Embun Pagi
Embun pagi adalah kristalisasi hari. Uap, asap, debu, kabut, yang terakumulasi selama sehari penuh, akan mengalami transformasi akibat kondensasi dan sublimasi, menjadi embun pagi yang murni, suci, bersih. Demikian pula Firman Tuhan, sering tersamar dalam kotornya hari, namun selalu muncul kembali dalam bentuk murni di pagi hari. Asalkan kita rela luangkan waktu, bersihkan hati, biarkan Roh itu bekerja.
Sunday, April 29, 2012
The rightbman at the right place at the right time
Friday, February 10, 2012
Hidup dan Mati
Sunday, January 29, 2012
Obituary: Drg. Daniel Nazarudin, born Thio Tjong Bing. A Good Dentist, A Great Person, The Greatest Dad
Thursday, November 03, 2011
Perawatan Iman Secara Berkala
Thursday, October 20, 2011
Jadilah Sempurna!
"Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti BapaMu yang di Sorga adalah sempurna"
Matius 5:48
Saya baru kembali dari sebuah perjalanan dinas ke Italia. Disana, karena kami berada di dekat kota Milan, kami dianjurkan untuk mengunjungi bergamo, sebuah kota tua yang cantik. Bergamo adalah warisan dunia, yang memiliki bagian kota lama yang terletak diatas bukit. Kota ini memiliki banyak bangunan dan gereja kuno, dengan jalan-jalan sempit, dipenuhi oleh wangi roti yang baru matang pada pagi hari ketika kami sampai disana. Sekilas, kota ini mirip dengan Venezia, hanya Bergamo terletak diatas bukit dan dipagari benteng tinggi, bukan diatas laut. Untuk kesana kami harus menaiki 'furnicolare', atau cable car, yang menyajikan pemandangan indah ke arah kota di pagi hari.
Kami terus terang tidak tahu akan pergi kemana. Di dinding ada sebuah peta, kami hanya menebak saja sebuah pelataran di tengah kota yang mungkin adalah alun-alunnya. Kamipun menuju kesana, sekali lagi tanpa tahu arah dan tujuan karena daerah ini bukan tujuan wisata umum untuk turis Asia. Ada sebuah bangunan gereja yang cukup cantik, dan saya putuskan untuk memasuki gedungnya. Dari dalam, nampak sebuah gereja yang semula kelihatan biasa saja. Sampai.... ketika kami melihat ke atas!
Diatas kami, terhampar sebuah keindahan yang luar biasa. Kira-kira 15 meter diatas kami, sebuah langit-langit yang cantik dan indah memancarkan pesona kesempurnaan yang luar biasa. Nampak lima buah lukisan, satu di tengah dan keempat lainnya mengelilingi di sisinya, yang diapit oleh ukiran tanaman berbalut emas dan ukiran patung-patung malaikat. Patung-patung tersebut nampak seolah hidup, menopang langit-langit dengan sayapnya. Betapa indahnya! Kami langsung tahu, dari aura keindahannya, bahwa tempat ini pastilah bukan tempat biasa. Betul saja: itulah Duomo Santa Maria Maggiore, katedral utama dan gereja terpenting di kota tua Bergamo. Luar biasa!
Sebelum saya berangkat ke Italia, saya sempat menghadiri sebuah pameran seni kontemporer di Jakarta. Lalu, disana ada sebuah bagian yang menyajikan karya-karya pelukis lama: "Old Masters" judulnya. Tentu saja, karya-karya Old Masters ini selangit harganya dan nampak kusam dibanding karya-karya baru. Namun, auranya tetap berbeda. Lukisan Barong dari Affandi, lukisan gadis penjaja makanan dari Lee Man Fong, dan lukisan Gunung Meletus karya Raden Saleh. Saya ingat, di kantor kerja Soekarno, presiden pertama RI, mungkin satu-satunya presiden yang paham kesenian, terpampang lukisan Soedjojono, "Wajah-wajah Revolusi", yang berwujud lukisan wajah para pahlawan pejuang kemerdekaan Indonesia.
