tempat lain!”. Bukankah seharusnya usaha saya juga berkelimpahan seperti bangsa Israel yang berpesta manna selama 40 tahun?

Kalau Anda sedang punya pikiran yang sama, nanti dulu. Mazmur 1:2 mengarahkan kita untuk membaca Taurat agar lebih peka dengan apa yang Tuhan kehendaki. Benarkah waktu tahun-tahun manna itu bangsa Israel “berpesta”?

Keluaran 16 menjelaskan detailnya. Meskipun disediakan setiap hari, manna itu cukup, tidak lebih. Bahkan tidak boleh lebih! Dalam ayat 4-5 Tuhan menjelaskan bahwa manna hanya keluar cukup saja untuk tiap orang. Tidak lebih sepotongpun. Kalau coba2 disimpan, akan busuk berulat (ayat 20)! Saking “pelit”-nya Tuhan, waktu libur hari ketujuh pun, manna hari keenam akan keluar dua kali lebih banyak. Itu saja, tidak bisa disimpan lebih dari itu!

Kalau kita berpikir bangsa Israel “kurang ajar” dengan berusaha menyimpan manna atau ingin kembali ke Mesir, coba kita pikirkan lagi. Bagaimana rasanya dapat jatah tiap hari cukup untuk satu orang saja selama 40 tahun? Tidak ada yang beli dan jual, tidak ada bunga. Seperti paham komunis, atau bahkan seperti jatah makan penjara bukan? Tidak ada orang kaya, tidak ada miskin, semua sama. Tidak ada harapan menjadi maju, berkelimpahan, makmur. Zero growth! Tetapi, maksud Tuhan jelas: untuk “menguji apakah bangsa Israel menaati hukum Tuhan atau tidak” (ayat 4).

Kalau bisnis Anda berkecukupan, tetapi belum berkelimpahan, jangan menyerah dulu. Barangkali masa ini adalah “the manna times”, dimana Tuhan sedang mengajari kita caranya berkecukupan. Masa-masa ini selalu ada dalam kisah-kisah Alkitab: ketika Yusuf dipenjara, ketika Ayub jatuh miskin, ketika Yunus hidup di dalam perut ikan. Masa tunggu dimana Tuhan menjaga hidup berkecukupan, tetapi tidak lebih. Dan ketika kita bimbang, ingatkah akan kisah-kisah tersebut, jangan menyerah! Karena ada waktunya berkelimpahan, yaitu nanti ketika tanah Kanaan tercapai, ketika kekayaan Ayub kembali berlipat ganda, ketika Niniwe diselamatkan. Tapi sekarang, Tuhan ingin mengajarkan kita melalui rejekiNya: cukupkanlah dirimu, supaya Tuhan tahu bahwa engkau selalu menaati peraturanNya.

Rejeki yang cukup saja, sudah merupakan tanda Tuhan masih menyertai Anda dan bisnis Anda. Ayo terus berjalan, sampai masa kelimpahan itu tiba!

Salam,

Harnaz

Tuesday, November 05, 2019

Serial YMJ (1): Penciptaan dan Teori Evolusi

Serial YMJ (Yesus Memang Jenius) adalah seri tulisan mengenai sains dalam Alkitab. 


"Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia, laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka."
"Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keenam."
Kejadian 1:27, 31

Bentrokan antara teori evolusi dan kisah penciptaan dalam Kitab Suci selalu menjadi kontroversi yang paling mak nyus dibawa oleh kaum yang ingin menyerang ide Ketuhanan. "Mana mungkin.... " kata ahli biologi dan ahli etis. Bahkan ada serial TV-nya sendiri, betapa bego dan salahnya orang yang percaya bahwa segala sesuatu itu diciptakan apa adanya, dan bukan merupakan hasil adaptasi yang menghasilkan evolusi.  Saya menyukai film dokumenter, tetapi jika film dokumenter tersebut terlalu cenderung ke satu sisi (baik sisi Ketuhanan maupun sisi satunya lagi), saya kok jadi kurang nyaman menontonnya.

Kenyataannya, Charles Darwin sendiri (dari Wikipedia) menyatakan bahwa dirinya adalah 'agnostik' walaupun pernah mengenyam pendidikan Anglikan. Kemudian.... wes lah, nggak penting ya membahas Darwinnya, wkwk.

Di Amerika Serikat, ada bentrokan antara pihak yang ingin mengajarkan "teori evolusi" di sekolah dan yang keukeuh mempertahankan "kisah penciptaan". Akibatnya, para murid di Amerika Serikat diketawain dunia karena begitu besar proporsi yang tidak percaya pada teori evolusi, meskipun Amerika Serikat adalah negara dengan sistem pendidikan yang sangat baik. Weleh, kok begini?

Kita harus ingat bahwa ada perbedaan besar antara paper Charles Darwin yang berjudul "The Origin of Species" dengan buku cerita yang judul babnya adalah "Kejadian". Yang satu adalah paper ilmiah, yang dibuat berdasarkan pengamatan, dan diperuntukkan sebagai referensi, sementara yang lain adalah cerita - sama seperti dongeng Rapunzel, misalnya. Idih, kok Alkitab disebut dongeng? Jangan marah dulu bro. Alkitab adalah hasil dari cerita turun-temurun yang tentu saja tidak bisa diartikan secara harafiah. Kalau kita bisa bilang bahwa kisah "belalang yang malas dan semut yang rajin" benar2 terjadi, tentunya kita yang bego. Tapi, kita bisa mengerti, bahwa secara selintas, semut dan belalang punya tabiat yang berbeda, yang menjadi inspirasi cerita. Itu saja!

Demikian juga kisah penciptaan. Kisah ini hanya menjelaskan dengan perumpamaan, bagaimana segala sesuatu terjadi. Dari Tuhan yang Maha Pintar, menjelaskan pada entah siapa yang memegang pena dan menulis. Mana bisa Tuhan menjelaskan proses sebenarnya? Pastilah digunakan perumpamaan. Nah, menurut saya, Alkitab perlu dilihat sebagai perumpamaan.

Tapi, coba kita perhatikan waktunya. Menurut Alkitab, manusia diciptakan pada hari ke ENAM. "Mana mungkin cuma enam hari?" kata sang skeptis. Tapi, tunggu dulu.

Dunia paleoantologi mengenal skala yang namanya 'geologic time scale'. Ini adalah penanda waktu berdasarkan perubahan geologis yang terjadi di bumi. Ordenya jutaan tahun. Dan tanpa terinspirasi oleh Alkitab, dengan metode penelitian yang jauh berbeda, para ahli sepakat bahwa....

... Manusia pertama di dunia hadir pada jaman ke ENAM, yang bernama Cenozoic. Kok sama? Sama-sama enam. Dan katanya, satu harinya Tuhan tidak sama dengan satu harinya manusia bukan?

Menurut saya jaman ke enam dan hari ke enam ini adalah salah satu cara kita memandang Alkitab dan teori evolusi. Seperti kata Darwin, dua hal ini tidak bertentangan, melainkan mengisahkan kejadian yang sama. Hanya yang satu dalam bentuk dongeng, yang lain dalam bentuk sains!

Masak sih? Apa ada lagi yang lain? Banyak.... yuk simak tulisan selanjutnya!

Salam,

Harnaz

Friday, November 01, 2019

Prolog: Tuhan Yesus Memang Jenius!

"Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan."
Amsal 1:7

Sebuah data statistik pernah menyebutkan bahwa sebagian besar teroris berasal dari jurusan MIPA (Matematika dan Ilmu Pasti Alam alias sains!). Walah, cilakak! Apa yang terjadi? Mengapa justru orang-orang yang percaya tahayul radikalisme, justru berasal dari lingkungan pendidikan sains yang serba logis dan berdasarkan eksperimen? Mengapa "pendidikan" yang mereka terima bukannya membuat mereka berpikir logis, malahan terjerumus pemikiran radikal? Cilakanya lagi: jangan-jangan, pendapat kita bahwa "mereka orang yang tidak berpendidikan" adalah salah? Lalu, dimana dong letak permasalahannya?

Coba kita renungkan sejenak. Sains. Zzzz (ngantuk!). Nanti dulu bro! Hehe. Heinz? Bukan, itu saos tomat wkwk. Sains. Mengapa "dunia sains" selalu erat kaitannya dengan atheisme? Mengapa setiap scientist selalu kelihatannya tidak percaya Tuhan? Apakah benar bahwa seorang scientist baru bisa benar-benar hebat kalau dia menjadi atheis, agnostik, atau apalah itu, maksudnya tidak percaya Tuhan? Dan sebaliknya, apakah bisa seorang beragama menjadi scientist yang hebat?

Kenyataannya, alinea kedua diatas adalah sebuah pemahaman yang diterima oleh umum. Sehingga bayangkan: si Polan, seorang mahasiswa kimia. Beliau orang yang beriman, rajin berdoa, percaya Tuhan sebagai panglima. Lalu kemudian dia diberi tahu bahwa menurut Richard Dawkins nggak ada tuh yang namanya Tuhan! Nggak ada tuh Tuhan dalam reaksi nuklir, yang ada malah Oppenheimer! Juga dalam reaksi nitrasi, adanya Alfred Nobel! Mana Tuhanmu? Mana? Mana? HAHAHAHAHA (ketawa ala Godzilla).

Wajahlah kalau di Polan kemudian, sambil berdiam berdoa, berkecamuk hati kecilnya. Wajarlah kalau beliau, dengan wajah merengut ala Dude Herlino di sinetron Istri Yang Tertukar, kemudian berpikir, "Ya Tuhan, masak semua dosenku bilang Engkau nggak ada sih? Sini Tuhan, aku tunjukkan bahwa Engkau ada, bahwa Engkau yang utama diantara Linus Pauling dan Albert Einstein!" - dan tiba-tiba reaksi nitrasi pembentukan Tri Nitro Toluena (alias TNT alias dinamit) kok kayaknya menarik nih untuk diulik. Mengerti kan, kenapa si Polan ini jadi radikal? Jederrr!!! Njeblug tenan!

Melalui rangkaian tulisan ini, saya ingin mengajukan dua poin penting: pertama, bahwa Tuhan dan sains adalah sejalan, tidak bertentangan. Sebenarnya, jika kita lihat dengan teliti, maka penemuan sains - bahkan sebombastis teori evolusi sekalipun - sebenarnya tidak bertentangan dengan Alkitab! Dan poin kedua: bahwa semua scientist itu atheist adalah hoax. Tahukah kamu, bahwa ketika Albert Einstein ditanya mengenai bagaimana awal perjalanannya menjelaskan teori relativitas, jawabnya adalah: "Karena Tuhan ingin saya menjelaskan anomali orbit planet Venus!"

Kalau Einstein tidak percaya Tuhan, bagaimana Einstein bisa terinspirasi oleh Tuhan? Dan kalau Tuhan tidak ada, jangan-jangan tidak akan ada teori relativitas dari seorang petugas paten bernama Albert Einstein! Kayak The Beatles di film Yesterday! Hehehe.

Yuk kita baca dalam serial tulisan berikutnya.

Salam,

Harnaz


Thursday, October 31, 2019

Selalu Segar Setiap Saat

"Yesus menjawab, kataNya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah""
Yohanes 3:3

"Halo Kakak, ada yang bisa dibantu?"

Pernahkan kamu masuk ke suatu restoran atau toko, dimana pelayannya berkata seperti itu. Namun, tidak dalam rangka "memaksa beli sesuatu" atau bikin kamu nggak betah kalau lagi bokek. Tapi, bener-bener dengan senyum tulus, yang membuat kita malah nyaman berada disana, baik bokek maupun tidak!

Dua puluh tahun lalu, ketika saya masih muda dan bokek (sekarang bokek tapi tuwek wkwk), saya pernah penasaran ngintip tempat yang namanya Hotel Sacher di Wina, Austria. Hotel ini punya toko kue dan restoran yang terkenal dengan aura mahal dan kerennya. Bukan hanya itu: disinilah tempat lahir Sacher Torte yang terkenal itu! Sebagai seorang foodie, saya pengen banget masuk, mencicipi Sacher di tempat kelahirannya. Namun, pelayannya yang berbaju 'butler' komplit, lebih keren dari jaket butut saya, membuat saya takut untuk masuk.

Ternyata, senyuman sang pelayan malah membuat saya berani. "C'mon in!" katanya, sambil mengangkat jaket butut saya dan digantung di tempat jaket. Saya duduk di ruangan bergaya victorian/art noveau yang cantik, lalu sambil bergetar memesan seiris Sacher Torte dan kopi Wiener Melange. Mahal, tapi duit di dompet cukup kok! Lalu saya foto makanan dari kiri dan kanan. Tiba-tiba, saya ditoel oleh sang pelayan. Apakah saya mau diusir karena kampungan main potret makanan?

"Would you like me to take photo of you?" katanya sambil senyum. Waduh, mantap! Dan sejak itu, setiap kali mampir ke Wina, saya selalu menyempatkan mampir ke Sacher!

Hidup beriman seharusnya selalu segar, sama seperti sang pelayan tadi. Jika Tuhan ada dalam kehidupan kita - baik bisnis, berkeluarga, maupun berteman - maka segala sesuatu akan terasa segar, menyenangkan. Karena itulah janjiNya kepada kita - membuat segala sesuatu indah. Dan jika kita merasa ada salah satu bagian hidup kita yang rasanya "gelap", bikin BT, malesin, maka sudah waktunya kita sambungkan kembali kabel bagian tersebut ke Sang Sumber Segar. Biar ceria lagi, segar lagi!

Salam,

Harnaz

Wednesday, May 24, 2017

Kecaplah dan Lihatlah

“Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya Tuhan itu!
Berbahagialah orang yang berlindung padaNya!”
Mazmur 34:8

Tema JPCC bulan Mei 2017 adalah ‘Taste and See’ atau ‘kecaplah dan lihatlah’ dari Mazmur 34:8. Jika bicara ‘kecaplah’ atau ‘cicipilah’, maka maksud pemazmur adalah bahwa kita harus mencicipi dan melihat kebaikan Tuhan. Kebaikan kok dicicipi? Mengapa kata ini yang dipilih?

Sebagai seorang foodie, saya bisa mengatakan bahwa orang kuliner adalah yang paling mengerti soal nilai (value) melalui lidahnya. Kami bisa masuk ke sebuah warung berbentuk gubuk reot di tengah hutan, tetapi ketika memcicipi sesendok saja… Wow! Terasa ada nilai yang luar biasa! Sebaliknya, kami bisa makan di restoran mewah mentereng dengan piring dan sendok serba mahal, tetapi ketika mencicipi makanannya… Hmmm. Tidak terasa ada yang istimewa.
 
Contohnya ketika saya dan teman penulis Lidia Tanod diajak Pak Bondan untuk mencicipi Sambel Welut Pak Sabar di Banguntapan, Yogyakarta. Saya dan Lidia belum pernah makan sambel welut, dan saya bukan tipe yang suka sambel. Apalagi warungnya sangat sederhana. Tetapi ketika kami mencicipi sambelnya, merasakan keseimbangan rasa antara kencur dan cabai serta kegurihan belut gorengnya, saya dan Lidia sepakat – ini luar biasa, ada nilai hebat dibalik kesederhanaannya!

Itulah sebabnya pemazmur menggunakan kata ‘kecaplah dan lihatlah’. Penglihatan bisa ditipu, tetapi dengan didampingi kecapan lidah, maka nilai sesungguhnya akan terungkap. 

Tetapi ada satu masukan menarik dari Windy, leader di DATE (persekutuan) saya. Beliau mengatakan bahwa ‘kebaikan Tuhan’ itu tidak selalu indah atau enak. Bahkan seringkali berupa bencana atau musibah, yang kemudian membawa kita ke arah yang lebih baik. Lalu jika kebaikan demikian yang kita terima, bagaimana kita dapat ‘mengecap’ dan ‘melihat’nya?

William Wongso, salah satu pakar kuliner Indonesia, pernah berkata bahwa kuliner Indonesia tidak akan maju jika orang Indonesia masih menilainya dengan ‘enak’ dan ‘tidak enak’ saja. Kita harus meningkatkan ‘kecerdasan lidah’ – istilah Pak Bondan – untuk naik tingkat ke kemampuan apresiasi citarasa yang lebih tinggi. 

Di Perancis misalnya, ada sejenis keju yang namanya ‘blue cheese’ – keju termahal dari semua jenis keju. Salah satunya adalah keju Roquefort. Keju ini dibuat dengan menyimpan keju susu kambing di gua Combalou di daerah Roquefort-sur-Soulzon – sampai busuk! Dan justru keju busuk berurat kebiruan ini menjadi salah satu komoditas termahal di dunia. Enak? Tidak! Baunya luar biasa. Tetapi, ada nilai tinggi pada rasanya – karena beda wilayah atau beda lokasi gua saja, rasa kejunya akan berbeda! 

Itulah makna ‘kecap’ yang kedua. Kadang-kadang kebaikan Tuhan hadir dalam rasa yang tidak enak. Misalnya, ada seseorang di kantor yang begitu membenci dan menfitnah Anda habis-habisan. Namun jika lidah dan mata kita peka, maka ini adalah kebaikan Tuhan yang hadir dalam rasa blue cheese (istilahnya kulinernya ‘aqcuired taste’). Di balik peristiwa itu, Tuhan sedang menyiapkan sesuatu yang lebih baik untuk Anda – sebuah kesempatan untuk berwiraswasta, misalnya. Memang tidak enak rasanya – tetapi jika kita bisa menghargainya, ada nilai yang sangat tinggi di dalamnya, yang lebih tinggi dari sekedar ‘enak’ saja. Kebaikan Tuhan yang sesungguhnya!

Kecaplah dan lihatlah, apa saja kebaikan Tuhan yang sudah Ia siapkan untuk Anda hari ini?

Salam,

Harnaz

Friday, March 17, 2017

Karena Iman

Efesus 2:8
Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah

Tulisan yang terinspirasi oleh COB JPCC.

Apakah iman itu? Bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat dan dasar dari sesuatu yang kita harapkan. Kedua pernyataan dari Ibrani 11:1 ini mengandung paradox luar biasa bukan? Bukti yang tidak bisa dilihat - apakah itu masuk akal? Semua sistem peradilan dunia dibuat untuk memutuskan kasus berdasarkan evaluasi bukti. Jika buktinya tidak dapat bisa dilihat, bagaimana suatu perkara bisa diputuskan? Demikian pula pernyataan 'dasar dari sesuatu yang kita harapkan'. Harapan kan belum terjadi, lalu dasarnya apa? Dasar harapan adalah jaminan yang belum jadi, bisa kemudian batal jika yang diharapkan tidak terjadi!

Tetapi, iman mengandung kekuatan besar. Tuhan Yesus dalam Matius 17:20 berkata bahwa sebiji sesawi saja bisa memindahkan gunung! Bahkan iman Petrus lebih kecil dari biji sesawi, ketika Tuhan Yesus menolongnya supaya tidak tenggelam. Banyak kisah dalam Alkitab tentang kekuatan iman, dari perwira Romawi sampai perempuan yang mengalami pendarahan. Semuanya menunjukkan dahsyatnya kekuatan iman!

Sekali lagi, bagaimana kita membayangkannya? Tidak kelihatan tetapi mengandung kekuatan luar biasa?

Sains punya jawabannya: gravitasi! Setiap orang pasti sadar akan adanya gaya gravitasi. Semua mahfum bahwa apa yang naik keatas akan jatuh jika tidak disangga, dan semakin tinggi posisinya, semakin keras jatuhnya. Manusia perlu membangun mesin berukuran raksasa untuk menerbangkan pesawat, dan 90% dari pesawat luar angkasa ketika berangkat dari bumi adalah bagian roketnya : yang fungsinya cuma untuk melawan gaya gravitasi.

Tetapi gaya gravitasi ini tidak bisa dilihat, bukan? Tidak bisa diukur, tidak bisa difoto. Satu-satunya bukti mengenai gaya gravitasi adalah terdeteksinya gelombang gravitasi bulan Februari 2016 oleh laboratorium LIGO di Amerika Serikat! Fenomena yang diramalkan Einstein tahun 1916 ini adalah hasil perjalanan panjang manusia yang berusaha mendeteksi gravitasi.

Bagaimana kekuatan gaya gravitasi, apakah seperti iman? Ya. Contoh paling mudah adalah pembangkit listrik tenaga air. Di Jatiluhur misalnya, yang terjadi sangat sederhana: melalui bendungan, dibuat perbedaan tinggi permukaan air sehingga air yang terjun dipakai untuk memutar turbin yang menghasilkan listrik. Luar biasa bukan? Cukup untuk menerangi sebuah kota!

Inilah dasar dari harapan dan bukti yang tidak terlihat. Kita tahu gravitasi itu ada, kita rasakan kekuatannya, tetapi tidak terlihat! Dan patutkah kita bimbang meletakkan harapan padanya, hanya karena ia tidak kelihatan?

Harnaz




Sunday, May 17, 2015

Mintalah! Carilah! Ketuklah!

Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. 
Matius 7:7

Saya baru punya sebuah pengalaman kecil. Suatu hari ketika saya ingin memberikan KTP, saya merogoh dompet dan…. KTP saya tidak ada disana! Duh, saya paling kesal kalau masalah seperti ini muncul. Otak saya didesain untuk mengingat hal penting dunia, seperti kapan Tembok Berlin runtuh dan kapan harga minyak dunia tiba-tiba jatuh. Tapi, kapan saya terakhir kali keluarin KTP dan ditaruh dimana? Ampun!

Sudah kebayang, harus ke kantor polisi. Harus ke kantor RT. “Bu RT pergi Pak, gak tau kapan pulangnya. Tunggu aja sampai Maranatha!” Kata pembantu Bu RT. “Hmmm, untuk surat kehilangan, Bapak harus ke Komdak dulu, terus ke Polda, terus ke New York, balik ke Istanbul, baru bisa ke Mojokerto dan urus surat kehilangan…” Terbayang suara bariton seorang petugas pamong rakyat. Repot! Dimana saya taruh KTP itu? Tempat fitness? Pabrik Indofood? Petugas fitness yang saya telepon sempat saya damprat. Tapi, kondisinya tetap sama. KTPnya tidak ketemu, bahkan setelah mobil dan semua tas dibongkar.

Dalam keadaan tak berdaya, sebelum menyerahkan diri pada Bu RT dan jawatan kepolisian, saya ingat Tuhan. Maka, di suatu malam, saya selipkan satu kalimat permohonan setelah doa bersama istri selesai. “Tuhan, tolonglah supaya KTP saya ditemukan ya….” Bisik saya. Eh, istri saya langsung nyolot. “Kamu ngomong apa tadi? Doa apa?” Ehm, saya cuma batuk dan pura-pura tidur. Istri saya masih belum menyerah. “Apa tadi? Kamu ngomongin aku ya? Doa apa tadi? Apa?” Hmmm, malu juga! Masak urusan KTP saja kok melibatkan Tuhan? Bukankah itu ngerepotin Tuhan namanya?

Ah, enggak juga. Kan Dia bilang, “Mintalah, maka akan diberi.” Boleh dong minta tolong? Bahkan cuma KTP sekalipun! Istri saya pun tersenyum geli ketika saya mengaku.

Beberapa hari kemudian, di hari terakhir pembayaran cicilan rumah, ATM saya macet karena kadaluwarsa. Bank apaan sih, kok kartu ATM bisa mendadak kadaluwarsa! Pas long weekend lagi. Terpaksa ATM istri saya jadi jaminan dulu. Di satu-satunya hari kerja, saya yang sedang mengantar tamu, terpaksa harus ke bank gara-gara urusan ATM. Kesialan apa lagi ini? Pikir saya. 

Ketika saya sampai di bank, dan meminta tamu saya menunggu di mobil, saya membuka laci mobil untuk mengambil buku bank. PLUK! KTP saya, terjatuh dari dalam buku! Rupanya, saya pakai KTP itu terakhir kali ketika minta laporan bank. Dan sebagai seorang pemalas, saya tidak mengembalikannya ke dompet tapi tetep nyelip di buku bank, sampai saya terpaksa membuka buku bank lantaran ATM saya kedaluwarsa! Puji Tuhan Haleluya!

Saya jadi merenung. Mengapa Firman Tuhan dalam Matius 7:7 ini begitu bodoh kedengarannya? Mintalah, maka akan diberi. Carilah, maka akan didapat. Ketuklah, maka pintu akan dibuka! Gitu aja masak nggak ngerti?

Sadarkah kita, di era teknologi maju dan ekonomi canggih seperti sekarang ini, bahwa kita sering butuh, tapi tidak minta; ingin menemukan, tapi tidak mau mencari; dan ingin membuka pintu, tapi tidak mau mengetuk.

Iya kan? Saya aja, malu mau ngobrol sama Tuhan soal KTP saya. Doa kita isi dengan yang baik-baik saja. Bagaimana dengan masalah di kantor, posisi yang semakin terdesak, project yang di ujung tanduk? Apakah kita mau membuka semuanya pada Tuhan?

Saya jadi ingat komentar teman saya. “Lu jangan ngerepotin Tuhan dong! Masak gitu aja didoain. Tuhan kan Maha Tahu, dia sudah tahu apa yang kita butuhkan sebelum kita doakan. Jadi lu gak ngomong juga sudah tahu! Ngapain ngomong lagi!” Begitu kira-kira. Apakah benar begitu?

Menurut saya, ada tiga manfaat ‘meminta’. Yang pertama tentu saja yang meminta akan diberi. Kedua, memformulasikan keinginan kita pada Tuhan bermanfaat untuk kita sendiri. Dengan menyebutnya dalam doa, kita jadi lebih tajam dalam mengajukan permohonan. Apa sih sebenarnya yang kita perlukan? Menang tender? Atau dapat komisi? Atau dapat penghasilan lebih? Yang mana intinya? Makin jelas kita memformulasikannya, makin jelas pula fokus kita dalam mendapatkannya. Jadi, memformulasikan permohonan pada Tuhan akan membuat kita lebih fokus. 

Yang ketiga, tentu saja, adalah mengeluarkannya dari dalam hati. Sebuah desakan yang mengganjal bisa mengubah perilaku kita – bahkan urusan KTP bisa membuat saya bersitegang dengan resepsionis tempat fitness, karena saya menduga disitu KTP saya terakhir dikeluarkan! Dengan mengungkapkannya dalam kata-kata, beban itu bisa sedikit lepas, plus kita semakin fokus dalam mengejarnya.

Di tengah jaman korupsi sekarang ini, banyak orang yang kejeblos karena mereka ingin mendapat tanpa meminta, menemukan tanpa mencari, dan dibukakan pintu tanpa mengetuk. Padahal, melalui langkah sederhana – meminta, mencari, mengetuk – Tuhan Yesus mengajarkan kita untuk mengalahkan ego kita sendiri. Menelan kesombongan dengan merelakan solusi datang dari luar – dengan meminta, mencari, dan mengetuk. Tidak, Tuhan tidak repot kok. Ya, Tuhan memang tahu apa yang kita butuhkan tanpa kita menyebutkannya. Tapi Tuhan Yesus ingin kita meminta, mencari, dan mengetuk bukan untuk Dia – tapi untuk kita sendiri. Agar kita lebih fokus, lebih rendah hati, dan siap menerima apa yang kita minta!

Tulisan ini saya persembahkan untuk Pdt Benget dan Pdt Keyse dari GKI Ampera. Mohon maaf saya tidak sempat menghadiri kebaktiannya. Tapi saya doakan dan saya minta pada Tuhan Yesus, untuk operasi yang lancar, kesehatan yang baik, dan kesembuhan bagi Pak Benget dan Bu Keyse!

Salam, 

Harnaz


Sunday, February 22, 2015

Perempuan Siro-fenisia: Anjing dan Inlander Dilarang Masuk!

Photo from noe847.blogspot.com


"Lalu Yesus berkata kepadanya: ‘Biarlah anak-anak kenyang dahulu, sebab tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.’ Tetapi perempuan itu menjawab: ‘Benar, Tuhan. Tetapi anjing yang di bawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak.’”

Markus 7:27-28

Diinspirasi dari khotbah Romo Ferdinand di Petrotec Air Power, 13 Februari 2015

Romo Fey memang selalu membawa pemahaman baru ketika memberikan khotbah. Walaupun gayanya nyeleneh, tapi perenungannya mendalam dan bisa memberikan pemahaman baru mengenai suatu topik. Kali ini – entah disengaja atau kebetulan – yang menjadi topik salah satunya adalah perempuan Siro-fenisia.

Kisah mengenai perempuan Siro-fenisia ini memang buat saya sudah lama menjadi suatu misteri. Kisah ini ditulis dalam dua Injil, Markus 7:24-30 dan Matius 15:21-28, walaupun Matius menyebut ‘Kanaan’ sementara Markus lebih detail, menyebut ‘Siro-fenisia’.

Fenisia atau bahasa Inggrisnya Phoenicia adalah bangsa yang maju pada jaman Tuhan Yesus. Mereka terkenal karena ekpor pewarna kerang Murex, yang berwarna ungu, dan digunakan untuk memberi warna jubah para bangsawan (Mat 27:28). Mereka dekat dengan Yunani, berbahasa Yunani, dan sistem politiknya pun mirip dengan Yunani, pemerintahan kota seperti Sparta dan Athena. Kota Tirus, yang disinggahi Tuhan Yesus, adalah batas Selatan wilayah Fenisia. Kata ‘Siro-‘ mengacu pada orang Fenisia yang berasal dari propinsi romawi Siria.

Pastor Fey mengingatkan kita, betapa orang Siro-fenisia itu lebih ‘keren’ dari orang Yahudi. Abjad fenisia adalah dasar semua abjad di dunia, mereka sangat dekat dengan mitologi dan filosofi Yunani, budaya mereka tinggi, bahkan penampilan mereka keren bak pahatan dewa-dewi di kuil Olympus. Sementara waktu itu, bangsa Yahudi hanyalah bangsa mantan budak Mesir yang baru digilas penjajahan Romawi. Bait Allah-nya yang megah kini tinggal reruntuhan saja, kekayaannya dirampok berkali-kali. Boro-boro filsafat, untuk hidup saja susah!

Bayangkan, kata Pastor Fey, kalau ada orang bule yang duduk semeja dengan kita. Wuih, keren bukan? Kita akan menghormati dia lebih daripada Pastor Fey sendiri bukan? Persis! Saya baru saja dapat pengalaman yang mirip. Tiga minggu lalu, saya mengunjungi pelanggan untuk menjelaskan sesuatu. Sepatah kata pun mereka tidak percaya! Nyaris saya dilempar keluar dan semua laporan saya diragukan. Kemudian, beberapa hari lalu saya membawa principal, seorang asal Barat, bertemu pelanggan yang sama, yang menjelaskan hal yang persis sama. Apa yang terjadi? Sang pelanggan manggut-manggut, seluruh timnya mantuk-mantuk bak perkutut terpekur, semua setuju sepakat sependapat. Hayyah! Begitulah memang budaya kita. 

Lalu, apabila tiba-tiba ada seorang Indonesia yang berkata pada seorang bule: “Maaf mister, roti untuk anak-anak dulu ya, tidak layak kalau saya berikan pada anjing”. Hmmm. Orang bule – penjajah kita dulu – pernah sih berslogan ‘anjing dan inlander dilarang masuk’. Kalau dia yang jadi anjing, apa pernah? Rasanya tidak pernah.

Lalu, kenapa pula Tuhan Yesus mendadak rasis?

Rupanya, Tuhan Yesus tidak rasis. Toh, akhirnya Ia menngusir setan yang mengganggu anak perempuan itu. Tapi, ada pelajaran penting yang Ia berikan pada hari itu.

Pertama, Ia sedang menguji iman wanita ini, sama seperti ia menguji iman orang yang memohon sesuatu padaNya (prajurit Romawi, orang yang buta sejak lahir, dan lain-lain). Seorang wanita, beragama Kanaan, bukan Yahudi. Dari bangsa yang lebih makmur, gaya yang lebih keren, dan mendadak memohon pertolongan pada Tuhan Yesus dan rombongannya yang kumal tapi sombong. Justru bukan Tuhan Yesus, tapi para murid-Nyalah yang rasis! Nyaris mereka mengusir perempuan ini, karena menganggap ini toh orang asing.

Kemudian, dengan perkataan roti tadi, Tuhan Yesus menguji ego wanita ini. Apakah ia akan berteriak balik: “Heh, dasar Yahudi, miskin aja sombong!”… Atau dia akan bilang: “Cih, perfeilen jij, kok rasis bilang2 anjing segala!”. Tidak! Bahkan ia merendahkan diri lagi dan ia sendiri yang menyamakan dirinya sendiri seperti anjing yang menanti remah. Bahkan untuk remah pun ia rela! Dan bukan Tuhan Yesus yang menyebut dia anjing, dia sendiri yang rela disamakan dengan anjing. Ini bukti totalitasnya dalam sebuah permohonan, bukti kesungguhannya meminta pertolongan. Ketika lulus ujian, maka Tuhan Yesus pun mengabulkan permohonannya. 

Pesan kedua adalah: bahwa berkat Tuhan adalah untuk semua bangsa yang percaya. Istilah roti dan remah roti hanyalah untuk menguji iman perempuan ini. Justru jika Anda orang asing, bukan Yahudi, jangan takut! Bukankah interaksi Tuhan Yesus dengan orang asing justru sering membuat Ia kagum atas iman mereka? Dari perempuan ini sampai prajurit Romawi, selalu dipuji Tuhan Yesus karena iman yang lebih tulus dari bangsa Yahudi sendiri. Sampai Tuhan Yesus mengeluh dalam Matius 23:37, betapa Ia rindu bangsa Israel punya iman seperti kita!

Belajarlah dari perempuan Siro-fenisia. Totalitas dalam permohonan, dan jangan rendah diri karena kita bukan orang Yahudi. Karena berkat itu adalah untuk semua bangsa!

Salam,

Harnaz


Saturday, January 03, 2015

Indahnya Yang Tak Pasti



“Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu”
Markus 11:24

Pernahkah Anda cek in di bandara tanpa tiket alias go show? Sambil santai, Anda menatap pramugari yang ketak ketik di komputer dan mencari apakah masih ada seat untuk Anda. Jawabannya, ada! Murah lagi harganya. Bagaimana perasaan Anda? 

Saking gembiranya, pengalaman ini akan Anda ingat terus bukan? Selalu diceritakan kembali sebagai ‘hari keberuntungan’ Anda. Bahkan ratusan kali Anda naik pesawat, booking dulu, dan kembali dengan selamat, tanpa masalah, bisa terlupakan oleh satu insiden keberuntungan, dimana Anda tidak bersiap, tidak memiliki kepastian, tetapi memperoleh keberuntungan. Anda akan ingat yang satu itu, dan lupa akan ratusan yang lainnya. 

Dunia modern – apalagi untuk saya yang sangat rasional – tidak suka akan ketidakpastian. Kita malas untuk masuk ke restoran yang terlihat penuh tanpa reservasi dahulu. Kita ogah mengantri tiket film di bioskop yang antriannya mengular, takut tidak kebagian. Jika ingin bertemu dengan seseorang, kita pastikan dulu rute lokasinya dengan GPS, WA orangnya untuk memberikan lokasi persisnya, dan foto selfie ketika sudah ketemu sebagai bukti. Semuanya serba pasti!

Semakin maju suatu negara, semakin tinggi kepastian dalam hidup warganya. Sayangnya, kepastian ini justru berbanding lurus dengan egoisme. Semakin canggih teknologi, semakin malas pengguna teknologinya. Nggak mau susah, yang penting pasti dan mudah walaupun harus bayar mahal sedikit. 

Celakanya, ada fenomena yang mengkhawatirkan di kalangan generasi teknologi semacam ini. Jumlah pernikahan menurun. Buat apa menikah, repot kan mengurus ke kantor KUA? Tinggal bareng saja sudah cukup. Punya anak? Haduh, repot! Mengurusi pipis dan eek-nya, tidak bisa tidur nyenyak, apalagi dugem seragem. Mari kita jadi muda selamanya, tetap cantik dan ganteng sampai tua!

Padahal, dalam paragraf pertama diatas, secara intuitif kita memahami mengapa ketidakpastian itu penting. Mengapa secara kultural, masyarakat maritim kebih religius dari masyarakat agraris? Karena dunia maritim – menjadi nelayan – penuh ketidakpastian, badai, resiko tenggelam, hilang di laut, dan sebagainya. Bahkan Bob Sadino, seorang mantan kuli bangunan yang jadi pengusaha sukses, ketika ditanya kapan beliau merasa paling sukses, jawabannya mencengangkan: bahwa sukses itu adalah ketika masih jadi kuli bangunan dan bisa makan warteg sampai kenyang. Sisanya hanya biasa saja, katanya!

Jika Anda seperti saya – maunya yang pasti-pasti saja – maka Anda perlu sedikit bermain dengan ketidakpastian. Mengapa? Karena disitulah Tuhan bekerja! Jika kita mematenkan hidup kita dalam genggaman sendiri, maka tangan Tuhan tidak akan kentara. Tetapi ketika ketidakpastian ada di depan kita : sebuah pernikahan yang belum pasti mulus, sebuah bisnis baru yang belum tentu berhasil, seorang anak yang belum tentu sukses – maka kehadiran Tuhan akan semakin kita rasakan. Apalagi ketika pertolonganNya yang indah kita alami sendiri : jika satu tempat parkir kosong di sebuah mall di Sabtu sore saja bisa Ia jadikan, apalagi pernikahan, anak, bisnis, dan yang lainnya?

Percayalah, maka hal itu akan diberikan kepadamu. Berilah kesempatan pada dirimu untuk percaya!

Jakarta – Jambi, 30 Desember 2014


Friday, October 03, 2014

Pujian Yang Berdaya Cipta

“Worship GOD if you want the best, Worship opens doors to all His goodness”

Psalm 34:9 (MSG)

Khotbah oleh Pdt. Chris Manusama dan Penyembahan & Pujian oleh GBI Rock Ambon, JPCC, 21 September 2014

Hari Minggu 21 September 2014, saya bersama istri hadir di kebaktian pertama JPCC di Kota Kasablanka, Jakarta. Pagi itu, kami disambut oleh nyanyian penyembahan dan pujian yang sangat indah dari GBI Rock Ambon. Rupanya, dalam tema Penyembahan atau Worship di bulan September, JPCC mengundang mereka untuk melayani di hari itu. Saya langsung terkesan dengan pelayanan musik dari GBI Rock ini.

Lihat! Paduan Suara berdiri teratur menghadap mikrofon dengan sudut ideal sehingga suaranya terdengar lantang dan seimbang. Musik ditata dengan rapi. Noly, sebagai pemimpin nyanyian, posturnya tinggi besar, suaranya bariton yang mantap. Wajahnya, ekspresinya, dan komandonya, dengan tegas memimpin nyanyian sehingga seluruh jemaat hanyut dalam keindahan harmoni musik. Saya tercekat, tidak bisa menyanyi dengan lancar, karena mata seringkali mendadak basah karena air mata haru. Sesuatu yang ada di udara saat ini, alunan musik ini, menyentuh hati saya, seolah tangan Tuhan sendiri mengelusnya sampai terasa sangat damai. Tuhan, terasa hadir disitu.

Belum habis saya terkesan, mulailah Pdt. Chris Manusama berkhotbah. Yang kami dengar adalah bagian yang pertama, yakni ‘Elemen Surga’. Namun, ijinkan saya menuliskan kesan saya secara umum terhadap Firman Tuhan yang dibagikan saat itu.

Chris Manusama adalah seorang pemusik terkenal di jamannya. Beliau pengarang lagu Kidung yang dipopulerkan Chrisye, juga lagu Kasih oleh Lidya/Imaniar. Jadi, beliau tentu mahfum akan kehidupan gemilang musisi di tahun 1980-an. Sampai kira-kira 25 tahun yang lalu, Chris – menurut beliau sendiri – sedang ‘guling-guling’ di Puncak ketika bertemu dengan J.P. Sinaga, ketua Lembaga Alkitab Indonesia pada masa itu.

“Chris, kau mau ikut Tuhan?” tanya Sinaga dengan logat Batak yang kental.
“Mau Pak”
“Kalau kau tidak bisa makan (karena ikut Tuhan), kau kasih tahu aku! Aku akan berhenti jadi pendeta, kucopot togaku ini!” tegasnya.

Dan sampai saat ini, memang Chris tidak pernah tidak makan! Luar biasa memang kasih karunia Tuhan. Dari situlah Chris memulai perjalanannya sebagai hamba Tuhan.

Dan Chris memiliki bidang yang unik: ahli penyembahan. Apakah penyembahan itu mudah? Yang penting nyanyi kan? Yang penting bilang Haleluya, bilang Puji Tuhan, lalu tepuk tangan. Beri kemuliaan bagi Tuhan! Lalu kitapun bertepuk tangan. Kalau tepuk tangan adalah kemuliaan bagi Tuhan, maka lebih banyak kemuliaan di lapangan bola daripada di gereja! Tukas Chris. Betul sekali bukan?

Ternyata, penyembahan memiliki arti yang mendalam. Bukan sekedar menyanyi, bukan sekedar memetik gitar. Tapi, menghasilkan sesuatu dari hati, membuat karya yang sungguh-sungguh keluar dari hasil usaha kita untuk Tuhan. Bukan sekedar tampil keren dengan rambut landak. Tapi, latihan berjam-jam, berhari-hari, berbulan-bulan, demi sebuah lagu, mungkin hanya 5 menit, namun sempurna, bak biduan yang bersiap menyanyi di hadapan kaisar. Itulah penyembahan yang sejati!

Dan kata-kata Chris yang membuat saya terhenyak adalah bahwa pujian dan penyembahan yang indah buat Tuhan itu berdaya cipta. Maksudnya apa? Kemudian Chris memberikan Daud sebagai contoh. Kata-kata apakah yang ingin kita katakan pada Tuhan yang belum dikatakan oleh Daud? “Biarlah renunganku manis kedengaran kepadaNya!” (Maz. 104:34), “Ke mana ku dapat pergi menjauhi roh-Mu” (Maz 139:7). Betapa ungkapan kasih pada Tuhan membuat seorang Daud menjadi pujangga besar. Dan bukan cuma Daud! Johann Sebastian Bach menghasilkan ratusan karya musik klasik jenius yang ditujuan untuk penyembahan. Michelangelo menghasilkan lukisan luar biasa, yang dipersembahkan untukNya. Kahlil Gibran menulis ratusan puisi indah untukNya. Dan banyak lagi contohnya, bagaimana penyembahan bisa berdaya cipta, mencipta suatu karya yang melampaui masaNya dan menyentuh jadi Tuhan!

Kemudian, dimanakah kita? Sudahkah kita menghasilkan karya tersebut? Sudahkah penyembahan kita berdaya cipta?

Disinilah kemudian Chris menjelaskan: berapa nilai yang kita beri untuk Tuhan? Apakah perjuangan kita untuk Tuhan hanya cukup dengan bangun pagi di hari Minggu? Apakah layak kita membalas kasih karuniaNya dengan menyanyi 3 lagu dalam satu kebaktian? Apakah sudah cocok jika kita mengimbangi perhatianNya dengan dua lembar lima puluh ribuan di dalam kantung persembahan?

Kemudian, Chris memulai sebuah pemaparan yang membuat saya terhenyak. Empat puluh tahun Tuhan memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir. Empat puluh tahun lamanya Tuhan menurunkan roti, menurunkan daging , memberi air, menudungi dengan awan, dan mengawal Israel dengan gada api. Dan ada waktu dimana Tuhan memerintahkan Musa membawa bangsa Israel ke Gunung Horeb, karena Ia rindu disembah oleh umatNya! Begitu penting penyembahan sehingga Tuhan pun rindu!

Dimanakah kita empat puluh tahun lalu? Bagaimana kondisi kita saat itu? Kita masih kuliah, kita kesulitan biaya, kita takut menikah, kita melangkah dengan gentar. Dan dimanakah kita sekarang? Kita bisa hadir di gedung kebaktian yang megah, kita bisa naik mobil baru, kita bisa menikmati AC yang dingin, tidak masalah bayar parkir belasan ribu. Lalu, kalau Tuhan mau kita bersyukur, menyembahNya untuk semua anugerah itu, mengapakah kita masih menyanyi malu-malu? Mengapakah kita masih berpuas diri dengan satu jam seminggu di gereja? Datang terlambat, pulang sebelum selesai. Takut antri?

Jangan biarkan masalah mengambil nyanyian dari mulutmu! Jangan biarkan tantangan mengambil lagu dari hatimu! Jangan biarkan takut antri merampok 10 menit dari waktu penyembahanmu! Jangan biarkan bunyi smartphone memalingkan wajahmu dari Tuhan!

Pak Chris, terima kasih untuk membukakan mata saya. Dan terima kasih atas pujian yang indah, yang bahkan di DVD-nya tidak ada, namun masih saya ingat betapa waktu itu memang frekuensinya berbeda – ada Elemen Surga yang saya rasa. Terima kasih GBI Rock Ambon yang membawa saya lebih dekat dengan Tuhan. Saya menghargai Anda berkhotbah dengan kata-kata runut, puitis, tanpa sepatah katapun dalam bahasa asing. Anda telah membuktikan, tidak perlu bahasa asing untuk menyembah Tuhan – selama semangat Daud ada dalam pelayanan kita.

Saya akan berusaha mencapai standar yang Anda buat, dengan apa yang saya bisa: merangkai kata menjadi untaian inspirasi, menjangkau hati melalui jembatan sastrawi.

Terima kasih!

-Harry Nazarudin-

 

 

Sunday, September 28, 2014

Jangan Berbuat Dosa Lagi!

“Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya: ‘Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?’ Jawabnya: ‘Tidak ada, Tuhan.’ Lalu kata Yesus: ‘Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang’”

Yohanes 8:10-11

Persekutuan Doa Agape, Petrotec Group, 19 September 2014
Oleh: Pdt. Berghouser Benget

Pdt. Berghouser Benget dari GKI Ampera sudah dua kali hadir di PD Agape. Kali ini, tema yang dibawakan cukup berat, yakni pesan Tuhan Yesus kepada wanita yang nyaris dirajam karena tertangkap basah berdosa. Pesan yang sederhana, lembut, namun membawa bobot yang berat. Pesan untuk ‘jangan berbuat dosa lagi’. Berat nih! Bagaimana caranya? Ketika membaca tema ini, panitia segera paham bahwa tugas ini bukan untuk orang biasa, melainkan perlu mengundang pembicara luar.

Pak Benget memulai khotbahnya dengan sebuah pertanyaan: “Apakah ada diantara kita yang pernah tertangkap basah?”. Pernah, tentu saja. Waktu kecil mencuri mangga tetangga, atau ketahuan polisi masuk jalur busway. Saya pun terbayang para tersangka kasus korupsi KPK yang tertangkap basah, betapa pucat wajahnya ketika ditangkap. Bahkan mantan hakim konstitusi sampai menempeleng seorang wartawan, disaksikan jutaan rakyat Indonesia melalui televisi! “Bagaimana perasaannya waktu tertangkap basah?” tanya Pak Benget lagi. Kami pun terdiam.

Menurut Pak Benget, jika seseorang berbuat dosa, maka sudah ada hukuman yang terpaut pada dosa itu sendiri tanpa dijatuhkan hukuman tambahan, yakni rasa bersalah. Itulah sebabnya beliau bertanya apakah kita sendiri pernah tertangkap basah. Tidak enak bukan? Baik itu mencuri jambu tetangga atau melirik istri tetangga, namanya ketahuan pasti tidak enak. Tanpa dihukum pun, orang sudah jera. Itu sebabnya, sebagian besar – tidak semua memang – akan jera jika sudah tertangkap basah.

Lalu apa esensi dari tindakan Tuhan Yesus dalam peristiwa ini? Kasusnya sama: seorang wanita tertangkap basah berzinah. Hukumannya jelas: dirajam sampai mati. Walaupun sudah menanggung malu, para kaum Farisi dan Ahli Taurat, sebagai pihak yang lebih suci, ingin menambahkan sebuah hukuman yang sempurna: hukuman mati. Jika perempuan ini mati, maka ia tidak bisa berdosa lagi bukan? Maka dunia akan lebih baik jadinya! Inilah hukum manusia.

Tuhan Yesus, seperti biasa, sangat cerdik. Pertama-tama ia bertanya kepada yang akan menghukum – kebanyakan laki-laki tentu saja. “Yang merasa tidak berdosa, silahkan lempar batu pertama!” kata Tuhan Yesus. Apakah hukuman rajam bagi wanita yang ketahuan berzinah itu adil? Bagaimana dengan partner zinahnya, seorang laki-laki? Dimana dia? Pernah dengar ada laki-laki dirajam karena zinah? Tidak pernah bukan? Apa jangan-jangan, wanita itu berzinah sendirian? Tentu saja tidak bisa. Dengan satu kalimat, Tuhan Yesus mematahkan konsep ‘adil’ pada hukuman rajam karena zinah.

Lalu, proses berikutnya juga sangat indah. Ketika yang tadinya mau menghukum satu-persatu pulang, tinggallah si wanita tadi. Ia bertanya kepada Yesus, satu-satunya orang yang berhak melempar batu dan menjatuhkan hukuman, karena Ia tidak berdosa. Dan Ia menjawab dengan bijak: “Aku tidak menghukum kamu. Pergilah, jangan berbuat dosa lagi!”

Jika Anda tertangkap basah mencuri jambu, lalu dikejar oleh pemilik pohon, dan Anda tertangkap. Lalu pemilik pohon tersenyum, membiarkan Anda membawa jambunya dan berkata: “Dik, kalau mau jambu, ketuk saja ya! Nanti Bapak ambilkan... tidak peru repot-repot memanjat!”. Apakah Anda akan mencuri lagi? Inilah yang dilakukan oleh Tuhan Yesus. Ia tidak memberikan ‘hukuman mati’, tetapi ia memberikan ‘hukuman hidup’. Ia mengijinkan perempuan itu untuk  hidup lebih lanjut, dengan tanggung jawab baru dari pengalaman pahit di hari itu. Jangan diulangi lagi!

Karena temanya adalah mengenai aplikasi kekristenan dalam kehidupan karir, maka diskusi berlanjut. Beberapa rekan menyuarakan bahwa bila semua rekan di kantor diperlakukan dengan prinsip ‘cinta kasih’ – tidak boleh ditegur, dihukum, diberi SP, atau di-PHK, maka kacaulah perusahaan kita. Tetapi, ada suara yang berlawanan: bahwa tidak selalu suara ‘kristiani’ berarti ‘mengampuni semua kesalahan’. Bukankah Tuhan Yesus adalah seorang yang tegas, dan bukan lemah?

Kemudian, Pak Benget menutup diskusi dengan sangat bagus. Bagaimana jika ada seorang karyawan yang melakukan kesalahan? Haruskah kita rajam, atau kita ampuni? Kalau diampuni, lalu bagaimana dengan SOP perusahaan? Jawabannya sederhana. “Tuhan itu membenci dosa, tetapi mengasihi manusia yang berdosa” kata Pak Benget. Itulah jawabannya! Membenci dosa, tapi mengasihi manusia yang berdosa, dan memberikannya tanggung jawab untuk menjadi manusia lebih baik.

Amin, terima kasih Pak Benget!

Tuesday, July 29, 2014

Mari Kita Berjalan Diatas Air!

“Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: ‘Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?’”

Matius 14:31

Perikop: Matius 14:22-33

Saya sudah berkali-kali membaca mengenai peristiwa ini. Ya, Yesus berjalan diatas air mendapati para murid yang ada di kapal. Ya, lalu Petrus mencoba berjalan juga tapi gagal. Namun, beberapa bulan lalu ketika saya membaca ayat ini sebelum tidur, tiba-tiba ada sesuatu yang menggelitik di dalam hati. Kisah ini, rupanya sangat indah, dan yang paling indah bukan mukjijatnya – melainkan reaksi Tuhan Yesus ketika menolong Petrus.

Jadi kisahnya begini: sesudah memberi makan lima ribu orang, para murid sudah berangkat terlebih dahulu dengan perahu ke tengah danau Galilea dan bermalam di perahu. Tuhan Yesus, setelah memberi makan lima ribu orang di sore harinya, mungkin merasa ingin menyepi dulu. Ia naik ke atas bukit dan berdoa. Kira-kira pada jam tiga pagi, Tuhan Yesus menyusul para murid-Nya di kapal. Tidak, Ia tidak naik getek, tapi Ia berjalan diatas air!

Selama ini, jika mendengar ‘Tuhan Yesus berjalan diatas air’, saya selalu membayangkan airnya tenang. Ya, seperti kolam renang infinity pool di Hotel Padma Bandung, dimana kita seolah merasa punya iman kuat dan melangkahkan kaki untuk menginjak permukaan air yang tenang itu – dan langsung kecebur tentu saja. Itulah bayangan saya: Tuhan Yesus melangkahkan kaki di permukaan Danau Galilea yang tenang, seperti berjalan diatas kaca.

Tapi, ada satu gambar kalender yang membuat saya terhenyak. Disitu digambarkan Tuhan Yesus berjalan diatas air danau yang sedang bergolak! Ya, memang dicatat dalam Alkitab bahwa air sedang tidak tenang seperti infinity pool. Berarti, Tuhan Yesus tidak ‘berjalan’ diatas air – karena kalau airnya bergolak kena angin maka Ia harus lompat-lompat! Lebih tepatnya mungkin Ia ‘melayang’ diatas air danau yang sedang menggelegak.

Para murid, yang meringkuk kedinginan sambil merem-melek di dalam perahu yang digoncang angin, semua terbelalak heran. Jaman itu belum ada lampu sorot! Ada satu sosok yang melayang diatas air. Hayyah! Hantu! Tuhan Yesus mengetahui ketakutan mereka. Dalam ayat 27, Ia berteriak: “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!”

 Petrus, murid-Nya yang paling berani, lalu merasa tertantang. Bisakah Petrus juga berjalan diatas air? Keren kan, bisa melalui danau tanpa harus mengantri naik perahu? Iapun menantang Tuhan Yesus. Tuhan, saya cuma manusia biasa, katanya. Bisakah saya – manusia – berjalan diatas air seperti Tuhan Yesus? Kalau Tuhan Yesus memang benar-benar manusia, dan saya juga manusia, mustinya saya bisa juga kan? Mungkin Petrus berpikir, paling-paling Tuhan Yesus akan menjawab dengan perumpamaan panjang yang menjelaskan bahwa tidak mungkin manusia biasa seperti Petrus bisa jalan di atas air.

Diluar dugaan Petrus, Tuhan Yesus tersenyum dan menjawab: “Oke – datanglah kesini!”. Waduh! Petrus mengernyitkan dahi. Apakah saya bisa? Saya kan manusia biasa? Ia mencoba menjejakkan kaki ke air. Ingat, ini angin sakal. Angin yang berlawanan arah dengan perahunya, sehingga perahu terombang ambing. Eh, pas kaki Petrus menginjak air, lho kok keras seperti lantai. Hore! Petrus bisa! Ia lalu mulai melangkah menuju Yesus. Hebat! Aku bisa! Bisa berjalan diatas air! Seperti Yesus!

Namun, ketika kapal semakin jauh dan tidak terjangkau lagi oleh tangan, sementara angin bertiup semakin kencang, Petrus mulai gamang. Wah, ngeri juga nih – seperti berjalan diatas tali! Harus menginjak yang mana? Satu langkah lagi, dan lagi. Haduh, Tuhan Yesus kok jauh amat ya! Masih kira-kira 5 langkah lagi! Dan, air memercik ke kaki Petrus. Aduh! Basah nih! Tenggelam! Dan iapun mulai terperosok tenggelam!

Petrus pasti panik! Sepanik jika kita diceburkan ke kolam renang oleh teman-teman waktu ulang tahun. Air memang bisa membuat panik. Walaupun kita bisa berenang, tetap saja kecebur air itu bikin kaget. Pernahkah kita mengalami hal ini? Waktu kecil belajar berenang dulu, ketika kita mulai tenggelam. Ketika kita mulai minum air dan hidung terasa sakit. Ingatkah kita, apa yang kemudian terjadi?

Ya! Ada tangan yang menolong kita. Tangan ayah kita, yang mengangkat kita dari air, atau tangan guru renang yang menolong kita. Persis seperti Petrus – ada tangan yang tiba-tiba menolongnya. Rupanya, Tuhan Yesus buru-buru lari dan mengulurkan tangan-Nya untuk Petrus. “Pet, hayyah kamu sih, kok gak percaya amat” kata Yesus. Sama seperti suara ayah kita, yang lembut berkata: “Kamu sih, sudah papi bilang kakinya harus gerak supaya nggak tenggelam”. Jantung kita berdetak kencang, namun terasa aman karena tubuh kita dipegang oleh ayah. Untuk Petrus, yang sekarang terengah-engah, tangan Tuhan Yesus yang memegangnya. Bukan cuma itu: Tuhan Yesus menggendong Petrus sampai naik ke perahu lagi.

