Wednesday, August 10, 2011

Bahasa Kristen, Bahasa Manusia Baru



"Sebab dengan matiNya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diriNya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera”
Efesus 2:15


Agama Kristen adalah suatu agama yang unik. Karena, agama Kristen bukan terdiri dari peraturan-peraturan. Akibatnya, agama Kristen sering terlihat kurang ‘keren’, karena tidak memiliki aturan tertentu yang harus ditaati dan menjadi ciri khas yang bisa dibanggakan. Sebagai perbandingan, agama Sikh misalnya, memiliki peraturan bahwa kaum pria dilarang memotong rambutnya, sehingga penggunaan turban menjadi ciri khas penganut Sikh. Namun, orang Kristen tidak memiliki peraturan seperti ini. Tidak ada pakaian, atribut, atau ciri fisik tertentu selain beribadah di gereja pada hari Minggu, yang bisa menjadi ciri orang Kristen. Mengapa demikian?


Jawabannya adalah karena agama Kristen bukanlah sebuah kumpulan peraturan menuju Surga, melainkan sebuah gaya hidup. Kekristenan adalah seperti sebuah bahasa. Kalau kita membaca kalimat: ‘Tuti pergi di pasar’, kita langsung tahu, bahwa ada kesalahan dalam kalimat itu. Kata ‘di’ tidak masuk akal, harusnya diganti ‘ke’. Mengapa? Karena di adalah kata pengantar lokasi, sedangkan ke adalah kata pengantar tujuan. Dengan kalimat ‘Tuti pergi ... pasar’ berarti pasar adalah tujuan, dan ‘ke’ lebih tepat daripada ‘di’. Mungkin kita tidak tahu, mengapa ‘di’ dan ‘ke’ salah secara bahasa. Tetapi, kita bisa merasakan bahwa kata-kata itu salah. Kesalahan tersebut terasa lebih sebagai sebuah intuisi, daripada sebuah peraturan yang dilanggar.


Kekristenan adalah seperti sebuah bahasa. Saya yakin, kebanyakan dari kita sudah lupa soal teori linguistik Bahasa Indonesia: MD, DM, subjek-predikat-objek, dan lain-lain. Tetapi, kita toh bisa menggunakan Bahasa Indonesia dengan benar, karena kita menggunakannya. Kita tahu cara menggunakannya, walaupun tidak tahu teorinya. Itulah Kekristenan. Kekristenan adalah gaya hidup, intuisi, bukan satuan peraturan. Jika menghadapi suatu masalah, orang Kristen tidak melihat dalam buku petunjuknya dan mencari peraturan yang sesuai, melainkan berdiam diri dan merenung, mencari jawaban Tuhan. Orang Kristen tidak membaca kitab sucinya siang malam, tetapi berdoa dan mencari jawaban Tuhan dalam setiap persimpangan.


Jadi, jika kita menghadapi persoalan, bukanlah peraturan yang dicari. Bukan juga benar/salah atau boleh/tidak boleh. Melainkan, jika Yesus ada disini, apa yang Ia lakukan? Menghukum? Memaki? Mencaci? Atau mengampuni? Mengasihi? Menyembuhkan? Maka kita akan makin pandai berbicara dan bertindak dalam ‘bahasa Kristen’ – bahasa kehidupan kita. Singkat kata, menjadi ‘manusia baru’ – seperti tertulis dalam perikop diatas.



Tomang, 10 Agustus 2011

No comments: