Sunday, March 20, 2005

Bagian 5 – Kesimpulan : Allah, Sang Manager yang Agung

Perikop Yohanes 9 merupakan suatu cerita yang mengagumkan. Bukan karena mukjijatnya, melainkan karena lengkapnya catatan mengenai sebab, akibat, dan dampak dari mukjijat yang dilakukanNya. Perikop ini, yang mungkin kejadian aslinya berlangsung dalam waktu beberapa jam, merefleksikan kepiawaian Allah dalam membuat skenario untuk hidup seseorang.
Bayangkan seorang yang dilahirkan buta, tanpa pendidikan sama sekali, tidak mungkin bisa baca tulis. Bertahun-tahun orang ini hidup terlunta-lunta, merasa dirinya dibebani dosa dan berada diluar kasih Allah. Tiba-tiba, sebagai ’Siloam’, Tuhan Yesus datang kepadanya dan menyembuhkan matanya dengan cara yang ajaib. Bertahun-tahun sesorang yang didera kebutaan ini sudah ditempa begitu hebatnya, sehingga kesembuhannya menjadi titik balik yang tidak pernah dibayangkannya sebelumnya!
Tetapi, cerita tidak berakhir disini, happy ending belum tiba. Sang pengemis yang sembuh ini, ternyata kemudian juga teguh mempertahankan imannya. Ia berani menantang Ahli Taurat dan kaum Farisi, walaupun penampilannya masih sebagai pengemis miskin. Entah darimana kata-kata yang keluar dari mulutnya, tetapi kita bisa melihat bahwa Tuhan tidak salah pilih: orang ini benar-benar memiliki keteguhan hati sekuat baja. Bahkan orang tuanya pun ragu-ragu, tetapi sang pengemis ini terus tanpa bisa dihentikan, melaju dengan berita tentang Firman Tuhan. Kualitas ini tidak dimiliki oleh semua orang, bahkan oleh Petrus sekalipun – Tuhan sudah memilih orang yang tepat!
Kemudian, orang ini lalu berkesempatan kembali bertemu Tuhan Yesus. Sekali lagi, Tuhan Yesus menguji imannya dan mendapatkan orang ini masih setia. Tentu saja happy ending belum tercapai, karena Ahli Taurat dan Kaum Farisi masih berdiri disana dengan kepala tegak dan sombong. Kemudian dengan perkataan terakhirnya, Tuhan Yesus menyindir dengan begitu elegannya dengan berkata: ”Sekiranya kamu buta, kamu tidak berdosa, tetapi karena kamu berkata: Kami melihat, maka tetaplah dosamu.”. Inilah happy ending yang ditunggu-tunggu! Ahli Taurat dan kaum Farisi hanya bisa bungkam seribu basa, sementara pengemis yang terbebas menjadi pengikut Yesus yang setia, dan Tuhan Yesus melangkah pergi tanpa bisa diganggu. And they lived happily ever after!
Cerita memang mudah saja dibuat, perumpamaan pun sangat gampang dituturkan. Tetapi, peristiwa yang terjadi dalam Yohanes 9 adalah peristiwa nyata, sebuah fragmen kehidupan dari seseorang yang benar-benar ada. Sang pengemis bukan rekaan, melainkan sungguhan, dan cerita inipun bukan perumpamaan. Disini kita melihat, bahwa meskipun sang pengemis sejak lahir mengalami penderitaan hebat, tetapi Tuhan sudah punya rencana sejak dia dilahirkan dengan kebutaannya. Semuanya, bahkan fakta bahwa ia mengemis di tempat dimana Tuhan Yesus lewat, sudah direncanakan dengan begitu detailnya. Inilah sebabnya mengapa Tuhan Yesus menggunakan kata ’Siloam – yang diutus’, karena sejak lahir, dengan segala kekurangannya, Allah sudah mempersiapkan orang ini untuk menjadi utusan Allah. Mungkin semuanya ini tak terbayangkan oleh sang pengemis, tetapi – begitulah indahnya rencana Allah – semuanya terjadi, indah pada waktunya!
Dengan perikop ini, kita dibuat untuk kembali memahami fakta bahwa Allah sudah menyiapkan suatu rencana bagi kita, semenjak kita lahir. Ini bukan berarti kita bisa bertindak pasif, karena menurut perkataan Tuhan Yesus pada Yoh 9:4 – ’kita’-lah – Tuhan dan saya – yang harus mengerjakan pekerjaan Tuhan. Kalau sang pengemis menyerah dan bunuh diri, atau sesudah melek lalu kabur seperti banyak penerima mukjijat lainnya, pastilah rencana besar ini tidak akan terwujud. Tetapi, Allah Yang Mahatahu tentu saja tidak sembarangan memilih orang!
Jadi, sebagai orang pilihan Tuhan, kita harus percaya bahwa sesuatu yang indah sedang direncakanNya untuk kita. Apapun masalah yang Anda hadapi – keuangan, karir, jodoh, keluarga, ekonomi, atau lainnya – hanyalah caraNya untuk menyiapkan kita, seperti kebutaan yang mendera sang pengemis sejak lahir. Tetaplah teguh, berjalanlah dalam iman! Pada saatnya nanti, akan tiba giliran Anda untuk membasuh diri Anda dalam kolam Siloam. Dan ingat – teguhlah pada saat ujian itu datang! Karena pada akhirnya nanti Tuhan Yesus akan menepuk punggung kita dengan bangga sambil berkata: ”Engkau bukan saja melihat Dia; tetapi Dia yang sedang berkata-kata dengan engkau, Dialah itu!” (Yoh 9:37)
Amin.

No comments: