Sunday, April 29, 2012

The rightbman at the right place at the right time

And said, I beseech thee, O Lord God of heaven, the great and terrible God, that keepeth covenant and mercy for them that love him and observe his commandments: (Nehemiah 1:5 KJV) Nehemia adalah salah seorang nabi besar dalam bangsa Israel. Nehemia tidak ditulis mampu membuat mukjijat atau berkuasa atas langit dan bumi. Pencapaiannya pun sederhana, hanya membangun Bait Allah saja. Lalu, mengapa Nehemia dianggap nabi besar sampai kisahnya tiba di tangan kita hari ini? Ya - Nehemia menjadi penting karena timing atau waktu pada saat ia berkarya. Dalam ungkapan bahasa Inggris, Nehemia adalah the right man at the right place at the right time. Mengapa 'the right man'? Karena bangsa Israel sudah ratusan tahun tidak lagi memiliki orang sekaliber Nehemia. Sekali lagi bukan dalam hal adu kuat atau kuasa, melainkan dalam ketulusannya. Sesudah Allah menyelamatkan Israel dari tanah Mesir, bangsa ini jatuh ke dalam comfort zone. Raja-raja menjadi lalim, pemuka agama menjadi koruptor, rakyat berperilaku seperti binatang, dan tata krama yang diturunkan oleh Musa sudah kacau balau. Tak heran jika Allah sendiri murka dan mengijinkan bangsa Israel dikalahkan oleh bangsa lain, dan menjadi bangsa terjajah lagi. Tembok Bait Allah pun hancur, hartanya dibawa ke Babilonia untuk dijadikan persembahan pada dewa-dewa kafir. Mengapa ini bisa terjadi? Karena Israel tidak memiliki pemimpin seperti Musa dan Harun lagi. Semua pemimpin bangsa Israel cenderung korup, serakah, dan tidak mengindahkan ajaran Allah. Sampai Nehemia tiba. Nehemia adalah 'the right man' karena ketulusannya. Ia tidak diwarnai kepentingan pribadi, ia tidak dicemari nafsu kekuasaan. Hatinya hancur ketika ia mendengar Bait Allah luluh lantak. Dengan tulus pula ia berdoa, mengingatkan Allah akan janjinya pada semua orang yang taat kepadaNya. Ya - Allah mendengar Nehemia, karena ketaatan dan ketulusannya. 'The right time' karena bangsa Israel sedang benar-benar terpuruk. Kalau dua bab sebelumnya dalam Alkitab dikisahkan betapa bangsa Israel berjaya, kini mereka tunduk dalam cengkeraman bangsa asing. Semua keindahan masa lalu, paskah, sepuluh tulah, terbelahnya Laut Merah, kini hanya legenda belaka! Disinilah waktu kehadiran Nehemia sangat penting. Karena jika tidak ada Nehemia, maka Allah dan bangsa Israel akan tetap berjauhan. Karena Nehemia-lah Allah mengingat bangsa Israel kembali. 'The right place' karena Nehemia adalah pemegang piala Raja. Pemegang piala sama dengan pencicip makanan Raja, yang sangat dipercaya oleh Raja dan setiap saat siap mati jika ada yang ingin meracun Raja. Pada posisi ini, Nehemia bisa melakukan sesuatu untuk bangsanya melalui tangan Raja. Jika posisi Nehemia tidak sepenting ini, mungkin saja Nehemia didepak dan dilupakan. Jadi, integritas seorang Nehemia, bersamaan dengan waktu yang tepat dan fasilitas yang dimilikinya, membuat ia mampu membangun kembali Bait Allah dan menegaskan kembali janji Allah pada bangsa Israel dan umat manusia. Jika bukan Allah sendiri yang merencanakannya, siapa lagi yang mampu? Periksalah diri kita masing-masing. Apa yang menjadi panggilan kita? Karena Allah pasti sudah menyiapkan the right time dan the right place untuk kita. Am I the right man to do the job? Tomang, 29 April 2012

Friday, February 10, 2012

Hidup dan Mati


“Kalau tidak ada kebangkitan orang mati, maka Kristus juga tidak dibangkitkan”
1 Korintus 15:13
“Sebab jika benar orang mati tidak dibangkitkan, maka Kristus juga tidak dibangkitkan”
1 Korintus 15:16
“Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu”
1 Korintus 15:17

Dari semua tantangan alam, hampir semuanya sudah bisa ditangani oleh manusia. Dinginnya udara bersalju sudah bisa dibuat nyaman oleh teknologi pemanas dengan boiler dan pemanas lantai. Hembusan angin dingin sudah bisa ditahan oleh jendela ganda dengan gas Helium di tengahnya sebagai insulasi. Sungai-sungai raksasa bisa dibendung dan dijinakkan untuk dijadikan pembangkit tenaga listrik. Bahkan gunung berapi sudah bisa dibuat pemodelannya, sehingga peringatan bisa disebar sebelum meletus untuk menghindari korban. Terakhir, teknologi nuklir dan fisika materi sudah menjangkau ranah sub-molekuler untuk dieksploitasi sebagai penghasil tenaga listrik. Jika ribuan tahun lalu manusia terlihat lemah: mudah terinjak oleh dinosaurus, mati kelaparan kalau musim dingin tiba, atau terserang penyakit yang tidak ada obatnya – kini manusia sudah berbeda. Bisa dibilang, manusia sudah hampir menguasai alam semesta.

