“Mengapa kamu mengejar aku, seakan-akan Allah, dan tidak menjadi kenyang makan dagingku? Ah, kiranya perkataanku ditulis, dicatat dalam kitab, terpahat dengan besi pengukir dan timah pada gunung batu untuk selama-lamanya!”
Ayub 19:22-24
”Apakah si pengecam hendak berbantah dengan Yang Mahakuasa? Hendaklah yang mencela Allah menjawab!”
Ayub 40:2
“Tetapi aku tahu: Penebusku hidup, dan akhirnya Ia akan bangkit dari atas debu. Juga sesudah kulit tubuhku sangat rusak, tanpa dagingkupun aku akan melihat Allah, yang aku sendiri akan melihat memihak kepadaku; mataKu sendiri menyaksikannya dan bukan orang lain. Hati sanubariku merana karena rindu”
Ayub 19:25-27
Pernahkan kita mempertanyakan Tuhan? Tentu saja pernah. Mempertanyakan bukan berarti sekedar bertanya, melainkan cenderung menggugat, menyalahkan, atau bahkan tidak setuju dengan keputusan atau tindakanNya. Tindakan ini bisa memiliki konsekuensi fatal di kehidupan sehari-hari jika dilakukan pada manusia. Seorang pelayan bar pernah ditembak sampai mati hanya karena bertanya apakah kartu kredit tamunya masih berfungsi. Ya, mempertanyakan tindakan atau keabsahan seseorang, berarti meragukan otoritasnya, tidak mempercayai integritasnya.
Namun, seringkali kita berada dalam situasi yang memang layak dipertanyakan. Satu tahun yang lalu, 15 Juli 2007, di sebuah hari Minggu yang nampaknya biasa saja, saya mendapatkan kabar bahwa adik saya yang bertugas sebagai dokter di Fakfak mengalami kecelakaan. Anehnya, tidak seperti disambar geledek di siang bolong, namun berita itu hadir lewat telepon dan datang begitu saja. Saya ingat menanyakan kepada yang menelepon ,”Apa sudah tidak bisa tertolong lagi? Apa tidak bisa diusahakan?” - seolah-olah sedang menawar harga barang di Mangga Dua. Namun, bagai bayangan gelap yang berkelebat cepat, kepedihan dan perasaan kehilangan segera menyergap kami sekeluarga. Tangis pilu pun terdengar di rumah kami, yang bertahun-tahun jarang sekali menemui isak tangis. Hari itu, kami kehilangan Erina, sebuah kenyataan yang mulai terasa pahit dan menyakitkan di hati.
Dalam kondisi ini, salahkah bila saya mempertanyakan Tuhan? Bila kami sekeluarga, yang adalah orang Kristen yang cukup taat, mengacungkan jari dan bertanya kepada Tuhan? Begitu pula yang dilakukan Ayub dalam perikop diatas. Ayub, yang tidak bercacat cela, juga tiba-tiba mengalami bertubi-tubi penderitaan yang seolah jatuh dari langit. Tidak ada sebabnya, tidak ada penjelasannya, tiba-tiba saja semua yang dimiliki Ayub diambil oleh Tuhan. Dan manusiapun mulai bertanya: mengapa? Pertanyaan inilah yang kemudian menjadi akar masalah. Seperti teman-teman Ayub yang berhati keji, manusia kemudian berusaha menjawab pertanyaan ‘mengapa’ dengan teori konspirasi yang bukannya melegakan hati, melainkan menambah beban yang menderita. Lihat saja Ayub, apakah ia kemudian merasa lega ketika berbicara dengan teman-temannya? Tidak, hatinya tambah hancur!
Lalu bagaimana jawaban Tuhan atas pertanyaan Ayub? Bagaimana Ia menjawab pertanyaan ‘mengapa’ dari Ayub?
Perhatikan perikop Ayub 40, ketika Tuhan mulai menjawab Ayub. Bagaimanakah Ia menjawab? Apakah ia menjelaskan alasanNya, memberikan sebuah runutan kronologis yang berujung pada keputusanNya, bermuara pada penderitaan Ayub? Apakah Ia memberikan alasan, sebab-akibat, dan kausa prima? Tidak! Ia menjawab dengan perumpamaan mengenai ciptaanNya, proses alam yang ada dalam kuasaNya. Ia melukiskan kuasaNya dalam menciptakan binatang-binatang yang kuat dan hebat, yang kemudian membandingkannya dengan situasi Ayub: apakah Ayub berhak bertanya? Dan kalaupun Tuhan memberikan sebuah teori, apakah kita bisa mengerti? Tidak. KuasaNya diluar akal kita, hikmatNya melebihi rongga jiwa kita. IlmuNya tidak tertampung dalam selaksa otak manusia, bahkan kerlingNya bisa membakar kita sampai hangus. Lalu apakah hak manusia untuk mengerti? Tidak. Ayubpun sadar dan memberikan keputusan akhir kepada Tuhan.
Saudaraku, jika kita mengalami sebuah bencana, satu hal yang tidak boleh kita tanyakan: mengapa! Siapa, dimana, kapan, dan bagaimana bisa saja dijelaskan, tapi mengapa adalah hak Tuhan. Jangan berteori sendiri, beranggapan macam-macam, dan mencari-cari dosa yang membuat yang bersangkutan layak dihukum - jika demikian, kita sama seperti teman-teman Ayub yang dibenci Tuhan. Tetapi, percayalah akan kuasaNya, hikmatNya, dan kemuliaanNya. RencanaNya yang jauh diatas rencana kita. Jika Ia mampu merencanakan musim semi dan musim panas, cantiknya warna anggrek bulan yang menggantung di pohon, atau indahnya pemandangan koral di dasar samudera - siapakah kita, meragukan kemampuanNya untuk merancang hidup kita sesuai rencananya? Apakah kita bisa melihat apa yang dilihatNya, atau mengerti apa yang penjadi pengertianNya? Tidak. Maka hanya ada satu yang harus kita lakukan: percaya, seperti nelayan percaya kepada angin yang tak berwujud, seperti seorang penerbang yang percaya pada sebatang jarum di panel kontrolnya. Bangkitlah, berjalanlah! Karena Tuhan sudah memanggil kita lewat pecutNya yang pedih. PecutNya yang sekarang memacu kita untuk lebih cepat lagi sampai ke tujuan yang sudah dirancangNya. Amin!
Chicago, 15 Juli 2008
Satu tahun perginya dr. Erina Natania Nazarudin, 15 Juli 2007 - 15 Juli 2008.
Embun pagi adalah kristalisasi hari. Uap, asap, debu, kabut, yang terakumulasi selama sehari penuh, akan mengalami transformasi akibat kondensasi dan sublimasi, menjadi embun pagi yang murni, suci, bersih. Demikian pula Firman Tuhan, sering tersamar dalam kotornya hari, namun selalu muncul kembali dalam bentuk murni di pagi hari. Asalkan kita rela luangkan waktu, bersihkan hati, biarkan Roh itu bekerja.
Sunday, July 27, 2008
Thursday, April 03, 2008
Renungan Paskah dari Bukit Kasih
“Karena kamu telah mendengar tentang Dia dan menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran yang nyata dalam Yesus, yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.”
Efesus 4:21 - 24
Pada hari Sabtu menjelang Paskah tahun ini, 22 Maret 2008, saya berkesempatan berkunjung ke situs Bukit Kasih di Tomohon, Sulawesi Utara. Walaupun saya tidak berkesempatan ke gereja, namun perjalanan mendaki Bukit Kasih membuat saya melakukan perenungan rohani yang sangat relevan dengan peristiwa Paskah.
Bukit Kasih adalah sebuah situs rohani yang terletak di sebuah bukit yang cukup tinggi. Dari kejauhan yang pertama kali nampak adalah sebuah tugu dengan lima sisi, yang tidak dindingnya melambangkan 5 agama yang diakui di Indonesia: Kristen Protestan, Kristen Katolik, Hindu, Buddha, dan Islam. Di setiap dinding terdapat plakat yang melambangkan tiap agama dan sebuah kutipan dari kitab suci masing-masing. Tugu ini menandai titik awal dari ziarah di Bukit Kasih. Dari sini, ada ratusan anak tangga yang berliku-liku untuk mencapai puncak ziarah yang tertinggi.
Sayapun mulai mendaki. Tangganya sangat terjal! Dengan kemiringan mencapai 45-50 derajat, napas saya langsung terengah-engah. Anak tangga pun menjadi tak beraturan, makin tinggi. Perut buncit ditambah jarang olah raga, membuat pendakian menjadi semakin sulit. Sekilas mirip dengan kondisi iman manusia yang jarang dilatih, sehingga menghadapi tanjakan kehidupan, cepat sekali terengah-engah. Ketika tujuan belum juga nampak, saya mulai bingung. Lanjut atau teruskan? Apakah saya punya tenaga cukup? Sekarang sudah jam 4 sore, dan mendung pula. Bagaimana jika nanti turun hujan? Bagaimana jika kami kemalaman pada saat kembali? Bimbang dan ragu. Sebuah refleksi kehidupan, dimana kita berada dalam kondisi iman yang gundah. Apakah saya sanggup mengikut Yesus? Apakah mengikut Yesus adalah jalan yang benar? Disini, peran teman-teman seperjalanan yang memberikan semangat sangat menentukan. Akhirnya, langkah demi langkah saya lewati sampai jalanan kemudian menjadi landai. Lega!
Saya sampai pada sebuah dataran yang indah di punggung bukit. Dari situ saya bisa melihat daerah perbukitan Kawanua yang indah. Pelataran tersebut merupakan tujuan ziarah, dimana terdapat rumah ibadah untuk 5 agama. Gereja, kapel, mesjid, pura, dan wihara berdiri berdampingan, melambangkan toleransi dari agama-agama di Indonesia. Tapi, apakah ini puncak tertinggi dari ziarah? Bukan! Rupanya, jauh diatas, di puncak bukit yang tertinggi, terdapat sebuah salib raksasa! Itulah titik tertinggi dari ziarah ini. Rupanya, arsitek dari Bukit Kasih ini sangat cerdik. Tempat ibadah 5 agama tidak diletakkan di tempat tertinggi, sebagai tujuan utama ziarah, melainkan sebagai perhentian saja. Bukankah setiap agama adalah jalan menuju Tuhan, menuju Sang Esa? Dengan demikian, agama memang bukan Tuhan, melainkan jalan menuju Tuhan. Tuhan Yang Esa sendiri, berada diatas sana - nun jauh di puncak tertinggi yang dilingkupi awan-awan!
Permasalahan berikutnya: apakah kita sanggup menaiki tangga lagi menuju Salib? Kalau tangga sebelumnya saja sudah membuat kita terengah-engah, bagaimana kita harus mendaki lagi? Kami pun naik tangga dengan ragu-ragu. Kalau tadi saja sudah jam 4 sore, kini waktu menunjukkan jam 5 sore. Awan mendung menggulung-gulung diatas, sementara kawah yang ada dibawah mengepulkan asap sulfur yang menyesakkan napas, membuat perjalanan menjadi semakin sulit. Tangga pun semakin menanjak, kini puncak bukit diselimuti kabut sehingga tidak terlihat. Makin lama tangga semakin sempit, terjepit oleh akar-akaran dan tumbuhan liar. Sementara, rintik-rintik hujan mulai terasa. Beberapa orang yang tadinya mendaki bersama kami memutuskan untuk menyerah dan kembali, karena konon ‘tempat di depan terkenal angker’. Saya pun menjadi bimbang - lanjut atau terus?
Kalau dalam mencapai agama kita mendapat ujian berupa tangga yang curam, untuk mencapai Tuhan ujiannya akan lebih berat lagi. Yang pertama adalah karena Tuhan berada di tempat yang lebih tinggi, sehingga semakin sulit untuk mencapaiNya. Yang kedua, adalah karena puncak bukit - Tuhan sendiri - tidak bisa dilihat dengan mata! Saya hanya bisa percaya, bahwa Salib itu ada disana - dibalik bukit yang menjulang dan kabut tebal yang menggantung. Saya tidak tahu berapa lama lagi harus berjalan, dan apakah tujuan itu benar-benar ada. Mendung dan matahari yang semakin condong ke Barat membuat hati menjadi ciut. Jika tenaga sudah habis, nyali sudah ciut, apalagi yang tersisa? Iman! Imanlah yang menjadi kunci. Imanlah yang tinggal, yang selalu membisikkan bahwa Ia ada diatas sana, Ia menunggu kita di tempat yang sudah disediakanNya. Kita tidak bisa melihatnya, bahkan tidak tahu berapa jauh lagi sampai disana. Tapi iman kita mengatakan bahwa Ia disana, dan Ia menunggu!
Akhirnya, setelah sempat bimbang, saya melanjutkan perjalanan, Pukul 5.30 sore, saya berhasil melangkahi anak tangga terakhir, dan jalan berubah menjadi jalan tanah. Saya bisa merasakan bahwa tujuan sudah dekat! Benar saja, tak lama kemudian, nampaklah Salib itu - kokoh berdiri di puncak bukit! Sebuah salib putih yang sederhana, yang membuatnya istimewa adalah beratnya perjalanan untuk mencapainya. Sebuah lambang dari ujian iman kehidupan yang terberat untuk mencapaiNya. Dari sana, tidak lagi terlihat dunia, melainkan hanya kabut dan awan tebal sejauh mata memandang. Haleluya! Saya sudah sampai! Dan puji Tuhan, ketika saya turun, semua nampak berubah. Awan yang tadinya menggulung mengancam kini lenyap diganti langit cerah dengan matahari bersinar terang. Tangga yang tadi begitu seram dan sempit, kini terlihat lebar dan bersahabat. Pepohonan yang tadinya seolah menyimpan ular yang bisa setiap saat mematuk, kini terlihat seperti semak biasa.
Itulah manusia baru! Manusia yang dikuatkan oleh iman, setelah perjalanan rohani untuk mencapaiNya. Itulah jiwa yang telah mengalami pencerahan, sebuah reformasi rohani yang mampu mengubah sudut pandang kita. Dari mendung menjadi cerah, dari mengancam jadi bersahabat. Tak heran bahwa ciri manusia baru adalah sikap ramah dan memaafkan, sikap kasih sayang dan persahabatan - karena setelah Ia mengubah sudut pandang kita, semuanya nampak indah dan bersahabat!
Bagaimana dengan kehidupan kita sekarang? Mungkin, kita sedang mendaki di tangga pertama, dimana kita masih bergulat dengan pemahaman agama dan segala peraturannya. Atau, kita sudah melalui tingkat kedua, perjalanan yang lebih sulit dalam mencapai lahir baru sebagai puncak kehidupan rohani kita. Apakah kita memutuskan untuk mundur dan mencoba jalan lain, atau menyerah dan kembali ke tempat asal? Ataukah kita sedang berhenti di tengah tangga dan memandang keatas dengan bimbang?
Saudaraku, jangan ragu dan bimbang. Yang kau lihat di bawah sana adalah kehidupanmu yang dulu - yang penuh dengan kesuraman awan mendung yang menggulung, penuh dengat pagut ular dari semak belukar, diisi oleh asap yang menyesakkan. Langkahkan kaki dan jangan ragu! Allahmu ada diatas sana. Jalan memang terjal dan sempit, namun iman jugalah yang nantinya akan menuntun kita sampai kesana. Dan, setelah sampai, jangan kuatir, karena reformasi rohani akan mengubah sudut pandang kita - mendung menjadi cerah, yang mengancam menjadi bersahabat. Dengan demikian lengkaplah transformasi rohani kita menjadi manusia baru, seperti Yesus yang bangkit dari kematianNya. Hosiana, puji Tuhan Semesta Alam!
Amin.
Efesus 4:21 - 24
Pada hari Sabtu menjelang Paskah tahun ini, 22 Maret 2008, saya berkesempatan berkunjung ke situs Bukit Kasih di Tomohon, Sulawesi Utara. Walaupun saya tidak berkesempatan ke gereja, namun perjalanan mendaki Bukit Kasih membuat saya melakukan perenungan rohani yang sangat relevan dengan peristiwa Paskah.
Bukit Kasih adalah sebuah situs rohani yang terletak di sebuah bukit yang cukup tinggi. Dari kejauhan yang pertama kali nampak adalah sebuah tugu dengan lima sisi, yang tidak dindingnya melambangkan 5 agama yang diakui di Indonesia: Kristen Protestan, Kristen Katolik, Hindu, Buddha, dan Islam. Di setiap dinding terdapat plakat yang melambangkan tiap agama dan sebuah kutipan dari kitab suci masing-masing. Tugu ini menandai titik awal dari ziarah di Bukit Kasih. Dari sini, ada ratusan anak tangga yang berliku-liku untuk mencapai puncak ziarah yang tertinggi.
Sayapun mulai mendaki. Tangganya sangat terjal! Dengan kemiringan mencapai 45-50 derajat, napas saya langsung terengah-engah. Anak tangga pun menjadi tak beraturan, makin tinggi. Perut buncit ditambah jarang olah raga, membuat pendakian menjadi semakin sulit. Sekilas mirip dengan kondisi iman manusia yang jarang dilatih, sehingga menghadapi tanjakan kehidupan, cepat sekali terengah-engah. Ketika tujuan belum juga nampak, saya mulai bingung. Lanjut atau teruskan? Apakah saya punya tenaga cukup? Sekarang sudah jam 4 sore, dan mendung pula. Bagaimana jika nanti turun hujan? Bagaimana jika kami kemalaman pada saat kembali? Bimbang dan ragu. Sebuah refleksi kehidupan, dimana kita berada dalam kondisi iman yang gundah. Apakah saya sanggup mengikut Yesus? Apakah mengikut Yesus adalah jalan yang benar? Disini, peran teman-teman seperjalanan yang memberikan semangat sangat menentukan. Akhirnya, langkah demi langkah saya lewati sampai jalanan kemudian menjadi landai. Lega!
Saya sampai pada sebuah dataran yang indah di punggung bukit. Dari situ saya bisa melihat daerah perbukitan Kawanua yang indah. Pelataran tersebut merupakan tujuan ziarah, dimana terdapat rumah ibadah untuk 5 agama. Gereja, kapel, mesjid, pura, dan wihara berdiri berdampingan, melambangkan toleransi dari agama-agama di Indonesia. Tapi, apakah ini puncak tertinggi dari ziarah? Bukan! Rupanya, jauh diatas, di puncak bukit yang tertinggi, terdapat sebuah salib raksasa! Itulah titik tertinggi dari ziarah ini. Rupanya, arsitek dari Bukit Kasih ini sangat cerdik. Tempat ibadah 5 agama tidak diletakkan di tempat tertinggi, sebagai tujuan utama ziarah, melainkan sebagai perhentian saja. Bukankah setiap agama adalah jalan menuju Tuhan, menuju Sang Esa? Dengan demikian, agama memang bukan Tuhan, melainkan jalan menuju Tuhan. Tuhan Yang Esa sendiri, berada diatas sana - nun jauh di puncak tertinggi yang dilingkupi awan-awan!
Permasalahan berikutnya: apakah kita sanggup menaiki tangga lagi menuju Salib? Kalau tangga sebelumnya saja sudah membuat kita terengah-engah, bagaimana kita harus mendaki lagi? Kami pun naik tangga dengan ragu-ragu. Kalau tadi saja sudah jam 4 sore, kini waktu menunjukkan jam 5 sore. Awan mendung menggulung-gulung diatas, sementara kawah yang ada dibawah mengepulkan asap sulfur yang menyesakkan napas, membuat perjalanan menjadi semakin sulit. Tangga pun semakin menanjak, kini puncak bukit diselimuti kabut sehingga tidak terlihat. Makin lama tangga semakin sempit, terjepit oleh akar-akaran dan tumbuhan liar. Sementara, rintik-rintik hujan mulai terasa. Beberapa orang yang tadinya mendaki bersama kami memutuskan untuk menyerah dan kembali, karena konon ‘tempat di depan terkenal angker’. Saya pun menjadi bimbang - lanjut atau terus?
Kalau dalam mencapai agama kita mendapat ujian berupa tangga yang curam, untuk mencapai Tuhan ujiannya akan lebih berat lagi. Yang pertama adalah karena Tuhan berada di tempat yang lebih tinggi, sehingga semakin sulit untuk mencapaiNya. Yang kedua, adalah karena puncak bukit - Tuhan sendiri - tidak bisa dilihat dengan mata! Saya hanya bisa percaya, bahwa Salib itu ada disana - dibalik bukit yang menjulang dan kabut tebal yang menggantung. Saya tidak tahu berapa lama lagi harus berjalan, dan apakah tujuan itu benar-benar ada. Mendung dan matahari yang semakin condong ke Barat membuat hati menjadi ciut. Jika tenaga sudah habis, nyali sudah ciut, apalagi yang tersisa? Iman! Imanlah yang menjadi kunci. Imanlah yang tinggal, yang selalu membisikkan bahwa Ia ada diatas sana, Ia menunggu kita di tempat yang sudah disediakanNya. Kita tidak bisa melihatnya, bahkan tidak tahu berapa jauh lagi sampai disana. Tapi iman kita mengatakan bahwa Ia disana, dan Ia menunggu!
Akhirnya, setelah sempat bimbang, saya melanjutkan perjalanan, Pukul 5.30 sore, saya berhasil melangkahi anak tangga terakhir, dan jalan berubah menjadi jalan tanah. Saya bisa merasakan bahwa tujuan sudah dekat! Benar saja, tak lama kemudian, nampaklah Salib itu - kokoh berdiri di puncak bukit! Sebuah salib putih yang sederhana, yang membuatnya istimewa adalah beratnya perjalanan untuk mencapainya. Sebuah lambang dari ujian iman kehidupan yang terberat untuk mencapaiNya. Dari sana, tidak lagi terlihat dunia, melainkan hanya kabut dan awan tebal sejauh mata memandang. Haleluya! Saya sudah sampai! Dan puji Tuhan, ketika saya turun, semua nampak berubah. Awan yang tadinya menggulung mengancam kini lenyap diganti langit cerah dengan matahari bersinar terang. Tangga yang tadi begitu seram dan sempit, kini terlihat lebar dan bersahabat. Pepohonan yang tadinya seolah menyimpan ular yang bisa setiap saat mematuk, kini terlihat seperti semak biasa.
Itulah manusia baru! Manusia yang dikuatkan oleh iman, setelah perjalanan rohani untuk mencapaiNya. Itulah jiwa yang telah mengalami pencerahan, sebuah reformasi rohani yang mampu mengubah sudut pandang kita. Dari mendung menjadi cerah, dari mengancam jadi bersahabat. Tak heran bahwa ciri manusia baru adalah sikap ramah dan memaafkan, sikap kasih sayang dan persahabatan - karena setelah Ia mengubah sudut pandang kita, semuanya nampak indah dan bersahabat!
Bagaimana dengan kehidupan kita sekarang? Mungkin, kita sedang mendaki di tangga pertama, dimana kita masih bergulat dengan pemahaman agama dan segala peraturannya. Atau, kita sudah melalui tingkat kedua, perjalanan yang lebih sulit dalam mencapai lahir baru sebagai puncak kehidupan rohani kita. Apakah kita memutuskan untuk mundur dan mencoba jalan lain, atau menyerah dan kembali ke tempat asal? Ataukah kita sedang berhenti di tengah tangga dan memandang keatas dengan bimbang?
Saudaraku, jangan ragu dan bimbang. Yang kau lihat di bawah sana adalah kehidupanmu yang dulu - yang penuh dengan kesuraman awan mendung yang menggulung, penuh dengat pagut ular dari semak belukar, diisi oleh asap yang menyesakkan. Langkahkan kaki dan jangan ragu! Allahmu ada diatas sana. Jalan memang terjal dan sempit, namun iman jugalah yang nantinya akan menuntun kita sampai kesana. Dan, setelah sampai, jangan kuatir, karena reformasi rohani akan mengubah sudut pandang kita - mendung menjadi cerah, yang mengancam menjadi bersahabat. Dengan demikian lengkaplah transformasi rohani kita menjadi manusia baru, seperti Yesus yang bangkit dari kematianNya. Hosiana, puji Tuhan Semesta Alam!
Amin.
Tuesday, February 12, 2008
Happy Birthday To Me!
Setiap tahun, karena lahir di bulan Februari, ulang tahun saya selalu berdekatan dengan Imlek. Jadi, pas ulang tahun, sisa-sisa angpau masih ada di dompet. Sisa-sisa inilah yang biasanya jadi modal saya buat nraktir temen-temen yang memberi selamat.
Nah, Imlek kemarin, ada yang lucu yang baru saya sadari. Kalau dulu, di usia belasan tahun, sesudah sojah ke orang tua, papi mami akan dengan muka tersenyum dan sumringah memberikan amplop merah berisi angpau. Isinya tidak begitu banyak, namun rasanya senang benar dapat uang lebih. Beranjak ke usia dua puluhan, saya sudah kerja di luar kota, sehingga kedatangan ke rumah waktu Imlek pun selalu ditunggu-tunggu, dan wajah papi mami masih tetap gembira memberikan angpau. Isinya lebih banyak, dan lumayan untuk menambah kebutuhan sehari-hari.
Di usia 30 ini? Wajah papi mami sudah tidak sumringah lagi. Bahkan memberikan angpaunya diselipkan saja, seperti pelanggar lalu lintas yang sedang menyogok polisi. "Sampai kapan seeeh ni anak dikasih angpau mulu".... pikir papi mami. "Kapan kawinnya? Bosen nih kita ngasih angpau melulu..." Hehehe
Jawabnya gampang: "Bulan Mei..... Meibe soon, meibe later" hehehe...
Cerita ini cuma bohongan yah, papi mami masih sumringah dan ikhlas kok memberi angpau! Eniwei buswei, happy birthday to me. Semoga rambut bisa tebal lagi, jodoh bisa ketemu, bisnis bisa lancar, dan karir terus maju! Jangan lupa banyak berdoa dan dekat sama Tuhan!
Cheers,
-Harnaz-
Nah, Imlek kemarin, ada yang lucu yang baru saya sadari. Kalau dulu, di usia belasan tahun, sesudah sojah ke orang tua, papi mami akan dengan muka tersenyum dan sumringah memberikan amplop merah berisi angpau. Isinya tidak begitu banyak, namun rasanya senang benar dapat uang lebih. Beranjak ke usia dua puluhan, saya sudah kerja di luar kota, sehingga kedatangan ke rumah waktu Imlek pun selalu ditunggu-tunggu, dan wajah papi mami masih tetap gembira memberikan angpau. Isinya lebih banyak, dan lumayan untuk menambah kebutuhan sehari-hari.
Di usia 30 ini? Wajah papi mami sudah tidak sumringah lagi. Bahkan memberikan angpaunya diselipkan saja, seperti pelanggar lalu lintas yang sedang menyogok polisi. "Sampai kapan seeeh ni anak dikasih angpau mulu".... pikir papi mami. "Kapan kawinnya? Bosen nih kita ngasih angpau melulu..." Hehehe
Jawabnya gampang: "Bulan Mei..... Meibe soon, meibe later" hehehe...
Cerita ini cuma bohongan yah, papi mami masih sumringah dan ikhlas kok memberi angpau! Eniwei buswei, happy birthday to me. Semoga rambut bisa tebal lagi, jodoh bisa ketemu, bisnis bisa lancar, dan karir terus maju! Jangan lupa banyak berdoa dan dekat sama Tuhan!
Cheers,
-Harnaz-
Longing for an Imperfect Life
“Jesus said unto him, If thou wilt be perfect, go and sell that thou hast, and give to the poor, and thou salt have treasure in heaven: and come and follow me. But when the young man heard that saying, he went away sorrowful: for he had great possesions.”
Matthew 19:21-22
A good friend of mine has a unique life story. I admire him a lot because of the decisions he made - the ones that changed his life. He was a long-time bachelor - up to late forties, he was still living single. Of course, with not so many family-related expenses, he had a good life. Moreover, he is a brilliant manager, and has started his career very early in age. As a result, by mid thirties, he already held a high managerial position in his company. Life was good for him - cars and housings provided by the company, with driver, secretaries, and dedicated office boys. He spent many nights entertaining customer on a management’s budget - those who work in business must know what I am talking about! His smart brain really pushed him to the top - but he was alone at the top.
Then, he made a daring decision to get married in his late forties age. Coincidentally, he had to give up his glorious career. He had a disagreement with one of the company owners, so he decided to quit. All of a sudden, he lost almost all of his priviledges - no more luxury company cars, no driver, not even an office boy - he even had to use everything he got to buy a small house in the suburb. Now he has a small business, giving mediocre returns. They’re fine, but nothing compared to what he had before. You can say he’s at rock bottom - but not alone, for now he has his wife with him!
In all wordly measures, my friend is a born loser. But not in Godly term, because he is happier now, looks much younger, and is much more healthy. No more late-night entertainments, no more greasy business dinners - meals are cooked at home, cheaper by the dozen. It looks sad, but he seems to be very happy - he feels to be more of a human than before. I remembered when I visited him about a week after his marriage. He was watering his small garden in his house. “You know what” he said, “in forty something years of my life, this is the first time that I water my garden like this!”. It was not meant as a complaint - his cheerful face clearly defied that.
The marriage itself was not easy. Being alone for a very long time, he had many disagreement with his wife. From difficulties to get a ‘passport’ out of the house, until the very different hobbies that they have. He likes adventures, singing in karaokes, and watching highly-qualified movies. His wife doesn’t sing, likes to stay at home, and loves sinetrons. Sometimes they bump into each other, and he complains a bit about that. But his conclusion is always firm: no matter what, it is better to be with somebody, better than being alone.
My friend was perfect when he was a bachelor. So do many bachelors and bachelorettes out there: they tend to be ‘perfect’. In fact, you can only have a perfect life if you are alone. No financial problems, always sufficient, no fights with anyone. Single and singular - perfect! Unfortunately, life needs to be imperfect. Just look at my friend: he was perfect before, but he was longing for something imperfect: someone to fight with, someone who would complain if he comes home too late, someone who - well - always remind him that he’s not perfect. Even if this imperfection means not only to have somebody, but also to lost all his previous glory, he still sees it as worth while.
What is the utmost example of imperfection in life? Children. Another friend of mine was married in an early age but had no children for a long time. He too, was a perfectionist - until his first born. Children are perfect example of imperfection: they cry in the middle of the night, they poop while eating, they are always naughty, and trying to control them is futile. One wonders, why bother having them at all? Again, it is the sweet imperfection. The greatest joy of raising a child is to see him/her obey you once after the 100th time you told him/her to do something. To see that there is compliance afterall - made it worth while to repeat the lesson 100 times more.
So, for you guys and gals out there who are still looking for ‘the one’, stop looking for perfection. Also for those who feels that their spouses are not perfect - bingo! It is not the perfection, it is indeed the imperfections that matters in life. Life is, and tends to be, imperfect. That’s why when a perfect man asked Jesus what he should do more to be perfect, His answer was highly unexpected. “If thou wilt be perfect, go and sell that thou hast, and give to the poor”. In short: forget your perfection and embrace imperfection. For having an imperfect live means that you are not in control. But God is, and that’s the way He wanted it to be.
For my dear family, friend and mentor IW, who has started to find imperfection.
Matthew 19:21-22
A good friend of mine has a unique life story. I admire him a lot because of the decisions he made - the ones that changed his life. He was a long-time bachelor - up to late forties, he was still living single. Of course, with not so many family-related expenses, he had a good life. Moreover, he is a brilliant manager, and has started his career very early in age. As a result, by mid thirties, he already held a high managerial position in his company. Life was good for him - cars and housings provided by the company, with driver, secretaries, and dedicated office boys. He spent many nights entertaining customer on a management’s budget - those who work in business must know what I am talking about! His smart brain really pushed him to the top - but he was alone at the top.
Then, he made a daring decision to get married in his late forties age. Coincidentally, he had to give up his glorious career. He had a disagreement with one of the company owners, so he decided to quit. All of a sudden, he lost almost all of his priviledges - no more luxury company cars, no driver, not even an office boy - he even had to use everything he got to buy a small house in the suburb. Now he has a small business, giving mediocre returns. They’re fine, but nothing compared to what he had before. You can say he’s at rock bottom - but not alone, for now he has his wife with him!
In all wordly measures, my friend is a born loser. But not in Godly term, because he is happier now, looks much younger, and is much more healthy. No more late-night entertainments, no more greasy business dinners - meals are cooked at home, cheaper by the dozen. It looks sad, but he seems to be very happy - he feels to be more of a human than before. I remembered when I visited him about a week after his marriage. He was watering his small garden in his house. “You know what” he said, “in forty something years of my life, this is the first time that I water my garden like this!”. It was not meant as a complaint - his cheerful face clearly defied that.
The marriage itself was not easy. Being alone for a very long time, he had many disagreement with his wife. From difficulties to get a ‘passport’ out of the house, until the very different hobbies that they have. He likes adventures, singing in karaokes, and watching highly-qualified movies. His wife doesn’t sing, likes to stay at home, and loves sinetrons. Sometimes they bump into each other, and he complains a bit about that. But his conclusion is always firm: no matter what, it is better to be with somebody, better than being alone.
My friend was perfect when he was a bachelor. So do many bachelors and bachelorettes out there: they tend to be ‘perfect’. In fact, you can only have a perfect life if you are alone. No financial problems, always sufficient, no fights with anyone. Single and singular - perfect! Unfortunately, life needs to be imperfect. Just look at my friend: he was perfect before, but he was longing for something imperfect: someone to fight with, someone who would complain if he comes home too late, someone who - well - always remind him that he’s not perfect. Even if this imperfection means not only to have somebody, but also to lost all his previous glory, he still sees it as worth while.
What is the utmost example of imperfection in life? Children. Another friend of mine was married in an early age but had no children for a long time. He too, was a perfectionist - until his first born. Children are perfect example of imperfection: they cry in the middle of the night, they poop while eating, they are always naughty, and trying to control them is futile. One wonders, why bother having them at all? Again, it is the sweet imperfection. The greatest joy of raising a child is to see him/her obey you once after the 100th time you told him/her to do something. To see that there is compliance afterall - made it worth while to repeat the lesson 100 times more.
So, for you guys and gals out there who are still looking for ‘the one’, stop looking for perfection. Also for those who feels that their spouses are not perfect - bingo! It is not the perfection, it is indeed the imperfections that matters in life. Life is, and tends to be, imperfect. That’s why when a perfect man asked Jesus what he should do more to be perfect, His answer was highly unexpected. “If thou wilt be perfect, go and sell that thou hast, and give to the poor”. In short: forget your perfection and embrace imperfection. For having an imperfect live means that you are not in control. But God is, and that’s the way He wanted it to be.
For my dear family, friend and mentor IW, who has started to find imperfection.
Tuesday, January 08, 2008
Shine On, Sister!
Lalu Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, kataNya, ”Inilah tubuhKu yang diserahkan bagi kamu, perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.”
Lukas 22:19
Natal 2007 dan tahun baru 2008 terasa sangat sulit dilalui bagi keluarga kami. Maklum, kami baru saja kehilangan adik saya tercinta Erina Natania yang meninggal dalam tugas tanggal 15 Juli 2007. Sejak jauh-jauh hari saya sudah menyiapkan tiket pesawat agar kami sekeluarga pergi keluar kota, sekedar untuk memudahkan melalui Natal tanpa Erina. Kamipun kemudian berkeliling Jawa Tengah, dan secara umum perjalanan berlangsung sangat mengasyikkan.
Namun, ada satu hal yang tetap berbeda. Tidak satupun dari kami yang ke gereja pada hari Natal! Saya sendiri sempat mencoba untuk mengajak keluarga ke gereja pada tanggal 25 Desember. Namun, terus terang, saya takut untuk ke gereja. Bagaimana tidak? Menyanyikan lagu-lagu Natal dan duduk bersama di gereja, tanpa Erina, akan terasa sangat menyakitkan. Apalagi, Erina-lah yang biasanya paling rajin ke gereja (walaupun terlambat bangunnya), dan ialah yang paling semangat jika bernyanyi. Lagipula, sebagai manusia, tidak ada dari kami, termasuk saya, yang luput dari perasaan menyalahkan Tuhan. Mengapa Tuhan justru ‚mengambil’ Erina? Mengapa orang lain, melainkan Erina? Dengan demikian, menghadap wajah Tuhan - yang mengambil Erina - menjadi sulit kami lakukan.
Baru hari ini saya ke gereja lagi, tanggal 6 Januari 2008. Kebetulan, saya ada di Cikarang, dan hati itu adalah Perjamuan Kudus. Biasanya saya sudah hopeless jika ke gereja Cikarang, karena khotbahnya yang selalu sangat (bahkan terlalu) sederhana. Apakah dalam kondisi seperti ini, dalam kondisi iman dan jiwa yang sedang babak belur, hanya ke gereja Cikarang bisa memberikan kesejukan? Mungkin inilah yang dirasakan keluarga saya, sampai-sampai kami menjadi jarang ke gereja. Terus terang, saya kemudian nyaris tertidur waktu khotbah. Sayup-sayup terdengar suara Pak Pendeta yang menguraikan secara teoritis mengenai tema khotbah hari ini. Saya kembali putus asa, dan berharap proses liturgi ini cepat selesai, ketika roti perjamuan dibagikan.
Seperti biasa, potongan roti susu yang berbentuk persegi itu saya pegang di tangan saya. Lalu sayapun memandang roti itu, namun ada sesuatu yang lain di hati saya. Demikian juga gelas kecil anggur, yang berwarna merah gelap, seperti darah Erina yang masih menempel di handphone-nya ketika kami menerimanya. Daging seperti milik Erina, ketika kami melihat ia terbaring di dalam petinya. Inilah yang disebut darah dan daging - kematian! Inilah yang disebut memakan daging dan meminum darah - pengorbanan! Seperti Erina yang rela menyabung nyawa demi tugasnya disana.
