Friday, November 01, 2019

Prolog: Tuhan Yesus Memang Jenius!

"Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan."
Amsal 1:7

Sebuah data statistik pernah menyebutkan bahwa sebagian besar teroris berasal dari jurusan MIPA (Matematika dan Ilmu Pasti Alam alias sains!). Walah, cilakak! Apa yang terjadi? Mengapa justru orang-orang yang percaya tahayul radikalisme, justru berasal dari lingkungan pendidikan sains yang serba logis dan berdasarkan eksperimen? Mengapa "pendidikan" yang mereka terima bukannya membuat mereka berpikir logis, malahan terjerumus pemikiran radikal? Cilakanya lagi: jangan-jangan, pendapat kita bahwa "mereka orang yang tidak berpendidikan" adalah salah? Lalu, dimana dong letak permasalahannya?

Coba kita renungkan sejenak. Sains. Zzzz (ngantuk!). Nanti dulu bro! Hehe. Heinz? Bukan, itu saos tomat wkwk. Sains. Mengapa "dunia sains" selalu erat kaitannya dengan atheisme? Mengapa setiap scientist selalu kelihatannya tidak percaya Tuhan? Apakah benar bahwa seorang scientist baru bisa benar-benar hebat kalau dia menjadi atheis, agnostik, atau apalah itu, maksudnya tidak percaya Tuhan? Dan sebaliknya, apakah bisa seorang beragama menjadi scientist yang hebat?

Kenyataannya, alinea kedua diatas adalah sebuah pemahaman yang diterima oleh umum. Sehingga bayangkan: si Polan, seorang mahasiswa kimia. Beliau orang yang beriman, rajin berdoa, percaya Tuhan sebagai panglima. Lalu kemudian dia diberi tahu bahwa menurut Richard Dawkins nggak ada tuh yang namanya Tuhan! Nggak ada tuh Tuhan dalam reaksi nuklir, yang ada malah Oppenheimer! Juga dalam reaksi nitrasi, adanya Alfred Nobel! Mana Tuhanmu? Mana? Mana? HAHAHAHAHA (ketawa ala Godzilla).

Wajahlah kalau di Polan kemudian, sambil berdiam berdoa, berkecamuk hati kecilnya. Wajarlah kalau beliau, dengan wajah merengut ala Dude Herlino di sinetron Istri Yang Tertukar, kemudian berpikir, "Ya Tuhan, masak semua dosenku bilang Engkau nggak ada sih? Sini Tuhan, aku tunjukkan bahwa Engkau ada, bahwa Engkau yang utama diantara Linus Pauling dan Albert Einstein!" - dan tiba-tiba reaksi nitrasi pembentukan Tri Nitro Toluena (alias TNT alias dinamit) kok kayaknya menarik nih untuk diulik. Mengerti kan, kenapa si Polan ini jadi radikal? Jederrr!!! Njeblug tenan!

Melalui rangkaian tulisan ini, saya ingin mengajukan dua poin penting: pertama, bahwa Tuhan dan sains adalah sejalan, tidak bertentangan. Sebenarnya, jika kita lihat dengan teliti, maka penemuan sains - bahkan sebombastis teori evolusi sekalipun - sebenarnya tidak bertentangan dengan Alkitab! Dan poin kedua: bahwa semua scientist itu atheist adalah hoax. Tahukah kamu, bahwa ketika Albert Einstein ditanya mengenai bagaimana awal perjalanannya menjelaskan teori relativitas, jawabnya adalah: "Karena Tuhan ingin saya menjelaskan anomali orbit planet Venus!"

Kalau Einstein tidak percaya Tuhan, bagaimana Einstein bisa terinspirasi oleh Tuhan? Dan kalau Tuhan tidak ada, jangan-jangan tidak akan ada teori relativitas dari seorang petugas paten bernama Albert Einstein! Kayak The Beatles di film Yesterday! Hehehe.

Yuk kita baca dalam serial tulisan berikutnya.

Salam,

Harnaz


Thursday, October 31, 2019

Selalu Segar Setiap Saat

"Yesus menjawab, kataNya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah""
Yohanes 3:3

"Halo Kakak, ada yang bisa dibantu?"

Pernahkan kamu masuk ke suatu restoran atau toko, dimana pelayannya berkata seperti itu. Namun, tidak dalam rangka "memaksa beli sesuatu" atau bikin kamu nggak betah kalau lagi bokek. Tapi, bener-bener dengan senyum tulus, yang membuat kita malah nyaman berada disana, baik bokek maupun tidak!

Dua puluh tahun lalu, ketika saya masih muda dan bokek (sekarang bokek tapi tuwek wkwk), saya pernah penasaran ngintip tempat yang namanya Hotel Sacher di Wina, Austria. Hotel ini punya toko kue dan restoran yang terkenal dengan aura mahal dan kerennya. Bukan hanya itu: disinilah tempat lahir Sacher Torte yang terkenal itu! Sebagai seorang foodie, saya pengen banget masuk, mencicipi Sacher di tempat kelahirannya. Namun, pelayannya yang berbaju 'butler' komplit, lebih keren dari jaket butut saya, membuat saya takut untuk masuk.

Ternyata, senyuman sang pelayan malah membuat saya berani. "C'mon in!" katanya, sambil mengangkat jaket butut saya dan digantung di tempat jaket. Saya duduk di ruangan bergaya victorian/art noveau yang cantik, lalu sambil bergetar memesan seiris Sacher Torte dan kopi Wiener Melange. Mahal, tapi duit di dompet cukup kok! Lalu saya foto makanan dari kiri dan kanan. Tiba-tiba, saya ditoel oleh sang pelayan. Apakah saya mau diusir karena kampungan main potret makanan?

"Would you like me to take photo of you?" katanya sambil senyum. Waduh, mantap! Dan sejak itu, setiap kali mampir ke Wina, saya selalu menyempatkan mampir ke Sacher!

Hidup beriman seharusnya selalu segar, sama seperti sang pelayan tadi. Jika Tuhan ada dalam kehidupan kita - baik bisnis, berkeluarga, maupun berteman - maka segala sesuatu akan terasa segar, menyenangkan. Karena itulah janjiNya kepada kita - membuat segala sesuatu indah. Dan jika kita merasa ada salah satu bagian hidup kita yang rasanya "gelap", bikin BT, malesin, maka sudah waktunya kita sambungkan kembali kabel bagian tersebut ke Sang Sumber Segar. Biar ceria lagi, segar lagi!

Salam,

Harnaz

Wednesday, May 24, 2017

Kecaplah dan Lihatlah

“Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya Tuhan itu!
Berbahagialah orang yang berlindung padaNya!”
Mazmur 34:8

Tema JPCC bulan Mei 2017 adalah ‘Taste and See’ atau ‘kecaplah dan lihatlah’ dari Mazmur 34:8. Jika bicara ‘kecaplah’ atau ‘cicipilah’, maka maksud pemazmur adalah bahwa kita harus mencicipi dan melihat kebaikan Tuhan. Kebaikan kok dicicipi? Mengapa kata ini yang dipilih?

Sebagai seorang foodie, saya bisa mengatakan bahwa orang kuliner adalah yang paling mengerti soal nilai (value) melalui lidahnya. Kami bisa masuk ke sebuah warung berbentuk gubuk reot di tengah hutan, tetapi ketika memcicipi sesendok saja… Wow! Terasa ada nilai yang luar biasa! Sebaliknya, kami bisa makan di restoran mewah mentereng dengan piring dan sendok serba mahal, tetapi ketika mencicipi makanannya… Hmmm. Tidak terasa ada yang istimewa.
 
Contohnya ketika saya dan teman penulis Lidia Tanod diajak Pak Bondan untuk mencicipi Sambel Welut Pak Sabar di Banguntapan, Yogyakarta. Saya dan Lidia belum pernah makan sambel welut, dan saya bukan tipe yang suka sambel. Apalagi warungnya sangat sederhana. Tetapi ketika kami mencicipi sambelnya, merasakan keseimbangan rasa antara kencur dan cabai serta kegurihan belut gorengnya, saya dan Lidia sepakat – ini luar biasa, ada nilai hebat dibalik kesederhanaannya!

Itulah sebabnya pemazmur menggunakan kata ‘kecaplah dan lihatlah’. Penglihatan bisa ditipu, tetapi dengan didampingi kecapan lidah, maka nilai sesungguhnya akan terungkap. 

Tetapi ada satu masukan menarik dari Windy, leader di DATE (persekutuan) saya. Beliau mengatakan bahwa ‘kebaikan Tuhan’ itu tidak selalu indah atau enak. Bahkan seringkali berupa bencana atau musibah, yang kemudian membawa kita ke arah yang lebih baik. Lalu jika kebaikan demikian yang kita terima, bagaimana kita dapat ‘mengecap’ dan ‘melihat’nya?

William Wongso, salah satu pakar kuliner Indonesia, pernah berkata bahwa kuliner Indonesia tidak akan maju jika orang Indonesia masih menilainya dengan ‘enak’ dan ‘tidak enak’ saja. Kita harus meningkatkan ‘kecerdasan lidah’ – istilah Pak Bondan – untuk naik tingkat ke kemampuan apresiasi citarasa yang lebih tinggi. 

Di Perancis misalnya, ada sejenis keju yang namanya ‘blue cheese’ – keju termahal dari semua jenis keju. Salah satunya adalah keju Roquefort. Keju ini dibuat dengan menyimpan keju susu kambing di gua Combalou di daerah Roquefort-sur-Soulzon – sampai busuk! Dan justru keju busuk berurat kebiruan ini menjadi salah satu komoditas termahal di dunia. Enak? Tidak! Baunya luar biasa. Tetapi, ada nilai tinggi pada rasanya – karena beda wilayah atau beda lokasi gua saja, rasa kejunya akan berbeda! 

Itulah makna ‘kecap’ yang kedua. Kadang-kadang kebaikan Tuhan hadir dalam rasa yang tidak enak. Misalnya, ada seseorang di kantor yang begitu membenci dan menfitnah Anda habis-habisan. Namun jika lidah dan mata kita peka, maka ini adalah kebaikan Tuhan yang hadir dalam rasa blue cheese (istilahnya kulinernya ‘aqcuired taste’). Di balik peristiwa itu, Tuhan sedang menyiapkan sesuatu yang lebih baik untuk Anda – sebuah kesempatan untuk berwiraswasta, misalnya. Memang tidak enak rasanya – tetapi jika kita bisa menghargainya, ada nilai yang sangat tinggi di dalamnya, yang lebih tinggi dari sekedar ‘enak’ saja. Kebaikan Tuhan yang sesungguhnya!

Kecaplah dan lihatlah, apa saja kebaikan Tuhan yang sudah Ia siapkan untuk Anda hari ini?

Salam,

Harnaz

Friday, March 17, 2017

Karena Iman

Efesus 2:8
Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah

Tulisan yang terinspirasi oleh COB JPCC.

Apakah iman itu? Bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat dan dasar dari sesuatu yang kita harapkan. Kedua pernyataan dari Ibrani 11:1 ini mengandung paradox luar biasa bukan? Bukti yang tidak bisa dilihat - apakah itu masuk akal? Semua sistem peradilan dunia dibuat untuk memutuskan kasus berdasarkan evaluasi bukti. Jika buktinya tidak dapat bisa dilihat, bagaimana suatu perkara bisa diputuskan? Demikian pula pernyataan 'dasar dari sesuatu yang kita harapkan'. Harapan kan belum terjadi, lalu dasarnya apa? Dasar harapan adalah jaminan yang belum jadi, bisa kemudian batal jika yang diharapkan tidak terjadi!