Namun, ada dua hal yang tidak bisa ditaklukkan oleh manusia: waktu dan kematian. Semua yang hidup akan mati – hanya masalah waktunya saja kapan. Dan mati bukanlah masalah teknologi – bahkan di jaman canggih, dengan Magnetic Resonance Imaging untuk scan otak, dengan antibiotik untuk membunuh bakteri, dengan teknologi kloning dan transplantasi sekalipun, semua orang tetap saja akan mati. Dan, semua orang beranjak dari muda ke tua. Tidak ada teknologi yang bisa membelokkan kematian, tidak ada teknologi yang bisa melengkungkan waktu. Yang ada hanya manusia, yang bercengkrama, berkegiatan, berbicara, tertawa, tetapi tiba-tiba kemudian meninggal. Dan, habislah hidup ini!

Hidup adalah hakekat. Hidup adalah yang membuat segala sesuatu menjadi baik. Hidup adalah pertanda adanya harapan. Tahun 1977, Ilya Prigogine, seorang ahli kimia fisik, menggagas tentang konsep sebuah satuan bernama entropi dalam termodinamika. Entropi adalah derajat kekacauan suatu sistem. Angkanya negatif, dan semakin besar angka negatifnya, semakin mudah proses itu terjadi. Misalnya seperti ini: proses pecahnya vas keramik memiliki entropi yang negatif. Proses ini disebut spontan, karena vas keramik cenderung pecah: tersenggol, tertiup angin, atau miring sedikit saja, vas akan pecah. Bahwa vas itu tidak pecah, hanya karena dijaga terus-menerus. Jadi, harus ada usaha untuk menjaganya agar tidak pecah – apalagi membuatnya dari tanah liat. Nah, proses pembuatan vas, dan penjagaan vas, entropinya positif. Tidak spontan. Harus ada yang membuat, berusaha, berkeringat, berlelah-lelah berjam-jam, untuk membuat sebuah vas keramik. Usahanya sulit, entropinya positif. Untuk pecah, butuh waktu beberapa detik saja. Entropinya negatif – proses ini spontan.

Jadi, semua proses di dunia ini yang melibatkan kehancuran, kerusakan, nihilisme, adalah spontan. Jadi, semua yang ada di dunia, cenderung akan menjadi rusak, busuk, hancur, dan berantakan.
Kecuali hidup. Hiduplah yang membuat manusia berganda, hewan berkembang biak, tanaman berkecambah. Seseorang yang baru meninggal dunia, wajahnya sama persis dengan waktu dia hidup, bukan? Namun, hidup sudah tidak ada dalam tubuhnya. Proses pembusukan sudah mulai, bakteri mulai merusak jaringan dalamnya. Hidup sudah tidak ada, dan kini entropi meraja lela: menghancurkan semuanya kembali menjadi debu. Hidup, selalu kalah oleh waktu, oleh kematian.

Oleh karena itu, berbahagialah kita karena Tuhan Yesus sudah bangkit! Satu-satunya harapan melawan kematian, ketiadaan, dan kesia-siaan, adalah kebangkitan Kristus. Jarang sekali Rasul Paulus mengulang sebuah topik, tapi dalam 1 Korintus 15, dua kali ia berkata: bahwa kalau Tuhan Yesus tidak bangkit, maka percuma saja kita beriman. Kalau Ia tetap mati, maka Ia tidak ada bedanya dengan kita, yang akan mati juga. Kalau Ia tidak mengalahkan kematian, maka buat apa kita beriman? Bukankah kita hanya akan menjadi subyek dari pergulatan para dewa, seperti dalam kisah Yunani ‘Perang Para Dewa’?

Tuhan Yesus bukan hanya memberi sebuah konsep, tapi sebuah bukti. Ia bangkit! Berarti, kita juga bisa bangkit. Berarti, perjuangan kita di dunia ini tidak sia-sia. Berarti, ada harapan untuk mengalahkan nasib, mengalahkan alam, mengalahkan entropi, dari Sang Pencipta Termodinamika itu sendiri. Jadi, kita harus hidup lebih optimis. Paulus sendiri menjelaskan, kalau tidak ada kebangkitan, maka “marilah kita makan dan minum, sebab besok kita mati” (1 Korintus 15:32). Tidak perlu beramal baik, tidak perlu sopan-sopan. Reguklah kenikmatan dunia sebanyak mungkin, selagi bisa. Bukankah begitu? Untungnya, Tuhan Yesus sudah bangkit!

Maka, fokus kita harus dialihkan. Bukan hanya pada hidup di dunia sekarang ini – tetapi kehidupan nanti, setelah mati. Ingat, semuanya tidak sia-sia. Kristus telah mengalahkan kematian untuk kita. Ada harapan, bahkan harapan itu sudah dibuktikan oleh Kristus sendiri! Maka, hiduplah dengan benar, fokuslah pada Kristus. Ya – semua orang akan mati. Tetapi dalam Kristus – semua orang akan bangkit dan hidup kembali! Marilah memusatkan pikiran kita melewati kematian, menuju kehidupan yang kekal itu.

Amin.

10 Februari 2012 

Sunday, January 29, 2012

Obituary: Drg. Daniel Nazarudin, born Thio Tjong Bing. A Good Dentist, A Great Person, The Greatest Dad


On Monday, January 23rd, 2012, at 20.40, my father, Drg. Daniel Nazarudin, born Thio Tjong Bing, passed away. He was 64.

Thio Tjong Bing was born in Pekalongan, Central Java, on February 3rd, 1947, to Thio Tjin An and Oey Sioe Kim. Thio Tjin An owned a car workshop in Pekalongan, which is why my father always had a passion for all things mechanical. In our family, he is ‘the last handyman’ – while the younger generation prefer to throw away broken stuff and getting new ones, he would dutifully spend much time and money in trying to fix broken equipments. Just weeks before he passed away, he had a project to fix our water pumps, causing a shortage of water supply in our house for a while – then he later told me: “You’re right – in the end I decided to buy a new one!”. But he didn’t give up – eventually he did fix the broken pump and now we have 2 pumps in our house.

Thio Tjong Bing had an older sister, Thio Giok Hiang. Both had a happy childhood, my dad being the adventurous one and his sister being the obedient one. He often spoke of my grandmother’s fondness for kungfu novels and movie theatres, and my grandfather’s excel in Dutch language and music. His happy childhood was cut short as his father, Thio Tjin An, passed away when he was in Junior High School. I remember my grandmother told me that both children came crying to her, because they were afraid that they can’t go to school anymore. “From that moment on, I sold everything I had, one by one, to finance the education of your dad and your aunt” said my grandmother.

Pursuing education brought Thio Tjong Bing from Pekalongan to Semarang, where he spent his Senior High School at Loyola College, and then to Bandung. My father always wanted to be a civil engineer or an architect. But at that time, he did not have a chance to go Bandung’s Institute of Technology, which had a good architecture department (where his sister studied and I got my degree from). Instead, faith brought him to the Faculty of Dentistry, Padjadjaran University, also in Bandung. He doesn’t like dentistry, but that does not stop him from being a perfectionist at work. “I never liked dentistry, so I need more energy to perform my work perfectly” he said once. “Being a dentist is a dilemma: when you’re young, you have a lot of energy, but not enough experience so you have only few patients. When you’re older and more experienced, you’ll have more patients, but not anymore the energy to perform the work – so you just can’t reap the maximum financial benefit out of this profession” he said.

After he retired from hospital duty and focused on his own practice, he seemed to enjoy his work more – not because of the work itself, but because his profession prompted him to meet a huge network of friends. “When I go to your father to fix my teeth, it takes him 15 minutes to do the job and 45 minutes to chat!” commented a friend of mine. He was always a ‘people person’, and in people finally he is at peace with his career.

It is in his university years, in 1967, that the Indonesian Government required all Chinese Indonesian to bear an Indonesian name. He chose ‘Daniel Nazarudin’ as his name, stated by a decree on the same year. It is also in this period, that he met my mother, Ketty Wilandow (born Oey Ketty), a student at the Law School of the University of Parahyangan in Bandung. They told me a story of how they met: it involves a roundabout at Jl. Dr. Otten, Bandung. Under the shade of the waving mahogany branches, my father rode a motorcycle on one side of the roundabout, going from his dorm at Jl. Dago to his campus at Jl. Dipati Ukur, while my mother rode a motorcycle on the other side, going from her house at Jl. Pasirkaliki to her campus at Jl. Merdeka. Their family already knew each other, so the story is probably romanticized, but yet it is in those frequent rendezvouz that they fell in love. My mother, three years senior to my father, was fixing her mind to her study, not marriage. “But your father was very persistent” she said with a smile.

They got married in Queen Restaurant Bandung, on December 22nd , 1974. After the marriage, they had three children: Harry Hardianto Nazarudin, and twin sisters Erika Amelia Nazarudin and Erina Natania Nazarudin. My memories of my childhood were very happy ones, although we did not have much at that time. I remember my father went to work on a red ‘Duck’ Honda 50 motorcycle, often braving through rains and bad weather. I remember our first black and white TV, which was a great luxury for us. But my father always cherished his cars – it is by the cars he owns, he measures his success. We went from a frequently-broken battered-old Peugeot 405, to a rattling loud red Daihatsu Taft, and finally my father managed to buy his first pride: a green Honda Civic Wonder sedan. “I dreamt last night, that your grandpa came and had a look at our new car!” he exclaimed to me one morning.

Tooth by tooth, filling by filling, he managed to grow our family’s finances from scratch. We moved from a small house at Jl. Bima 155, where he had his private practice, to Jl. Walik 11. We spent some years there, then moved to Jl. Bima 98, right in front of his practice, so he does not have to travel far to go to work. This house was his dream: bought as a run-down house, he built it brick by brick over long periods of time, depending on a tight budget, to become a 2 story residence. His prized car also improved: now it’s a white Honda Accord Maestro. He used to polish and treat the car like his most valuable possession, nobody could tamper with its white paint.

Nothing could have prepared us for what was coming in 2007: on a dark day, July 15th, 2007, his daughter, dr. Erina Natania Nazarudin, who studied medicine and was sent on assignment in Fakfak, West Papua, lost her life in a car accident after having saved 2 lives: a mother and her baby with a birth problem. It was a shock for the whole family, whom hitherto had a peaceful, calm, and happy life. This was the first introduction to death, in its most dreadful form, for the whole family. My father was deeply saddened by the incident. But after a while, he seemed to accept it. “Erina is already happy in Heaven” he said, repeatedly. “It is the living that we need to take care of”.

Dad has an uncanny ability to laugh. Whenever he gathers with his companions, there is always laughter on the table. His friends call him names, and he would retaliate. He is a true sanguine: from laughter to anger, from sadness to joy, for him it’s just a matter of time. They were all short bursts – he was never sad or angry at long periods of time. He is always good with people, he can connect with almost everybody. Being a doctor, his true calling is to help people. And he is always proud of it. “Doctors work on their own – there is no boss to supervise you. So you can only be true to yourself” he said. That’s also why, he never became ‘a businessman’ he’d always wanted to be. The business world is just too complex for him – full of mischief and dark strategies. Yet, sometimes he became disappointed with himself, not being able to be ‘the rich businesspeople’.

On death, he had one wish. “I don’t want to be sick for a long time” he said once. “If my time comes, just make it quick – I don’t want to be a burden to the living”. Just a few weeks before, we had a conversation when he visited me in Jakarta, discussing about family members who have been given longevity. “Most of them, Dad, are not like your father – exuberant dynamic person with bursts of emotion. Most of them are calm, relaxed people, who accept life as it is and not trying to change it too much. So you have to be like that, if you want to live a long life” I told him. He smiled – he knew he’s not that type, and neither am I. On January 24th, 2012, in the arms of his wife Ketty Nazarudin, at their residence in Jl. Bima 98, Drg Daniel Nazarudin passed away suddenly after having his last dinner: a hearty portion of chicken satay and lontong from his favorite, RM Sate ‘Asli’ at Jl. Maulana Yusuf Bandung. He passed away according to his wish: blisteringly fast, sending another shockwave for the family.

But then again – as Dad always said: we need to care for the living, as the dead is already happy with Lord Jesus in Heaven. Looking back, if there is one thing that I could change, it is that I would like him to see myself making a family, going through struggles and tribulations as he did, listening to his advice along the way. It is rather sad that as my journey is starting, his ended. What I can do now, is to share memories of him, like he did with his own father, and uses it to propel my life into the future with great confidence and strength, so Dad would visit me in a dream one day when I buy my first Ferrarri and said: Well done son!  I know you can do it!

Farewell, Dad. Till we meet again.

PS: please pray for my mother, Ketty Nazarudin, who is currently being treated for stroke at a hospital. May the Lord give her strength to move on.

Bandung, 29 January 2011

 
  

Thursday, November 03, 2011

Perawatan Iman Secara Berkala


“Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik”
1 Korintus 15:33

Pagi-pagi sebelum berangkat ke kantor, saya mendapati ban mobil saya kempes. Terpaksa, dalam keadaaan sudah malas dan bangun terlambat, saya mengirim sms pada sekretaris di kantor, menginformasikan bahwa saya terlambat. Kemeja lengan panjang dan celana katun saya ganti celana pendek dan kaus, lalu merangkaklah saya di kolong mobil dan mengganti ban dengan ban cadangan. Repot, panas, kotor lagi! Ban yang kempes saya pasang di belakang, lalu saya ganti baju lagi, dan menyetir mobil ke tukang tambal ban terdekat. Disana, tukang tambal ban langganan saya, dengan sigap mengambil ban, lalu mulai memeriksa ban yang kempes tersebut untuk mencari lubangnya. 

Wow! Saya kaget. Untuk Anda yang berkendara, baik motor maupun mobil, sadarkah Anda, bahwa nyawa Anda ada di tangan ban mobil Anda? Walaupun Anda mengendarai Porsche Cayenne atau Suzuki Carry, tetap saja kenyamanan berkendara tergantung pada benda melingkar hitam dan jelek ini. Semua fitur kenyamanan mobil – dari GPS, ABS, sampai cruise control – semuanya hanya berguna kalau ban Anda tidak kempes. Ban inilah yang menjadi titik kontak antara kenyamanan mobil atau motor Anda dengan aspal jalanan yang panas, kejam, berdebu, dan kotor. 

