Saturday, November 21, 2009

[Resensi buku] Hening - Shusaku Endo

Grace, salah satu (satu-satunya kaleeee hehehe) pembaca blog ini, menganjurkan saya untuk membaca buku ‘Hening’ karangan Shusaku Endo, setelah membaca salah satu renungan saya tentang topik yang sama. Saya yang sudah tertarik dengan resensi buku ini di Kompas, segera membelinya, namun baru sempat menyelesaikannya beberapa hari yang lalu.

Saya pernah dengar mengenai Shusaku Endo, namun sama sekali tidak tahu bahwa beliau adalah seorang jepang beragama Katolik. Novelnya yang berjudul ‘Hening’ ditulis berdasarkan kehidupan misionaris di Jepang abad ke-17. Menurut sejarah, agama Katolik dibawa ke Jepang oleh misionaris Portugis pada abad ke-16. Mula-mula, kekristenan berkembang dengan sangat pesat di Jepang, karena menemukan lahan subur: kalangan petani miskin di pesisir Jepang yang ditindas oleh kaum samurai dan pemilik tanah. Namun, pada abad ke-16, tepatnya tahun 1587, tiba-tiba Hideyoshi, seorang kaisar, memerintahkan agar semua orang Portugis diusir dari Jepang, dan melarang agama Kristen di seluruh Jepang. Bukan hanya itu - para pemeluknya dicari, ditangkapi, dan kemudian disiksa sampai mau mengingkari iman mereka. Jepang menjadi Roma kedua, dan Iemitsu (Kaisar Tokugawa ketiga) menjadi Nero kedua.

Novel ini mengisahkan tenang Pastor Rodriguez, yang datang ke Jepang secara sembunyi-sembunyi sesudah agama Kristen dilarang di Jepang. Endo mengarang plot dengan sangat cantik, dimulai dari surat-surat Rodriguez kepada para Superior di Macao, berlanjut dengan mengisahkan Rodriguez dengan sudut pandang orang pertama, sampai di akhir cerita kembali dikisahkan dalam bentuk surat, catatan seorang penulis Belanda di Jepang. Melalui penuturan seperti ini, pembaca mendapatkan kesan betapa misteriusnya Jepang pada masa itu, seperti seolah-olah menonton sebuah film flashback.

Endo menempatkan dua tokoh dalam kisahnya dengan jalinan kisah yang ironis, sedikit menggelikan bahkan, yaitu Pastor Rodriguez dan Kichijiro. Kichijiro adalah seorang penganut Kristen yang mengantar Rodriguez ke Jepang, tapi dia pulalah yang melaporkan Rodriguez ke para pengawal sehingga ia tertangkap. Rodriguez dikisahkan mengalami nasib yang jungkir balik, dari seorang pastor yang dengan bangga melayani umatnya di gereja bawah tanah, sampai menjadi tahanan dan tertangkap, kemudian disiksa lebih lanjut di penjara dekat Nagasaki, sampai-sampai ia menginjak gambar Kristus, simbol pengingkaran yang paling hakiki. Dalam tiap fase inilah, muncul Kichijiro menghampirinya - selalu dalam bentuk yang kotor, menjijikkan, licik, lemah, pengkhianat, namun konsisten.

Melalui Kichijiro, Endo melukiskan kejatuhan - atau lebih tepat disebut transformasi - sang Pastor melalui pembandingan dengan Kichijiro yang konstan. Bahkan sampai akhir hayat sang mantan Pastor, Kichijiro dikisahkan masih ada di situ dengan segala kelemahannya. Namun, di mata Kichijiro, sang Pastor tetaplah sang Pastor, representasi Deus atau Tuhan - walaupun sudah mencukur janggutnya, menguncir rambutnya, mengenakan kimono hitam, dan berganti nama menjadi Okada San’emon. Sebuah penuturan yang indah, ironi yang menyayat hati, kepiawaian Endo dalam menguras emosi pembacanya.

Ada dua masalah yang ingin dikemukakan oleh novel ini. Pertama-tama adalah dualisme antara kekristenan dan Jepang. “Kekristenan adalah seperti wanita buruk rupa dengan cinta obsesif pada pria yang adalah Jepang” kata Inoue, dalam sebuah argumen dengan sang Pastor. Bangsa Jepang dikenal memiliki karakter budaya yang kuat, sehingga apapun pengaruh asing yang masuk, akan ‘dijepangkan’ dan diubah dari wujud aslinya. Jepang diibaratkan seperti ‘rawa-rawa’, yang menghisap segala sesuatu yang hinggap diatasnya. Sebagai seorang Katolik, tentulah Endo mengalami dilema yang sama sejak kecil - mengenai dualisme antara Jepang dan kekristenan. Dualisme - atau lebih tepat disebut paradox - inilah yang membuat Endo menjadi unik, dan mampu menghasilkan karya sastra kelas dunia seperti novel ini. Orang-orang yang lahir dengan tendensi berparadox memang punya potensi sebagai penulis hebat, seperti Elfriede Jelinek dari Austria atau Franz Kafka yang legendaris itu. Dalam novel ini, Endo menyajikan sebuah dialog antara sisi Jepang dan sisi Katoliknya, menghasilkan sebuah intrik dan plot yang begitu ironis, kejam, dan lucu sekaligus.

Yang kedua adalah masalah yang dihadapi semua orang Kristen masa kini: kebisuan Tuhan dan eksistensinya. Kita bisa mudah berargumen menentang komentar salah seorang pengawal Kristus ketika Ia disalib, “Kalau benar Engkau Anak Tuhan, selamatkanlah diriMu sendiri!”. Namun, ketika kita sendiri yang sedang disalib, atau menyaksikan orang yang kita kasihi dalam penderitaan, pertanyaan ini menjadi sulit dijawab. Kalau benar Ia Allah, mengapa Ia diam saja? Mengapa Ia membisu menyaksikan penderitaan para petani Jepang itu, yang disiksa berhari-hari? Atau menyaksikan penderitaan umat Kristen diseluruh dunia, yang sakit, yang tersiksa, yang miskin?. Inilah dilema yang diajukan oleh Endo. Kalau Ia membisu, lalu apakah Ia ada? Kalau Ia ternyata tidak ada, betapa menggelikannya seluruh perngorbanan para misionaris, betapa sia-sianya semua waktu kita di gereja, betapa nihil jadinya hidup di dunia ini! Inilah jeritan sang Pastor terus-menerus di akhir cerita, yang nampaknya merepresentasikan jeritan Endo sendiri, dan jeritan banyak orang Kristen yang mengalami penderitaan.

Lalu, apakah Endo memberikan jawaban pada akhir novelnya? Tidak. Endo tidak bisa memberikan jawaban tegas, dan sepertinya tidak seorangpun bisa. Endo bisa menjawab paradox-nya - bahwa sang Pastor yang kini secara resmi menjadi mantan pastor, hidup selama 30 tahun dalam tahanan rumah di Jepang, sebagai orang Jepang, Namun, sebenarnya sang Pastor tidak murtad, melainkan disebut ‘mencapai keimanan baru’. Sang pastor - yang tetap memberikan sakramen pengakuan dosa untuk Kichijiro bahkan sesudah mencukur janggutnya - seolah berada dalam hubungannya yang baru dengan Tuhan, yang kini ada sebagai Tuhan, tidak memiliki simbol-simbol kekristenan. Bahkan ia kemudian membantu pemerintah Jepang menumpas simbol-simbol itu, dalam paksaan tentu saja. Namun, ia tidak merasa Kristus meninggalkannya. Kristus tetap ada.

Bagaimana dengan problem kebisuan Tuhan? Nampaknya masalah ini tidak ada penyelesaiannya. Namun, jika kita renungkan akhir ceritanya, ada satu pemahaman tentang Tuhan yang tersembunyi. Yakni, bahkan antara kekristenan dan keimanan ada sebuah jarak. Kekristenan - dalam hal ini lembaga gereja - bukanlah sebuah institusi yang menentukan keimanan, melainkan keimanan lebih adalah sebuah kedekatan pribadi dengan Tuhan. Kedekatan pribadi inilah yang paling hakiki, yang murni dan tidak dicampuri oleh ambisi politik maupun organisasi. Dan kabar baik dari novel ini adalah bahwa kebisuan Tuhan inilah yang membawa sang Pastor - ironisnya, ketika ia menjadi mantan Pastor - kedalam suatu hubungan iman yang diperbaharui dengan Tuhan. Tuhan yang Esa, tidak terikat simbol-simbol agama. Tuhan yang universal, dan tidak bisa dicapai dengan akal manusia. Sang Pastor, seperti tertulis dalam 1 Korintus 13:12, telah bertemu muka dengan muka dengan Tuhan, melalui kebisuanNya.

Amin.

3 comments:

ceritahujan said...

Blogger Walking, salam kenal, semoga kita bisa menjadi sahabat unuk shearing............

ati said...

Salam kenal... Resensinya menarik. Ditunggu sharing buku berikutnya...

Unknown said...

Salam kenal, resensi yang luar biasa.