Tetapi, iman mengandung kekuatan besar. Tuhan Yesus dalam Matius 17:20 berkata bahwa sebiji sesawi saja bisa memindahkan gunung! Bahkan iman Petrus lebih kecil dari biji sesawi, ketika Tuhan Yesus menolongnya supaya tidak tenggelam. Banyak kisah dalam Alkitab tentang kekuatan iman, dari perwira Romawi sampai perempuan yang mengalami pendarahan. Semuanya menunjukkan dahsyatnya kekuatan iman!

Sekali lagi, bagaimana kita membayangkannya? Tidak kelihatan tetapi mengandung kekuatan luar biasa?

Sains punya jawabannya: gravitasi! Setiap orang pasti sadar akan adanya gaya gravitasi. Semua mahfum bahwa apa yang naik keatas akan jatuh jika tidak disangga, dan semakin tinggi posisinya, semakin keras jatuhnya. Manusia perlu membangun mesin berukuran raksasa untuk menerbangkan pesawat, dan 90% dari pesawat luar angkasa ketika berangkat dari bumi adalah bagian roketnya : yang fungsinya cuma untuk melawan gaya gravitasi.

Tetapi gaya gravitasi ini tidak bisa dilihat, bukan? Tidak bisa diukur, tidak bisa difoto. Satu-satunya bukti mengenai gaya gravitasi adalah terdeteksinya gelombang gravitasi bulan Februari 2016 oleh laboratorium LIGO di Amerika Serikat! Fenomena yang diramalkan Einstein tahun 1916 ini adalah hasil perjalanan panjang manusia yang berusaha mendeteksi gravitasi.

Bagaimana kekuatan gaya gravitasi, apakah seperti iman? Ya. Contoh paling mudah adalah pembangkit listrik tenaga air. Di Jatiluhur misalnya, yang terjadi sangat sederhana: melalui bendungan, dibuat perbedaan tinggi permukaan air sehingga air yang terjun dipakai untuk memutar turbin yang menghasilkan listrik. Luar biasa bukan? Cukup untuk menerangi sebuah kota!

Inilah dasar dari harapan dan bukti yang tidak terlihat. Kita tahu gravitasi itu ada, kita rasakan kekuatannya, tetapi tidak terlihat! Dan patutkah kita bimbang meletakkan harapan padanya, hanya karena ia tidak kelihatan?

Harnaz




Sunday, May 17, 2015

Mintalah! Carilah! Ketuklah!

Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. 
Matius 7:7

Saya baru punya sebuah pengalaman kecil. Suatu hari ketika saya ingin memberikan KTP, saya merogoh dompet dan…. KTP saya tidak ada disana! Duh, saya paling kesal kalau masalah seperti ini muncul. Otak saya didesain untuk mengingat hal penting dunia, seperti kapan Tembok Berlin runtuh dan kapan harga minyak dunia tiba-tiba jatuh. Tapi, kapan saya terakhir kali keluarin KTP dan ditaruh dimana? Ampun!

Sudah kebayang, harus ke kantor polisi. Harus ke kantor RT. “Bu RT pergi Pak, gak tau kapan pulangnya. Tunggu aja sampai Maranatha!” Kata pembantu Bu RT. “Hmmm, untuk surat kehilangan, Bapak harus ke Komdak dulu, terus ke Polda, terus ke New York, balik ke Istanbul, baru bisa ke Mojokerto dan urus surat kehilangan…” Terbayang suara bariton seorang petugas pamong rakyat. Repot! Dimana saya taruh KTP itu? Tempat fitness? Pabrik Indofood? Petugas fitness yang saya telepon sempat saya damprat. Tapi, kondisinya tetap sama. KTPnya tidak ketemu, bahkan setelah mobil dan semua tas dibongkar.

Dalam keadaan tak berdaya, sebelum menyerahkan diri pada Bu RT dan jawatan kepolisian, saya ingat Tuhan. Maka, di suatu malam, saya selipkan satu kalimat permohonan setelah doa bersama istri selesai. “Tuhan, tolonglah supaya KTP saya ditemukan ya….” Bisik saya. Eh, istri saya langsung nyolot. “Kamu ngomong apa tadi? Doa apa?” Ehm, saya cuma batuk dan pura-pura tidur. Istri saya masih belum menyerah. “Apa tadi? Kamu ngomongin aku ya? Doa apa tadi? Apa?” Hmmm, malu juga! Masak urusan KTP saja kok melibatkan Tuhan? Bukankah itu ngerepotin Tuhan namanya?

Ah, enggak juga. Kan Dia bilang, “Mintalah, maka akan diberi.” Boleh dong minta tolong? Bahkan cuma KTP sekalipun! Istri saya pun tersenyum geli ketika saya mengaku.

Beberapa hari kemudian, di hari terakhir pembayaran cicilan rumah, ATM saya macet karena kadaluwarsa. Bank apaan sih, kok kartu ATM bisa mendadak kadaluwarsa! Pas long weekend lagi. Terpaksa ATM istri saya jadi jaminan dulu. Di satu-satunya hari kerja, saya yang sedang mengantar tamu, terpaksa harus ke bank gara-gara urusan ATM. Kesialan apa lagi ini? Pikir saya. 

Ketika saya sampai di bank, dan meminta tamu saya menunggu di mobil, saya membuka laci mobil untuk mengambil buku bank. PLUK! KTP saya, terjatuh dari dalam buku! Rupanya, saya pakai KTP itu terakhir kali ketika minta laporan bank. Dan sebagai seorang pemalas, saya tidak mengembalikannya ke dompet tapi tetep nyelip di buku bank, sampai saya terpaksa membuka buku bank lantaran ATM saya kedaluwarsa! Puji Tuhan Haleluya!

Saya jadi merenung. Mengapa Firman Tuhan dalam Matius 7:7 ini begitu bodoh kedengarannya? Mintalah, maka akan diberi. Carilah, maka akan didapat. Ketuklah, maka pintu akan dibuka! Gitu aja masak nggak ngerti?

Sadarkah kita, di era teknologi maju dan ekonomi canggih seperti sekarang ini, bahwa kita sering butuh, tapi tidak minta; ingin menemukan, tapi tidak mau mencari; dan ingin membuka pintu, tapi tidak mau mengetuk.

Iya kan? Saya aja, malu mau ngobrol sama Tuhan soal KTP saya. Doa kita isi dengan yang baik-baik saja. Bagaimana dengan masalah di kantor, posisi yang semakin terdesak, project yang di ujung tanduk? Apakah kita mau membuka semuanya pada Tuhan?

Saya jadi ingat komentar teman saya. “Lu jangan ngerepotin Tuhan dong! Masak gitu aja didoain. Tuhan kan Maha Tahu, dia sudah tahu apa yang kita butuhkan sebelum kita doakan. Jadi lu gak ngomong juga sudah tahu! Ngapain ngomong lagi!” Begitu kira-kira. Apakah benar begitu?

Menurut saya, ada tiga manfaat ‘meminta’. Yang pertama tentu saja yang meminta akan diberi. Kedua, memformulasikan keinginan kita pada Tuhan bermanfaat untuk kita sendiri. Dengan menyebutnya dalam doa, kita jadi lebih tajam dalam mengajukan permohonan. Apa sih sebenarnya yang kita perlukan? Menang tender? Atau dapat komisi? Atau dapat penghasilan lebih? Yang mana intinya? Makin jelas kita memformulasikannya, makin jelas pula fokus kita dalam mendapatkannya. Jadi, memformulasikan permohonan pada Tuhan akan membuat kita lebih fokus. 

Yang ketiga, tentu saja, adalah mengeluarkannya dari dalam hati. Sebuah desakan yang mengganjal bisa mengubah perilaku kita – bahkan urusan KTP bisa membuat saya bersitegang dengan resepsionis tempat fitness, karena saya menduga disitu KTP saya terakhir dikeluarkan! Dengan mengungkapkannya dalam kata-kata, beban itu bisa sedikit lepas, plus kita semakin fokus dalam mengejarnya.

Di tengah jaman korupsi sekarang ini, banyak orang yang kejeblos karena mereka ingin mendapat tanpa meminta, menemukan tanpa mencari, dan dibukakan pintu tanpa mengetuk. Padahal, melalui langkah sederhana – meminta, mencari, mengetuk – Tuhan Yesus mengajarkan kita untuk mengalahkan ego kita sendiri. Menelan kesombongan dengan merelakan solusi datang dari luar – dengan meminta, mencari, dan mengetuk. Tidak, Tuhan tidak repot kok. Ya, Tuhan memang tahu apa yang kita butuhkan tanpa kita menyebutkannya. Tapi Tuhan Yesus ingin kita meminta, mencari, dan mengetuk bukan untuk Dia – tapi untuk kita sendiri. Agar kita lebih fokus, lebih rendah hati, dan siap menerima apa yang kita minta!

Tulisan ini saya persembahkan untuk Pdt Benget dan Pdt Keyse dari GKI Ampera. Mohon maaf saya tidak sempat menghadiri kebaktiannya. Tapi saya doakan dan saya minta pada Tuhan Yesus, untuk operasi yang lancar, kesehatan yang baik, dan kesembuhan bagi Pak Benget dan Bu Keyse!

Salam, 

Harnaz


Sunday, February 22, 2015

Perempuan Siro-fenisia: Anjing dan Inlander Dilarang Masuk!

Photo from noe847.blogspot.com


"Lalu Yesus berkata kepadanya: ‘Biarlah anak-anak kenyang dahulu, sebab tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.’ Tetapi perempuan itu menjawab: ‘Benar, Tuhan. Tetapi anjing yang di bawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak.’”

Markus 7:27-28

Diinspirasi dari khotbah Romo Ferdinand di Petrotec Air Power, 13 Februari 2015

Romo Fey memang selalu membawa pemahaman baru ketika memberikan khotbah. Walaupun gayanya nyeleneh, tapi perenungannya mendalam dan bisa memberikan pemahaman baru mengenai suatu topik. Kali ini – entah disengaja atau kebetulan – yang menjadi topik salah satunya adalah perempuan Siro-fenisia.

Kisah mengenai perempuan Siro-fenisia ini memang buat saya sudah lama menjadi suatu misteri. Kisah ini ditulis dalam dua Injil, Markus 7:24-30 dan Matius 15:21-28, walaupun Matius menyebut ‘Kanaan’ sementara Markus lebih detail, menyebut ‘Siro-fenisia’.

Fenisia atau bahasa Inggrisnya Phoenicia adalah bangsa yang maju pada jaman Tuhan Yesus. Mereka terkenal karena ekpor pewarna kerang Murex, yang berwarna ungu, dan digunakan untuk memberi warna jubah para bangsawan (Mat 27:28). Mereka dekat dengan Yunani, berbahasa Yunani, dan sistem politiknya pun mirip dengan Yunani, pemerintahan kota seperti Sparta dan Athena. Kota Tirus, yang disinggahi Tuhan Yesus, adalah batas Selatan wilayah Fenisia. Kata ‘Siro-‘ mengacu pada orang Fenisia yang berasal dari propinsi romawi Siria.

Pastor Fey mengingatkan kita, betapa orang Siro-fenisia itu lebih ‘keren’ dari orang Yahudi. Abjad fenisia adalah dasar semua abjad di dunia, mereka sangat dekat dengan mitologi dan filosofi Yunani, budaya mereka tinggi, bahkan penampilan mereka keren bak pahatan dewa-dewi di kuil Olympus. Sementara waktu itu, bangsa Yahudi hanyalah bangsa mantan budak Mesir yang baru digilas penjajahan Romawi. Bait Allah-nya yang megah kini tinggal reruntuhan saja, kekayaannya dirampok berkali-kali. Boro-boro filsafat, untuk hidup saja susah!

Bayangkan, kata Pastor Fey, kalau ada orang bule yang duduk semeja dengan kita. Wuih, keren bukan? Kita akan menghormati dia lebih daripada Pastor Fey sendiri bukan? Persis! Saya baru saja dapat pengalaman yang mirip. Tiga minggu lalu, saya mengunjungi pelanggan untuk menjelaskan sesuatu. Sepatah kata pun mereka tidak percaya! Nyaris saya dilempar keluar dan semua laporan saya diragukan. Kemudian, beberapa hari lalu saya membawa principal, seorang asal Barat, bertemu pelanggan yang sama, yang menjelaskan hal yang persis sama. Apa yang terjadi? Sang pelanggan manggut-manggut, seluruh timnya mantuk-mantuk bak perkutut terpekur, semua setuju sepakat sependapat. Hayyah! Begitulah memang budaya kita. 

Lalu, apabila tiba-tiba ada seorang Indonesia yang berkata pada seorang bule: “Maaf mister, roti untuk anak-anak dulu ya, tidak layak kalau saya berikan pada anjing”. Hmmm. Orang bule – penjajah kita dulu – pernah sih berslogan ‘anjing dan inlander dilarang masuk’. Kalau dia yang jadi anjing, apa pernah? Rasanya tidak pernah.

Lalu, kenapa pula Tuhan Yesus mendadak rasis?

Rupanya, Tuhan Yesus tidak rasis. Toh, akhirnya Ia menngusir setan yang mengganggu anak perempuan itu. Tapi, ada pelajaran penting yang Ia berikan pada hari itu.

Pertama, Ia sedang menguji iman wanita ini, sama seperti ia menguji iman orang yang memohon sesuatu padaNya (prajurit Romawi, orang yang buta sejak lahir, dan lain-lain). Seorang wanita, beragama Kanaan, bukan Yahudi. Dari bangsa yang lebih makmur, gaya yang lebih keren, dan mendadak memohon pertolongan pada Tuhan Yesus dan rombongannya yang kumal tapi sombong. Justru bukan Tuhan Yesus, tapi para murid-Nyalah yang rasis! Nyaris mereka mengusir perempuan ini, karena menganggap ini toh orang asing.

Kemudian, dengan perkataan roti tadi, Tuhan Yesus menguji ego wanita ini. Apakah ia akan berteriak balik: “Heh, dasar Yahudi, miskin aja sombong!”… Atau dia akan bilang: “Cih, perfeilen jij, kok rasis bilang2 anjing segala!”. Tidak! Bahkan ia merendahkan diri lagi dan ia sendiri yang menyamakan dirinya sendiri seperti anjing yang menanti remah. Bahkan untuk remah pun ia rela! Dan bukan Tuhan Yesus yang menyebut dia anjing, dia sendiri yang rela disamakan dengan anjing. Ini bukti totalitasnya dalam sebuah permohonan, bukti kesungguhannya meminta pertolongan. Ketika lulus ujian, maka Tuhan Yesus pun mengabulkan permohonannya. 

Pesan kedua adalah: bahwa berkat Tuhan adalah untuk semua bangsa yang percaya. Istilah roti dan remah roti hanyalah untuk menguji iman perempuan ini. Justru jika Anda orang asing, bukan Yahudi, jangan takut! Bukankah interaksi Tuhan Yesus dengan orang asing justru sering membuat Ia kagum atas iman mereka? Dari perempuan ini sampai prajurit Romawi, selalu dipuji Tuhan Yesus karena iman yang lebih tulus dari bangsa Yahudi sendiri. Sampai Tuhan Yesus mengeluh dalam Matius 23:37, betapa Ia rindu bangsa Israel punya iman seperti kita!

Belajarlah dari perempuan Siro-fenisia. Totalitas dalam permohonan, dan jangan rendah diri karena kita bukan orang Yahudi. Karena berkat itu adalah untuk semua bangsa!

Salam,

Harnaz


Saturday, January 03, 2015

Indahnya Yang Tak Pasti



“Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu”
Markus 11:24

Pernahkah Anda cek in di bandara tanpa tiket alias go show? Sambil santai, Anda menatap pramugari yang ketak ketik di komputer dan mencari apakah masih ada seat untuk Anda. Jawabannya, ada! Murah lagi harganya. Bagaimana perasaan Anda? 

Saking gembiranya, pengalaman ini akan Anda ingat terus bukan? Selalu diceritakan kembali sebagai ‘hari keberuntungan’ Anda. Bahkan ratusan kali Anda naik pesawat, booking dulu, dan kembali dengan selamat, tanpa masalah, bisa terlupakan oleh satu insiden keberuntungan, dimana Anda tidak bersiap, tidak memiliki kepastian, tetapi memperoleh keberuntungan. Anda akan ingat yang satu itu, dan lupa akan ratusan yang lainnya. 

Dunia modern – apalagi untuk saya yang sangat rasional – tidak suka akan ketidakpastian. Kita malas untuk masuk ke restoran yang terlihat penuh tanpa reservasi dahulu. Kita ogah mengantri tiket film di bioskop yang antriannya mengular, takut tidak kebagian. Jika ingin bertemu dengan seseorang, kita pastikan dulu rute lokasinya dengan GPS, WA orangnya untuk memberikan lokasi persisnya, dan foto selfie ketika sudah ketemu sebagai bukti. Semuanya serba pasti!

Semakin maju suatu negara, semakin tinggi kepastian dalam hidup warganya. Sayangnya, kepastian ini justru berbanding lurus dengan egoisme. Semakin canggih teknologi, semakin malas pengguna teknologinya. Nggak mau susah, yang penting pasti dan mudah walaupun harus bayar mahal sedikit. 

Celakanya, ada fenomena yang mengkhawatirkan di kalangan generasi teknologi semacam ini. Jumlah pernikahan menurun. Buat apa menikah, repot kan mengurus ke kantor KUA? Tinggal bareng saja sudah cukup. Punya anak? Haduh, repot! Mengurusi pipis dan eek-nya, tidak bisa tidur nyenyak, apalagi dugem seragem. Mari kita jadi muda selamanya, tetap cantik dan ganteng sampai tua!

Padahal, dalam paragraf pertama diatas, secara intuitif kita memahami mengapa ketidakpastian itu penting. Mengapa secara kultural, masyarakat maritim kebih religius dari masyarakat agraris? Karena dunia maritim – menjadi nelayan – penuh ketidakpastian, badai, resiko tenggelam, hilang di laut, dan sebagainya. Bahkan Bob Sadino, seorang mantan kuli bangunan yang jadi pengusaha sukses, ketika ditanya kapan beliau merasa paling sukses, jawabannya mencengangkan: bahwa sukses itu adalah ketika masih jadi kuli bangunan dan bisa makan warteg sampai kenyang. Sisanya hanya biasa saja, katanya!

Jika Anda seperti saya – maunya yang pasti-pasti saja – maka Anda perlu sedikit bermain dengan ketidakpastian. Mengapa? Karena disitulah Tuhan bekerja! Jika kita mematenkan hidup kita dalam genggaman sendiri, maka tangan Tuhan tidak akan kentara. Tetapi ketika ketidakpastian ada di depan kita : sebuah pernikahan yang belum pasti mulus, sebuah bisnis baru yang belum tentu berhasil, seorang anak yang belum tentu sukses – maka kehadiran Tuhan akan semakin kita rasakan. Apalagi ketika pertolonganNya yang indah kita alami sendiri : jika satu tempat parkir kosong di sebuah mall di Sabtu sore saja bisa Ia jadikan, apalagi pernikahan, anak, bisnis, dan yang lainnya?

Percayalah, maka hal itu akan diberikan kepadamu. Berilah kesempatan pada dirimu untuk percaya!

Jakarta – Jambi, 30 Desember 2014


Friday, October 03, 2014

Pujian Yang Berdaya Cipta

“Worship GOD if you want the best, Worship opens doors to all His goodness”

Psalm 34:9 (MSG)

Khotbah oleh Pdt. Chris Manusama dan Penyembahan & Pujian oleh GBI Rock Ambon, JPCC, 21 September 2014

Hari Minggu 21 September 2014, saya bersama istri hadir di kebaktian pertama JPCC di Kota Kasablanka, Jakarta. Pagi itu, kami disambut oleh nyanyian penyembahan dan pujian yang sangat indah dari GBI Rock Ambon. Rupanya, dalam tema Penyembahan atau Worship di bulan September, JPCC mengundang mereka untuk melayani di hari itu. Saya langsung terkesan dengan pelayanan musik dari GBI Rock ini.

Lihat! Paduan Suara berdiri teratur menghadap mikrofon dengan sudut ideal sehingga suaranya terdengar lantang dan seimbang. Musik ditata dengan rapi. Noly, sebagai pemimpin nyanyian, posturnya tinggi besar, suaranya bariton yang mantap. Wajahnya, ekspresinya, dan komandonya, dengan tegas memimpin nyanyian sehingga seluruh jemaat hanyut dalam keindahan harmoni musik. Saya tercekat, tidak bisa menyanyi dengan lancar, karena mata seringkali mendadak basah karena air mata haru. Sesuatu yang ada di udara saat ini, alunan musik ini, menyentuh hati saya, seolah tangan Tuhan sendiri mengelusnya sampai terasa sangat damai. Tuhan, terasa hadir disitu.

Belum habis saya terkesan, mulailah Pdt. Chris Manusama berkhotbah. Yang kami dengar adalah bagian yang pertama, yakni ‘Elemen Surga’. Namun, ijinkan saya menuliskan kesan saya secara umum terhadap Firman Tuhan yang dibagikan saat itu.

Chris Manusama adalah seorang pemusik terkenal di jamannya. Beliau pengarang lagu Kidung yang dipopulerkan Chrisye, juga lagu Kasih oleh Lidya/Imaniar. Jadi, beliau tentu mahfum akan kehidupan gemilang musisi di tahun 1980-an. Sampai kira-kira 25 tahun yang lalu, Chris – menurut beliau sendiri – sedang ‘guling-guling’ di Puncak ketika bertemu dengan J.P. Sinaga, ketua Lembaga Alkitab Indonesia pada masa itu.

“Chris, kau mau ikut Tuhan?” tanya Sinaga dengan logat Batak yang kental.
“Mau Pak”
“Kalau kau tidak bisa makan (karena ikut Tuhan), kau kasih tahu aku! Aku akan berhenti jadi pendeta, kucopot togaku ini!” tegasnya.

Dan sampai saat ini, memang Chris tidak pernah tidak makan! Luar biasa memang kasih karunia Tuhan. Dari situlah Chris memulai perjalanannya sebagai hamba Tuhan.

Dan Chris memiliki bidang yang unik: ahli penyembahan. Apakah penyembahan itu mudah? Yang penting nyanyi kan? Yang penting bilang Haleluya, bilang Puji Tuhan, lalu tepuk tangan. Beri kemuliaan bagi Tuhan! Lalu kitapun bertepuk tangan. Kalau tepuk tangan adalah kemuliaan bagi Tuhan, maka lebih banyak kemuliaan di lapangan bola daripada di gereja! Tukas Chris. Betul sekali bukan?

Ternyata, penyembahan memiliki arti yang mendalam. Bukan sekedar menyanyi, bukan sekedar memetik gitar. Tapi, menghasilkan sesuatu dari hati, membuat karya yang sungguh-sungguh keluar dari hasil usaha kita untuk Tuhan. Bukan sekedar tampil keren dengan rambut landak. Tapi, latihan berjam-jam, berhari-hari, berbulan-bulan, demi sebuah lagu, mungkin hanya 5 menit, namun sempurna, bak biduan yang bersiap menyanyi di hadapan kaisar. Itulah penyembahan yang sejati!

Dan kata-kata Chris yang membuat saya terhenyak adalah bahwa pujian dan penyembahan yang indah buat Tuhan itu berdaya cipta. Maksudnya apa? Kemudian Chris memberikan Daud sebagai contoh. Kata-kata apakah yang ingin kita katakan pada Tuhan yang belum dikatakan oleh Daud? “Biarlah renunganku manis kedengaran kepadaNya!” (Maz. 104:34), “Ke mana ku dapat pergi menjauhi roh-Mu” (Maz 139:7). Betapa ungkapan kasih pada Tuhan membuat seorang Daud menjadi pujangga besar. Dan bukan cuma Daud! Johann Sebastian Bach menghasilkan ratusan karya musik klasik jenius yang ditujuan untuk penyembahan. Michelangelo menghasilkan lukisan luar biasa, yang dipersembahkan untukNya. Kahlil Gibran menulis ratusan puisi indah untukNya. Dan banyak lagi contohnya, bagaimana penyembahan bisa berdaya cipta, mencipta suatu karya yang melampaui masaNya dan menyentuh jadi Tuhan!

Kemudian, dimanakah kita? Sudahkah kita menghasilkan karya tersebut? Sudahkah penyembahan kita berdaya cipta?

Disinilah kemudian Chris menjelaskan: berapa nilai yang kita beri untuk Tuhan? Apakah perjuangan kita untuk Tuhan hanya cukup dengan bangun pagi di hari Minggu? Apakah layak kita membalas kasih karuniaNya dengan menyanyi 3 lagu dalam satu kebaktian? Apakah sudah cocok jika kita mengimbangi perhatianNya dengan dua lembar lima puluh ribuan di dalam kantung persembahan?

Kemudian, Chris memulai sebuah pemaparan yang membuat saya terhenyak. Empat puluh tahun Tuhan memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir. Empat puluh tahun lamanya Tuhan menurunkan roti, menurunkan daging , memberi air, menudungi dengan awan, dan mengawal Israel dengan gada api. Dan ada waktu dimana Tuhan memerintahkan Musa membawa bangsa Israel ke Gunung Horeb, karena Ia rindu disembah oleh umatNya! Begitu penting penyembahan sehingga Tuhan pun rindu!

Dimanakah kita empat puluh tahun lalu? Bagaimana kondisi kita saat itu? Kita masih kuliah, kita kesulitan biaya, kita takut menikah, kita melangkah dengan gentar. Dan dimanakah kita sekarang? Kita bisa hadir di gedung kebaktian yang megah, kita bisa naik mobil baru, kita bisa menikmati AC yang dingin, tidak masalah bayar parkir belasan ribu. Lalu, kalau Tuhan mau kita bersyukur, menyembahNya untuk semua anugerah itu, mengapakah kita masih menyanyi malu-malu? Mengapakah kita masih berpuas diri dengan satu jam seminggu di gereja? Datang terlambat, pulang sebelum selesai. Takut antri?

Jangan biarkan masalah mengambil nyanyian dari mulutmu! Jangan biarkan tantangan mengambil lagu dari hatimu! Jangan biarkan takut antri merampok 10 menit dari waktu penyembahanmu! Jangan biarkan bunyi smartphone memalingkan wajahmu dari Tuhan!

Pak Chris, terima kasih untuk membukakan mata saya. Dan terima kasih atas pujian yang indah, yang bahkan di DVD-nya tidak ada, namun masih saya ingat betapa waktu itu memang frekuensinya berbeda – ada Elemen Surga yang saya rasa. Terima kasih GBI Rock Ambon yang membawa saya lebih dekat dengan Tuhan. Saya menghargai Anda berkhotbah dengan kata-kata runut, puitis, tanpa sepatah katapun dalam bahasa asing. Anda telah membuktikan, tidak perlu bahasa asing untuk menyembah Tuhan – selama semangat Daud ada dalam pelayanan kita.

Saya akan berusaha mencapai standar yang Anda buat, dengan apa yang saya bisa: merangkai kata menjadi untaian inspirasi, menjangkau hati melalui jembatan sastrawi.

Terima kasih!

-Harry Nazarudin-

 

 

Sunday, September 28, 2014

Jangan Berbuat Dosa Lagi!

“Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya: ‘Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?’ Jawabnya: ‘Tidak ada, Tuhan.’ Lalu kata Yesus: ‘Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang’”

Yohanes 8:10-11

Persekutuan Doa Agape, Petrotec Group, 19 September 2014
Oleh: Pdt. Berghouser Benget

Pdt. Berghouser Benget dari GKI Ampera sudah dua kali hadir di PD Agape. Kali ini, tema yang dibawakan cukup berat, yakni pesan Tuhan Yesus kepada wanita yang nyaris dirajam karena tertangkap basah berdosa. Pesan yang sederhana, lembut, namun membawa bobot yang berat. Pesan untuk ‘jangan berbuat dosa lagi’. Berat nih! Bagaimana caranya? Ketika membaca tema ini, panitia segera paham bahwa tugas ini bukan untuk orang biasa, melainkan perlu mengundang pembicara luar.

Pak Benget memulai khotbahnya dengan sebuah pertanyaan: “Apakah ada diantara kita yang pernah tertangkap basah?”. Pernah, tentu saja. Waktu kecil mencuri mangga tetangga, atau ketahuan polisi masuk jalur busway. Saya pun terbayang para tersangka kasus korupsi KPK yang tertangkap basah, betapa pucat wajahnya ketika ditangkap. Bahkan mantan hakim konstitusi sampai menempeleng seorang wartawan, disaksikan jutaan rakyat Indonesia melalui televisi! “Bagaimana perasaannya waktu tertangkap basah?” tanya Pak Benget lagi. Kami pun terdiam.

Menurut Pak Benget, jika seseorang berbuat dosa, maka sudah ada hukuman yang terpaut pada dosa itu sendiri tanpa dijatuhkan hukuman tambahan, yakni rasa bersalah. Itulah sebabnya beliau bertanya apakah kita sendiri pernah tertangkap basah. Tidak enak bukan? Baik itu mencuri jambu tetangga atau melirik istri tetangga, namanya ketahuan pasti tidak enak. Tanpa dihukum pun, orang sudah jera. Itu sebabnya, sebagian besar – tidak semua memang – akan jera jika sudah tertangkap basah.

Lalu apa esensi dari tindakan Tuhan Yesus dalam peristiwa ini? Kasusnya sama: seorang wanita tertangkap basah berzinah. Hukumannya jelas: dirajam sampai mati. Walaupun sudah menanggung malu, para kaum Farisi dan Ahli Taurat, sebagai pihak yang lebih suci, ingin menambahkan sebuah hukuman yang sempurna: hukuman mati. Jika perempuan ini mati, maka ia tidak bisa berdosa lagi bukan? Maka dunia akan lebih baik jadinya! Inilah hukum manusia.

Tuhan Yesus, seperti biasa, sangat cerdik. Pertama-tama ia bertanya kepada yang akan menghukum – kebanyakan laki-laki tentu saja. “Yang merasa tidak berdosa, silahkan lempar batu pertama!” kata Tuhan Yesus. Apakah hukuman rajam bagi wanita yang ketahuan berzinah itu adil? Bagaimana dengan partner zinahnya, seorang laki-laki? Dimana dia? Pernah dengar ada laki-laki dirajam karena zinah? Tidak pernah bukan? Apa jangan-jangan, wanita itu berzinah sendirian? Tentu saja tidak bisa. Dengan satu kalimat, Tuhan Yesus mematahkan konsep ‘adil’ pada hukuman rajam karena zinah.

Lalu, proses berikutnya juga sangat indah. Ketika yang tadinya mau menghukum satu-persatu pulang, tinggallah si wanita tadi. Ia bertanya kepada Yesus, satu-satunya orang yang berhak melempar batu dan menjatuhkan hukuman, karena Ia tidak berdosa. Dan Ia menjawab dengan bijak: “Aku tidak menghukum kamu. Pergilah, jangan berbuat dosa lagi!”

Jika Anda tertangkap basah mencuri jambu, lalu dikejar oleh pemilik pohon, dan Anda tertangkap. Lalu pemilik pohon tersenyum, membiarkan Anda membawa jambunya dan berkata: “Dik, kalau mau jambu, ketuk saja ya! Nanti Bapak ambilkan... tidak peru repot-repot memanjat!”. Apakah Anda akan mencuri lagi? Inilah yang dilakukan oleh Tuhan Yesus. Ia tidak memberikan ‘hukuman mati’, tetapi ia memberikan ‘hukuman hidup’. Ia mengijinkan perempuan itu untuk  hidup lebih lanjut, dengan tanggung jawab baru dari pengalaman pahit di hari itu. Jangan diulangi lagi!

Karena temanya adalah mengenai aplikasi kekristenan dalam kehidupan karir, maka diskusi berlanjut. Beberapa rekan menyuarakan bahwa bila semua rekan di kantor diperlakukan dengan prinsip ‘cinta kasih’ – tidak boleh ditegur, dihukum, diberi SP, atau di-PHK, maka kacaulah perusahaan kita. Tetapi, ada suara yang berlawanan: bahwa tidak selalu suara ‘kristiani’ berarti ‘mengampuni semua kesalahan’. Bukankah Tuhan Yesus adalah seorang yang tegas, dan bukan lemah?

Kemudian, Pak Benget menutup diskusi dengan sangat bagus. Bagaimana jika ada seorang karyawan yang melakukan kesalahan? Haruskah kita rajam, atau kita ampuni? Kalau diampuni, lalu bagaimana dengan SOP perusahaan? Jawabannya sederhana. “Tuhan itu membenci dosa, tetapi mengasihi manusia yang berdosa” kata Pak Benget. Itulah jawabannya! Membenci dosa, tapi mengasihi manusia yang berdosa, dan memberikannya tanggung jawab untuk menjadi manusia lebih baik.

Amin, terima kasih Pak Benget!

Tuesday, July 29, 2014

Mari Kita Berjalan Diatas Air!

“Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: ‘Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?’”

Matius 14:31

Perikop: Matius 14:22-33

Saya sudah berkali-kali membaca mengenai peristiwa ini. Ya, Yesus berjalan diatas air mendapati para murid yang ada di kapal. Ya, lalu Petrus mencoba berjalan juga tapi gagal. Namun, beberapa bulan lalu ketika saya membaca ayat ini sebelum tidur, tiba-tiba ada sesuatu yang menggelitik di dalam hati. Kisah ini, rupanya sangat indah, dan yang paling indah bukan mukjijatnya – melainkan reaksi Tuhan Yesus ketika menolong Petrus.

Jadi kisahnya begini: sesudah memberi makan lima ribu orang, para murid sudah berangkat terlebih dahulu dengan perahu ke tengah danau Galilea dan bermalam di perahu. Tuhan Yesus, setelah memberi makan lima ribu orang di sore harinya, mungkin merasa ingin menyepi dulu. Ia naik ke atas bukit dan berdoa. Kira-kira pada jam tiga pagi, Tuhan Yesus menyusul para murid-Nya di kapal. Tidak, Ia tidak naik getek, tapi Ia berjalan diatas air!