Salah satu lukisan yang terpajang di ruang pameran membuat saya terpana. Ini juga karya Soedjojono, berjudul "Indahnya Tanah Airku". Gambarnya aneh: tiga orang, yang satu tentara, yang lain petani yang memanggul senjata, nampak sedang bengong memandang ke arah kanan. Semuanya nampak tertegun tanpa ekspresi. Di latar belakang lukisan nampak sebuah bukit dan sungai. Tapi, tidak jelas apa yang mereka lihat. Lukisan ini seolah terpotong, karena sisi kiri - titik arah pandangan semua orang di lukisan ini - tidak nampak. Rupanya, saya mendapatkan jawabannya. Waktu sebelum kemerdekaan, tidak terbayang seperti apa negara kita jadinya. Wujud Republik yang diperjuangkan mati-matian dan sudah menelan banyak nyawa tersebut, masih belum jelas. Jadi, memang tidak ada di lukisan itu. Namun, wajah rakyat sudah memandang kesana. Terlihat rakyat bahu-membahu, apapun profesinya, semua memandang ke arah yang sama. Takut, tidak pasti, namun berdiri sebagai sebuah bangsa yang merdeka - bukan lagi orang jajahan. Jenius! Sebuah pengejawantahan dari idealisme kemerdekaan yang begitu realistis dan indah.
Lalu, saya bandingkan karya itu dengan karya-karya seniman modern seperti Ay Tjoe Christine atau Heri Dono. Maaf seribu maaf, saya bukan ahli seni dan tidak patut jika pendapat saya dianggap sebagau panutan. Namun, saya heran. Mengapa saya tidak menemukan 'getaran' Soedjojono dan Affandi dalam karya Ay Tjoe dan Heri Dono? Sama seperti keindahan gereja Santa Maria Maggiore tadi. Mengapa bangunan-bangunan masa kini, dari BNI 46 sampai Marina Bay Sands, tidak ada yang bisa menyaingi keindahannya?
Jawabannya adalah: kesempurnaan. Kini, manusia dipasung oleh duit. Jika saya menujukkan gambar langit-langit Santa Maria Maggiore pada arsitek masa kini untuk membuatnya, maka pertanyaan yang pertama muncul adalah: "Pasti akan mahal sekali!". Ya. Abad ke 14, pada saat gereja ini dibangun, orang masih belum mengenal uang. Raja menyediakan sarana apapun yang dibutuhkan oleh sang arsitek, dan sang arsitek diberi kebebasan untuk berkreasi tanpa dibatasi oleh uang. Iapun bebas mewujudkan impiannya, melebihi batas-batasnya sebagai manusia, dan melahirkan sebuah karya yang illahi - divine works of art. Karya yang hanya mungkin hadir dari hati seorang manusia yang kagum atas TuhanNya. Sempurna!
Jaman sekarang, kita sering lupa, bahwa orang Kristen dituntut untuk menjadi sempurna, karena Bapa yang menciptakan kita adalah sempurna. Kita sering merasa cukup dengan kecukupan kita - cukup taat aturan, sekali-sekali saja menerobos lampu merah. Cukup rajin bekerja, sekali-sekali saja bolos. Cukup segini saja, untuk apa maju lagi. Kita jarang berjuang untuk sebuah kesempurnaan, karena menjadi sempurna seolah terlalu mahal secara ekonomis, dari segi waktu maupun uang. Namun ingat, bahwa sebagai orang Kristen kita dituntut untuk sempurna. Dan sebagai orang Kristen kita bisa bernapas lega, bahwa kesempurnaan itu pernah muncul dari jaman keemasan iman Kristen di Eropa. Lihatlah Basilika Santo Petrus di Vatikan, Piazza Sam Marco di Italia, St. Stephansdom di Wina, dan Santa Maria Maggiore di Bergamo. Itulah bangunan-bangunan yang didirikan atas dasar cinta seorang manusia ke pada Tuhannya, dengan dedikasi penuh untuk mencapai kesempurnaan. Dan kesempurnaan ini masih terpancar sampai sekarang, ratusan tahun sebelum karya itu dibuat!
Jadi, ingatlah, bahwa menjadi sempurna adalah misi untuk orang Kristen. Janganlah kita puas untuk sekadar cukup - hiduplah dengan kesempurnaan, janganlah berhenti sampai titik sempurna itu tercapai. Niscaya, iman Kristen akan terpancar dengan sendirinya, dari indahnya karya-karya yang dihasilkannya.
Tomang, 20 October 2011
Thursday, September 08, 2011
Angin Yang Berjasa
“Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh.”
Yohanes 3:8
Dalam sebuah pertunjukan ludruk, seorang penonton yang sinis nampaknya tidak puas dengan apa yang dipertunjukkan hari ini. Alih-alih bertepuk tangan, dia berteriak kepada pemain ludruk: “Apa sih kalian ini, isinya cuma angin!” katanya. Sang aktor ludruk bukannya marah malah tertawa, lalu menghadap si penonton tadi. “Bapak kesini naik apa?” tanyanya. “Naik motor!” jawab si penonton. “Kalo gitu, coba bayangin kalo bannya kempes, nggak ada anginnya!” katanya. Penonton pun tertawa terbahak-bahak.