Saya kaget ketika saya melihat ban saya sendiri. Saya berpikir, pastilah mudah menebak mana yang bikin kempes: lihat saja mana paku yang kelihatan menonjol. Ternyata, banyak sekali benda-benda asing yang tersangkut di ban saya! Ada batu kerikil besar, ada potongan besi, banyak sekali batu-batu kecil, dan lain sebagainya. Satu-satunya cara akuran menentukan mana yang kempes adalah dengan air dan sabun! Tapi, sadarkah Anda, bahwa selama Anda berkendara, seberapa sering ban mobil Anda menemui tantangan – dari kerikil kecil sampai besar, paku, besi, batu, semen? Ketika tukang tambal ban membersihkan ban saya, dan mencungkil semua kotoran yang ada, saya bisa merasakan seolah ban mobil saya bernapas lega...

Saudaraku, ban mobil tadi bisa diibaratkan sebagai iman kita. Sadarkah Anda – apa yang membuat kita hidup normal di jaman edan ini? Apa yang membuat kita terus bertahan, walaupun ada masalah, ada cobaan, ada kekecewaan? Apa yang mencegah kita lompat dari lantai 10 untuk bunuh diri, atau berubah menjadi perampok dan kriminal, atau masuk ke rumah sakit jiwa? Ya – iman kitalah yang membuat kita bertahan. Iman kitalah yang menjadi bemper setiap kali ada benturan dengan kekecewaan, menjadi pegangan setiap kali kita terperosok ke dalam jurang kegagalan, dan menjadi tali yang menarik kita keluar dari sumur depresi. Iman kita – seperti ban mobil kita – setiap hari berduel dengan kejamnya aspal jalanan, menahan benturan dari trotoir, tusukan besi tajam, atau kerasnya sudut kerikil. 

Seperti ban, pastilah kadang-kadang ada benturan yang cukup kuat yang membuat iman kita kempes. Bagaimana cara mencegahnya? Sebelum kempes, rawatlah iman Anda! Sering-seringlah berkegiatan di gereja, mendengarkan khotbah, atau ikut persekutuan gereja. Di dalam pergaulan Kristen, di dalam nyanyi dan lagu dan pemberitaan Firman, ‘ban’ iman kita diteliti, dicungkili kerikil-kerikilnya, dan dicabut besi-besi yang tertancap disitu. Apakah Anda merasa sepertinya ‘begitu-begitu saja’ ketika beribadah? Ini sama seperti kita rela bayar mahal untuk melakukan servis mobil di bengkel mentereng, sementara untuk ban cukup di bawah pohon rindang saja! Padahal, perawatan ban, sama seperti perawatan iman, adalah penting. Ingat, jika iman Anda kempes, maka seluruh mobil Anda tidak akan bisa digunakan, bukan?

Jadi, carilah pergaulan yang baik, rawatlah iman Anda secara berkala!

Kedoya, 3 November 2011

Thursday, October 20, 2011

Jadilah Sempurna!



"Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti BapaMu yang di Sorga adalah sempurna"
Matius 5:48

Saya baru kembali dari sebuah perjalanan dinas ke Italia. Disana, karena kami berada di dekat kota Milan, kami dianjurkan untuk mengunjungi bergamo, sebuah kota tua yang cantik. Bergamo adalah warisan dunia, yang memiliki bagian kota lama yang terletak diatas bukit. Kota ini memiliki banyak bangunan dan gereja kuno, dengan jalan-jalan sempit, dipenuhi oleh wangi roti yang baru matang pada pagi hari ketika kami sampai disana. Sekilas, kota ini mirip dengan Venezia, hanya Bergamo terletak diatas bukit dan dipagari benteng tinggi, bukan diatas laut. Untuk kesana kami harus menaiki 'furnicolare', atau cable car, yang menyajikan pemandangan indah ke arah kota di pagi hari.

Kami terus terang tidak tahu akan pergi kemana. Di dinding ada sebuah peta, kami hanya menebak saja sebuah pelataran di tengah kota yang mungkin adalah alun-alunnya. Kamipun menuju kesana, sekali lagi tanpa tahu arah dan tujuan karena daerah ini bukan tujuan wisata umum untuk turis Asia. Ada sebuah bangunan gereja yang cukup cantik, dan saya putuskan untuk memasuki gedungnya. Dari dalam, nampak sebuah gereja yang semula kelihatan biasa saja. Sampai.... ketika kami melihat ke atas!

Diatas kami, terhampar sebuah keindahan yang luar biasa. Kira-kira 15 meter diatas kami, sebuah langit-langit yang cantik dan indah memancarkan pesona kesempurnaan yang luar biasa. Nampak lima buah lukisan, satu di tengah dan keempat lainnya mengelilingi di sisinya, yang diapit oleh ukiran tanaman berbalut emas dan ukiran patung-patung malaikat. Patung-patung tersebut nampak seolah hidup, menopang langit-langit dengan sayapnya. Betapa indahnya! Kami langsung tahu, dari aura keindahannya, bahwa tempat ini pastilah bukan tempat biasa. Betul saja: itulah Duomo Santa Maria Maggiore, katedral utama dan gereja terpenting di kota tua Bergamo. Luar biasa!

Sebelum saya berangkat ke Italia, saya sempat menghadiri sebuah pameran seni kontemporer di Jakarta. Lalu, disana ada sebuah bagian yang menyajikan karya-karya pelukis lama: "Old Masters" judulnya. Tentu saja, karya-karya Old Masters ini selangit harganya dan nampak kusam dibanding karya-karya baru. Namun, auranya tetap berbeda. Lukisan Barong dari Affandi, lukisan gadis penjaja makanan dari Lee Man Fong, dan lukisan Gunung Meletus karya Raden Saleh. Saya ingat, di kantor kerja Soekarno, presiden pertama RI, mungkin satu-satunya presiden yang paham kesenian, terpampang lukisan Soedjojono, "Wajah-wajah Revolusi", yang berwujud lukisan wajah para pahlawan pejuang kemerdekaan Indonesia.

Salah satu lukisan yang terpajang di ruang pameran membuat saya terpana. Ini juga karya Soedjojono, berjudul "Indahnya Tanah Airku". Gambarnya aneh: tiga orang, yang satu tentara, yang lain petani yang memanggul senjata, nampak sedang bengong memandang ke arah kanan. Semuanya nampak tertegun tanpa ekspresi. Di latar belakang lukisan nampak sebuah bukit dan sungai. Tapi, tidak jelas apa yang mereka lihat. Lukisan ini seolah terpotong, karena sisi kiri - titik arah pandangan semua orang di lukisan ini - tidak nampak. Rupanya, saya mendapatkan jawabannya. Waktu sebelum kemerdekaan, tidak terbayang seperti apa negara kita jadinya. Wujud Republik yang diperjuangkan mati-matian dan sudah menelan banyak nyawa tersebut, masih belum jelas. Jadi, memang tidak ada di lukisan itu. Namun, wajah rakyat sudah memandang kesana. Terlihat rakyat bahu-membahu, apapun profesinya, semua memandang ke arah yang sama. Takut, tidak pasti, namun berdiri sebagai sebuah bangsa yang merdeka - bukan lagi orang jajahan. Jenius! Sebuah pengejawantahan dari idealisme kemerdekaan yang begitu realistis dan indah.

Lalu, saya bandingkan karya itu dengan karya-karya seniman modern seperti Ay Tjoe Christine atau Heri Dono. Maaf seribu maaf, saya bukan ahli seni dan tidak patut jika pendapat saya dianggap sebagau panutan. Namun, saya heran. Mengapa saya tidak menemukan 'getaran' Soedjojono dan Affandi dalam karya Ay Tjoe dan Heri Dono? Sama seperti keindahan gereja Santa Maria Maggiore tadi. Mengapa bangunan-bangunan masa kini, dari BNI 46 sampai Marina Bay Sands, tidak ada yang bisa menyaingi keindahannya?

Jawabannya adalah: kesempurnaan. Kini, manusia dipasung oleh duit. Jika saya menujukkan gambar langit-langit Santa Maria Maggiore pada arsitek masa kini untuk membuatnya, maka pertanyaan yang pertama muncul adalah: "Pasti akan mahal sekali!". Ya. Abad ke 14, pada saat gereja ini dibangun, orang masih belum mengenal uang. Raja menyediakan sarana apapun yang dibutuhkan oleh sang arsitek, dan sang arsitek diberi kebebasan untuk berkreasi tanpa dibatasi oleh uang. Iapun bebas mewujudkan impiannya, melebihi batas-batasnya sebagai manusia, dan melahirkan sebuah karya yang illahi - divine works of art. Karya yang hanya mungkin hadir dari hati seorang manusia yang kagum atas TuhanNya. Sempurna!

Jaman sekarang, kita sering lupa, bahwa orang Kristen dituntut untuk menjadi sempurna, karena Bapa yang menciptakan kita adalah sempurna. Kita sering merasa cukup dengan kecukupan kita - cukup taat aturan, sekali-sekali saja menerobos lampu merah. Cukup rajin bekerja, sekali-sekali saja bolos. Cukup segini saja, untuk apa maju lagi. Kita jarang berjuang untuk sebuah kesempurnaan, karena menjadi sempurna seolah terlalu mahal secara ekonomis, dari segi waktu maupun uang. Namun ingat, bahwa sebagai orang Kristen kita dituntut untuk sempurna. Dan sebagai orang Kristen kita bisa bernapas lega, bahwa kesempurnaan itu pernah muncul dari jaman keemasan iman Kristen di Eropa. Lihatlah Basilika Santo Petrus di Vatikan, Piazza Sam Marco di Italia, St. Stephansdom di Wina, dan Santa Maria Maggiore di Bergamo. Itulah bangunan-bangunan yang didirikan atas dasar cinta seorang manusia ke pada Tuhannya, dengan dedikasi penuh untuk mencapai kesempurnaan. Dan kesempurnaan ini masih terpancar sampai sekarang, ratusan tahun sebelum karya itu dibuat!

Jadi, ingatlah, bahwa menjadi sempurna adalah misi untuk orang Kristen. Janganlah kita puas untuk sekadar cukup - hiduplah dengan kesempurnaan, janganlah berhenti sampai titik sempurna itu tercapai. Niscaya, iman Kristen akan terpancar dengan sendirinya, dari indahnya karya-karya yang dihasilkannya.