Selama ini, jika mendengar ‘Tuhan Yesus berjalan diatas air’, saya selalu membayangkan airnya tenang. Ya, seperti kolam renang infinity pool di Hotel Padma Bandung, dimana kita seolah merasa punya iman kuat dan melangkahkan kaki untuk menginjak permukaan air yang tenang itu – dan langsung kecebur tentu saja. Itulah bayangan saya: Tuhan Yesus melangkahkan kaki di permukaan Danau Galilea yang tenang, seperti berjalan diatas kaca.

Tapi, ada satu gambar kalender yang membuat saya terhenyak. Disitu digambarkan Tuhan Yesus berjalan diatas air danau yang sedang bergolak! Ya, memang dicatat dalam Alkitab bahwa air sedang tidak tenang seperti infinity pool. Berarti, Tuhan Yesus tidak ‘berjalan’ diatas air – karena kalau airnya bergolak kena angin maka Ia harus lompat-lompat! Lebih tepatnya mungkin Ia ‘melayang’ diatas air danau yang sedang menggelegak.

Para murid, yang meringkuk kedinginan sambil merem-melek di dalam perahu yang digoncang angin, semua terbelalak heran. Jaman itu belum ada lampu sorot! Ada satu sosok yang melayang diatas air. Hayyah! Hantu! Tuhan Yesus mengetahui ketakutan mereka. Dalam ayat 27, Ia berteriak: “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!”

 Petrus, murid-Nya yang paling berani, lalu merasa tertantang. Bisakah Petrus juga berjalan diatas air? Keren kan, bisa melalui danau tanpa harus mengantri naik perahu? Iapun menantang Tuhan Yesus. Tuhan, saya cuma manusia biasa, katanya. Bisakah saya – manusia – berjalan diatas air seperti Tuhan Yesus? Kalau Tuhan Yesus memang benar-benar manusia, dan saya juga manusia, mustinya saya bisa juga kan? Mungkin Petrus berpikir, paling-paling Tuhan Yesus akan menjawab dengan perumpamaan panjang yang menjelaskan bahwa tidak mungkin manusia biasa seperti Petrus bisa jalan di atas air.

Diluar dugaan Petrus, Tuhan Yesus tersenyum dan menjawab: “Oke – datanglah kesini!”. Waduh! Petrus mengernyitkan dahi. Apakah saya bisa? Saya kan manusia biasa? Ia mencoba menjejakkan kaki ke air. Ingat, ini angin sakal. Angin yang berlawanan arah dengan perahunya, sehingga perahu terombang ambing. Eh, pas kaki Petrus menginjak air, lho kok keras seperti lantai. Hore! Petrus bisa! Ia lalu mulai melangkah menuju Yesus. Hebat! Aku bisa! Bisa berjalan diatas air! Seperti Yesus!

Namun, ketika kapal semakin jauh dan tidak terjangkau lagi oleh tangan, sementara angin bertiup semakin kencang, Petrus mulai gamang. Wah, ngeri juga nih – seperti berjalan diatas tali! Harus menginjak yang mana? Satu langkah lagi, dan lagi. Haduh, Tuhan Yesus kok jauh amat ya! Masih kira-kira 5 langkah lagi! Dan, air memercik ke kaki Petrus. Aduh! Basah nih! Tenggelam! Dan iapun mulai terperosok tenggelam!

Petrus pasti panik! Sepanik jika kita diceburkan ke kolam renang oleh teman-teman waktu ulang tahun. Air memang bisa membuat panik. Walaupun kita bisa berenang, tetap saja kecebur air itu bikin kaget. Pernahkah kita mengalami hal ini? Waktu kecil belajar berenang dulu, ketika kita mulai tenggelam. Ketika kita mulai minum air dan hidung terasa sakit. Ingatkah kita, apa yang kemudian terjadi?

Ya! Ada tangan yang menolong kita. Tangan ayah kita, yang mengangkat kita dari air, atau tangan guru renang yang menolong kita. Persis seperti Petrus – ada tangan yang tiba-tiba menolongnya. Rupanya, Tuhan Yesus buru-buru lari dan mengulurkan tangan-Nya untuk Petrus. “Pet, hayyah kamu sih, kok gak percaya amat” kata Yesus. Sama seperti suara ayah kita, yang lembut berkata: “Kamu sih, sudah papi bilang kakinya harus gerak supaya nggak tenggelam”. Jantung kita berdetak kencang, namun terasa aman karena tubuh kita dipegang oleh ayah. Untuk Petrus, yang sekarang terengah-engah, tangan Tuhan Yesus yang memegangnya. Bukan cuma itu: Tuhan Yesus menggendong Petrus sampai naik ke perahu lagi.

Buat saya, yang membuat kisah ini luar biasa bukan hanya mukjijatnya, tetapi bagaimana Tuhan Yesus bereaksi atas permintaan Petrus. Ingat bahwa Petrus adalah manusia biasa, sama seperti Anda dan saya. Imannya tentu saja lemah. Ia tidak bakalan bisa berjalan di atas air, karena imannya jauh dibawah Tuhan Yesus. Namun, Petrus berani mencoba! Ia berani bangkit dan berteriak: “Tuhan Yesus! Bisakah saya seperti Tuhan Yesus?”. Dari 12 murid yang ada di perahu, hanya Petrus yang berani begini.

Jaman sekarang, ada sekelompok orang di gereja yang termasuk ‘kristen skeptis’. Maksudnya apa? Mereka beriman, tetapi skeptis. Setelah selesai membahas Alkitab, maka mereka berkata: “Ya, tapi itu kan Tuhan Yesus, saya kan bukan Tuhan Yesus. Mana bisa saya melakukan semua itu? Mana bisa saya jujur terus? Ya sudah lah, korupsi sedikit tidak apa-apa. Toh Ia akan mengerti kelemahan kita!” Nah, memang males ngomong sama orang seperti ini ya! Soalnya, ia memisahkan antara ‘Yesus’ dan dirinya. Itu ‘Yesus’, ini saya. Jangan disamain dong, saya kan bukan Anak Allah. Padahal, untuk apa Yesus memberikan teladan dalam Alkitab? Ya, supaya kita mengikutinya! Tidak ada alasan bahwa kita tidak bakalan bisa seperti Yesus. Kalau Yesus bisa 20 langkah, kita bisa 2 langkah saja sudah lumayan bukan?

Kalau kita mau mencoba, walaupun akan gagal, pasti Tuhan Yesus juga akan senang. Seperti orang tua yang bangga melihat anaknya mau mencoba belajar berjalan, walaupun mereka tahu bahwa sang anak pasti tersandung. Tapi sang anak tidak menyerah, terus mencoba berjalan. Kita sebagai orang tuanya merasa bangga, bukan? Itulah sebabnya, ketika Petrus mengajukan diri untuk berjalan diatas air, Tuhan Yesus tidak berkata: “Hush, Petrus kau jangan macam-macam. Ini urusan Anak Allah!” atau, Ia bersabda: “Petrus, silahkan coba, kalau imanmu kuat. Silahkan, ayo kesini!” kata-Nya sampai melipat tangan dan tersenyum sinis, dan berpikir: “Hehehe, pengen liat Petrus basah kuyup nih!”

Mengapa saya tahu bahwa Tuhan Yesus tidak tersenyum sinis? Lewat reaksi-Nya ketika Petrus tenggelam.

Alkisah, Petrus tenggelam. Wajar bukan? Dan untuk Petrus, ini bukan pertama kalinya ia tenggelam. Petrus itu nelayan lho! Pasti ia bisa berenang (kalau petani belum tentu). Yohanes 21:7 pun mencatat bahwa Petrus bisa berenang. Jadi, sebenarnya, jika eksperimen ini gagal, Petrus bisa saja berenang kembali ke perahu. Iya kan? Apa susahnya? Paling sial, Petrus akan basah kuyup. Itu saja!

Tuhan Yesus, bisa saja bersabda: “Wahai Petrus, udah dibilangin imannya harus kuat. Kalau iman kamu memang cuma segitu, berenang sono balik ke kapal!” Alkitab tidak mencatat sejauh mana Petrus berjalan, tapi rasanya belum terlalu jauh. Tebakan saya, paling baru beberapa langkah. Wajar kan kalau Petrus berenang? Tuhan Yesus kemudian berjalan ke perahu, lalu dengan baju kering melihat Petrus yang basah kuyup dan berkata: “Kamu manusia beriman lemah, jangan sekali-kali sok-sokan mau bermukjijat! Gak bakalan bisa!”.... Itukah yang terjadi?

Sama sekali tidak! Dan inilah yang membuat peristiwa ini begitu indah. Tuhan Yesus sama sekali tidak memarahi Petrus. Tebakan saya juga, jarak Tuhan Yesus agak jauh dari perahu dibanding Petrus – karena kalau sudah dekat Tuhan Yesus pasti Petrus berani. Alasan Petrus takut adalah, perahu sudah tidak bisa diraih tangan, dan Tuhan Yesus masih jauh! Tapi mereka masih bisa saling mendengar jika berbicara – maka anggaplah, jarak Tuhan Yesus dari Petrus adalah 5 meter atau 5 langkah kira-kira.

Ketika Petrus mulai tenggelam, Tuhan Yesus pasti melihatnya. Bayangkan bahwa untuk menolong Petrus, Tuhan Yesus harus lari beberapa langkah, dan mengulurkan tangan-Nya memegang Petrus! Bayangkan, Ia harus begitu repot. Dan coba kita pikirkan: jarak perahu dari tepi danau waktu itu beberapa mil jauhnya. Satu mil adalah 1,6 km, kalau yang dimaksud adalah mil laut (nautical mile), maka satu mil laut adalah 1,852 km! Beberapa mil berarti kira-kira 3-5 kilometer dari tepi danau. Bayangkan, Tuhan Yesus sudah berjalan diatas air kira-kira 3-5 kilometer, atau kalau dijalankan dengan kecepatan biasa, kira-kira 30 menit berjalan kaki. Jauh juga lho! Mengapa Tuhan Yesus kok harus berjalan diatas air? Ia kan bisa berenang? Ya, tapi berenang capek, dan pasti basah kuyup. Jaman itu tidak ada kantung kresek! Mungkin, Tuhan Yesus ingin ke perahu tanpa berenang atau basah kuyup.

Sekarang, apa yang terjadi? Gara-gara Petrus, Ia harus mengulurkan tangan-Nya! Petrus sudah mulai kecebur, ia pasti sudah basah. Gara-gara menolong Petrus, Tuhan Yesus jadi basah juga! Apalagi Alkitab mencatat bahwa Ia tidak hanya mengulurkan tangan-Nya, tetapi naik ke perahu bersama Petrus. Ia mungkin menggendong atau merangkul Petrus yang sekarang ngos-ngosan ketakutan. Bisa saja Ia membuat Petrus melayang seperti telekinesis, bisa saja Ia menyuruh malaikat menolong Petrus. Tetapi... tidak! Ia mengulurkan tangan-Nya – dan jadi basah – untuk menarik Petrus dari air. Hanya satu komentar-Nya: “Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?” Seperti ayah kita: “Sudah papi bilang, kakinya digerakkan biar nggak tenggelam”. Dan hati kita terasa teduh.

Pelajaran apa yang bisa kita dapat dari peristiwa ini?

1.       JANGAN TAKUT UNTUK MENCOBA.

Iman kita lemah, kita semua tahu. Tapi, jangan takut untuk mencoba! Dari 12 murid di perahu, hanya Petrus yang berani mencoba berjalan diatas air. Ya, akhirnya ia tenggelam. Tapi, bukankah akhirnya Tuhan Yesus juga menolong dia? Bukankah hanya Petrus yang merasakan uluran tangan Tuhan Yesus sendiri? Hanya Petrus yang mengalami pengalaman iman luar biasa, sementara yang lain hanya nonton dari perahu? Ya. Jangan takut untuk mencoba, selemah apapun iman Anda.

2.       IA YANG MEMANGGIL, IA YANG MENOLONG.

Bukankah Tuhan Yesus yang berkata kepada Petrus: “Datanglah!”? Walaupun iman Petrus lemah, walaupun Ia tahu Petrus pasti tenggelam. Tetapi, Ia toh tetap memanggil Petrus dan memintanya untuk mencoba, walaupun pada akhirnya Petrus akan membuat Tuhan Yesus repot dan bahkan basah juga. Jadi, jangan kuatir. Jika Ia sudah berkata: “Datanglah!” Maka Anda harus datang. Ambil langkah iman itu, mulailah berjalan diatas air. Jangan kuatir! Sejak itu, mata Tuhan Yesus senantiasa menyertai Anda, dan tangan-Nya siap terulur untuk Anda.

3.       IA RELA REPOT UNTUK KITA.

Dalam kisah ini, Petrus toh bisa berenang. Tuhan Yesus, sesudah berjalan 30 menit diatas air, tidak perlu repot-repot mengulurkan tangan-Nya bukan? Ia tidak perlu basah untuk Petrus, toh paling-paling Petrus hanya basah kuyup saja. Ini bukan soal hidup mati. Nggak penting-penting amat Tuhan Yesus mengulurkan tanganNya. Tapi, toh Ia lakukan. Kasih-Nya luar biasa bukan? Ia rela repot mengulurkan tangan-Nya. Ia mau repot tergopoh-gopoh menghampiri Petrus, lalu mengulurkan tangan-Nya. Tangan-Nya sendiri yang Ia ulurkan, bukan tangan malaikat. Ya! Ia rela repot, rela basah, rela lari tergopoh-gopoh, rela mengulurkan tangan-Nya, hanya untuk melindungi Petrus dari basah kuyup. Apalagi untuk pertaruhan yang lebih penting? KasihNya luar biasa!

4.       TUHAN TIDAK MAU KITA SKEPTIS!

Terakhir, kembali mengenai skeptis tadi. Kalau kita punya karyawan atau anak yang melakukan kesalahan, cobalah melakukan cross check antara sikap kita dan Tuhan Yesus. Jika anak yang melakukan kesalahan, apa tindakan kita? “Kamu sih, bla bla bla!!!”. Karyawan apa lagi. Tapi coba lihat Tuhan Yesus! Ia hanya berkomentar dengan bertanya, mengapa kok iman Petrus lemah. Ia tidak mengomeli Petrus: “Hai kamu ular beludak! Gara-gara kamu saya basah juga!” Tidak bukan? Ia tidak menghardik Petrus, kesal karena kelemahan muridnya. Ia penuh kasih menghadapi ‘kesalahan’ Petrus. Untuk itu, janganlah kita skeptis!

Akhir kata, Tuhan ingin kita mencoba, bukan karena Ia ingin kita gagal. Ia ingin kita mencoba, supaya kita dapat merasakan uluran tangan-Nya, dan merasakan kasih-Nya yang tiada tara. Jadi, jika Ia sudah berkata: “Datanglah!” maka, yuk datang segera. Langkahkan kaki Anda ke atas air. Niscaya, mukjijat akan terjadi!

Jakarta, 29 Juli 2014

Friday, February 07, 2014

Gembala Yang Baik, Bukan Manajer Yang Baik!


“Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya”
Yohanes 10:11

“Bagaimana pendapatmu? Jika seorang mempunyai seratus ekor domba, dan seekor diantaranya sesat, tidakkah ia akan meinggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan dan pergi mencari yang sesat itu?”
Matius 18:12

Renungan ini berasal dari pikiran iseng saya. Awalnya adalah ketika dalam sebuah persekutuan terjadi konflik antara pemimpin persekutuan dan anggotanya. Sang anggota entah kenapa merasa tidak dihargai oleh sang pemimpin, sampai-sampai tersinggung dan marah. Sementara sang pemimpin, menganalisa masalah dari sisi pemimpin, bahwa memang si anggota yang terlalu sensi. Toh, pemimpin bertindak tidak untuk satu-dua orang saja, tetapi harus memperhatikan kepentingan banyak orang. Dan ketika kelompok yang lebih kecil kemudian kalah suara, beberapa lalu mutung, pundung. Kalau menggunakan istilah domba, ketika yang lain bergerak ke kanan, yang ini minggir ke kiri. Biarin deh, toh suaraku tidak didengar, katanya.

Sang pemimpin persekutuan pun bersikukuh. Yah, sebenarnya dia sudah mencoba untuk merangkul kembali anggota ini. Namun, tidak berhasil. Akhirnya dia bilang, well, life must go on, the show must go on. Akhirnya persekutuan terus berjalan dan untunglah, sang domba tersesat ditampung oleh persekutuan lain.

Waktu itu, saya bilang terang-terangan bahwa saya tidak setuju sikap sang pemimpin tadi. “Untung Tuhan Yesus itu gembala yang baik, bukan manajer yang baik” celetuk saya. “Kalau Dia manajer yang baik, maka FirmanNya menjadi: Akulah jalan kebenaran dan hidup, yang tidak mau melewati Aku, silakan cari kerja di tempat lain!” kata saya sambil cekikikan. Dan, ada sambungannya! “Gembala yang baik itu mencari itu meninggalkan 99 ekor domba demi mencari 1 yang hilang. Kalau dalam manajemen, satu yang hilang atau tidak mau ikut, bisa dipersilakan resign saja segera biar diganti domba yang baru!”

Betul sekali bukan? Kita sangat beruntung bahwa Tuhan Yesus berfirman bahwa Ia adalah gembala yang baik. Coba kalau Ia bersabda, Ia adalah manajer yang baik! Mungkin kita sudah dipecat karena lebih dari tiga kali berdosa (dengan surat SP3), atau karena kita bukan team-player, atau karena kita tidak bisa ikut dengan yang lain. Hanya seorang gembala, yang memimpin tim domba-domba bodoh, yang cukup sabar untuk mencari domba yang hilang, menarik domba yang kabur, atau membujuk domba yang stress supaya tidak terjun bunuh diri ke jurang. Untunglah Tuhan Yesus gembala yang baik!

Saudaraku, itulah yang paling sulit: mengalahkan ego kita sendiri.  Mengalahkan ego, adalah prinsip dari seorang gembala. Pernah memelihara anjing atau kucing? Pernah setengah mati manggil2, atau membujuk dengan muka lucu, agar anjing dan kucing kita mau makan? Nah, itulah sebenarnya kegiatan mengalahkan ego yang indah. Betapa kita sebagai manusia yang canggih, mau nunduk2 pada si Bleki, supaya dia makan – bukannya bunuh saja si Bleki dan beli anjing baru. Ironisnya, yang mudah bagi anjing dan kucing, ternyata sulit diterapkan untuk manusia!

Rasa ego yang begitu tinggi, kadang-kadang adalah hal tersulit yang harus dilampaui untuk menjadi seorang gembala yang baik. Inilah tantangan bagi setiap pemimpin Kristiani, baik dalam organisasi besar maupun persekutuan kecil. Bagaimana kita bisa meniru Tuhan kita – yang diam ketika diludahi, meram ketika dicambuk, dan bahkan menempelkan kembali telinga penjahat yang akan mendzalimiNya. Ketika kita mengalahkan ego kita, kita memenangkan kasih Kristus.

Jakarta, 7 Februari 2014  

Tuesday, June 05, 2012

Mengenang Daniel Nazarudin, Thio Tjong Bing (1)

Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Matius 5:3 Papi Tjong Bing, atau Daniel Nazarudin, selalu punya relasi yang unik dengan harta. Sebagai seorang dokter gigi, beliau paham betul, bahwa uang bukanlah tujuan utama seorang dokter (atau, paling tidak, begitulah yang seharusnya). Beliau pernah berkata sambil bercanda, bahwa jadi dokter itu memang nasibnya tidak bisa kaya. Bayangkan: waktu muda, ketika tenaga masih kuat dan semangat masih tinggi, pasiennya nggak ada. Ya wajar, dokter baru mana ada yang percaya? Sementara ketika sudah tua, senior istilahnya, pasiennya memang banyak, tapi tenaga sudah pas-pasan dan semangat juga sudah kendor. Alhasil, uang yang didapat ya tidak pernah maksimal! Begitu katanya. Benar juga! Memang, papi dan mami memulai membangun keluarga nyaris dari nol. Kami memulai kehidupan keluarga dengan rumah kontrakan kecil di Jl. Bima, sebuah televisi hitam-putih, dan motor bebek 'dukun' C70 merah untuk papi bekerja. Tidak jarang ia pulang basah kuyup karena kehujanan. Tapi, dengan bekerja tekun bertahun-tahun, akhirnya sedikit demi sedikit ekonomi keluarga pun membaik, sampai bisa punya rumah dan mobil. Tapi, papi tetap merasa miskin, karena "Apa yang dihasilkan adalah dari keringat sendiri!" katanya. Uangnya datang dari tangannya sendiri, jadi kalau tidak praktek ya tidak ada uang! Enak ya, kalau uang bisa datang tanpa bekerja sendiri, kata papi. Namun papi sendiri mengerti benar, bahwa menjadi dokter betul-betul 'miskin di hadapan Allah'. Untuk mereka ini, Alkitab menjanjikan seperti perikop diatas, bahwa justru orang seperti papi menjadi sangat kaya sampai-sampai seperti 'Yang punya Kerajaan Sorga'. Bayangkan, mau beli mobil bekas saja, ketika tahu papi seorang dokter, mobilnya langsung diantar ke rumah. "Lho, ini belum tentu beli lho!" kata papi. "Gak papa Dok, pakai saja dulu, 1 atau 2 minggu. Kalau gak cocok tinggal dikembalikan saja!" kata yang punya mobil. Astaga! Walaupun akhirnya Honda Civic Wonder hijau itu jadi kita beli, namun sebuah kebanggaan bahwa pemiliknya begitu percaya sama papi. Sebuah Honda Freed baru untuk test-drive pun pernah seminggu diparkir di rumah! Saya saja, anaknya yang kerja kantoran, susahnya minta ampun ketika mau test drive. Sementara papi.... "Pakai saja dulu Dok! Gak beli juga gak papa..." kata manajer dealernya. Hebat! Banyak urusan papi justru dimudahkan, bahkan lebih enak dari 'orang kaya'. Urusan kesehatan, urusan dengan kantor pemerintah, bahkan urusan dengan bank, begitu gampang mengalir tanpa pelicin, karena begitu percayanya masyarakat pada seorang dokter. Saya saja selalu naik pitam urusan bank - sedangkan untuk papi, kok begitu tahu ini 'dokter', semua urusan lancar? Ya, ini karena papi juga tidak pernah ragu-ragu mempermudah urusan orang. Banyak tetangga di rumah yang kurang mampu, bisa berobat gratis di praktek papi. Harga bukan jadi urusan penting, yang penting adalah kesungguhan dalam bekerja, bertindak benar, dan tidak menyerah walaupun banyak masalah. Mungkin dari sinilah muncul sifat saya juga yang tidak terlalu memperhatikan uang sampai ke sen terkecil. Memang, dengan demikian, papi tidak pernah jadi kaya, apalagi jadi konglomerat. Tapi, papi menjadi miskin di hadapan Allah karena kemurahan hatinya, dan kini, ia menjadi pemegang saham di Surga! Tomang, 5 Juni 2012 Tulisan berseri mengenang papi tercinta, drg Daniel Nazarudin, yang meninggalkan kami tanggal 23 Januari 2012

Sunday, April 29, 2012

The rightbman at the right place at the right time

And said, I beseech thee, O Lord God of heaven, the great and terrible God, that keepeth covenant and mercy for them that love him and observe his commandments: (Nehemiah 1:5 KJV) Nehemia adalah salah seorang nabi besar dalam bangsa Israel. Nehemia tidak ditulis mampu membuat mukjijat atau berkuasa atas langit dan bumi. Pencapaiannya pun sederhana, hanya membangun Bait Allah saja. Lalu, mengapa Nehemia dianggap nabi besar sampai kisahnya tiba di tangan kita hari ini? Ya - Nehemia menjadi penting karena timing atau waktu pada saat ia berkarya. Dalam ungkapan bahasa Inggris, Nehemia adalah the right man at the right place at the right time. Mengapa 'the right man'? Karena bangsa Israel sudah ratusan tahun tidak lagi memiliki orang sekaliber Nehemia. Sekali lagi bukan dalam hal adu kuat atau kuasa, melainkan dalam ketulusannya. Sesudah Allah menyelamatkan Israel dari tanah Mesir, bangsa ini jatuh ke dalam comfort zone. Raja-raja menjadi lalim, pemuka agama menjadi koruptor, rakyat berperilaku seperti binatang, dan tata krama yang diturunkan oleh Musa sudah kacau balau. Tak heran jika Allah sendiri murka dan mengijinkan bangsa Israel dikalahkan oleh bangsa lain, dan menjadi bangsa terjajah lagi. Tembok Bait Allah pun hancur, hartanya dibawa ke Babilonia untuk dijadikan persembahan pada dewa-dewa kafir. Mengapa ini bisa terjadi? Karena Israel tidak memiliki pemimpin seperti Musa dan Harun lagi. Semua pemimpin bangsa Israel cenderung korup, serakah, dan tidak mengindahkan ajaran Allah. Sampai Nehemia tiba. Nehemia adalah 'the right man' karena ketulusannya. Ia tidak diwarnai kepentingan pribadi, ia tidak dicemari nafsu kekuasaan. Hatinya hancur ketika ia mendengar Bait Allah luluh lantak. Dengan tulus pula ia berdoa, mengingatkan Allah akan janjinya pada semua orang yang taat kepadaNya. Ya - Allah mendengar Nehemia, karena ketaatan dan ketulusannya. 'The right time' karena bangsa Israel sedang benar-benar terpuruk. Kalau dua bab sebelumnya dalam Alkitab dikisahkan betapa bangsa Israel berjaya, kini mereka tunduk dalam cengkeraman bangsa asing. Semua keindahan masa lalu, paskah, sepuluh tulah, terbelahnya Laut Merah, kini hanya legenda belaka! Disinilah waktu kehadiran Nehemia sangat penting. Karena jika tidak ada Nehemia, maka Allah dan bangsa Israel akan tetap berjauhan. Karena Nehemia-lah Allah mengingat bangsa Israel kembali. 'The right place' karena Nehemia adalah pemegang piala Raja. Pemegang piala sama dengan pencicip makanan Raja, yang sangat dipercaya oleh Raja dan setiap saat siap mati jika ada yang ingin meracun Raja. Pada posisi ini, Nehemia bisa melakukan sesuatu untuk bangsanya melalui tangan Raja. Jika posisi Nehemia tidak sepenting ini, mungkin saja Nehemia didepak dan dilupakan. Jadi, integritas seorang Nehemia, bersamaan dengan waktu yang tepat dan fasilitas yang dimilikinya, membuat ia mampu membangun kembali Bait Allah dan menegaskan kembali janji Allah pada bangsa Israel dan umat manusia. Jika bukan Allah sendiri yang merencanakannya, siapa lagi yang mampu? Periksalah diri kita masing-masing. Apa yang menjadi panggilan kita? Karena Allah pasti sudah menyiapkan the right time dan the right place untuk kita. Am I the right man to do the job? Tomang, 29 April 2012

Friday, February 10, 2012

Hidup dan Mati


“Kalau tidak ada kebangkitan orang mati, maka Kristus juga tidak dibangkitkan”
1 Korintus 15:13
“Sebab jika benar orang mati tidak dibangkitkan, maka Kristus juga tidak dibangkitkan”
1 Korintus 15:16
“Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu”
1 Korintus 15:17

Dari semua tantangan alam, hampir semuanya sudah bisa ditangani oleh manusia. Dinginnya udara bersalju sudah bisa dibuat nyaman oleh teknologi pemanas dengan boiler dan pemanas lantai. Hembusan angin dingin sudah bisa ditahan oleh jendela ganda dengan gas Helium di tengahnya sebagai insulasi. Sungai-sungai raksasa bisa dibendung dan dijinakkan untuk dijadikan pembangkit tenaga listrik. Bahkan gunung berapi sudah bisa dibuat pemodelannya, sehingga peringatan bisa disebar sebelum meletus untuk menghindari korban. Terakhir, teknologi nuklir dan fisika materi sudah menjangkau ranah sub-molekuler untuk dieksploitasi sebagai penghasil tenaga listrik. Jika ribuan tahun lalu manusia terlihat lemah: mudah terinjak oleh dinosaurus, mati kelaparan kalau musim dingin tiba, atau terserang penyakit yang tidak ada obatnya – kini manusia sudah berbeda. Bisa dibilang, manusia sudah hampir menguasai alam semesta.

Namun, ada dua hal yang tidak bisa ditaklukkan oleh manusia: waktu dan kematian. Semua yang hidup akan mati – hanya masalah waktunya saja kapan. Dan mati bukanlah masalah teknologi – bahkan di jaman canggih, dengan Magnetic Resonance Imaging untuk scan otak, dengan antibiotik untuk membunuh bakteri, dengan teknologi kloning dan transplantasi sekalipun, semua orang tetap saja akan mati. Dan, semua orang beranjak dari muda ke tua. Tidak ada teknologi yang bisa membelokkan kematian, tidak ada teknologi yang bisa melengkungkan waktu. Yang ada hanya manusia, yang bercengkrama, berkegiatan, berbicara, tertawa, tetapi tiba-tiba kemudian meninggal. Dan, habislah hidup ini!

Hidup adalah hakekat. Hidup adalah yang membuat segala sesuatu menjadi baik. Hidup adalah pertanda adanya harapan. Tahun 1977, Ilya Prigogine, seorang ahli kimia fisik, menggagas tentang konsep sebuah satuan bernama entropi dalam termodinamika. Entropi adalah derajat kekacauan suatu sistem. Angkanya negatif, dan semakin besar angka negatifnya, semakin mudah proses itu terjadi. Misalnya seperti ini: proses pecahnya vas keramik memiliki entropi yang negatif. Proses ini disebut spontan, karena vas keramik cenderung pecah: tersenggol, tertiup angin, atau miring sedikit saja, vas akan pecah. Bahwa vas itu tidak pecah, hanya karena dijaga terus-menerus. Jadi, harus ada usaha untuk menjaganya agar tidak pecah – apalagi membuatnya dari tanah liat. Nah, proses pembuatan vas, dan penjagaan vas, entropinya positif. Tidak spontan. Harus ada yang membuat, berusaha, berkeringat, berlelah-lelah berjam-jam, untuk membuat sebuah vas keramik. Usahanya sulit, entropinya positif. Untuk pecah, butuh waktu beberapa detik saja. Entropinya negatif – proses ini spontan.

Jadi, semua proses di dunia ini yang melibatkan kehancuran, kerusakan, nihilisme, adalah spontan. Jadi, semua yang ada di dunia, cenderung akan menjadi rusak, busuk, hancur, dan berantakan.
Kecuali hidup. Hiduplah yang membuat manusia berganda, hewan berkembang biak, tanaman berkecambah. Seseorang yang baru meninggal dunia, wajahnya sama persis dengan waktu dia hidup, bukan? Namun, hidup sudah tidak ada dalam tubuhnya. Proses pembusukan sudah mulai, bakteri mulai merusak jaringan dalamnya. Hidup sudah tidak ada, dan kini entropi meraja lela: menghancurkan semuanya kembali menjadi debu. Hidup, selalu kalah oleh waktu, oleh kematian.

Oleh karena itu, berbahagialah kita karena Tuhan Yesus sudah bangkit! Satu-satunya harapan melawan kematian, ketiadaan, dan kesia-siaan, adalah kebangkitan Kristus. Jarang sekali Rasul Paulus mengulang sebuah topik, tapi dalam 1 Korintus 15, dua kali ia berkata: bahwa kalau Tuhan Yesus tidak bangkit, maka percuma saja kita beriman. Kalau Ia tetap mati, maka Ia tidak ada bedanya dengan kita, yang akan mati juga. Kalau Ia tidak mengalahkan kematian, maka buat apa kita beriman? Bukankah kita hanya akan menjadi subyek dari pergulatan para dewa, seperti dalam kisah Yunani ‘Perang Para Dewa’?

Tuhan Yesus bukan hanya memberi sebuah konsep, tapi sebuah bukti. Ia bangkit! Berarti, kita juga bisa bangkit. Berarti, perjuangan kita di dunia ini tidak sia-sia. Berarti, ada harapan untuk mengalahkan nasib, mengalahkan alam, mengalahkan entropi, dari Sang Pencipta Termodinamika itu sendiri. Jadi, kita harus hidup lebih optimis. Paulus sendiri menjelaskan, kalau tidak ada kebangkitan, maka “marilah kita makan dan minum, sebab besok kita mati” (1 Korintus 15:32). Tidak perlu beramal baik, tidak perlu sopan-sopan. Reguklah kenikmatan dunia sebanyak mungkin, selagi bisa. Bukankah begitu? Untungnya, Tuhan Yesus sudah bangkit!

Maka, fokus kita harus dialihkan. Bukan hanya pada hidup di dunia sekarang ini – tetapi kehidupan nanti, setelah mati. Ingat, semuanya tidak sia-sia. Kristus telah mengalahkan kematian untuk kita. Ada harapan, bahkan harapan itu sudah dibuktikan oleh Kristus sendiri! Maka, hiduplah dengan benar, fokuslah pada Kristus. Ya – semua orang akan mati. Tetapi dalam Kristus – semua orang akan bangkit dan hidup kembali! Marilah memusatkan pikiran kita melewati kematian, menuju kehidupan yang kekal itu.

Amin.

10 Februari 2012 

Sunday, January 29, 2012

Obituary: Drg. Daniel Nazarudin, born Thio Tjong Bing. A Good Dentist, A Great Person, The Greatest Dad


On Monday, January 23rd, 2012, at 20.40, my father, Drg. Daniel Nazarudin, born Thio Tjong Bing, passed away. He was 64.

Thio Tjong Bing was born in Pekalongan, Central Java, on February 3rd, 1947, to Thio Tjin An and Oey Sioe Kim. Thio Tjin An owned a car workshop in Pekalongan, which is why my father always had a passion for all things mechanical. In our family, he is ‘the last handyman’ – while the younger generation prefer to throw away broken stuff and getting new ones, he would dutifully spend much time and money in trying to fix broken equipments. Just weeks before he passed away, he had a project to fix our water pumps, causing a shortage of water supply in our house for a while – then he later told me: “You’re right – in the end I decided to buy a new one!”. But he didn’t give up – eventually he did fix the broken pump and now we have 2 pumps in our house.