Buat saya, yang membuat kisah ini luar biasa bukan hanya mukjijatnya, tetapi bagaimana Tuhan Yesus bereaksi atas permintaan Petrus. Ingat bahwa Petrus adalah manusia biasa, sama seperti Anda dan saya. Imannya tentu saja lemah. Ia tidak bakalan bisa berjalan di atas air, karena imannya jauh dibawah Tuhan Yesus. Namun, Petrus berani mencoba! Ia berani bangkit dan berteriak: “Tuhan Yesus! Bisakah saya seperti Tuhan Yesus?”. Dari 12 murid yang ada di perahu, hanya Petrus yang berani begini.

Jaman sekarang, ada sekelompok orang di gereja yang termasuk ‘kristen skeptis’. Maksudnya apa? Mereka beriman, tetapi skeptis. Setelah selesai membahas Alkitab, maka mereka berkata: “Ya, tapi itu kan Tuhan Yesus, saya kan bukan Tuhan Yesus. Mana bisa saya melakukan semua itu? Mana bisa saya jujur terus? Ya sudah lah, korupsi sedikit tidak apa-apa. Toh Ia akan mengerti kelemahan kita!” Nah, memang males ngomong sama orang seperti ini ya! Soalnya, ia memisahkan antara ‘Yesus’ dan dirinya. Itu ‘Yesus’, ini saya. Jangan disamain dong, saya kan bukan Anak Allah. Padahal, untuk apa Yesus memberikan teladan dalam Alkitab? Ya, supaya kita mengikutinya! Tidak ada alasan bahwa kita tidak bakalan bisa seperti Yesus. Kalau Yesus bisa 20 langkah, kita bisa 2 langkah saja sudah lumayan bukan?

Kalau kita mau mencoba, walaupun akan gagal, pasti Tuhan Yesus juga akan senang. Seperti orang tua yang bangga melihat anaknya mau mencoba belajar berjalan, walaupun mereka tahu bahwa sang anak pasti tersandung. Tapi sang anak tidak menyerah, terus mencoba berjalan. Kita sebagai orang tuanya merasa bangga, bukan? Itulah sebabnya, ketika Petrus mengajukan diri untuk berjalan diatas air, Tuhan Yesus tidak berkata: “Hush, Petrus kau jangan macam-macam. Ini urusan Anak Allah!” atau, Ia bersabda: “Petrus, silahkan coba, kalau imanmu kuat. Silahkan, ayo kesini!” kata-Nya sampai melipat tangan dan tersenyum sinis, dan berpikir: “Hehehe, pengen liat Petrus basah kuyup nih!”

Mengapa saya tahu bahwa Tuhan Yesus tidak tersenyum sinis? Lewat reaksi-Nya ketika Petrus tenggelam.

Alkisah, Petrus tenggelam. Wajar bukan? Dan untuk Petrus, ini bukan pertama kalinya ia tenggelam. Petrus itu nelayan lho! Pasti ia bisa berenang (kalau petani belum tentu). Yohanes 21:7 pun mencatat bahwa Petrus bisa berenang. Jadi, sebenarnya, jika eksperimen ini gagal, Petrus bisa saja berenang kembali ke perahu. Iya kan? Apa susahnya? Paling sial, Petrus akan basah kuyup. Itu saja!

Tuhan Yesus, bisa saja bersabda: “Wahai Petrus, udah dibilangin imannya harus kuat. Kalau iman kamu memang cuma segitu, berenang sono balik ke kapal!” Alkitab tidak mencatat sejauh mana Petrus berjalan, tapi rasanya belum terlalu jauh. Tebakan saya, paling baru beberapa langkah. Wajar kan kalau Petrus berenang? Tuhan Yesus kemudian berjalan ke perahu, lalu dengan baju kering melihat Petrus yang basah kuyup dan berkata: “Kamu manusia beriman lemah, jangan sekali-kali sok-sokan mau bermukjijat! Gak bakalan bisa!”.... Itukah yang terjadi?

Sama sekali tidak! Dan inilah yang membuat peristiwa ini begitu indah. Tuhan Yesus sama sekali tidak memarahi Petrus. Tebakan saya juga, jarak Tuhan Yesus agak jauh dari perahu dibanding Petrus – karena kalau sudah dekat Tuhan Yesus pasti Petrus berani. Alasan Petrus takut adalah, perahu sudah tidak bisa diraih tangan, dan Tuhan Yesus masih jauh! Tapi mereka masih bisa saling mendengar jika berbicara – maka anggaplah, jarak Tuhan Yesus dari Petrus adalah 5 meter atau 5 langkah kira-kira.

Ketika Petrus mulai tenggelam, Tuhan Yesus pasti melihatnya. Bayangkan bahwa untuk menolong Petrus, Tuhan Yesus harus lari beberapa langkah, dan mengulurkan tangan-Nya memegang Petrus! Bayangkan, Ia harus begitu repot. Dan coba kita pikirkan: jarak perahu dari tepi danau waktu itu beberapa mil jauhnya. Satu mil adalah 1,6 km, kalau yang dimaksud adalah mil laut (nautical mile), maka satu mil laut adalah 1,852 km! Beberapa mil berarti kira-kira 3-5 kilometer dari tepi danau. Bayangkan, Tuhan Yesus sudah berjalan diatas air kira-kira 3-5 kilometer, atau kalau dijalankan dengan kecepatan biasa, kira-kira 30 menit berjalan kaki. Jauh juga lho! Mengapa Tuhan Yesus kok harus berjalan diatas air? Ia kan bisa berenang? Ya, tapi berenang capek, dan pasti basah kuyup. Jaman itu tidak ada kantung kresek! Mungkin, Tuhan Yesus ingin ke perahu tanpa berenang atau basah kuyup.

Sekarang, apa yang terjadi? Gara-gara Petrus, Ia harus mengulurkan tangan-Nya! Petrus sudah mulai kecebur, ia pasti sudah basah. Gara-gara menolong Petrus, Tuhan Yesus jadi basah juga! Apalagi Alkitab mencatat bahwa Ia tidak hanya mengulurkan tangan-Nya, tetapi naik ke perahu bersama Petrus. Ia mungkin menggendong atau merangkul Petrus yang sekarang ngos-ngosan ketakutan. Bisa saja Ia membuat Petrus melayang seperti telekinesis, bisa saja Ia menyuruh malaikat menolong Petrus. Tetapi... tidak! Ia mengulurkan tangan-Nya – dan jadi basah – untuk menarik Petrus dari air. Hanya satu komentar-Nya: “Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?” Seperti ayah kita: “Sudah papi bilang, kakinya digerakkan biar nggak tenggelam”. Dan hati kita terasa teduh.

Pelajaran apa yang bisa kita dapat dari peristiwa ini?

1.       JANGAN TAKUT UNTUK MENCOBA.

Iman kita lemah, kita semua tahu. Tapi, jangan takut untuk mencoba! Dari 12 murid di perahu, hanya Petrus yang berani mencoba berjalan diatas air. Ya, akhirnya ia tenggelam. Tapi, bukankah akhirnya Tuhan Yesus juga menolong dia? Bukankah hanya Petrus yang merasakan uluran tangan Tuhan Yesus sendiri? Hanya Petrus yang mengalami pengalaman iman luar biasa, sementara yang lain hanya nonton dari perahu? Ya. Jangan takut untuk mencoba, selemah apapun iman Anda.

2.       IA YANG MEMANGGIL, IA YANG MENOLONG.

Bukankah Tuhan Yesus yang berkata kepada Petrus: “Datanglah!”? Walaupun iman Petrus lemah, walaupun Ia tahu Petrus pasti tenggelam. Tetapi, Ia toh tetap memanggil Petrus dan memintanya untuk mencoba, walaupun pada akhirnya Petrus akan membuat Tuhan Yesus repot dan bahkan basah juga. Jadi, jangan kuatir. Jika Ia sudah berkata: “Datanglah!” Maka Anda harus datang. Ambil langkah iman itu, mulailah berjalan diatas air. Jangan kuatir! Sejak itu, mata Tuhan Yesus senantiasa menyertai Anda, dan tangan-Nya siap terulur untuk Anda.

3.       IA RELA REPOT UNTUK KITA.

Dalam kisah ini, Petrus toh bisa berenang. Tuhan Yesus, sesudah berjalan 30 menit diatas air, tidak perlu repot-repot mengulurkan tangan-Nya bukan? Ia tidak perlu basah untuk Petrus, toh paling-paling Petrus hanya basah kuyup saja. Ini bukan soal hidup mati. Nggak penting-penting amat Tuhan Yesus mengulurkan tanganNya. Tapi, toh Ia lakukan. Kasih-Nya luar biasa bukan? Ia rela repot mengulurkan tangan-Nya. Ia mau repot tergopoh-gopoh menghampiri Petrus, lalu mengulurkan tangan-Nya. Tangan-Nya sendiri yang Ia ulurkan, bukan tangan malaikat. Ya! Ia rela repot, rela basah, rela lari tergopoh-gopoh, rela mengulurkan tangan-Nya, hanya untuk melindungi Petrus dari basah kuyup. Apalagi untuk pertaruhan yang lebih penting? KasihNya luar biasa!

4.       TUHAN TIDAK MAU KITA SKEPTIS!

Terakhir, kembali mengenai skeptis tadi. Kalau kita punya karyawan atau anak yang melakukan kesalahan, cobalah melakukan cross check antara sikap kita dan Tuhan Yesus. Jika anak yang melakukan kesalahan, apa tindakan kita? “Kamu sih, bla bla bla!!!”. Karyawan apa lagi. Tapi coba lihat Tuhan Yesus! Ia hanya berkomentar dengan bertanya, mengapa kok iman Petrus lemah. Ia tidak mengomeli Petrus: “Hai kamu ular beludak! Gara-gara kamu saya basah juga!” Tidak bukan? Ia tidak menghardik Petrus, kesal karena kelemahan muridnya. Ia penuh kasih menghadapi ‘kesalahan’ Petrus. Untuk itu, janganlah kita skeptis!

Akhir kata, Tuhan ingin kita mencoba, bukan karena Ia ingin kita gagal. Ia ingin kita mencoba, supaya kita dapat merasakan uluran tangan-Nya, dan merasakan kasih-Nya yang tiada tara. Jadi, jika Ia sudah berkata: “Datanglah!” maka, yuk datang segera. Langkahkan kaki Anda ke atas air. Niscaya, mukjijat akan terjadi!

Jakarta, 29 Juli 2014

Friday, February 07, 2014

Gembala Yang Baik, Bukan Manajer Yang Baik!


“Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya”
Yohanes 10:11

“Bagaimana pendapatmu? Jika seorang mempunyai seratus ekor domba, dan seekor diantaranya sesat, tidakkah ia akan meinggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan dan pergi mencari yang sesat itu?”
Matius 18:12

Renungan ini berasal dari pikiran iseng saya. Awalnya adalah ketika dalam sebuah persekutuan terjadi konflik antara pemimpin persekutuan dan anggotanya. Sang anggota entah kenapa merasa tidak dihargai oleh sang pemimpin, sampai-sampai tersinggung dan marah. Sementara sang pemimpin, menganalisa masalah dari sisi pemimpin, bahwa memang si anggota yang terlalu sensi. Toh, pemimpin bertindak tidak untuk satu-dua orang saja, tetapi harus memperhatikan kepentingan banyak orang. Dan ketika kelompok yang lebih kecil kemudian kalah suara, beberapa lalu mutung, pundung. Kalau menggunakan istilah domba, ketika yang lain bergerak ke kanan, yang ini minggir ke kiri. Biarin deh, toh suaraku tidak didengar, katanya.

Sang pemimpin persekutuan pun bersikukuh. Yah, sebenarnya dia sudah mencoba untuk merangkul kembali anggota ini. Namun, tidak berhasil. Akhirnya dia bilang, well, life must go on, the show must go on. Akhirnya persekutuan terus berjalan dan untunglah, sang domba tersesat ditampung oleh persekutuan lain.

Waktu itu, saya bilang terang-terangan bahwa saya tidak setuju sikap sang pemimpin tadi. “Untung Tuhan Yesus itu gembala yang baik, bukan manajer yang baik” celetuk saya. “Kalau Dia manajer yang baik, maka FirmanNya menjadi: Akulah jalan kebenaran dan hidup, yang tidak mau melewati Aku, silakan cari kerja di tempat lain!” kata saya sambil cekikikan. Dan, ada sambungannya! “Gembala yang baik itu mencari itu meninggalkan 99 ekor domba demi mencari 1 yang hilang. Kalau dalam manajemen, satu yang hilang atau tidak mau ikut, bisa dipersilakan resign saja segera biar diganti domba yang baru!”

Betul sekali bukan? Kita sangat beruntung bahwa Tuhan Yesus berfirman bahwa Ia adalah gembala yang baik. Coba kalau Ia bersabda, Ia adalah manajer yang baik! Mungkin kita sudah dipecat karena lebih dari tiga kali berdosa (dengan surat SP3), atau karena kita bukan team-player, atau karena kita tidak bisa ikut dengan yang lain. Hanya seorang gembala, yang memimpin tim domba-domba bodoh, yang cukup sabar untuk mencari domba yang hilang, menarik domba yang kabur, atau membujuk domba yang stress supaya tidak terjun bunuh diri ke jurang. Untunglah Tuhan Yesus gembala yang baik!

Saudaraku, itulah yang paling sulit: mengalahkan ego kita sendiri.  Mengalahkan ego, adalah prinsip dari seorang gembala. Pernah memelihara anjing atau kucing? Pernah setengah mati manggil2, atau membujuk dengan muka lucu, agar anjing dan kucing kita mau makan? Nah, itulah sebenarnya kegiatan mengalahkan ego yang indah. Betapa kita sebagai manusia yang canggih, mau nunduk2 pada si Bleki, supaya dia makan – bukannya bunuh saja si Bleki dan beli anjing baru. Ironisnya, yang mudah bagi anjing dan kucing, ternyata sulit diterapkan untuk manusia!

Rasa ego yang begitu tinggi, kadang-kadang adalah hal tersulit yang harus dilampaui untuk menjadi seorang gembala yang baik. Inilah tantangan bagi setiap pemimpin Kristiani, baik dalam organisasi besar maupun persekutuan kecil. Bagaimana kita bisa meniru Tuhan kita – yang diam ketika diludahi, meram ketika dicambuk, dan bahkan menempelkan kembali telinga penjahat yang akan mendzalimiNya. Ketika kita mengalahkan ego kita, kita memenangkan kasih Kristus.

Jakarta, 7 Februari 2014  

Tuesday, June 05, 2012

Mengenang Daniel Nazarudin, Thio Tjong Bing (1)

Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Matius 5:3 Papi Tjong Bing, atau Daniel Nazarudin, selalu punya relasi yang unik dengan harta. Sebagai seorang dokter gigi, beliau paham betul, bahwa uang bukanlah tujuan utama seorang dokter (atau, paling tidak, begitulah yang seharusnya). Beliau pernah berkata sambil bercanda, bahwa jadi dokter itu memang nasibnya tidak bisa kaya. Bayangkan: waktu muda, ketika tenaga masih kuat dan semangat masih tinggi, pasiennya nggak ada. Ya wajar, dokter baru mana ada yang percaya? Sementara ketika sudah tua, senior istilahnya, pasiennya memang banyak, tapi tenaga sudah pas-pasan dan semangat juga sudah kendor. Alhasil, uang yang didapat ya tidak pernah maksimal! Begitu katanya. Benar juga! Memang, papi dan mami memulai membangun keluarga nyaris dari nol. Kami memulai kehidupan keluarga dengan rumah kontrakan kecil di Jl. Bima, sebuah televisi hitam-putih, dan motor bebek 'dukun' C70 merah untuk papi bekerja. Tidak jarang ia pulang basah kuyup karena kehujanan. Tapi, dengan bekerja tekun bertahun-tahun, akhirnya sedikit demi sedikit ekonomi keluarga pun membaik, sampai bisa punya rumah dan mobil. Tapi, papi tetap merasa miskin, karena "Apa yang dihasilkan adalah dari keringat sendiri!" katanya. Uangnya datang dari tangannya sendiri, jadi kalau tidak praktek ya tidak ada uang! Enak ya, kalau uang bisa datang tanpa bekerja sendiri, kata papi. Namun papi sendiri mengerti benar, bahwa menjadi dokter betul-betul 'miskin di hadapan Allah'. Untuk mereka ini, Alkitab menjanjikan seperti perikop diatas, bahwa justru orang seperti papi menjadi sangat kaya sampai-sampai seperti 'Yang punya Kerajaan Sorga'. Bayangkan, mau beli mobil bekas saja, ketika tahu papi seorang dokter, mobilnya langsung diantar ke rumah. "Lho, ini belum tentu beli lho!" kata papi. "Gak papa Dok, pakai saja dulu, 1 atau 2 minggu. Kalau gak cocok tinggal dikembalikan saja!" kata yang punya mobil. Astaga! Walaupun akhirnya Honda Civic Wonder hijau itu jadi kita beli, namun sebuah kebanggaan bahwa pemiliknya begitu percaya sama papi. Sebuah Honda Freed baru untuk test-drive pun pernah seminggu diparkir di rumah! Saya saja, anaknya yang kerja kantoran, susahnya minta ampun ketika mau test drive. Sementara papi.... "Pakai saja dulu Dok! Gak beli juga gak papa..." kata manajer dealernya. Hebat! Banyak urusan papi justru dimudahkan, bahkan lebih enak dari 'orang kaya'. Urusan kesehatan, urusan dengan kantor pemerintah, bahkan urusan dengan bank, begitu gampang mengalir tanpa pelicin, karena begitu percayanya masyarakat pada seorang dokter. Saya saja selalu naik pitam urusan bank - sedangkan untuk papi, kok begitu tahu ini 'dokter', semua urusan lancar? Ya, ini karena papi juga tidak pernah ragu-ragu mempermudah urusan orang. Banyak tetangga di rumah yang kurang mampu, bisa berobat gratis di praktek papi. Harga bukan jadi urusan penting, yang penting adalah kesungguhan dalam bekerja, bertindak benar, dan tidak menyerah walaupun banyak masalah. Mungkin dari sinilah muncul sifat saya juga yang tidak terlalu memperhatikan uang sampai ke sen terkecil. Memang, dengan demikian, papi tidak pernah jadi kaya, apalagi jadi konglomerat. Tapi, papi menjadi miskin di hadapan Allah karena kemurahan hatinya, dan kini, ia menjadi pemegang saham di Surga! Tomang, 5 Juni 2012 Tulisan berseri mengenang papi tercinta, drg Daniel Nazarudin, yang meninggalkan kami tanggal 23 Januari 2012