Kita memang kadang-kadang melupakan pentingnya angin ini. Angin memang tidak berbentuk, hanya bersuara seperti yang dijelaskan dalam Alkitab. Angin ini juga malah menjadi kiasan untuk sesuatu yang kosong, hampa, tidak berisi dan tidak bermutu. Angin tidak bisa dilihat, bahkan ilmu pengetahuan dan kamera tercanggih pun tidak bisa menangkap pergerakan angin. Sehingga ketika Tuhan Yesus menggunakan kata angin untuk melukiskan orang yang lahir dari Roh, apalagi ketika berbicara dengan Nikodemus yang berpendidikan dan Ahli Taurat, pasti Ia sudah memilih kata-kataNya dengan cermat.
Ban adalah bukti betapa pentingnya angin. Dari sejak jaman dokar ditarik lembu, sampai mobil Ferrarri tercepat di dunia, semuanya membutuhkan ban yang isinya angin. Tanpa angin, bahkan pesawat jet Sukhoi yang paling canggih sekalipun tidak bakal bisa terbang. Tidak ada teknologi yang menggantikan angin, sehingga bahaya ban kempes bisa mengancam dari delman, motor, mobil, sampai penerbangan Lion Air dengan Boeing 737-900ER. Bahkan saya yang sudah siap bekerja pun hanya bisa bengong ketika kelihat ban saya kempes habis kemarin!
Dalam perikop diatas, Nikodemus mempertanyakan konsep kelahiran baru. Bagaimana seseorang bisa lahir kembali? Apakah dia harus balik ke rahim ibunya dan dilahirkan kembali? Begitu pertanyaannya. Tuhan Yesus menjawab, bahwa yang lahir dari daging adalah daging, dan dari Roh adalah Roh. Jadi, Tuhan Yesus mendefinisikan bahwa daging dan Roh memang dua hal yang berbeda. Seseorang boleh jadi sudah lahir secara daging, tapi belum secara Roh. Ketika Roh itu hadir dalam hidup seseorang, barulah terjadi kelahiran Roh.
Lalu, bagaimana proses kejadian ‘kelahiran Roh’ ini? Dapatkah kita memasang kamera untuk merekamnya seperti proses kelahiran daging? Tuhan Yesus menyebut dengan jelas dalam perikop diatas, bahwa kita tidak tahu dan tidak bisa melihat prosesnya, tetapi kita ‘bisa mendengar bunyinya’. Ya! Orang-orang yang lahir secara Roh, pasti terasa di masyarakat. Lihatlah pecandu narkoba yang bisa sembuh, orang-orang sakit yang tetap memiliki semangat hidup tinggi, orang yang depresi bisa menemukan semangatnya kembali, dan lain-lain. Banyak sekali buku-buku dan cerita kesaksian mengenai ‘kelahiran Roh’, yang bisa kita dengar dimana-mana. Prosesnya sendiri adalah proses yang sangat pribadi, yang tidak bisa didokumentasikan atau direkam seperti kelahiran daging. Namun, efeknya bisa terlihat dengan jelas, sama seperti nikmatnya perjalanan kita tadi pagi, karena angin kasat mata yang ada di dalam ban kendaraan kita.
Kedoya, 8 September 2011
Wednesday, September 07, 2011
Sabar!
“Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.”
Galatia 5:22-23
Pernahkan Anda terjebak kemacetan ketika Anda sudah terlambat? Kalau Anda tinggal di Jakarta, ibukota macet sedunia, pasti Anda ingat betapa mengerikannya situasi seperti itu. Anda harus tiba di Sudirman pada jam 14.00, sementara sekarang sudah jam 13.30, posisi Anda di Slipi. Di depan Anda berjajar mobil-mobil berdesakan, motor yang melintas nekad, bus yang malang-melintang, metromini dan kopaja yang gagah memotong jalur siapa saja yang menantangnya, serta busway yang berusaha menyeruak di tengah kerumunan lalu lintas Jakarta. Padahal, rapat sore ini sangat penting, Anda bertemu pelanggan dari Jepang yang terkenal sangat tepat waktu, ingin mengadakan pembicaraan finalisasi order yang sangat Anda butuhkan dan sudah Anda rintis sejak 3 bulan yang lalu. Celaka dua belas, bukan?
