Wednesday, December 07, 2005

Renungan Advent Kedua 2005 - Setan Yang Sulit Diusir

“Kata Yesus kepadanya :”Pergilah, anakmu hidup!” Orang itu percaya akan perkataan yang dikatakan Yesus kepadanya, lalu pergi.”
Yoh 4:50

Ada hal yang cukup ironis pada waktu saya menghadiri kebaktian di sebuah gedung di Jakarta minggu lalu. Karena cenderung beraliran Pentakosta, sang Pendeta sebelum mulai khotbah dengan gagah ‚mengusir’ semua roh-roh jahat yang akan mengganggu kebaktian. “Dalam nama Yesus!” katanya lantang, “Kepada semua roh-roh yang akan mengganggu aliran Firman Tuhan di tempat ini, saya perintahkan keluar dari sini!”. Jemaat pun menyambut dengan hentakan dan desisan suara yang tak kalah ganasnya. Saya membayangkan, roh-roh jahat itu pasti sudah lari kocar-kacir sekarang! Namun, rupanya belum semua setan terusir keluar. Bahkan setan ini, persis di ruang kebaktian, masih berani mengganggu konsentrasi khotbah dengan bunyi-bunyian yang nyaring! Herannya, bukannya diusir dengan desisan garang, tapi jemaat malah pura-pura tidak tahu. Setan apa gerangan yang begitu besar nyalinya?

Ya, setan itu bernama handphone alias ponsel alias telepon genggam! Sangat sulit dipercaya, bahwa setelah upacara pengusiran setan yang garang itu, masih begitu banyak bunyi ponsel, dari yang polifonik sampai yang WAV, yang mendadak muncul di tengah-tengah khotbah. Kadang-kadang ada bunyi dari ponsel yang sama, bunyi berkali-kali, sementara sang empunya hanya duduk diam dengan muka tak berdosa. Malah ada yang diam-diam mengangkat ponsel dan menjawabnya sambil berbisik! Menurut saya, hal ini sangatlah tidak sopan, hampir sama dengan penghujatan. Bayangkan, kalau Anda sedang berbicara dengan seorang boss besar di perusahaan Anda, pastilah ponsel Anda dimatikan atau paling tidak diatur dalam mode sunyi, untuk menghormati lawan bicara Anda. Jika Tuhan sedang berbicara pada Anda, betapa tidak sopannya apabila ponsel Anda bertulalit melulu!

Namun, sebagai manusia modern saya menyadari betapa sulitnya hidup tanpa ponsel, bahkan untuk satu jam saja sekalipun. Bagaimana jika ada teman yang sangat membutuhkan saya, bagaimana jika terjadi sesuatu yang darurat di pabrik, bagaimana dengan janji saya nanti siang, bagaimana, bagaimana, bagaimana? Sehingga, saya pun sempat ‚menurunkan’ level hormat saya kepada Tuhan dengan mengubah mode ponsel menjadi sunyi, namun tidak dimatikan. Toh, kalau ada telepon atau sms masuk, akan terekam sehingga saya bisa menelepon lagi kemudian. Hmm, betapa sulitnya yah, hidup tanpa ponsel!

Justru disinilah iman kita diuji. Di jaman modern ini, dimana kita semakin bergantung pada teknologi – atau kita dibuat menjadi semakin tergantung pada teknologi - sungguh sulit membayangkan iman seperti pegawai istana pada perikop diatas. Bahwa ketika Yesus berkata, „Anakmu sembuh!“, ia dengan yakin pulang ke rumah, dan sungguh-sungguh mendapati anaknya sembuh. Keyakinan iman seperti inilah yang perlu kita miliki untuk mematikan ponsel selama kebaktian – bahwa janji saya tidak akan berantakan, bahwa pabrik saya tidak akan kebakaran, bahwa Tuhan pasti akan menolong teman kita dengan cara yang lain. Intinya: bahwa dalam satu jam itu, kita percayakan kehidupan kita, janji-janji kita, teman-teman kita, dan semua milik kita, hanya kepada Tuhan. Tidak sulit bukan? Mari kita coba bersama!

No comments: