Wednesday, February 23, 2022

Ambisi Yang Mulia

“Supaya kami tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia”

FIlipi 2:15

“Ada yang mau jadi ketua disini?”

Senyap.

Sebuah pemandangan yang sudah biasa bukan? Gabungan antara ajaran Kristen yang dipahami salah kaprah, dengan budaya Timur yang dulu bikin kita terjajah. “Masak di gereja mau berambisi?” begitu kata beberapa orang. “Jangan saya, saya belum siap, masih berlumuran dosa…” kata yang lain. Padahal, nggak ada yang bilang bahwa untuk melayani di gereja harus suci dulu bukan? Tapi, itulah kenyataan yang ada, yang mengakibatkan terjadinya “brain drain” hebat di gereja. Bagaimana seseorang yang sigap bersemangat di tempat kerja, berubah jadi pasif melongo di gereja, dengan dalih diatas tadi. Lalu, harus bagaimana?

Saya pernah punya pengalaman yang tak terlupakan. Ketika dalam sebuah persekutuan kecil yang tidak penting, nggak ada juga nggak apa-apa, terjadi dialog seperti diatas. Kalau tidak ada yang mau, ya bubar jalan. Nggak apa-apa kok, kan masih banyak persekutuan lain! Semua menjembrengkan alasan dirinya tidak bisa menjadi pemimpin, atau lebih tepatnya pelayan, dalam kegiatan ini.

Saya ada disitu, dan saya terpikir oleh sesuatu. Saya seolah melihat Tuhan Yesus, duduk di sudut ruangan, mengamati kami. Dan saya membayangkan, bagaimana perasaan saya, jika saya menjadi Dia? “Baru kemarin, Aku menolong si Joko yang duduk disitu, supaya tidak jatuh ketika motornya oleng” kataNya. “Si Polan, yang di sebelah Joko, sudah bertahun-tahun Aku selamatkan dari resiko bangkrut” sambungNya lagi. “Ratna? Baru saja bulan lalu Aku beri mukjijat supaya dia punya cukup uang untuk memperpanjang kontrak rumahnya” kataNya lagi. Dan ketika ditanya: siapa yang mau maju melayani Aku disini? Semuanya membisu… Joko, Polan, Ratna, semuanya merasa sibuk…

Untung, saya bukan Tuhan Yesus. Kalau iya, maka langsung ada petir menyambar dan menghanguskan semua orang di ruangan itu! Kenyatannya, Tuhan Yesus begitu mengasihi kita, sehingga Ia tidak marah. Dan tentu saja Ia tidak membalas, meskipun Ia berhak. Tapi saya yakin, jika ada satu orang yang angkat tangan: “Ya, saya mau!” – maka Tuhan Yesus pasti senang. Ia pasti bangga, akhirnya ada juga yang mau membela! Memang, Ia tidak perlu dibela. Tapi kalau ada yang belain, ya boleh toh tersenyum sejenak?

Pada dasarkan, punya ambisi yang mulia dalam pelayanan adalah sederhana: mau membuat Tuhan Yesus tersenyum. Sama seperti senyum kita ketika anak kita yang baru saja memecahkan gelas mahal, tiba-tiba menyodorkan kertas bergambar buruk bertuliskan “I am sorry Daddy”. Bukankah sang daddy kemudian akan memeluk anaknya, dan membelikan apa yang membuatnya bahagia – meskipun besoknya giliran piring yang ia pecahkan? Yuk, kita bikin senang hati Tuhan!

Serpong, 23 Februari 2022

Tuesday, February 22, 2022

Kasih Yang Bekerja

 “Inilah perintahKu kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain”

Yohanes 15:17

 

Membaca perintah ini, apa yang kamu bayangkan? Suasana yang santai bukan? “Kasihilah seorang akan yang lain, peace bro!” kira-kira begitu. Bayangkan interior sebuah coffee shop kekinian, lokasinya di Uluwatu Bali, berinterior bambu, music instrumental, tentu saja pemandangan ke arah laut dengan ombak berdebur. Lalu, kita tinggal leyeh-leyeh di bangku-bangku, sambil sayang-sayangan. Itulah “kesan” utama dunia mengenai kekristenan: kasih, sayang, cinta, santai!

Tapi, sebenarnya ini sangat jauh dari pesan sesungguhnya yang Tuhan Yesus mau kita lakukan. Pastor Kenny Goh dalam khutbah di JPCC bulan Februari tahun 2022, menyatakan bahwa kasih itu bukan perasaan, melainkan perbuatan. Kok perbuatan? Bukan cuma sekadar perbuatan pulak! Coba lihat Yohanes 15:13, perikop yang sama: “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya unuk sahabat-sahabatnya”. Jiah, “kasih” bisa sampai berkorban nyawa?

Di ayat 15, Tuhan Yesus menjelaskan lagi, bahwa yang disebut “mengasihi” adalah BERBUAT apa yang Ia perintahkan pada kita. Kasih juga mengandung perintah, dalam ayat 16: “Supaya kamu pergi dan menghasilkan buah”… lalu “Supaya apa yang kamu minta kepada Bapa diberikanNya kepadamu”. Rupanya, “kasih” bukan leyeh-leyeh saling membelai! Kasih adalah perbuatan, menghasilkan buah. Kasih adalah action, sampai berkorban nyawa! Dan reward dari kerja kasih ini nyata: bahwa permohonan kita akan dikabulkan.

Jadi, bayangan kita mengenai “kasihilah satu sama lain” harus berubah: bukan cafĂ© tempat leyeh-leyeh, tapi melihat suatu proyek bangunan. Dimana sekelompok orang bekerja, membawa bata, membuat tembok, memasang kayu, mengecat, sementara di sekelilingnya mungkin terlihat berantakan, tapi pelan-pelan muncul sebuah bangunan yang indah. Ya – mereka kotor, belepotan semen dan debu. Tapi, itulah gambaran “kerja kasih” yang sesungguhnya, yang Tuhan Yesus ingin kita sebagai pengikutNya, turut melakukan. Dan di ayat 9, Ia memberikan satu alasan, mengapa kita harus rela bekerja seperti kuli bangunan dalam kasih: “Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikian juga Aku telah mengasihi kamu!” katanya. Ya, Bapa sudah lebih dulu bekerja melalui Tuhan Yesus, dan Tuhan Yesus sudah lebih dulu mengorbankan nyawaNya bagi kita para sahabatnya!

Serpong, 22 Februari 2022