Wednesday, August 24, 2011

Hidup Cuma Sekali, Buatlah Berarti!



“I have been crucified with Christ and I no longer live, but Christ lives in me. The life I now live in the body, I live by faith in the Son of God, who loved me and gave himself for me.”
Galatia 2:19-21



Saya tertegun ketika kemarin menonton serial ‘Cops’ di televisi, yang mengisahkan kerja polisi-polisi di Amerika Serikat sehari-hari. Setelah panggilan 911 dari sebuah rumah, polisi yang langsung ke lokasi mendapati seorang ibu yang berteriak-teriak di depan rumahnya membawa pistol. “I don’t want to live, I want to die!” teriaknya. “I can’t live with this anymore. It’s not my problem. It’s your problem. I want to die. Just with one pull of the trigger, I’m dead, and it’s all over!” teriaknya. Ibu berusia 60 tahun ini rupanya punya pacar seorang pria berusia 50-an tahun, yang memiliki anak pecandu narkoba. Sang ibu kesal dengan perilaku pacarnya yang terus membela anaknya. Ia merasa tidak dihargai. Ia depresi. Itulah sebabnya, ia berdiri di rumahnya dengan pistol yang terarah ke kepalanya sendiri.



Peristiwa berikutnya seperti sebuah drama. Sang ibu tiba-tiba mau masuk ke rumahnya. Kuatir beliau menembak orang lain, polisi kemudian menembaknya dengan peluru karet. Dor! Dor! Letusan senjata menyalak, sang ibu jatuh ke lantai bersimbah darah. Pistolnya terjatuh. Polisi kemudian berlari menghampirinya. “Oh my God, it hurts!” kata sang ibu. Kini ia merintih kesakitan. “It hurts! Why did you shoot me? Why? I didn’t want to shoot anybody! Oh my left eye hurts! Why did you shoot me?” begitu kata si ibu, yang sekarang menunjukkan kemarahan pada polisi. Polisi yang bertugas hanya tersenyum masam.


Itulah manusia. Beberapa menit yang lalu, si ibu berteriak ingin mati. Ia mengarahkan moncong pistol ke kepalanya. Ia sudah yakin, kematian adalah jalan terbaik – walaupun ia sendiri tidak tahu apa itu kematian. Ternyata, baru kena peluru karet saja, ia berubah pikiran! Baru berdarah sedikit saja, baru terasa sakit karena luka saja, ia sudah merintih, kesakitan, mohon ampun, bahkan menyalahkan polisi yang menyelamatkan nyawanya. Bukankah ia tadi ingin mati? Ya – tapi ia tidak tahu bagaimana rasanya mati. Baru luka sedikit saja, wajahnya berubah. Ia ingin hidup sekarang.


Pagi tadi, saya menerima berita mengejutkan. Adik dari sahabat karib saya, seorang atlet sepak bola yang rajin olah raga dan berbadan kekar, mendadak pingsan dan meninggal dunia sesudah main futsal. Umurnya baru 20-an, dan langsung menjadi pukulan kesedihan bagi seluruh keluarganya. Bagaimana bisa terjadi? Ia paling sehat diantara seluruh keluarganya, perutnya six-pack, olahraganya rajin dan bahkan profesinya adalah olahragawan. Bagaimana mungkin, hanya dalam hitungan menit, nyawanya bisa melayang? Hidup dan mati memang misteri.


Tapi, saudaraku, jangan bilang hidup hanya menunggu mati. Karena, hidup itu berarti! Kita cuma hidup sekali, dan kita harus membuatnya berarti, bukan? Ketika kita mati, kita sudah tidak punya kesempatan lagi untuk berubah atau melakukan sesuatu. Yang sudah terjadi tetap terjadi, dan kita akan bersatu penuh denganNya. Namun, untuk kita yang masih hidup, kita masih punya kesempatan di dunia ini. Masih bisa berbuat lebih baik lagi, bisa berkarya lebih banyak lagi, bisa menghasilkan lebih banyak lagi kebahagiaan. Apapun masalahnya, apapun kesulitannya, seberapa berat pun bebannya, saudaraku, selama nafas masih ada, hidup masih kita rengkuh, maka kesempatan masih ada. Masih ada waktu, untuk berkembang menjadi lebih baik, lebih indah, berbuah lebih banyak.


Jadi, jangan sekali-kali memikirkan untuk mengakhiri hidup Anda, seberapapun berat permasalahannya. Lebih baik Anda pindah ke sebuah pulau, bawa uang satu koper, lalu buka lahan dan memulai hidup baru, jauh dari kehidupan Anda yang lama. Ingat si ibu tadi, betapa sombong dia di depan kematian, tetapi ketika bersentuhan dengan rasa sakit saja, ia sudah mengkeret. Barulah makna kehidupan muncul di matanya. Ingat, hidup cuma sekali. Buatlah berarti!