Sebelumnya, walaupun kami bertahun-tahun ke gereja, bertahun-tahun aktif di kegiatan gereja, kata-kata seperti ‘kematian’, ‘pengorbanan’, ‘daging’, dan ‘darah’ seringkali terngiang-ngiang di telinga, namun buat saya itu sama saja seperti bom yang meledak di Irak. Saya lihat gambarnya, namun tahukah saya arti bom yang meledak itu? Betapa bergetar hati waktu mendengarnya? Betapa ngeri kejadian sesudahnya? Tidak. Bom ya bom, kita bisa ikut sedih atau prihatin, tapi toh itu sebuah kejadian yang jauh dari kita, jauh dari keseharian kita. Sangat mudah untuk berkata: Oh, mengerikan ya? Oh, menyedihkan ya? - Namun akan terasa berbeda kalau kita mengalaminya sendiri. Jadi, selama ini, saya tidak mengerti arti pengorbanan, darah, dan daging. Bahkan arti kematian pun tidak saya mengerti - lalu bagaimana saya bisa mengerti soal kebangkitan, kalau mati saja tidak paham?
Saya lalu seperti tersadarkan diri. Inilah rasa asam cuka dari kematian, yang sedang saya alami sekarang, yang dicucukkan ke mulut Tuhan Yesus 2000 tahun yang lalu. Kematian yang diakibatkan oleh sikap pengorbanan dan kepahlawanan, yang dibuktikan dengan penghargaan negara yang begitu besar terhadap Erina. Inilah pahit getir penderitaan akibat kematian! Inilah cawan yang disebut-sebut Tuhan Yesus harus diregukNya! Inilah sebabnya, Tuhan Yesus berpesan agar ritual perjamuan diulang untuk mengingatNya. Inilah sebabnya, dari berbagai macam denominasi Kristen, dari Ortodox Syria, Ethiopia, Katolik Roma, sampai GKI, hanya satu ritual yang tetap sama bentuknya: ritual Perjamuan Kudus! Mengapa Tuhan Yesus justru ingin murid-muridNya mengenang kematianNya, dan bukan kebangkitanNya? Bukankah sangat menyakitkan bagi para murid, setiap kali roti dibelah dan anggur dituang, tanpa kehadiran Sang Guru yang mereka cintai? Ya, karena lewat Perjamuan Kudus ini, Tuhan Yesus ingin agar kita mengerti mengenai kematian. Karena tanpa pengertian soal kematian, suatu hal yang mustahil untuk memahami kebangkitan.
Jadi, tahapan berikutnya adalah jelas: bangkit! Lagu KJ 424 yang berjudul „Yesus Menginginkan Daku“, yang dinyanyikan sebagai nyanyian pengutusan, justru menjadi pesan Tuhan Yesus yang luar biasa untuk saya. Bagaimana kita harus bersinar - menjadi cahaya yang menerangi bumi, dan menyebarkan cahaya itu seluas mungkin. Inilah kebangkitan! Cahaya tidak punya bentuk, bahkan fisikawan paling ahli pun sampai sekarang tidak bisa menentukan wujudnya - apakah cahaya adalah gelombang atau partikel. Cahaya adalah abstrak, namun ada. Cahaya bisa menerangi, menghangatkan, dan menyejukkan hati yang gundah dirundung banjir. Apakah syarat menjadi cahaya? Kematian! Karena cahaya tidak berbentuk, maka bentuk harus dimatikan terlebih dahulu. Bentuk, yang bagai enam sisi tembok penjara, jika dijebol akan membuat cahaya menjadi bebas, berlari dengan kecepatan tertinggi yang mungkin ada menurut Einstein.
Jadi, Erina sekarang sudah menjadi cahaya. Cahaya yang bersinar dalam hati kita, cahaya yang dirasakan oleh setiap orang yang mengenalnya semasa hidup. Cahaya yang mengandung tanggung jawab bagi kita yang menerimanya - bahwa kita juga harus meneruskannya. Bahwa dengan pengertian ini, dengan pemahaman ini, saya, kita, harus giat menyebarkan kabar baik ke semua orang. Kabar tentang kebangkitan sesudah kematian. Kabar tentang Tuhan Yesus, Sang Cahaya yang terus bersinar.
Shine on, Sister!
Harry Nazarudin
Lukas 22:19
Natal 2007 dan tahun baru 2008 terasa sangat sulit dilalui bagi keluarga kami. Maklum, kami baru saja kehilangan adik saya tercinta Erina Natania yang meninggal dalam tugas tanggal 15 Juli 2007. Sejak jauh-jauh hari saya sudah menyiapkan tiket pesawat agar kami sekeluarga pergi keluar kota, sekedar untuk memudahkan melalui Natal tanpa Erina. Kamipun kemudian berkeliling Jawa Tengah, dan secara umum perjalanan berlangsung sangat mengasyikkan.
Namun, ada satu hal yang tetap berbeda. Tidak satupun dari kami yang ke gereja pada hari Natal! Saya sendiri sempat mencoba untuk mengajak keluarga ke gereja pada tanggal 25 Desember. Namun, terus terang, saya takut untuk ke gereja. Bagaimana tidak? Menyanyikan lagu-lagu Natal dan duduk bersama di gereja, tanpa Erina, akan terasa sangat menyakitkan. Apalagi, Erina-lah yang biasanya paling rajin ke gereja (walaupun terlambat bangunnya), dan ialah yang paling semangat jika bernyanyi. Lagipula, sebagai manusia, tidak ada dari kami, termasuk saya, yang luput dari perasaan menyalahkan Tuhan. Mengapa Tuhan justru ‚mengambil’ Erina? Mengapa orang lain, melainkan Erina? Dengan demikian, menghadap wajah Tuhan - yang mengambil Erina - menjadi sulit kami lakukan.
Baru hari ini saya ke gereja lagi, tanggal 6 Januari 2008. Kebetulan, saya ada di Cikarang, dan hati itu adalah Perjamuan Kudus. Biasanya saya sudah hopeless jika ke gereja Cikarang, karena khotbahnya yang selalu sangat (bahkan terlalu) sederhana. Apakah dalam kondisi seperti ini, dalam kondisi iman dan jiwa yang sedang babak belur, hanya ke gereja Cikarang bisa memberikan kesejukan? Mungkin inilah yang dirasakan keluarga saya, sampai-sampai kami menjadi jarang ke gereja. Terus terang, saya kemudian nyaris tertidur waktu khotbah. Sayup-sayup terdengar suara Pak Pendeta yang menguraikan secara teoritis mengenai tema khotbah hari ini. Saya kembali putus asa, dan berharap proses liturgi ini cepat selesai, ketika roti perjamuan dibagikan.
Seperti biasa, potongan roti susu yang berbentuk persegi itu saya pegang di tangan saya. Lalu sayapun memandang roti itu, namun ada sesuatu yang lain di hati saya. Demikian juga gelas kecil anggur, yang berwarna merah gelap, seperti darah Erina yang masih menempel di handphone-nya ketika kami menerimanya. Daging seperti milik Erina, ketika kami melihat ia terbaring di dalam petinya. Inilah yang disebut darah dan daging - kematian! Inilah yang disebut memakan daging dan meminum darah - pengorbanan! Seperti Erina yang rela menyabung nyawa demi tugasnya disana.
Sebelumnya, walaupun kami bertahun-tahun ke gereja, bertahun-tahun aktif di kegiatan gereja, kata-kata seperti ‘kematian’, ‘pengorbanan’, ‘daging’, dan ‘darah’ seringkali terngiang-ngiang di telinga, namun buat saya itu sama saja seperti bom yang meledak di Irak. Saya lihat gambarnya, namun tahukah saya arti bom yang meledak itu? Betapa bergetar hati waktu mendengarnya? Betapa ngeri kejadian sesudahnya? Tidak. Bom ya bom, kita bisa ikut sedih atau prihatin, tapi toh itu sebuah kejadian yang jauh dari kita, jauh dari keseharian kita. Sangat mudah untuk berkata: Oh, mengerikan ya? Oh, menyedihkan ya? - Namun akan terasa berbeda kalau kita mengalaminya sendiri. Jadi, selama ini, saya tidak mengerti arti pengorbanan, darah, dan daging. Bahkan arti kematian pun tidak saya mengerti - lalu bagaimana saya bisa mengerti soal kebangkitan, kalau mati saja tidak paham?
Saya lalu seperti tersadarkan diri. Inilah rasa asam cuka dari kematian, yang sedang saya alami sekarang, yang dicucukkan ke mulut Tuhan Yesus 2000 tahun yang lalu. Kematian yang diakibatkan oleh sikap pengorbanan dan kepahlawanan, yang dibuktikan dengan penghargaan negara yang begitu besar terhadap Erina. Inilah pahit getir penderitaan akibat kematian! Inilah cawan yang disebut-sebut Tuhan Yesus harus diregukNya! Inilah sebabnya, Tuhan Yesus berpesan agar ritual perjamuan diulang untuk mengingatNya. Inilah sebabnya, dari berbagai macam denominasi Kristen, dari Ortodox Syria, Ethiopia, Katolik Roma, sampai GKI, hanya satu ritual yang tetap sama bentuknya: ritual Perjamuan Kudus! Mengapa Tuhan Yesus justru ingin murid-muridNya mengenang kematianNya, dan bukan kebangkitanNya? Bukankah sangat menyakitkan bagi para murid, setiap kali roti dibelah dan anggur dituang, tanpa kehadiran Sang Guru yang mereka cintai? Ya, karena lewat Perjamuan Kudus ini, Tuhan Yesus ingin agar kita mengerti mengenai kematian. Karena tanpa pengertian soal kematian, suatu hal yang mustahil untuk memahami kebangkitan.
Jadi, tahapan berikutnya adalah jelas: bangkit! Lagu KJ 424 yang berjudul „Yesus Menginginkan Daku“, yang dinyanyikan sebagai nyanyian pengutusan, justru menjadi pesan Tuhan Yesus yang luar biasa untuk saya. Bagaimana kita harus bersinar - menjadi cahaya yang menerangi bumi, dan menyebarkan cahaya itu seluas mungkin. Inilah kebangkitan! Cahaya tidak punya bentuk, bahkan fisikawan paling ahli pun sampai sekarang tidak bisa menentukan wujudnya - apakah cahaya adalah gelombang atau partikel. Cahaya adalah abstrak, namun ada. Cahaya bisa menerangi, menghangatkan, dan menyejukkan hati yang gundah dirundung banjir. Apakah syarat menjadi cahaya? Kematian! Karena cahaya tidak berbentuk, maka bentuk harus dimatikan terlebih dahulu. Bentuk, yang bagai enam sisi tembok penjara, jika dijebol akan membuat cahaya menjadi bebas, berlari dengan kecepatan tertinggi yang mungkin ada menurut Einstein.
Jadi, Erina sekarang sudah menjadi cahaya. Cahaya yang bersinar dalam hati kita, cahaya yang dirasakan oleh setiap orang yang mengenalnya semasa hidup. Cahaya yang mengandung tanggung jawab bagi kita yang menerimanya - bahwa kita juga harus meneruskannya. Bahwa dengan pengertian ini, dengan pemahaman ini, saya, kita, harus giat menyebarkan kabar baik ke semua orang. Kabar tentang kebangkitan sesudah kematian. Kabar tentang Tuhan Yesus, Sang Cahaya yang terus bersinar.
Shine on, Sister!
Harry Nazarudin
Berkenalan Dengan Pendeta Google Dot Com
Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.
Matius 10:16
Saya pernah menghadiri sebuah kebaktian di dekat rumah saya. Liturgi berjalan seperti biasa, dengan beberapa lagu dan Pengakuan Iman Rasuli. Dan, tibalah saatnya untuk mendengarkan khotbah. Di dalam Kristen Protestan, khotbah atau Firman Tuhan menjadi pusat dari semua liturgi. Disinilah terjadi dialog antara Tuhan dengan manusia, dimana banyak orang bisa menatap wajah Yesus melalui kata-kata yang diilhami oleh Roh Kudus. Begitu pentingnya khotbah ini, sampai-sampai para anggota GKJJ (Gereja Kristen Jalan-Jalan - orang yang suka pindah-pindah gereja) biasanya memilih beribadah di tempat yang khotbahnya paling bagus. Jadi, wajar saja, kalau hati saya berdebar-debar ketika khotbah akan dimulai. Apa yang akan dikatakan Tuhan Yesus pada saya hari ini?
Dasar khotbah yang diberikan pada hari itu diambil dari Kisah Para Rasul 20:7-11. Cerita ini memang cukup aneh, menceritakan seorang pemuda bernama Eutikhus yang mengantuk lalu jatuh dari lantai atas ketika mendengarkan Rasul Paulus berkhotbah. Rasul Paulus lalu membangkitkan sang pemuda itu dari kematiannya (KIS 20:10). Wah, sebuah cerita mukjijat yang menakjubkan! Tapi, pelajaran apa yang bisa kita peroleh darinya? Memang tidak mudah, dan saya mengharapkan Pak Pendeta akan memberikn inspirasi yang baru di hari itu. „Jadi, Bapak dan Ibu sekalian...“ kata Pak Pendeta memulai khotbahnya. „Makanya, kalau mendengarkan khotbah, jangan sambil ngantuk ya! Nanti jatuh ke bawah dan mati sama seperti Eutikhus!“ kata beliau, disambut tawa hadirin. Masalahnya, Pak Pendeta tidak sedang melucu. Ia baru saja mengungkapkan inti khotbahnya.
Saya pulang, terus terang, dengan hati kesal. Masakan tidak ada makna lain selain ‚jangan ngantuk waktu berkhotbah’? Memang, ayat seperti ini tidak memiliki perintah atau ajaran tertentu yang tersurat. Karena penasaran, sayapun pulang ke rumah. Lewat internet Telkomnet yang murah tapi lambat bukan main, saya pun pergi ke www.google.com. Saya lalu memasukkan nama Eutychus, sang pemuda tadi, karena penasaran ingin mengetahui pemahaman teologis mengenai peristiwa kematiandan kebangkitannya.
Nama itu membawa saya ke website www.christiancourier.com. Ada sebuah artikel berjudul “The Case of Eutychus” oleh Wayne Jackson. Disana dibahas dengan sangat mendetail latar belakang teologis dari peristiwa tersebut. Bahkan sampai penyebutan ‚lampu’ (KIS 20:8) dijelaskan sebagai penekanan bahwa pertemuan kristiani tidak perlu dilakukan dalam gelap, seperti disyaratkan oleh beberapa aliran sesat pada waktu itu. Ternyata, peristiwa mati dan bangkitnya Eutikhus ini memiliki makna mendalam, yakni Paulus mendemonstrasikan kepada para tetua di Troas bahwa kematian bukanlah akhir dari segalanya, dan kuasa untuk melaluinya hanya ada pada Tuhan. Dan, itu baru satu website yang saya lihat. Dengan memasukkan nama Eutychus melalui Google, ada 65.700 website lain yang memuat nama tersebut. Sebuah gudang informasi yang luar biasa lengkap, tapi murah dan mudah dijangkau!
Hal yang sama juga terjadi di hari Minggu yang lain, dimana dibahas mengenai Khotbah Paulus di Athena, Kisah Para Rasul 17:22-32. Waktu itu Pak Pendeta lagi-lagi menjelaskan moral dan cerita yang bisa ditebaknya dari apa yang tersurat di Alkitab, betapa orang Yunani waktu itu adalah penyembah berhala, sehingga harus sehgera bertobat sebelum dihukum. Padahal, di dalam perikop ini disebutkan mengenai golongan Epikuros dan Stoa dan ‘Allah yang tidak dikenal’. Apakah maksud penulis Alkitab mencatat semua ini? Apakah hanya itu saja makna khotbah Paulus di Athena?
Sepulang dari gereja, saya lalu kembali ke www.google.com untuk mencari informasi. Ternyata, latar belakang sejarah yang bisa saya peroleh luar biasa banyaknya. Dengan memasukkan nama ‚Areopagus’, saya bisa memperoleh 231.000 halaman informasi. Lewat link ini pula saya bisa mengerti mengenai konsep ‚Allah yang tidak dikenal’, apa yang disebut golongan Epikuros dan Stoa (KIS 17:18 - untuk latihan, silakan masukkan kata-kata tersebut di Google dan lihatlah apa hasilnya!). Ternyata, khotbah Paulus di Athena sangatlah penting karena Paulus menantang ahli-ahli filsafat pada masa itu. Athena merupakan pusat intelektual dunia, tempat banyak orang cerdik cendekia berkumpul untuk mendiskusikan mengenai alam semesta dan konsep hidup. Bahkan nama-nama terkenal seperti Demokritos, penemu konsep atom, pernah singgah dan sekolah di Athena. Lalu, bagaimanakah seorang Paulus, yang tidak pernah sekolah, hanya berpendidikan seorang warganegara Roma, dengan konsep agama yang baru pula, bisa menantang para cerdik cendekia itu?
Dengan khotbah yang sangat singkat, Paulus ternyata memutarbalikkan pemahaman orang Yunani tentang alam semesta. Paulus menohok ke jantung kemunafikan filsafat Yunani - yang di satu sisi sangat menekankan konsep logika dan kebebasan berpikir, namun di sisi lain menganut paham polytheisme dan memiliki dewa-dewa yang begitu banyak dan tidak masuk akal. Bahkan sampai ada kuil yang ditujukan bagi ‚Dewa/Allah yang tidak dikenal’! Nah, konsep inilah yang digunakan Paulus untuk menjelaskan bahwa pastilah ada satu Zat, Sang Esa, yang berada di balik semua konsep alam semesta (KIS 17:24). Jadi, di tengah Majelis Areopagus Yunani, Kota Athena, yang merupakan jantung polytheisme, Paulus secara tajam dan ringkas berhasil memasukkan konsep monotheisme secara gamblang. Bukan main-main, sesudah khotbah Paulus, beberapa anggota Majelis Areopagus - seperti Dionysius - langsung menjadi percaya.
Hebat! Dan semuanya ini saya peroleh dalam petualangan saya ber-google dalam nama Tuhan. Dengan memasukkan kata kunci ‘Stoicism’ (bahasa Inggris dari golongan Stoa), saya mendapat 597.000 portal. Dengan kata kunci ‘Epicureanism’ (bahasa Inggris dari golongan Epikuros), saya bisa memperoleh 2.150.000 portal. Memang, isinya macam-macam - dari yang benar-benar berhubungan dengan Alkitab, sampai yang bertolak belakang. Namun, toh kita bisa mensortirnya dalam waktu singkat dan menemukan begitu banyak tafsir, latar belakang sejarah, dan artikel-artikel pendukung yang akan membuat pemahaman kita mengenai perikop tersebut lebih mendalam. Hanya butuh waktu beberapa menit dan beberapa ribu rupiah pulsa, namun informasi yang diperoleh begitu luar biasa, dibandingkan dengan membuka buku-buku tafsir yang tebal dan membingungkan. Ayo para pendeta, jangan gaptek! Bukankah Tuhan Yesus pernah berkata, kita harus cerdik seperti ular, dan tulus seperti merpati?
10 Tips Dalam Menggunakan Google Untuk Pemahaman Alkitab
1. Pastikan Anda sudah menggunakan ejaan bahasa Inggris yang benar. Sebagian besar sumber informasi kristiani berasal dari Amerika Serikat, sehingga penulisan bahasa Inggris yang tepat akan membawa hasil yang tercepat dan terbaik. Contohnya, kata kunci ‚Lukas’ akan membawa kita pada portal Lukas Haas, seorang aktor Amerika. Kata ‚Lucas’ juga langsung memberikan informasi mengenai George Lucas, sang sutradara film Star Wars. Hanya dengan menggunakan kata kunci ‚Luke’, maka urutan yang pertama keluar adalah ‚The Gospel of Luke’.
2. Bingung menentukan ejaan bahasa Inggris yang benar? Jangan putus asa. Google biasanya akan memberikan petunjuk jika Anda salah total dalam memasukkan sebuah kata kunci, dan akan mengusulkan kata terdekat yang mungkin lebih cocok.
3. Takut biaya pulsa melonjak tinggi, atau Telkomnet instan Anda terlalu terengah-engah untuk mendownload kilobyte dalam jumlah besar? Gampang. Sebagian besar informasi terdapat dalam bentuk tulisan, bukan gambar. Padahal yang banyak menyedot bandwidth adalah gambarnya. Jadi, lihatlah tulisannya saja, tidak perlu gambarnya! Caranya: di Internet Explorer, pilih menu Tools - Internet Options - Advanced. Lalu di bawah menu Multimedia, unclick (hilangkan tanda cek berwarna hijau) pada pilihan Play Animation, Play Sound, Play Video, dan Show PIctures. Setiap portal yang Anda download hanya akan menunjukkan tulisannya saja - just what you need.
4. Jika sudah menemukan portal langganan, yang selalu memberikan informasi yang benar, masukkanlah dalam Favourites (klik menu ‚Favourites’ pada Internet Explorer, lalu pilih ‚Add to Favourites’). Favourites adalah daftar kumpulan portal yang Anda pilih. Jadi, jika Anda ingin mencari informasi lagi, cobalah dulu pada daftar Favourites Anda sebelum ke Google. Siapa tahu yang Anda butuhkan sudah ada disana, dan tidak perlu berkeliling dunia lagi untuk mencarinya!
5. Gunakanlah kata kunci yang spesifik. Misalnya, untuk mencari ‚Perjamuan Terakhir’, bahasa Inggrisnya ‚The Last Supper’. Jika Anda hanya memasukkan kata ‘Supper’, maka akan muncul 20.200.000 portal, kebanyakan mengenai makanan. Pusing kan? Tapi dengan memasukkan kata kunci ‘The Last Supper’, portal yang muncul sebanyak 4.760.000 buah. Jadi, Anda menghemat 75% waktu pencarian dengan kata kunci yang lebih spesifik.
6. Gunakanlah kata-kata yang sespesifik mungkin. Jangan coba-coba mencari kata-kata umum seperti ‚berkat’ atau ‚roh’, karena akan muncul jutaan informasi yang tidak berguna buat Anda. Gunakanlah kata spesifik, misalnya ‚Areopagus’, ‚Stoa’, atau ‚Epikuros’, daripada kata-kata umum seperti ‚Paulus’ atau ‚Athena’. Pencarian Anda akan lebih tepat sasaran.
7. Hati-hati dengan apa yang Anda temukan. Dunia maya menyimpan milyaran informasi, dari yang benar sampai yang agak miring. Tidak mustahil bahwa Google akan menuntun Anda justru ke portal-portal atheis atau gnostik yang akan menjerumuskan Anda ke pengertian yang salah. Kalau yang Anda baca dirasa kurang ‚sreg’ di hati, tinggalkan saja, jangan dibaca.
8. Jika Anda menggunakan sebuah portal untuk bahan tulisan, biasakan untuk selalu mencantumkan portal tersebut dalam daftar pustaka. Selain menaati kaidah ilmiah dalam pengutipan karya orang lain, langkah ini paling tidak menghargai sang empunya ide yang menjadi sumber tulisan kita.
9. Biasakanlah untuk mengopi halaman yang menarik dan menyimpannya dalam satu file, untuk dibaca kemudian. Jarang sekali ada satu portal yang memuat semua keinginan kita - seringkali kita menemukan potongan-potongan informasi di beberapa portal, yang harus diolah lagi untuk mendapatkan benang merahnya. Jangan hanya menyalin saja - buatlah sesuatu yang baru!
10. Yang terakhir, berdoalah sebelum ber-google untuk Tuhan. Untuk makan saja kita selalu berdoa memohon bimbingan Tuhan Yesus, apalagi untuk berkelana di belantara dunia maya yang juga berisikan pornografi, kesesatan, dan bahkan portal pemandu bunuh diri? Asalkan hati kita tulus seperti merpati dan selalu berdoa dan berhati-hati, niscaya Tuhan akan beserta kita dalam ber-google ria.
Harry Nazarudin
Matius 10:16
Saya pernah menghadiri sebuah kebaktian di dekat rumah saya. Liturgi berjalan seperti biasa, dengan beberapa lagu dan Pengakuan Iman Rasuli. Dan, tibalah saatnya untuk mendengarkan khotbah. Di dalam Kristen Protestan, khotbah atau Firman Tuhan menjadi pusat dari semua liturgi. Disinilah terjadi dialog antara Tuhan dengan manusia, dimana banyak orang bisa menatap wajah Yesus melalui kata-kata yang diilhami oleh Roh Kudus. Begitu pentingnya khotbah ini, sampai-sampai para anggota GKJJ (Gereja Kristen Jalan-Jalan - orang yang suka pindah-pindah gereja) biasanya memilih beribadah di tempat yang khotbahnya paling bagus. Jadi, wajar saja, kalau hati saya berdebar-debar ketika khotbah akan dimulai. Apa yang akan dikatakan Tuhan Yesus pada saya hari ini?
Dasar khotbah yang diberikan pada hari itu diambil dari Kisah Para Rasul 20:7-11. Cerita ini memang cukup aneh, menceritakan seorang pemuda bernama Eutikhus yang mengantuk lalu jatuh dari lantai atas ketika mendengarkan Rasul Paulus berkhotbah. Rasul Paulus lalu membangkitkan sang pemuda itu dari kematiannya (KIS 20:10). Wah, sebuah cerita mukjijat yang menakjubkan! Tapi, pelajaran apa yang bisa kita peroleh darinya? Memang tidak mudah, dan saya mengharapkan Pak Pendeta akan memberikn inspirasi yang baru di hari itu. „Jadi, Bapak dan Ibu sekalian...“ kata Pak Pendeta memulai khotbahnya. „Makanya, kalau mendengarkan khotbah, jangan sambil ngantuk ya! Nanti jatuh ke bawah dan mati sama seperti Eutikhus!“ kata beliau, disambut tawa hadirin. Masalahnya, Pak Pendeta tidak sedang melucu. Ia baru saja mengungkapkan inti khotbahnya.
Saya pulang, terus terang, dengan hati kesal. Masakan tidak ada makna lain selain ‚jangan ngantuk waktu berkhotbah’? Memang, ayat seperti ini tidak memiliki perintah atau ajaran tertentu yang tersurat. Karena penasaran, sayapun pulang ke rumah. Lewat internet Telkomnet yang murah tapi lambat bukan main, saya pun pergi ke www.google.com. Saya lalu memasukkan nama Eutychus, sang pemuda tadi, karena penasaran ingin mengetahui pemahaman teologis mengenai peristiwa kematiandan kebangkitannya.
Nama itu membawa saya ke website www.christiancourier.com. Ada sebuah artikel berjudul “The Case of Eutychus” oleh Wayne Jackson. Disana dibahas dengan sangat mendetail latar belakang teologis dari peristiwa tersebut. Bahkan sampai penyebutan ‚lampu’ (KIS 20:8) dijelaskan sebagai penekanan bahwa pertemuan kristiani tidak perlu dilakukan dalam gelap, seperti disyaratkan oleh beberapa aliran sesat pada waktu itu. Ternyata, peristiwa mati dan bangkitnya Eutikhus ini memiliki makna mendalam, yakni Paulus mendemonstrasikan kepada para tetua di Troas bahwa kematian bukanlah akhir dari segalanya, dan kuasa untuk melaluinya hanya ada pada Tuhan. Dan, itu baru satu website yang saya lihat. Dengan memasukkan nama Eutychus melalui Google, ada 65.700 website lain yang memuat nama tersebut. Sebuah gudang informasi yang luar biasa lengkap, tapi murah dan mudah dijangkau!
Hal yang sama juga terjadi di hari Minggu yang lain, dimana dibahas mengenai Khotbah Paulus di Athena, Kisah Para Rasul 17:22-32. Waktu itu Pak Pendeta lagi-lagi menjelaskan moral dan cerita yang bisa ditebaknya dari apa yang tersurat di Alkitab, betapa orang Yunani waktu itu adalah penyembah berhala, sehingga harus sehgera bertobat sebelum dihukum. Padahal, di dalam perikop ini disebutkan mengenai golongan Epikuros dan Stoa dan ‘Allah yang tidak dikenal’. Apakah maksud penulis Alkitab mencatat semua ini? Apakah hanya itu saja makna khotbah Paulus di Athena?