Tomang, 20 October 2011

Thursday, September 08, 2011

Angin Yang Berjasa



“Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh.”


Yohanes 3:8

Dalam sebuah pertunjukan ludruk, seorang penonton yang sinis nampaknya tidak puas dengan apa yang dipertunjukkan hari ini. Alih-alih bertepuk tangan, dia berteriak kepada pemain ludruk: “Apa sih kalian ini, isinya cuma angin!” katanya. Sang aktor ludruk bukannya marah malah tertawa, lalu menghadap si penonton tadi. “Bapak kesini naik apa?” tanyanya. “Naik motor!” jawab si penonton. “Kalo gitu, coba bayangin kalo bannya kempes, nggak ada anginnya!” katanya. Penonton pun tertawa terbahak-bahak.

Kita memang kadang-kadang melupakan pentingnya angin ini. Angin memang tidak berbentuk, hanya bersuara seperti yang dijelaskan dalam Alkitab. Angin ini juga malah menjadi kiasan untuk sesuatu yang kosong, hampa, tidak berisi dan tidak bermutu. Angin tidak bisa dilihat, bahkan ilmu pengetahuan dan kamera tercanggih pun tidak bisa menangkap pergerakan angin. Sehingga ketika Tuhan Yesus menggunakan kata angin untuk melukiskan orang yang lahir dari Roh, apalagi ketika berbicara dengan Nikodemus yang berpendidikan dan Ahli Taurat, pasti Ia sudah memilih kata-kataNya dengan cermat.

Ban adalah bukti betapa pentingnya angin. Dari sejak jaman dokar ditarik lembu, sampai mobil Ferrarri tercepat di dunia, semuanya membutuhkan ban yang isinya angin. Tanpa angin, bahkan pesawat jet Sukhoi yang paling canggih sekalipun tidak bakal bisa terbang. Tidak ada teknologi yang menggantikan angin, sehingga bahaya ban kempes bisa mengancam dari delman, motor, mobil, sampai penerbangan Lion Air dengan Boeing 737-900ER. Bahkan saya yang sudah siap bekerja pun hanya bisa bengong ketika kelihat ban saya kempes habis kemarin!

Dalam perikop diatas, Nikodemus mempertanyakan konsep kelahiran baru. Bagaimana seseorang bisa lahir kembali? Apakah dia harus balik ke rahim ibunya dan dilahirkan kembali? Begitu pertanyaannya. Tuhan Yesus menjawab, bahwa yang lahir dari daging adalah daging, dan dari Roh adalah Roh. Jadi, Tuhan Yesus mendefinisikan bahwa daging dan Roh memang dua hal yang berbeda. Seseorang boleh jadi sudah lahir secara daging, tapi belum secara Roh. Ketika Roh itu hadir dalam hidup seseorang, barulah terjadi kelahiran Roh.

Lalu, bagaimana proses kejadian ‘kelahiran Roh’ ini? Dapatkah kita memasang kamera untuk merekamnya seperti proses kelahiran daging? Tuhan Yesus menyebut dengan jelas dalam perikop diatas, bahwa kita tidak tahu dan tidak bisa melihat prosesnya, tetapi kita ‘bisa mendengar bunyinya’. Ya! Orang-orang yang lahir secara Roh, pasti terasa di masyarakat. Lihatlah pecandu narkoba yang bisa sembuh, orang-orang sakit yang tetap memiliki semangat hidup tinggi, orang yang depresi bisa menemukan semangatnya kembali, dan lain-lain. Banyak sekali buku-buku dan cerita kesaksian mengenai ‘kelahiran Roh’, yang bisa kita dengar dimana-mana. Prosesnya sendiri adalah proses yang sangat pribadi, yang tidak bisa didokumentasikan atau direkam seperti kelahiran daging. Namun, efeknya bisa terlihat dengan jelas, sama seperti nikmatnya perjalanan kita tadi pagi, karena angin kasat mata yang ada di dalam ban kendaraan kita.

Kedoya, 8 September 2011

Wednesday, September 07, 2011

Sabar!

“Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.”
Galatia 5:22-23



Pernahkan Anda terjebak kemacetan ketika Anda sudah terlambat? Kalau Anda tinggal di Jakarta, ibukota macet sedunia, pasti Anda ingat betapa mengerikannya situasi seperti itu. Anda harus tiba di Sudirman pada jam 14.00, sementara sekarang sudah jam 13.30, posisi Anda di Slipi. Di depan Anda berjajar mobil-mobil berdesakan, motor yang melintas nekad, bus yang malang-melintang, metromini dan kopaja yang gagah memotong jalur siapa saja yang menantangnya, serta busway yang berusaha menyeruak di tengah kerumunan lalu lintas Jakarta. Padahal, rapat sore ini sangat penting, Anda bertemu pelanggan dari Jepang yang terkenal sangat tepat waktu, ingin mengadakan pembicaraan finalisasi order yang sangat Anda butuhkan dan sudah Anda rintis sejak 3 bulan yang lalu. Celaka dua belas, bukan?



Suara lagu di radio yang biasanya merdu menjadi jeritan yang menakutkan. Tawa renyah penyiar radio bagaikan tawa kuntilanak yang menertawakan keterlambatan Anda. AC mobil yang sudah disetel maksimum gagal mencegah mengucurnya keringat Anda. Jantung Anda berdetak semakin kencang, ingin rasanya membunuh dan mencincang motor atau pejalan kaki yang memotong jalan di depan Anda. Tidak sedikitpun Anda memberi kesempatan pada orang lain untuk melintas, kalau perlu, tabrak saja! Tekanan darah terasa meningkat, setitik saja kejadian bisa memicu pertengkaran, adu jotos, bahkan saling merusak. Ya – Anda siap membunuh siapa saja yang menghalangi jalan Anda! Semuanya yang sudah lambat bergerak semakin lambat, seolah-olah seperti melalui lorong waktu. Sementara detik waktu melalui kelipan tanda titik dua di jam digital mobil Anda berkelip-kelip tanpa dosa, begitu cepatnya, seolah tidak peduli pada suasana super stress yang Anda alami.


Namun, rute yang sama pernah pula saya alami dengan suasana yang jauh berbeda. Jamnya sama, hanya kali ini saya ada di Slipi jam 2 sore, tetapi janji rapat saya adalah jam 4 sore, pada hari yang sama. Mobil-mobil berdesakan seperti biasa, motor-motor berseliweran tak perduli. Bus damri pun tetap memotong jalan dengan gagahnya. Tetapi mengapa hati saya lebih tenang? Lantunan musik Jazz dari sebuah radio mengalun merdu, bahkan sesekali lelucon penyiar radio membuat saya tertawa terbahak-bahak. Saya sempat mengeluarkan kamera untuk memotret gedung pencakar langit di jalan S. Parman yang nampak cantik diterpa sinar mentari sore, dan tersenyum pada motor yang menyerempet spion saya. Mengapa perjalanan ini menjadi terasa indah, menyenangkan, santai?



Padahal, waktu tempuh dari Slipi ke Sudirman tetap sama. Dari keluar tol Slipi sampai Gedung Mid Plaza, butuh waktu kira-kira 1 jam. Mau saya lalui dengan super stress, marah-marah, atau dengan tersenyum sambil foto-foto, waktu tempuhnya tetap 1 jam, bukan? Tapi, ketika saya punya banyak waktu, jalanan nampak mengalir tenang, sementara pada saat saya terpepet waktu, semuanya terasa seperti slow motion. Heran ya, bisa sedemikian besar bedanya, untuk jarak dan waktu tempuh yang sama?



Teman, jalanan ,macet tadi adalah hidup kita, dan anugerahnya adalah kesabaran. Kita punya hidup yang sudah digariskan olehNya, dari satu titik awal ke satu titik akhir. Jarak tempuhnya tetap sama. Kita punya dua pilihan: melaluinya dengan penuh ketidaksabaran, seperti ketika terlambat tadi, atau melaluinya dengan kesabaran, seperti contoh berikutnya. Waktu tempuhnya tetap sama. Macetnya pun sama. Tetapi, dengan kesabaran, perjalanan menjadi sangat indah, bukan? Segala amarah dan detakan jantung ekstra serta makian pada motor, toh tidak akan mempercepat perjalanan kita barang sedetik pun. Namun, betapa stress yang diakibatkannya sungguh terasa bagi tubuh kita!



Lalu, bagaimana menyiapkan waktu yang cukup dalam kehidupan kita, tanpa terjebak seperti contoh pertama? Jawabannya adalah kesabaran. Kita seringkali tidak sabar pada Tuhan. Kita ingin segalanya terjadi sekarang dan saat ini juga. Kita ingin masalah segera selesai, persoalan segera tuntas, problem secepat mungkin menguap. Padahal, tidak bisa! Sama seperti di jalan raya, setiap masalah kita bersinggungan dengan orang lain, dan ketika kita diuntungkan secara tiba-tiba, maka pasti ada orang lain yang merugi. Sementara, Dia yang memberi keputusan adalah adil. Maka, kita harus bersabar dalam menghadapi hidup. Bersabar menanti keputusanNya pada saat yang tepat, bersabar menunggu hasilNya yang sempurna. Toh, segala usaha kita untuk marah dan memaki, sama seperti derasnya kucuran keringat dan peningkatan detak jantung pada suasana macet tadi: hanya sia-sia, tidak bisa sedetikpun mempercepat perjalanan kita.



Jadi, tidak heran bahwa kesabaran adalah salah satu buah roh yang diharapkan ada pada orang beriman. Bersabar pada kehidupan, bersabar pada Tuhan, memberikan ruang kepadaNya agar bisa menyiapkan segala sesuatunya dengan sempurna. Niscaya, perjalanan hidup Anda akan terasa indah, semuanya bergerak secara sinkron, bahkan ada waktu untuk foto-foto sebagai kenang-kenangan. Berilah ruang padaNya untuk bekerja, dan bersabarlah!



Kedoya, 7 September 2011