Kedoya 24 Agustus 2011

Friday, August 19, 2011

Mengenal Jahja Daniel Dharma Alias John Lie



“Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadamu”
Matius 11:28



Jahja Daniel Dharma adalah sosok yang cukup unik. Beliau lahir di Manado, 9 Maret 1911. Akrab dengan laut sejak kecil membawa John Lie menjadi seorang anggota angkatan laut Kesatuan Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS) yang kemudian bergabung dengan Angkatan Laut Republik Indonesia. Melalui buku biografinya terbitan Yayasan Nabil, kita dapat mengenal kisah pribadi yang teguh imannya dan kuat semangatnya ini secara lebih mendalam.



John Lie memegang peranan penting dalam masa perjuangan: memasok senjata bagi para pejuang di Indonesia. Perlu diingat bahwa pada masa itu Indonesia tidak bisa memproduksi senjata sendiri, sehingga amunisi dan persenjataan gerilyawan harus dipasok dari luar. John Lie, seorang nakhoda yang piawai, kemudian mengoperasikan sebuah kapal kecil yang ia beri nama “The Outlaw”. Dengan keahlian maritimnya, John Lie membawa “The Outlaw” bolak-balik melalui pesisir Timur Pulau Sumatera dari Medan dan Aceh ke Singapura dan Malaka, untuk mengirim senjata. Ia bukan membeli senjata dan menjualnya lagi, melainkan bertugas mengirimkan senjata ke Indonesia.


Tugas ini tidak mudah. Sampai hari ini, Selat Malaka adalah selat perbatasan 3 negara yang paling banyak dipatroli oleh kapal-kapal angkatan laut ketiga negara. Jaman dulu pun begitu: mudah ditebak bahwa senjata gerilyawan RI pasti datang dari Singapura atau Malaka. Kapal-kapal fregat Belanda pun lalu-lalang disana, mencegat dan menghancurkan hampir semua kapal nelayan kecil seperti “The Outlaw” yang mengirim senjata membantu perjuangan Indonesia. Namun, “The Outlaw” tetap bertahan, bukan dengan senjata, tapi dengan iman.


Ya! John Lie adalah seorang Kristen yang sangat taat. Dalam buku dikisahkan betapa kapal kecilnya penuh dengan hiasan tulisan ayat dari Alkitab. Iapun selalu membawa Alkitab dalam perjalanannya, sehingga sempat dijuluki “The Smuggler With A Bible” – Sang Penyelundup dengan Alkitabnya. Sempat kapalnya mogok di tengah laut yang kelam, sementara fregat Belanda dengan sorotan lampunya mengintai sejak lama. Moncong senjata pun pernah terarah pada “The Outlaw”, namun senjatanya bisa macet dan John Lie bisa lolos. Sebuah petualangan yang hebat, penuh patriotisme dan keteguhan iman!


Yang hebat dari perjuangan John Lie adalah, tidak pernah ia meragukan Tuhan dan negaranya. Walaupun dilihat dari kacamata akal sehat, misinya adalah sebuah ‘mission impossible’ – menembus blokade Belanda dengan modal perahu nelayan kecil – tapi tak sekalipun John Lie ragu dalam melaksanakan tugasnya. Bisa saja John lie menyelewengkan uang yang diterimanya untuk membeli senjata, atau menjual senjata itu kepada orang lain. Namun, tidak pernah ia melakukannya. Dua hal jelas menjadi motornya: cintanya kepada Republik dan imannya kepada Tuhan yang tidak pernah goyah. Ketika beliau meninggal dunia tahun 1988, Presiden Soeharto ikut melayat. Dan ketika mendirikan gereja selalu menjadi masalah, pemerintah memberikan ijin bagi John Lie, yang sesuai anjuran pemerintah juga mengganti namanya menjadi Jahja Daniel Dharma – untuk mendirikan sebuah gereja GPIB. Gereja yang diberi nama GPIB ‘Yahya’ ini masih ada sampai sekarang di wilayah Grogol, berlokasi persis di sebelah sebuah masjid, melambangkan sebuah toleransi yang indah.



Masalahnya adalah, terlalu sedikit orang seperti John Lie. Sebuah autokritik bagi orang Kristen di Indonesia: orang Kristen mudah lantang bicara jika ditanya mengenai iman dan agama, namun lambat bertindak jika melihat kemiskinan atau keterbelakangan. Orang Kristen membangun gereja-gereja megah yang dikelilingi bedeng-bedeng orang miskin yang tidak memiliki rumah yang layak. Berapa banyak orang Kristen yang turut andil dalam pemerintahan, dirasakan jasanya oleh bangsa dan negara, atau terkenal karena kebajikannya? Terlalu sedikit. Kita seolah-olah memisahkan antara ‘agama’ dan ‘negara’ dalam pikiran kita, dimana ‘agama’ adalah urusan saya sementara ‘negara’ adalah urusan ‘mereka’.



Padahal, tidak seharusnya demikian bukan? Tuhan Yesus menjadi kontroversial pada jamanNya dan jaman sekarang bukan karena kecerdasanNya atau mukjijatNya, melainkan karena ketegasanNya dalam membela yang lemah, yang sakit, yang tertindas. Untuk merekalah kekristenan ada, dan dengan semangat yang sama pulalah, kita harus terus berjuang. Jangan berpangku tangan dan merasa cukup dengan gereja yang megah – tapi buatlah jasa dan tindakanmu dikenang oleh seluruh bangsa! Seperti Jahja Daniel Dharma, yang berhasil menjadi seorang Kristen sejati, kebanggaan bangsa dan negara Indonesia.


Tomang, 19 Agustus 2011

Thursday, August 18, 2011

Antara Tubuh Dan Jiwa Yang Merdeka

The Israelites said to them, “If only we had died by the LORD’s hand in Egypt! There we sat around pots of meat and ate all the food we wanted, but you have brought us out into this desert to starve this entire assembly to death.”
Exodus 16:3
“Therefore, say to the Israelites: ‘I am the LORD, and I will bring you out from under the yoke of the Egyptians. I will free you from being slaves to them, and I will redeem you with an outstretched arm and with mighty acts of judgment.
Exodus 6:6

Merdeka! Senang bukan menyebutkannya? Kata ‘merdeka’ dalam bahasa Indonesia tidak memiliki padanan dalam bahasa Inggris. Terjemahan Inggris hanya memiliki ‘independence’ yang berarti kemandirian, atau ‘freedom’ yang berarti kebebasan. Yang satu berarti bisa menentukan nasib sendiri, yang lain artinya bebas melakukan apa saja. Tetapi, ‘merdeka’ memiliki arti ‘mandiri’ dan ‘bebas’ sekaligus, bahkan lebih dari itu. ‘Merdeka’ juga berarti sederajat, setara, punya kehormatan dan harga diri yang sejajar. Beruntunglah bahasa Indonesia yang memiliki kata ini. Pantas saja, dulu kata ‘Merdeka’ terpampang dimana-mana dan membuat penjajah Belanda terpana – karena menerjemahkannya pun mereka tak bisa!

Tapi, apakah kita sudah memahami arti kemerdekaan yang sesungguhnya? Merdeka bukanlah sesuatu yang indah-indah saja. Merdeka, pada saat didengungkan oleh Bung Karno dan kawan-kawan pejuang pada tahun 1945, adalah sebuah ide gila. Bukankah hidup dibawah penjajahan Belanda itu indah? Lihatlah rel kereta api yang dibangun, jalan raya Anyer – Panarukan. Lihatlah Pelabuhan Sunda Kelapa yang megah, lihatlah bangunan kolonial di Batavia yang indah dan tak kalah dengan negeri Belanda. Lihatlah karya arsitektur art deco tropis dari Schoemaker, dari Vila Isola sampai Hotel Homann. Indah bukan? Ya! Lihatlah pesta dansa-dansi a la Belanda di Harmonie. Tak heran, gaya hidup ini dinamai Mooi Indie – Hindia yang Cantik! Lalu, untuk apa merdeka? Untuk apa bebas? Untuk apa mandiri? Bukankah kita hidup enak dibawah lindungan payung oranye Kerajaan Belanda?

Inilah pertanyaan yang sama yang diajukan oleh bangsa Israel. Sesudah Allah menunjukkan kuasaNya yang luar biasa, dengan memberikan sepuluh tulah kepada Firaun dan negeri Mesir, termasuk meluputkan bangsa Israel dari kejaran Mesir dengan membelah Laut Merah, bukan puji syukur yang Ia dapatkan. Bukan sujud sembah yang Ia terima. Melainkan justru bangsa Israel yang bersungut-sungut! Ya Tuhan, bukankah lebih enak dijajah Mesir? Disana banyak roti dan daging. Disana banyak air. Memang, bangsa Israel dijajah. Tapi, dijajah kan tidak selalu dipecut, bukan? Dijajah juga berarti dijamin oleh penjajah. Tidak perlu memikirkan makan, semua disediakan majikan. Tidak perlu memikirkan infrastruktur, semuanya dibangun oleh majikan. Tidak perlu pusing membeli senjata, perlindungan diberikan oleh majikan. Enak bukan? Kalau sekali-kali dipecut sampai mati, atau disamakan dengan anjing dan dilarang masuk ke kelompok elit, ya itu sudah resiko!

Bukankah kenyataan ini adalah sebuah ironi? Ya, ironi yang begitu nyata. Bangsa Israel, dan Bangsa Indonesia, tidak boleh lupa. Allah memang berjanji menganugerahkan kemerdekaan, seperti yang Ia sabdakan dalam Keluaran 6:6. Ia menjanjikan tanah perjanjian, dimana semua orang bisa hidup sama rata, tidak ada yang lebih rendah atau lebih tinggi. Namun, kemerdekaan itu mengandung tanggung jawab! Dengan merdeka, berarti suatu bangsa harus membangun segala sesuatunya sendiri. Suatu bangsa harus mencari makanannya sendiri, membangun jalan-jalannya sendiri, berperang sendiri, dan mempersenjatai diri sendiri. Dalam kisah keluarga bangsa Israel dari Mesir, terlihat berkali-kali bahwa walaupun bangsa Israel sudah keluar dari Mesir secara fisik, namun jiwa mereka masih jiwa bangsa jajahan. Pikiran mereka masih pikiran budak, padahal sudah merdeka. Mereka mau enaknya saja. Dibilang jangan makan manna hari Sabat, masih saja ada yang bandel. Diperintahkan menunggu diberi minum, masih saja bersungut-sungut. Bahkan, belum selesai Musa bercakap dengan Allah, mereka sudah membuat lembu emas dan memujanya! Namun, Allah dengan sabar namun tegas mendidik bangsa Israel untuk memerdekakan pikiran mereka, memerdekakan jiwa mereka. Kejam memang, dan butuh waktu 40 tahun sampai generasi bangsa Israel betul-betul merdeka. Bahkan Musa sendiripun tidak bisa masuk ke Tanah Perjanjian! Begitu kerasnya Allah mentransformasi jiwa sebuah bangsa, dari bangsa terjajah menjadi bangsa merdeka. Karena, hanya bangsa merdeka sejati yang mengerti arti kemerdekaan, dan mengisinya dengan kemajuan dan kemakmuran!

Bangsa Indonesia kini sedang menempuh perjalanan yang sama. Lepas dari penjajahan Belanda, kita sudah secara fisik merdeka, namun mental kita masih mental negara jajahan. Kita kelimpungan mengatur keamanan, kesulitan mengatur produksi pangan, dan tertatih-tatih menata ekonomi. Hari-hari dibawah Orde Baru memang menawarkan kemajuan, namun akhirnya bangsa Indonesia jatuh lagi ke dalam penjajahan. Setelah reformasi, kita masih juga tertatih-tatih. Kita masih berusaha mengusir jiwa-jiwa terjajah, dan menggantikannya dengan pikiran-pikiran baru yang lebih bebas. Sudah banyak kemajuan! Seni dan budaya kini bisa dipraktekkan dengan bebas. Media pun bebas, setiap orang berhak dan layak berbicara. Indonesia menjadi negara yang toleran, dengan toleransi yang tidak dipaksakan, melainkan hadir dari lubuk hati setiap rakyatnya yang cinta damai. Bukan berarti tidak ada ancaman – ancaman selalu ada, namun Tuhan Allah senantiasa menyertai perjalanan bangsa kita.

Mengapa demikian? Tuhan kan tidak menurunkan manna untuk kita? Saudaraku, manna itu sudah turun. Dalam bentuk tanah yang subur. Dalam bentuk negara yang tetap bersatu. Dalam bentuk ekonomi yang bisa bangun sendiri tanpa campur tangan asing. Dalam bentuk setiap manusia Indonesia yang sambil tersenyum mengayuh becak atau mendorong gerobak, demi memutar roda ekonomi dan mencari sesuap nasi. Tidak ada negara selain Indonesia yang bisa selamat didera kerusuhan massal seperti 1998, krisis moneter dan melemahnya rupiah secara luar biasa, ataupun diinjak-injak oleh ego IMF yang ternyata lebih banyak membawa durjana daripada manfaat. Tapi, lihat kita sekarang! Berdiri tegak sebagai sebuah bangsa. Ekonomi kita sudah bangkit, bahkan bank-bank yang dulu begitu tinggi hati tahun 1998, sepuluh tahun kemudian meringkuk malu ketika kita tidak tersentuh krisis keuangan global berikutnya. Kita sudah selamat, melalui ancaman kiri dan kanan, tanpa campur tangan asing. Kita masih disini, saudaraku, adalah bukti kemuliaan Allah, penyertaan Allah atas bangsa ini.

Untuk itu, apa yang perlu kita lakukan selanjutnya? Mulailah berpikir dan bertindak seperti orang merdeka! Janganlah lagi berpikiran sebagai orang terjajah. Memerdekakan pikiran jauh lebih sulit daripada memerdekakan tubuh: ingat, Tuhan Allah hanya perlu waktu semalam untuk memerdekakan fisik Bangsa Israel dari Mesir, tetapi Ia butuh 40 tahun untuk memerdekakan jiwa mereka. Kita tidak perlu menunggu selama itu, karena prinsipnya sudah diberikanNya untuk kita pelajari.

Mulailah bertindak sebagai orang merdeka. Uruslah sandang, pangan, dan papan. Bangunlah jalan-jalan dan pelabuhan. Kobarkan semangat kemerdekaan melalui pidato, kata-kata yang menyegarkan, dan olah raga. Ingat, seperti yang Tuhan Allah lakukan, kita perlu ingatkan diri kita berulang-ulang, bahwa kita sudah merdeka. Terakhir, wujudkanlah kemerdekaan kita dalam peranan yang lebih aktif dalam percaturan hidup dunia. Tunjukkanlah, bahwa Indonesia – negara yang merdeka ini – selalu menjunjung tinggi asas kemerdekaan sejati, tanpa standar ganda dan kepentingan lainnya. Tunjukkanlah, bahwa toleransi dan kekeluargaan kita sudah menang melawan pertempuran panjang dengan ekstremisme dan individualisme. Tunjukkanlah, bahwa dengan senyum dan keringat, serta berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa, kita sudah merdeka. Dan akan merdeka terus, sampai selamanya.

Tomang, 17 Agustus 2011

Cahaya Karunia



“And God said, ‘Let there be light,’ and there was light”
Genesis 1:3



Hal apakah yang pertama kali diciptakan oleh Allah, ketika Ia menciptakan alam semesta? Dalam kitab Kejadian, setiap orang yang pernah sekolah minggu pasti mengetahui bahwa Allah pertama kali menciptakan terang. Sebelumnya, kitab Kejadian melukiskan dunia sebagai gelap gulita, dan roh Allah melayang-layang diatas air, tetapi Allah belum menciptakan apa-apa. Ia kemudian menciptakan terang – kemudian memisahkan terang dari gelap, dan menamai yang terang sebagai siang, dan yang gelap sebagai malam.



Joseph Haydn, seorang komponis kelahiran Austria, pernah membuat komposisi yang diberi judul ‘The Creation’, yang melukiskan kisah penciptaan dalam Kejadian 1 sebagai sebuah komposisi musik. Salah satu episodenya berjudul ‘And then there was light’, sebuah deskripsi penciptaan cahaya lewat musik. Dari melodi awal yang sendu dan gelap, tiba-tiba bagian biola dan terompet memainkan sebuah melodi yang indah, lembut, dan mengalun hangat, menyejukkan hati yang suram. Musik ini bahkan sering digunakan di film-film kartun untuk menggambarkan bunga yang bertumbuh atau pagi yang merekah.



Ternyata, peristiwa ini bukan saja indah, tetapi juga masuk akal secara fisika. Albert Einstein, seorang ilmuwan jenius, mengungkapkan teori relativitas pada tahun 1960-an. Apa itu teori relativitas? Intinya, teori ini mengatakan bahwa semua satuan yang kita gunakan untuk mengukur, mulai dari kecepatan, suhu, panjang, atau bahkan waktu, adalah relatif. Ya – semuanya relatif dan hanya bisa diukur jika dibandingkan dengan sesuatu yang lain. Contohnya adalah satuan waktu – satu detik. Seberapa lamakah satu detik itu? 1/60 dari satu jam? Lalu bagaimana kalau jam kita terlalu lambat atau terlalu cepat – padahal jam kita toh tetap berdetak? Untuk mendefinisikan satu detik, kita hanya dapat membandingkan dengan sebuah satuan yang lain, yakni 1 detik adalah 9192,631770 kali atom Cesium 133 mengalami transisi. Dengan demikian, satuan detik hanya bisa didefiniskan melalui pembandingan dengan hal lain – dalam hal ini transisi atom Cesium. Lalu, dengan demikian, haruslah ada satu konstanta universal yang konstan, bukan? Pasti ada sebuah angka konstan, basis untuk menghitung dan mengukur semua sifat alam semesta? Apakah konstanta itu menurut Einstein?



Cahaya. Ya! Kecepatan cahaya 3 x 108 m/detik, menurut Einstein, adalah konstanta universal. Kecepatan cahayalah konstanta universal itu – yang tetap nilainya dimanapun juga. Fakta ilmiah ini cocok dengan catatan Alkitab, bahwa Allah tidak menciptakan manusia, pelangi, atau api terlebih dahulu, tetapi cahaya terlebih dahulu. Karena, dengan adanya kecepatan cahaya, barulah semua sifat Alam Semesta bisa tercipta dan memiliki pembanding. Sebuah kenyataan bertemunya iman dan ilmu secara cantik!

Tomang, 16 Agustus 2011

Friday, August 12, 2011

Mukjijat-mukjijat Kecil



“Siapakah diantara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta pada jalan hidupnya? Jadi, jikalau kamu tidak sanggup membuat barang yang paling kecil, mengapa kamu kuatir akan hal-hal lain?”
Lukas 12:25-26





Sadarkan Anda, bahwa kita sering mengalami mukjijat-mukjijat kecil? Saya pernah nyaris mendapat musibah ketika sedang menyetir mobil di daerah perkampungan saat mengunjungi pelanggan saya. Seorang anak kecil tiba-tiba menyebrang dengan kurang hati-hati, membuat saya tidak bisa menghindar dan akhirnya anak itu terserempet mobil saya. Bayangkan! Orang-orang kampung langsung menghentikan mobil saya, padahal saya tidak bermaksud untuk lari. Saat itu saya juga sedang bersama seorang tamu asing di mobil. Tapi, yang menjadi kekuatiran saya yang paling besar, bagaimana nasib anak kecil itu? Kalau sampai ada apa-apa, walaupun bukan kesalahan saya, pasti saya akan merasa sangat bersalah.




Ternyata, puji Tuhan! Sang anak, namanya Tasya, ternyata tidak apa-apa. Ia terjerembab ke aspal jalanan dan pingsan, tapi terkena benturan di daerah dahi yang tulangnya kuat, sehingga tidak ada gegar otak. Patah tulang pun tidak ada. Keluarganya Tasya, yang semula emosional, ternyata sangat baik dan tidak meminta uang sepeser pun. Sayalah yang kemudian menawarkan uang ala kadarnya, dan kami bersalaman baik-baik ketika saya antar Tasya kembali ke rumahnya dari Rumah Sakit. “Ini CT Scan otak dipajang di kamar Tasya ya!” kata saya. “Supaya ingat, hati-hati kalau menyeberang!”. Tasya pun tersenyum mendengarnya.



