Thursday, August 25, 2005

Khotbah Paulus di Athena

Apa yang kamu sembah tanpa mengenalnya, itulah yang kuberitakan kepadamu”
KIS 17:23b

Bagi Paulus, berkhotbah di Athena bukanlah suatu hal yang mudah. Orang-orang Yunani, terutama di Athena, merupakan bangsa yang berbudaya sangat tinggi dan sangat tekun mendalami filsafat dan ilmu pengetahuan (KIS 17:21). Disinilah asal mula filsuf-filsuf terkenal yang gaungnya masih terdengar sampai sekarang, seperti Plato, Epikuros, dan Hippocrates. Jadi, untuk berkhotbah pada golongan orang-orang cerdik cendekia seperti ini, pastilah merupakan tantangan yang berat bagi Paulus.

Dalam ayat 18 disebutkan bahwa Paulus sempat bersoal jawab dengan orang-orang dari golongan Epikuros dan Stoa. Epikuros (hidup kira-kira pada 340 – 200 SM) adalah pendiri dan nama suatu aliran filsafat yang mengajarkan materialisme, paham yang mendewakan materi. Dari aliran ini lahir Demokritus, pencetus ide mengenai atom, dan kemudian banyak ilmuwan lain seperti John Dalton, Charles Darwin, dan Friedrich Nietzsche. Kesemuanya memiliki tendensi yang sama, yakni berpendapat bahwa Tuhan dan Ketuhanan hanyalah suatu konsep definisi materi yang berbeda dengan materi yang menyusun darah dan daging. Stoa, adalah golongan filsafat yang pada masa itu menjadi lawan dari golongan Epikuros, yakni paham yang mengajarkan logika, kebenaran, dan keadilan. Golongan Stoa mengajarkan saling tolong menolong sebagai kewajiban karena hal itu adalah baik dilakukan, tetapi tanpa campur tangan Tuhan. Golongan ini meskipun tidak sebesar Epikuros, tetapi sempat melahirkan nama besar seperti kaisar Roma Marcus Aurelius dan filsuf Cicero.

Salah satu aliran filsafat yang juga dominan pada masa itu adalah Plato, yang mengajarkan kesadaran akan adanya Sang Pencipta yang tercermin dalam setiap ciptaanNya di dunia ini. Meskipun beliau tidak menunjuk pada satu bentuk dewa, paham ini begitu dekat dengan kekristenan sehingga beberapa buku atheis bahkan mencap paham kekristenan yang diajarkan Paulus sebagai salah satu cabang dari filsafat Plato. Jika demikian, harus berkata apa Paulus agar kaum cerdik cendekia ini mau mendengar?

Sialnya, Paulus bukan saja harus berkhotbah bagi orang biasa, melainkan di depan sidang Areopagus (KIS 17:19). Areopagus berasal dari kata ‚Areios Pagos’ yang berarti bukit Ares. Bukit Ares merupakan tempat persidangan bagi dewan kota Athena yang pada saat itu dipilih dari orang-orang paling pandai dan terpandang di kota itu. Ares sendiri menurut legenda adalah orang yang pernah disidang oleh para dewa di bukit ini karena membunuh anak Dewa Laut Poseidon bernama Alirrothios. Dewan Areopagus kemudian dikenal sebagai pengadilan pertama di dunia yang khusus mengadili kasus-kasus pembunuhan. Di depan orang-orang terpandang yang kenyang ajaran filsafat, yang (seperti disebutkan dalam ayat 21) tidak punya pekerjaan lain selain menguji, mencecar, dan menggojlok pencetus-pencetus ajaran baru inilah, seorang Paulus yang bahkan dulunya pernah menjadi penindas ajaran Kristen harus berkhotbah. Bisakah Anda membayangkan betapa besar tantangan yang dihadapi Paulus?

Disinilah kita bisa melihatbetapa hikmat Tuhan benar-benar dicurahkan pada Paulus pada saat itu. Paulus dengan cerdik memilih konsep ‚Allah yang tidak dikenal’ (KIS 17:23) atau Agnostos Theos untuk menunjukkan kelemahan filsafat Yunani. Di tengah kebebasan berpikir dan penekanan pada logika dan filsafat, bagaimana mungkin orang Yunani masih percaya pada dewa-dewa yang ratusan jumlahnya, yang bersifat seperti manusia: bisa berbohong, berkhianat, menikah dan berzinah? Bagaimana mungkin mereka mengakui memiliki kemegahan dewa yang tak lain hanyalah buatan tangan mereka sendiri?

Sebenarnya, melalui konsep Allah yang tidak dikenal, orang Yunani sudah menyadari adanya Tuhan yang Maha Kuasa, yang tidak bisa dijangkau akal manusia, yang menciptakan alam semesta dan seisi dunia. Paulus kemudian menambahkan, bahwa Sang Kuasa ini akan menjamah ciptaanNya manusia dengan segala keterbatasannya. Keindahan alam pikiran dan buah tangan manusia hanyalah cerminan dari kasih dan kebesaran Sang Kuasa. Ia selalu rindu untuk melihat ciptaanNya mengabdi padaNya dalam hidup dan matinya. Akan tiba suatu waktu dimana Ia akan mengadili umat manusia dan supaya semua tidak musnah. Ia menganugerahkan anakNya yang Tunggal dan membangkitkan Dia dari liang kubur, supaya ada harapan bagi ciptaanNya itu selain daripada binasa. Luar biasa! Paulus telah membelokkan ajaran filsafat Yunani, menunjukkan dimana kelemahannya, dan sekaligus melengkapinya dengan warta tentang kebangkitan Tuhan Yesus. Paulus menjelaskan semuanya dengan logis. Ia bahkan begitu penuh hikmat sehingga berhasil menggunakan paham polytheisme Yunani untuk menunjukkan Tuhan yang Esa.

Ada beberapa pelajaran yang bisa kita ambil dari peristiwa diatas ini. Yang pertama, perhatikanlah cara Paulus menginjili orang Yunani. Ia tidak melakukan penginjilan secara hantam kromo dengan argumen ‚saya benar, kamu salah’. Ia dengan cerdik memanfaatkan paham polytheisme Yunani, untuk kemudian memasukkan ide mengenai kebangkitan Tuhan Yesus dari situ. Ia berbicara dalam bahasa dewa-dewa, bahasa yang sangat dimengerti oleh orang Yunani pada waktu itu. Paulus tidak ragu untuk ‚memanfaatkan’ paham Yunani yang notabene tidak sesuai dengan ajaran Kristen, sebagai cara untuk masuk ke dalam alam budaya Yunani.

Memang, menginjili orang yang memiliki pengetahuan luas dan intelejensia tinggi tidak semudah membalik telapak tangan. Pengetahuan yang dipandang secara manusia seringkali menjadi penghalang sehingga paham iman dan pengharapan dirasa sebagai sesuatu yang tidak logis dan absurd. Saya kenal beberapa orang pandai yang atheis, yang dengan gagah bercerita bahwa mereka sudah ‚mengetahui’ inti ajaran Kristen, sudah ‚hapal’ urut-urutan sejarah Kristen dan tidak menganggap kekristenan sebagai sesuatu yang sakral dan suci. Ada pepatah Cina yang mengatakan, bahwa hanya cangkir kosong yang bisa diisi cairan baru. Paulus, telah berhasil mengosongkan cangkir pikiran orang Yunani, dan mengisinya dengan Roh Kudus.

Lalu apa hasil dari semua ini? Memang, Alkitab mencatat bahwa banyak orang kemudian mencemooh dan melecehkan Paulus. Tetapi, toh ada beberapa orang yang disebutkan dalam perikop ini yang akhirnya bertobat, seperti Demetrius, yang adalah salah seorang anggota Dewan Areopagus. Buah penginjilan Paulus juga terlihat sampai hari ini, dimana dari semua daerah yang disinggahi Paulus, hanya Yunanilah yang sampai sekarang masih didominasi oleh masyarakat Kristen. Wilayah lainnya, seperti Siprus, Turki (Asia Kecil), Mesir, Lybia, satu-persatu jatuh dan tidak lagi didominasi oleh orang-orang Kristen. Menginjili orang pandai memang sulit. Tetapi, sekali dia berhasil diyakinkan, dia juga akan lebih teguh memegang imannya, tidak modah dibelokkan oleh paham-paham lain. Siapkah Anda meneladani Paulus?

No comments: