Tuesday, November 05, 2019

Serial YMJ (1): Penciptaan dan Teori Evolusi

Serial YMJ (Yesus Memang Jenius) adalah seri tulisan mengenai sains dalam Alkitab. 


"Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia, laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka."
"Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keenam."
Kejadian 1:27, 31

Bentrokan antara teori evolusi dan kisah penciptaan dalam Kitab Suci selalu menjadi kontroversi yang paling mak nyus dibawa oleh kaum yang ingin menyerang ide Ketuhanan. "Mana mungkin.... " kata ahli biologi dan ahli etis. Bahkan ada serial TV-nya sendiri, betapa bego dan salahnya orang yang percaya bahwa segala sesuatu itu diciptakan apa adanya, dan bukan merupakan hasil adaptasi yang menghasilkan evolusi.  Saya menyukai film dokumenter, tetapi jika film dokumenter tersebut terlalu cenderung ke satu sisi (baik sisi Ketuhanan maupun sisi satunya lagi), saya kok jadi kurang nyaman menontonnya.

Kenyataannya, Charles Darwin sendiri (dari Wikipedia) menyatakan bahwa dirinya adalah 'agnostik' walaupun pernah mengenyam pendidikan Anglikan. Kemudian.... wes lah, nggak penting ya membahas Darwinnya, wkwk.

Di Amerika Serikat, ada bentrokan antara pihak yang ingin mengajarkan "teori evolusi" di sekolah dan yang keukeuh mempertahankan "kisah penciptaan". Akibatnya, para murid di Amerika Serikat diketawain dunia karena begitu besar proporsi yang tidak percaya pada teori evolusi, meskipun Amerika Serikat adalah negara dengan sistem pendidikan yang sangat baik. Weleh, kok begini?

Kita harus ingat bahwa ada perbedaan besar antara paper Charles Darwin yang berjudul "The Origin of Species" dengan buku cerita yang judul babnya adalah "Kejadian". Yang satu adalah paper ilmiah, yang dibuat berdasarkan pengamatan, dan diperuntukkan sebagai referensi, sementara yang lain adalah cerita - sama seperti dongeng Rapunzel, misalnya. Idih, kok Alkitab disebut dongeng? Jangan marah dulu bro. Alkitab adalah hasil dari cerita turun-temurun yang tentu saja tidak bisa diartikan secara harafiah. Kalau kita bisa bilang bahwa kisah "belalang yang malas dan semut yang rajin" benar2 terjadi, tentunya kita yang bego. Tapi, kita bisa mengerti, bahwa secara selintas, semut dan belalang punya tabiat yang berbeda, yang menjadi inspirasi cerita. Itu saja!

Demikian juga kisah penciptaan. Kisah ini hanya menjelaskan dengan perumpamaan, bagaimana segala sesuatu terjadi. Dari Tuhan yang Maha Pintar, menjelaskan pada entah siapa yang memegang pena dan menulis. Mana bisa Tuhan menjelaskan proses sebenarnya? Pastilah digunakan perumpamaan. Nah, menurut saya, Alkitab perlu dilihat sebagai perumpamaan.

Tapi, coba kita perhatikan waktunya. Menurut Alkitab, manusia diciptakan pada hari ke ENAM. "Mana mungkin cuma enam hari?" kata sang skeptis. Tapi, tunggu dulu.

Dunia paleoantologi mengenal skala yang namanya 'geologic time scale'. Ini adalah penanda waktu berdasarkan perubahan geologis yang terjadi di bumi. Ordenya jutaan tahun. Dan tanpa terinspirasi oleh Alkitab, dengan metode penelitian yang jauh berbeda, para ahli sepakat bahwa....

... Manusia pertama di dunia hadir pada jaman ke ENAM, yang bernama Cenozoic. Kok sama? Sama-sama enam. Dan katanya, satu harinya Tuhan tidak sama dengan satu harinya manusia bukan?

Menurut saya jaman ke enam dan hari ke enam ini adalah salah satu cara kita memandang Alkitab dan teori evolusi. Seperti kata Darwin, dua hal ini tidak bertentangan, melainkan mengisahkan kejadian yang sama. Hanya yang satu dalam bentuk dongeng, yang lain dalam bentuk sains!

Masak sih? Apa ada lagi yang lain? Banyak.... yuk simak tulisan selanjutnya!

Salam,

Harnaz

Friday, November 01, 2019

Prolog: Tuhan Yesus Memang Jenius!

"Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan."
Amsal 1:7

Sebuah data statistik pernah menyebutkan bahwa sebagian besar teroris berasal dari jurusan MIPA (Matematika dan Ilmu Pasti Alam alias sains!). Walah, cilakak! Apa yang terjadi? Mengapa justru orang-orang yang percaya tahayul radikalisme, justru berasal dari lingkungan pendidikan sains yang serba logis dan berdasarkan eksperimen? Mengapa "pendidikan" yang mereka terima bukannya membuat mereka berpikir logis, malahan terjerumus pemikiran radikal? Cilakanya lagi: jangan-jangan, pendapat kita bahwa "mereka orang yang tidak berpendidikan" adalah salah? Lalu, dimana dong letak permasalahannya?

Coba kita renungkan sejenak. Sains. Zzzz (ngantuk!). Nanti dulu bro! Hehe. Heinz? Bukan, itu saos tomat wkwk. Sains. Mengapa "dunia sains" selalu erat kaitannya dengan atheisme? Mengapa setiap scientist selalu kelihatannya tidak percaya Tuhan? Apakah benar bahwa seorang scientist baru bisa benar-benar hebat kalau dia menjadi atheis, agnostik, atau apalah itu, maksudnya tidak percaya Tuhan? Dan sebaliknya, apakah bisa seorang beragama menjadi scientist yang hebat?

Kenyataannya, alinea kedua diatas adalah sebuah pemahaman yang diterima oleh umum. Sehingga bayangkan: si Polan, seorang mahasiswa kimia. Beliau orang yang beriman, rajin berdoa, percaya Tuhan sebagai panglima. Lalu kemudian dia diberi tahu bahwa menurut Richard Dawkins nggak ada tuh yang namanya Tuhan! Nggak ada tuh Tuhan dalam reaksi nuklir, yang ada malah Oppenheimer! Juga dalam reaksi nitrasi, adanya Alfred Nobel! Mana Tuhanmu? Mana? Mana? HAHAHAHAHA (ketawa ala Godzilla).

Wajahlah kalau di Polan kemudian, sambil berdiam berdoa, berkecamuk hati kecilnya. Wajarlah kalau beliau, dengan wajah merengut ala Dude Herlino di sinetron Istri Yang Tertukar, kemudian berpikir, "Ya Tuhan, masak semua dosenku bilang Engkau nggak ada sih? Sini Tuhan, aku tunjukkan bahwa Engkau ada, bahwa Engkau yang utama diantara Linus Pauling dan Albert Einstein!" - dan tiba-tiba reaksi nitrasi pembentukan Tri Nitro Toluena (alias TNT alias dinamit) kok kayaknya menarik nih untuk diulik. Mengerti kan, kenapa si Polan ini jadi radikal? Jederrr!!! Njeblug tenan!

Melalui rangkaian tulisan ini, saya ingin mengajukan dua poin penting: pertama, bahwa Tuhan dan sains adalah sejalan, tidak bertentangan. Sebenarnya, jika kita lihat dengan teliti, maka penemuan sains - bahkan sebombastis teori evolusi sekalipun - sebenarnya tidak bertentangan dengan Alkitab! Dan poin kedua: bahwa semua scientist itu atheist adalah hoax. Tahukah kamu, bahwa ketika Albert Einstein ditanya mengenai bagaimana awal perjalanannya menjelaskan teori relativitas, jawabnya adalah: "Karena Tuhan ingin saya menjelaskan anomali orbit planet Venus!"

Kalau Einstein tidak percaya Tuhan, bagaimana Einstein bisa terinspirasi oleh Tuhan? Dan kalau Tuhan tidak ada, jangan-jangan tidak akan ada teori relativitas dari seorang petugas paten bernama Albert Einstein! Kayak The Beatles di film Yesterday! Hehehe.

Yuk kita baca dalam serial tulisan berikutnya.

Salam,

Harnaz


Thursday, October 31, 2019

Selalu Segar Setiap Saat

"Yesus menjawab, kataNya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah""
Yohanes 3:3

"Halo Kakak, ada yang bisa dibantu?"

Pernahkan kamu masuk ke suatu restoran atau toko, dimana pelayannya berkata seperti itu. Namun, tidak dalam rangka "memaksa beli sesuatu" atau bikin kamu nggak betah kalau lagi bokek. Tapi, bener-bener dengan senyum tulus, yang membuat kita malah nyaman berada disana, baik bokek maupun tidak!

Dua puluh tahun lalu, ketika saya masih muda dan bokek (sekarang bokek tapi tuwek wkwk), saya pernah penasaran ngintip tempat yang namanya Hotel Sacher di Wina, Austria. Hotel ini punya toko kue dan restoran yang terkenal dengan aura mahal dan kerennya. Bukan hanya itu: disinilah tempat lahir Sacher Torte yang terkenal itu! Sebagai seorang foodie, saya pengen banget masuk, mencicipi Sacher di tempat kelahirannya. Namun, pelayannya yang berbaju 'butler' komplit, lebih keren dari jaket butut saya, membuat saya takut untuk masuk.

Ternyata, senyuman sang pelayan malah membuat saya berani. "C'mon in!" katanya, sambil mengangkat jaket butut saya dan digantung di tempat jaket. Saya duduk di ruangan bergaya victorian/art noveau yang cantik, lalu sambil bergetar memesan seiris Sacher Torte dan kopi Wiener Melange. Mahal, tapi duit di dompet cukup kok! Lalu saya foto makanan dari kiri dan kanan. Tiba-tiba, saya ditoel oleh sang pelayan. Apakah saya mau diusir karena kampungan main potret makanan?

"Would you like me to take photo of you?" katanya sambil senyum. Waduh, mantap! Dan sejak itu, setiap kali mampir ke Wina, saya selalu menyempatkan mampir ke Sacher!

Hidup beriman seharusnya selalu segar, sama seperti sang pelayan tadi. Jika Tuhan ada dalam kehidupan kita - baik bisnis, berkeluarga, maupun berteman - maka segala sesuatu akan terasa segar, menyenangkan. Karena itulah janjiNya kepada kita - membuat segala sesuatu indah. Dan jika kita merasa ada salah satu bagian hidup kita yang rasanya "gelap", bikin BT, malesin, maka sudah waktunya kita sambungkan kembali kabel bagian tersebut ke Sang Sumber Segar. Biar ceria lagi, segar lagi!

Salam,

Harnaz