Suara lagu di radio yang biasanya merdu menjadi jeritan yang menakutkan. Tawa renyah penyiar radio bagaikan tawa kuntilanak yang menertawakan keterlambatan Anda. AC mobil yang sudah disetel maksimum gagal mencegah mengucurnya keringat Anda. Jantung Anda berdetak semakin kencang, ingin rasanya membunuh dan mencincang motor atau pejalan kaki yang memotong jalan di depan Anda. Tidak sedikitpun Anda memberi kesempatan pada orang lain untuk melintas, kalau perlu, tabrak saja! Tekanan darah terasa meningkat, setitik saja kejadian bisa memicu pertengkaran, adu jotos, bahkan saling merusak. Ya – Anda siap membunuh siapa saja yang menghalangi jalan Anda! Semuanya yang sudah lambat bergerak semakin lambat, seolah-olah seperti melalui lorong waktu. Sementara detik waktu melalui kelipan tanda titik dua di jam digital mobil Anda berkelip-kelip tanpa dosa, begitu cepatnya, seolah tidak peduli pada suasana super stress yang Anda alami.
Namun, rute yang sama pernah pula saya alami dengan suasana yang jauh berbeda. Jamnya sama, hanya kali ini saya ada di Slipi jam 2 sore, tetapi janji rapat saya adalah jam 4 sore, pada hari yang sama. Mobil-mobil berdesakan seperti biasa, motor-motor berseliweran tak perduli. Bus damri pun tetap memotong jalan dengan gagahnya. Tetapi mengapa hati saya lebih tenang? Lantunan musik Jazz dari sebuah radio mengalun merdu, bahkan sesekali lelucon penyiar radio membuat saya tertawa terbahak-bahak. Saya sempat mengeluarkan kamera untuk memotret gedung pencakar langit di jalan S. Parman yang nampak cantik diterpa sinar mentari sore, dan tersenyum pada motor yang menyerempet spion saya. Mengapa perjalanan ini menjadi terasa indah, menyenangkan, santai?
Padahal, waktu tempuh dari Slipi ke Sudirman tetap sama. Dari keluar tol Slipi sampai Gedung Mid Plaza, butuh waktu kira-kira 1 jam. Mau saya lalui dengan super stress, marah-marah, atau dengan tersenyum sambil foto-foto, waktu tempuhnya tetap 1 jam, bukan? Tapi, ketika saya punya banyak waktu, jalanan nampak mengalir tenang, sementara pada saat saya terpepet waktu, semuanya terasa seperti slow motion. Heran ya, bisa sedemikian besar bedanya, untuk jarak dan waktu tempuh yang sama?
Teman, jalanan ,macet tadi adalah hidup kita, dan anugerahnya adalah kesabaran. Kita punya hidup yang sudah digariskan olehNya, dari satu titik awal ke satu titik akhir. Jarak tempuhnya tetap sama. Kita punya dua pilihan: melaluinya dengan penuh ketidaksabaran, seperti ketika terlambat tadi, atau melaluinya dengan kesabaran, seperti contoh berikutnya. Waktu tempuhnya tetap sama. Macetnya pun sama. Tetapi, dengan kesabaran, perjalanan menjadi sangat indah, bukan? Segala amarah dan detakan jantung ekstra serta makian pada motor, toh tidak akan mempercepat perjalanan kita barang sedetik pun. Namun, betapa stress yang diakibatkannya sungguh terasa bagi tubuh kita!
Lalu, bagaimana menyiapkan waktu yang cukup dalam kehidupan kita, tanpa terjebak seperti contoh pertama? Jawabannya adalah kesabaran. Kita seringkali tidak sabar pada Tuhan. Kita ingin segalanya terjadi sekarang dan saat ini juga. Kita ingin masalah segera selesai, persoalan segera tuntas, problem secepat mungkin menguap. Padahal, tidak bisa! Sama seperti di jalan raya, setiap masalah kita bersinggungan dengan orang lain, dan ketika kita diuntungkan secara tiba-tiba, maka pasti ada orang lain yang merugi. Sementara, Dia yang memberi keputusan adalah adil. Maka, kita harus bersabar dalam menghadapi hidup. Bersabar menanti keputusanNya pada saat yang tepat, bersabar menunggu hasilNya yang sempurna. Toh, segala usaha kita untuk marah dan memaki, sama seperti derasnya kucuran keringat dan peningkatan detak jantung pada suasana macet tadi: hanya sia-sia, tidak bisa sedetikpun mempercepat perjalanan kita.
Jadi, tidak heran bahwa kesabaran adalah salah satu buah roh yang diharapkan ada pada orang beriman. Bersabar pada kehidupan, bersabar pada Tuhan, memberikan ruang kepadaNya agar bisa menyiapkan segala sesuatunya dengan sempurna. Niscaya, perjalanan hidup Anda akan terasa indah, semuanya bergerak secara sinkron, bahkan ada waktu untuk foto-foto sebagai kenang-kenangan. Berilah ruang padaNya untuk bekerja, dan bersabarlah!
Kedoya, 7 September 2011
+(570+x+856).jpg)