Bayangkan: kemungkinan Tasya tidak terluka mungkin 1 dari 1000. Ia bisa saja terjatuh di belakang kepala, tergilas mobil saya, atau mobil lain yang melintas di belakang saya. Tetapi, justru pada jam pulang kantor seperti itu, jalanan bisa kosong! Mukjijat bukan? Betul, ini adalah mukjijat.




Sadarkah kita, bahwa kita sering mengalami mukjijat? Teman saya yang seumur-umur tidak pernah berpacaran karena cueknya, ternyata menjadi orang pertama yang menikah diantara teman2 saya. Tiba-tiba saja seorang gadis membuatnya jatuh cinta, dan dengan sikapnya yang kaku kok bisa si gadis bisa membalas cintanya? Seorang teman yang lain lagi, sering diolok-olok karena gagap dan kurang nyambung bicaranya. Tapi, toh ada seorang gadis yang jatuh cinta padanya dalam sebuah seminar tentang perpajakan, dan sekarang sudah punya anak satu. Bagaimana mungkin semua itu terjadi? Mukjijat bukan? Bayangkan, setiap hari kita dihujani mukjijat!




Makanya, kita harus bersyukur dan berserah. Memang terkesan nasehat yang klise, tapi Tuhan adalah Sang Sutradara. Ia sangat ahli membuat skenario, merancang yang indah-indah untuk anak-anakNya. Jadi, jangan kuatir, apalagi sok menjadi yang paling pintar dan paling tahu. Belum-belum sudah berpikir, “Saya pasti gagal!” atau “Saya tidak punya harapan lagi!” atau “Lebih baik mati saja!”. Nanti dulu! Masakah Tuhan capek-capek menciptakan kita dan membimbing kita sampai sekarang ini, hanya untuk sebuah sad ending? Sabarlah. Berjuanglah sedikit lagi. Mukjijat sudah di depan mata – dan happy ending adalah jaminanNya!




Tomang, 12 Agustus 2011


The Fruits of the Spirit



“Those who belong to Christ Jesus have crucified the flesh with its passions and desires”
Galatia 5:24



In Galatians 5:19 and 5:22, The Apostle Paul explains about the fruits of the flesh and of the spirit. Paul is very graphic in explaining the fruits, or results, of living in flesh. In verses 19-22, Paul lists “sexual immorality, impurity and debauchery, idolatry and witchcraft, hatred, discord, jealousy, fists of rage, selfish ambition, dissessions, factions and envy, drunkenness, orgies, and the like” as acts of flesh. In verse 22-23, Paul lists “love, joy, peace, forbearance, kindness, goodness, faithfulness, gentleness and self-control” as the fruit of the Spirit.



Paul’s advise here is very simple, but can also be frustrating. Okay, we don’t do witchcraft. But what about hatred? Jealousy? Fists of rage? We do this every day. We feel angry several times in a day, even if we promised God in the morning not to do so. Discord, selfish ambition – we face these feelings daily. Is it possible to free ourselves completely from these mortal feelings? Never angry, never jealous, always loving and faithful? If not, then what’s the point of doing something that’s impossible?



You see, Paul here is not talking about personal impulses. Paul is talking about a lifestyle. He does not say we can’t be angry or jealous. We’re only humans! What he says is, we should stop being angry all the time, making it into our lifestyle. Personal impulses happens naturally: we feel angry if someone steps on our foot. Of course! It hurts! Now, that is normal. But we can control how we react to it, can’t we? One, by shouting and hitting the person who steps on our foot, making sure he feels more pain than we do, or... politely asks him or her to move his/her feet, and then perhaps you’ll get to know a new friend! Paul is not talking about impulses. Paul is talking about how we should react to these impulses. Whether we let it grow and nurture it, or do we change it into something better.



Love, joy, peace... it’s everyone’s dream, isn’t it? Yes. But why can’t everyone have it? Well, it’s a decision thing again. You think that someone like Amy Winehouse will be happy because of her success, money, and fame. You think that Kurt Cobain should be a wealthy and happy man. We all know that’s not the case. We also know their lifestyle. Having personal impulses is not the problem. The problem is how we react to it.



If we react to it in a negative way, then no matter how much the Lord bless us, the fruits are always bad. But if we react to it in a positive way, then even in the darkest days of our life, the fruits will be sweet. It’s a lifestyle that we have to choose. And Paul reminds us to choose our lifestyle. Do you want to have all those good things listed on verse 22-23? They come from your decision, not dropped from Heaven. So, choose well, and wear the fruits of the spirit as your lifestyle!


Wednesday, August 10, 2011

Bahasa Kristen, Bahasa Manusia Baru



"Sebab dengan matiNya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diriNya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera”
Efesus 2:15


Agama Kristen adalah suatu agama yang unik. Karena, agama Kristen bukan terdiri dari peraturan-peraturan. Akibatnya, agama Kristen sering terlihat kurang ‘keren’, karena tidak memiliki aturan tertentu yang harus ditaati dan menjadi ciri khas yang bisa dibanggakan. Sebagai perbandingan, agama Sikh misalnya, memiliki peraturan bahwa kaum pria dilarang memotong rambutnya, sehingga penggunaan turban menjadi ciri khas penganut Sikh. Namun, orang Kristen tidak memiliki peraturan seperti ini. Tidak ada pakaian, atribut, atau ciri fisik tertentu selain beribadah di gereja pada hari Minggu, yang bisa menjadi ciri orang Kristen. Mengapa demikian?


Jawabannya adalah karena agama Kristen bukanlah sebuah kumpulan peraturan menuju Surga, melainkan sebuah gaya hidup. Kekristenan adalah seperti sebuah bahasa. Kalau kita membaca kalimat: ‘Tuti pergi di pasar’, kita langsung tahu, bahwa ada kesalahan dalam kalimat itu. Kata ‘di’ tidak masuk akal, harusnya diganti ‘ke’. Mengapa? Karena di adalah kata pengantar lokasi, sedangkan ke adalah kata pengantar tujuan. Dengan kalimat ‘Tuti pergi ... pasar’ berarti pasar adalah tujuan, dan ‘ke’ lebih tepat daripada ‘di’. Mungkin kita tidak tahu, mengapa ‘di’ dan ‘ke’ salah secara bahasa. Tetapi, kita bisa merasakan bahwa kata-kata itu salah. Kesalahan tersebut terasa lebih sebagai sebuah intuisi, daripada sebuah peraturan yang dilanggar.


Kekristenan adalah seperti sebuah bahasa. Saya yakin, kebanyakan dari kita sudah lupa soal teori linguistik Bahasa Indonesia: MD, DM, subjek-predikat-objek, dan lain-lain. Tetapi, kita toh bisa menggunakan Bahasa Indonesia dengan benar, karena kita menggunakannya. Kita tahu cara menggunakannya, walaupun tidak tahu teorinya. Itulah Kekristenan. Kekristenan adalah gaya hidup, intuisi, bukan satuan peraturan. Jika menghadapi suatu masalah, orang Kristen tidak melihat dalam buku petunjuknya dan mencari peraturan yang sesuai, melainkan berdiam diri dan merenung, mencari jawaban Tuhan. Orang Kristen tidak membaca kitab sucinya siang malam, tetapi berdoa dan mencari jawaban Tuhan dalam setiap persimpangan.


Jadi, jika kita menghadapi persoalan, bukanlah peraturan yang dicari. Bukan juga benar/salah atau boleh/tidak boleh. Melainkan, jika Yesus ada disini, apa yang Ia lakukan? Menghukum? Memaki? Mencaci? Atau mengampuni? Mengasihi? Menyembuhkan? Maka kita akan makin pandai berbicara dan bertindak dalam ‘bahasa Kristen’ – bahasa kehidupan kita. Singkat kata, menjadi ‘manusia baru’ – seperti tertulis dalam perikop diatas.



Tomang, 10 Agustus 2011

Tuesday, August 09, 2011

Berpikir Positif



“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu”
Filipi 4:8



Banyak motivator-motivator kini mengajarkan betapa pentingnya memiliki pikiran positif. Ada yang mengajarkan, bahwa setiap pagi kita harus berdiri di depan kaca, lalu berkata pada diri sendiri: “Aku bisa! Aku bisa!” dan seterusnya. Sebuah trik yang mudah, namun seringkali terlupakan oleh kita. Apa yang dirubah dengan teknik ini? Fisik? Keberuntungan? Bukan: hanya pikiran saja. Dan jika kemudian hari-hari kita menjadi lebih baik, lebih positif, itu karena pengaruh pikiran positif!


Saya punya kebiasaan jelek untuk bangun siang. Untuk berangkat kerja jam 8 siang, saya bangun 7.30. Memang, kantor saya dekat sekali dengan rumah. Tapi, tetap saja waktu 30 menit menyebabkan saya terburu-buru. Terburu-buru bangun, lalu mandi, bersiap-siap, lalu jalan ke kantor. Sampai kantor pun selalu terlambat. Herannya, seharian penuh saya jadi terburu-buru! Tugas satu belum selesai, ditimpa tugas lainnya, lalu harus pergi ke pelanggan. Satu belum selesai, yang lain sudah menunggu. Akhirnya saya pulang dengan napas terengah-engah, larut malam. Karena, semua serba terburu-buru. Stress pun meningkat.


Lalu saya mendengar tips di radio, bahwa dianjurkan untuk bangun lebih pagi. Ya! Jangan selalu terancam waktu terlambat. Bangun lebih pagi, datang kantor lebih pagi. Konon, dengan demikian, perasaan terburu-buru bisa dihilangkan, dan kita menjadi lebih tenang. Ah, masak sih? Sayapun mencobanya. Ternyata benar! Saya bangun jam 6.30, lalu menulis renungan. Lalu mandi, dan seterusnya. Eh, kok hari saya tidak terburu-buru lagi! Jam 7.45 sudah sampai kantor. Tugas bisa selesai dengan baik. Heran ya? Itulah teman, kekuatan pikiran! Hanya karena sejak pagi saya berpikir “Tenang saja, saya tidak terlambat, masih ada waktu”, seharian hidup saya lebih tenang!