Thio Tjong Bing had an older sister, Thio Giok Hiang. Both had a happy childhood, my dad being the adventurous one and his sister being the obedient one. He often spoke of my grandmother’s fondness for kungfu novels and movie theatres, and my grandfather’s excel in Dutch language and music. His happy childhood was cut short as his father, Thio Tjin An, passed away when he was in Junior High School. I remember my grandmother told me that both children came crying to her, because they were afraid that they can’t go to school anymore. “From that moment on, I sold everything I had, one by one, to finance the education of your dad and your aunt” said my grandmother.

Pursuing education brought Thio Tjong Bing from Pekalongan to Semarang, where he spent his Senior High School at Loyola College, and then to Bandung. My father always wanted to be a civil engineer or an architect. But at that time, he did not have a chance to go Bandung’s Institute of Technology, which had a good architecture department (where his sister studied and I got my degree from). Instead, faith brought him to the Faculty of Dentistry, Padjadjaran University, also in Bandung. He doesn’t like dentistry, but that does not stop him from being a perfectionist at work. “I never liked dentistry, so I need more energy to perform my work perfectly” he said once. “Being a dentist is a dilemma: when you’re young, you have a lot of energy, but not enough experience so you have only few patients. When you’re older and more experienced, you’ll have more patients, but not anymore the energy to perform the work – so you just can’t reap the maximum financial benefit out of this profession” he said.

After he retired from hospital duty and focused on his own practice, he seemed to enjoy his work more – not because of the work itself, but because his profession prompted him to meet a huge network of friends. “When I go to your father to fix my teeth, it takes him 15 minutes to do the job and 45 minutes to chat!” commented a friend of mine. He was always a ‘people person’, and in people finally he is at peace with his career.

It is in his university years, in 1967, that the Indonesian Government required all Chinese Indonesian to bear an Indonesian name. He chose ‘Daniel Nazarudin’ as his name, stated by a decree on the same year. It is also in this period, that he met my mother, Ketty Wilandow (born Oey Ketty), a student at the Law School of the University of Parahyangan in Bandung. They told me a story of how they met: it involves a roundabout at Jl. Dr. Otten, Bandung. Under the shade of the waving mahogany branches, my father rode a motorcycle on one side of the roundabout, going from his dorm at Jl. Dago to his campus at Jl. Dipati Ukur, while my mother rode a motorcycle on the other side, going from her house at Jl. Pasirkaliki to her campus at Jl. Merdeka. Their family already knew each other, so the story is probably romanticized, but yet it is in those frequent rendezvouz that they fell in love. My mother, three years senior to my father, was fixing her mind to her study, not marriage. “But your father was very persistent” she said with a smile.

They got married in Queen Restaurant Bandung, on December 22nd , 1974. After the marriage, they had three children: Harry Hardianto Nazarudin, and twin sisters Erika Amelia Nazarudin and Erina Natania Nazarudin. My memories of my childhood were very happy ones, although we did not have much at that time. I remember my father went to work on a red ‘Duck’ Honda 50 motorcycle, often braving through rains and bad weather. I remember our first black and white TV, which was a great luxury for us. But my father always cherished his cars – it is by the cars he owns, he measures his success. We went from a frequently-broken battered-old Peugeot 405, to a rattling loud red Daihatsu Taft, and finally my father managed to buy his first pride: a green Honda Civic Wonder sedan. “I dreamt last night, that your grandpa came and had a look at our new car!” he exclaimed to me one morning.

Tooth by tooth, filling by filling, he managed to grow our family’s finances from scratch. We moved from a small house at Jl. Bima 155, where he had his private practice, to Jl. Walik 11. We spent some years there, then moved to Jl. Bima 98, right in front of his practice, so he does not have to travel far to go to work. This house was his dream: bought as a run-down house, he built it brick by brick over long periods of time, depending on a tight budget, to become a 2 story residence. His prized car also improved: now it’s a white Honda Accord Maestro. He used to polish and treat the car like his most valuable possession, nobody could tamper with its white paint.

Nothing could have prepared us for what was coming in 2007: on a dark day, July 15th, 2007, his daughter, dr. Erina Natania Nazarudin, who studied medicine and was sent on assignment in Fakfak, West Papua, lost her life in a car accident after having saved 2 lives: a mother and her baby with a birth problem. It was a shock for the whole family, whom hitherto had a peaceful, calm, and happy life. This was the first introduction to death, in its most dreadful form, for the whole family. My father was deeply saddened by the incident. But after a while, he seemed to accept it. “Erina is already happy in Heaven” he said, repeatedly. “It is the living that we need to take care of”.

Dad has an uncanny ability to laugh. Whenever he gathers with his companions, there is always laughter on the table. His friends call him names, and he would retaliate. He is a true sanguine: from laughter to anger, from sadness to joy, for him it’s just a matter of time. They were all short bursts – he was never sad or angry at long periods of time. He is always good with people, he can connect with almost everybody. Being a doctor, his true calling is to help people. And he is always proud of it. “Doctors work on their own – there is no boss to supervise you. So you can only be true to yourself” he said. That’s also why, he never became ‘a businessman’ he’d always wanted to be. The business world is just too complex for him – full of mischief and dark strategies. Yet, sometimes he became disappointed with himself, not being able to be ‘the rich businesspeople’.

On death, he had one wish. “I don’t want to be sick for a long time” he said once. “If my time comes, just make it quick – I don’t want to be a burden to the living”. Just a few weeks before, we had a conversation when he visited me in Jakarta, discussing about family members who have been given longevity. “Most of them, Dad, are not like your father – exuberant dynamic person with bursts of emotion. Most of them are calm, relaxed people, who accept life as it is and not trying to change it too much. So you have to be like that, if you want to live a long life” I told him. He smiled – he knew he’s not that type, and neither am I. On January 24th, 2012, in the arms of his wife Ketty Nazarudin, at their residence in Jl. Bima 98, Drg Daniel Nazarudin passed away suddenly after having his last dinner: a hearty portion of chicken satay and lontong from his favorite, RM Sate ‘Asli’ at Jl. Maulana Yusuf Bandung. He passed away according to his wish: blisteringly fast, sending another shockwave for the family.

But then again – as Dad always said: we need to care for the living, as the dead is already happy with Lord Jesus in Heaven. Looking back, if there is one thing that I could change, it is that I would like him to see myself making a family, going through struggles and tribulations as he did, listening to his advice along the way. It is rather sad that as my journey is starting, his ended. What I can do now, is to share memories of him, like he did with his own father, and uses it to propel my life into the future with great confidence and strength, so Dad would visit me in a dream one day when I buy my first Ferrarri and said: Well done son!  I know you can do it!

Farewell, Dad. Till we meet again.

PS: please pray for my mother, Ketty Nazarudin, who is currently being treated for stroke at a hospital. May the Lord give her strength to move on.

Bandung, 29 January 2011

 
  

Thursday, November 03, 2011

Perawatan Iman Secara Berkala


“Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik”
1 Korintus 15:33

Pagi-pagi sebelum berangkat ke kantor, saya mendapati ban mobil saya kempes. Terpaksa, dalam keadaaan sudah malas dan bangun terlambat, saya mengirim sms pada sekretaris di kantor, menginformasikan bahwa saya terlambat. Kemeja lengan panjang dan celana katun saya ganti celana pendek dan kaus, lalu merangkaklah saya di kolong mobil dan mengganti ban dengan ban cadangan. Repot, panas, kotor lagi! Ban yang kempes saya pasang di belakang, lalu saya ganti baju lagi, dan menyetir mobil ke tukang tambal ban terdekat. Disana, tukang tambal ban langganan saya, dengan sigap mengambil ban, lalu mulai memeriksa ban yang kempes tersebut untuk mencari lubangnya. 

Wow! Saya kaget. Untuk Anda yang berkendara, baik motor maupun mobil, sadarkah Anda, bahwa nyawa Anda ada di tangan ban mobil Anda? Walaupun Anda mengendarai Porsche Cayenne atau Suzuki Carry, tetap saja kenyamanan berkendara tergantung pada benda melingkar hitam dan jelek ini. Semua fitur kenyamanan mobil – dari GPS, ABS, sampai cruise control – semuanya hanya berguna kalau ban Anda tidak kempes. Ban inilah yang menjadi titik kontak antara kenyamanan mobil atau motor Anda dengan aspal jalanan yang panas, kejam, berdebu, dan kotor. 

Saya kaget ketika saya melihat ban saya sendiri. Saya berpikir, pastilah mudah menebak mana yang bikin kempes: lihat saja mana paku yang kelihatan menonjol. Ternyata, banyak sekali benda-benda asing yang tersangkut di ban saya! Ada batu kerikil besar, ada potongan besi, banyak sekali batu-batu kecil, dan lain sebagainya. Satu-satunya cara akuran menentukan mana yang kempes adalah dengan air dan sabun! Tapi, sadarkah Anda, bahwa selama Anda berkendara, seberapa sering ban mobil Anda menemui tantangan – dari kerikil kecil sampai besar, paku, besi, batu, semen? Ketika tukang tambal ban membersihkan ban saya, dan mencungkil semua kotoran yang ada, saya bisa merasakan seolah ban mobil saya bernapas lega...

Saudaraku, ban mobil tadi bisa diibaratkan sebagai iman kita. Sadarkah Anda – apa yang membuat kita hidup normal di jaman edan ini? Apa yang membuat kita terus bertahan, walaupun ada masalah, ada cobaan, ada kekecewaan? Apa yang mencegah kita lompat dari lantai 10 untuk bunuh diri, atau berubah menjadi perampok dan kriminal, atau masuk ke rumah sakit jiwa? Ya – iman kitalah yang membuat kita bertahan. Iman kitalah yang menjadi bemper setiap kali ada benturan dengan kekecewaan, menjadi pegangan setiap kali kita terperosok ke dalam jurang kegagalan, dan menjadi tali yang menarik kita keluar dari sumur depresi. Iman kita – seperti ban mobil kita – setiap hari berduel dengan kejamnya aspal jalanan, menahan benturan dari trotoir, tusukan besi tajam, atau kerasnya sudut kerikil. 

Seperti ban, pastilah kadang-kadang ada benturan yang cukup kuat yang membuat iman kita kempes. Bagaimana cara mencegahnya? Sebelum kempes, rawatlah iman Anda! Sering-seringlah berkegiatan di gereja, mendengarkan khotbah, atau ikut persekutuan gereja. Di dalam pergaulan Kristen, di dalam nyanyi dan lagu dan pemberitaan Firman, ‘ban’ iman kita diteliti, dicungkili kerikil-kerikilnya, dan dicabut besi-besi yang tertancap disitu. Apakah Anda merasa sepertinya ‘begitu-begitu saja’ ketika beribadah? Ini sama seperti kita rela bayar mahal untuk melakukan servis mobil di bengkel mentereng, sementara untuk ban cukup di bawah pohon rindang saja! Padahal, perawatan ban, sama seperti perawatan iman, adalah penting. Ingat, jika iman Anda kempes, maka seluruh mobil Anda tidak akan bisa digunakan, bukan?

Jadi, carilah pergaulan yang baik, rawatlah iman Anda secara berkala!

Kedoya, 3 November 2011