Alkitab sudah mengajarkan pikiran positif sejak dulu kala. Dalam Filipi 4:8, ada sebuah nasehat dari Paulus yang sederhana namun manjur. Bagaimana menghadapi macetnya Jakarta? Bagaimana menghadapi pelanggan yang rewel? Bagaimana menghadapi motor-motor yang berseliweran, memotong jalan seenaknya? Atau polisi haus darah yang menunggu di setiap perempatan? Jangan berpikir akan membacok motor-motor itu atau membakar metromini yang tadi nyaris menyerempet Anda. Pikirkanlah, betapa naik motor itu tidak nyaman, betapa jadi polisi itu pekerjaan yang sangat sulit, betapa menjalankan metromini itu serba rugi. Kemudian, Anda akan merasa lebih beruntung, bisa naik mobil, bisa punya pekerjaan seperti sekarang ini. Lalu, tersenyumlah! Meskipun motor tetap ada, Metromini tetap ada, polisi juga tetap ada, niscaya hari-hari Anda akan lebih indah.


Tomang, 9 Agustus 2011

Monday, August 08, 2011

Sorga Yang Berharga

“Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah. Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, iapun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu”
Matius 13:45-46

Di dalam Istana Terlarang di Beijing, China, ada sebuah batu besar yang dikenal dengan nama “batu orang miskin”. Mengapa demikian? Karena, konon gara-gara sebongkah batu yang indah itu, seorang kaya jatuh miskin. Alkisah, ada seorang kaya yang mencintai seni batu alam (suiseki). Suatu hari, ia menemui sebuah batu berukuran besar (tinggi kira-kira 2 meter, ukuran 2 x 2 meter) di tengah hutan yang sangat indah bentuknya. Ia langsung jatuh cinta dan ingin memindahkan batu itu ke rumahnya.

Tantangannya adalah, ia harus mengeluarkan banyak uang untuk mengangkut batu itu saking berat dan besarnya. Berbulan-bulan berlalu, batu itu belum sampai juga ke rumahnya, sementara uangnya habis. Iapun jatuh miskin, dan batu itu teronggok begitu saja di tengah jalan. Sampai suatu hari Kaisar lewat, dan ia heran bagaimana sebuah batu indah teronggok begitu saja. Setelah mendengar kisahnya, Kaisarpun memerintahkan agar batu itu dibawa ke istananya.

Perumpamaan ini bukanlah sebuah petunjuk ‘how to’, sehingga jangan diartikan begini: untuk Kerajaan Allah saya harus menjual semua harta saya dan jatuh miskin. Bukan, bukan itu. Perhatikan bahwa pelaku cerita dalam perikop ini tidak merasa terpaksa. Ia adalah seorang pedagang, yang pasti banyak koleksi barangnya. Lalu, ia mencari dan menemukan sebuah mutiara yang indah. Lalu, ia jual seluruh miliknya, untuk membeli sebiji mutiara ini.

Absurd bukan? Tetapi, banyak kejadian seperti ini terjadi. Sebuah rasa bahagia, rasa cinta, yang begitu polos, begitu besar, menghampiri jiwa seseorang sehingga semua miliknya seolah tidak berarti lagi baginya. Sebuah obsesi! Ya – Kerajaan Sorga akan membuat kita terobsesi. Karena, begitu kita mengenal Tuhan Yesus, kita paham betul akan nilainya yang sangat tinggi. Kita merasa layak menjual semua milik kita – tanpa dipaksa – demi Kerajaan Sorga. Padahal, untuk orang yang tidak mengerti, Kerajaan Sorga terlihat seperti mutiara saja – bagus sih bagus, tapi masak begitu sih? Namun, hanya sang pedagang yang bisa mengerti nilai dan keindahan Kerajaan Sorga. Dan percayalah, sang pedagang tidak merasa rugi!

Tidak percaya? Coba tanyakan pada kolektor lukisan yang membeli sebuah karya Ay Tjoe Christine seharga Rp 1.5 milyar, atau kolektor patung yang membeli karya Heri Dono senilai Rp 2 milyar lebih di pameran lukisan di Jakarta yang baru saja usai. Mereka bukan gila, melainkan berada pada satu pemahaman yang lain mengenai seni, yang begitu mendalam, dan membuat mereka kagum sampai-sampai bisa merogoh kocek begitu dalam untuk sebuah karya seni. Jadi, obsesi ini nyata dan ada. Demikian pula Kerajaan Sorga!

Apakah Anda merasakaan Kerajaan Sorga sepenting itu? Kalau belum, teruslah mencari. Teruslah mendalami Alkitab dan Firman Tuhan, niscaya matamu akan dibukakan dan keindahan Kerajaan Sorga akan terasa dalam hati.

Tomang, 8 Agustus 2011