Sepulang dari gereja, saya lalu kembali ke www.google.com untuk mencari informasi. Ternyata, latar belakang sejarah yang bisa saya peroleh luar biasa banyaknya. Dengan memasukkan nama ‚Areopagus’, saya bisa memperoleh 231.000 halaman informasi. Lewat link ini pula saya bisa mengerti mengenai konsep ‚Allah yang tidak dikenal’, apa yang disebut golongan Epikuros dan Stoa (KIS 17:18 - untuk latihan, silakan masukkan kata-kata tersebut di Google dan lihatlah apa hasilnya!). Ternyata, khotbah Paulus di Athena sangatlah penting karena Paulus menantang ahli-ahli filsafat pada masa itu. Athena merupakan pusat intelektual dunia, tempat banyak orang cerdik cendekia berkumpul untuk mendiskusikan mengenai alam semesta dan konsep hidup. Bahkan nama-nama terkenal seperti Demokritos, penemu konsep atom, pernah singgah dan sekolah di Athena. Lalu, bagaimanakah seorang Paulus, yang tidak pernah sekolah, hanya berpendidikan seorang warganegara Roma, dengan konsep agama yang baru pula, bisa menantang para cerdik cendekia itu?
Dengan khotbah yang sangat singkat, Paulus ternyata memutarbalikkan pemahaman orang Yunani tentang alam semesta. Paulus menohok ke jantung kemunafikan filsafat Yunani - yang di satu sisi sangat menekankan konsep logika dan kebebasan berpikir, namun di sisi lain menganut paham polytheisme dan memiliki dewa-dewa yang begitu banyak dan tidak masuk akal. Bahkan sampai ada kuil yang ditujukan bagi ‚Dewa/Allah yang tidak dikenal’! Nah, konsep inilah yang digunakan Paulus untuk menjelaskan bahwa pastilah ada satu Zat, Sang Esa, yang berada di balik semua konsep alam semesta (KIS 17:24). Jadi, di tengah Majelis Areopagus Yunani, Kota Athena, yang merupakan jantung polytheisme, Paulus secara tajam dan ringkas berhasil memasukkan konsep monotheisme secara gamblang. Bukan main-main, sesudah khotbah Paulus, beberapa anggota Majelis Areopagus - seperti Dionysius - langsung menjadi percaya.
Hebat! Dan semuanya ini saya peroleh dalam petualangan saya ber-google dalam nama Tuhan. Dengan memasukkan kata kunci ‘Stoicism’ (bahasa Inggris dari golongan Stoa), saya mendapat 597.000 portal. Dengan kata kunci ‘Epicureanism’ (bahasa Inggris dari golongan Epikuros), saya bisa memperoleh 2.150.000 portal. Memang, isinya macam-macam - dari yang benar-benar berhubungan dengan Alkitab, sampai yang bertolak belakang. Namun, toh kita bisa mensortirnya dalam waktu singkat dan menemukan begitu banyak tafsir, latar belakang sejarah, dan artikel-artikel pendukung yang akan membuat pemahaman kita mengenai perikop tersebut lebih mendalam. Hanya butuh waktu beberapa menit dan beberapa ribu rupiah pulsa, namun informasi yang diperoleh begitu luar biasa, dibandingkan dengan membuka buku-buku tafsir yang tebal dan membingungkan. Ayo para pendeta, jangan gaptek! Bukankah Tuhan Yesus pernah berkata, kita harus cerdik seperti ular, dan tulus seperti merpati?
10 Tips Dalam Menggunakan Google Untuk Pemahaman Alkitab
1. Pastikan Anda sudah menggunakan ejaan bahasa Inggris yang benar. Sebagian besar sumber informasi kristiani berasal dari Amerika Serikat, sehingga penulisan bahasa Inggris yang tepat akan membawa hasil yang tercepat dan terbaik. Contohnya, kata kunci ‚Lukas’ akan membawa kita pada portal Lukas Haas, seorang aktor Amerika. Kata ‚Lucas’ juga langsung memberikan informasi mengenai George Lucas, sang sutradara film Star Wars. Hanya dengan menggunakan kata kunci ‚Luke’, maka urutan yang pertama keluar adalah ‚The Gospel of Luke’.
2. Bingung menentukan ejaan bahasa Inggris yang benar? Jangan putus asa. Google biasanya akan memberikan petunjuk jika Anda salah total dalam memasukkan sebuah kata kunci, dan akan mengusulkan kata terdekat yang mungkin lebih cocok.
3. Takut biaya pulsa melonjak tinggi, atau Telkomnet instan Anda terlalu terengah-engah untuk mendownload kilobyte dalam jumlah besar? Gampang. Sebagian besar informasi terdapat dalam bentuk tulisan, bukan gambar. Padahal yang banyak menyedot bandwidth adalah gambarnya. Jadi, lihatlah tulisannya saja, tidak perlu gambarnya! Caranya: di Internet Explorer, pilih menu Tools - Internet Options - Advanced. Lalu di bawah menu Multimedia, unclick (hilangkan tanda cek berwarna hijau) pada pilihan Play Animation, Play Sound, Play Video, dan Show PIctures. Setiap portal yang Anda download hanya akan menunjukkan tulisannya saja - just what you need.
4. Jika sudah menemukan portal langganan, yang selalu memberikan informasi yang benar, masukkanlah dalam Favourites (klik menu ‚Favourites’ pada Internet Explorer, lalu pilih ‚Add to Favourites’). Favourites adalah daftar kumpulan portal yang Anda pilih. Jadi, jika Anda ingin mencari informasi lagi, cobalah dulu pada daftar Favourites Anda sebelum ke Google. Siapa tahu yang Anda butuhkan sudah ada disana, dan tidak perlu berkeliling dunia lagi untuk mencarinya!
5. Gunakanlah kata kunci yang spesifik. Misalnya, untuk mencari ‚Perjamuan Terakhir’, bahasa Inggrisnya ‚The Last Supper’. Jika Anda hanya memasukkan kata ‘Supper’, maka akan muncul 20.200.000 portal, kebanyakan mengenai makanan. Pusing kan? Tapi dengan memasukkan kata kunci ‘The Last Supper’, portal yang muncul sebanyak 4.760.000 buah. Jadi, Anda menghemat 75% waktu pencarian dengan kata kunci yang lebih spesifik.
6. Gunakanlah kata-kata yang sespesifik mungkin. Jangan coba-coba mencari kata-kata umum seperti ‚berkat’ atau ‚roh’, karena akan muncul jutaan informasi yang tidak berguna buat Anda. Gunakanlah kata spesifik, misalnya ‚Areopagus’, ‚Stoa’, atau ‚Epikuros’, daripada kata-kata umum seperti ‚Paulus’ atau ‚Athena’. Pencarian Anda akan lebih tepat sasaran.
7. Hati-hati dengan apa yang Anda temukan. Dunia maya menyimpan milyaran informasi, dari yang benar sampai yang agak miring. Tidak mustahil bahwa Google akan menuntun Anda justru ke portal-portal atheis atau gnostik yang akan menjerumuskan Anda ke pengertian yang salah. Kalau yang Anda baca dirasa kurang ‚sreg’ di hati, tinggalkan saja, jangan dibaca.
8. Jika Anda menggunakan sebuah portal untuk bahan tulisan, biasakan untuk selalu mencantumkan portal tersebut dalam daftar pustaka. Selain menaati kaidah ilmiah dalam pengutipan karya orang lain, langkah ini paling tidak menghargai sang empunya ide yang menjadi sumber tulisan kita.
9. Biasakanlah untuk mengopi halaman yang menarik dan menyimpannya dalam satu file, untuk dibaca kemudian. Jarang sekali ada satu portal yang memuat semua keinginan kita - seringkali kita menemukan potongan-potongan informasi di beberapa portal, yang harus diolah lagi untuk mendapatkan benang merahnya. Jangan hanya menyalin saja - buatlah sesuatu yang baru!
10. Yang terakhir, berdoalah sebelum ber-google untuk Tuhan. Untuk makan saja kita selalu berdoa memohon bimbingan Tuhan Yesus, apalagi untuk berkelana di belantara dunia maya yang juga berisikan pornografi, kesesatan, dan bahkan portal pemandu bunuh diri? Asalkan hati kita tulus seperti merpati dan selalu berdoa dan berhati-hati, niscaya Tuhan akan beserta kita dalam ber-google ria.
Harry Nazarudin
Monday, December 10, 2007
Untuk dikau…
Dikau…
Dikau harus tahu, betapa beruntungnya dikau!
Keputusan yang berani dikau ambil, perpindahan yang berani dikau jalani
Semuanya tepat, semuanya tanda kedewasaan sudah tidak dapat dikau tawar lagi
Senang hatiku mendengar dikau akhirnya berjanji setia
Gembira hatiku mendengar dikau berani keluar dari kebimbangan dan berjalan tegak menuju keabadian cinta
I’m happy for you, dikau! I really do!
Anggaplah daku hanya sebagian dari kisah lama yang kini sudah usang
Daku tidak sebaik yang dikau kira…
Dikau sudah membuat keputusan yang sangat tepat dengan memilih dia!
Jika dikau melihat daku bercahaya, itu hanya karena kulit luarku yang serba palsu
Daku selalu memakai topeng, dikau, begitu seringnya sampai daku tidak ingat lagi wajah daku yang sebenarnya
Walaupun kulit daku bercahaya
Itu semua palsu, dikau
Bagian dalam daku sebenarnya berisi kebusukan dan cacat cela
Berisi kebohongan dan kemunafikan yang tak terperi
Sangat menyanjung diri sendiri sampai daku kini terjebak dalam lingkaran setan kebohongan dan tipu muslihat
Saking seringnya bohong, dikau, sampai daku lupa caranya berkata jujur
Dikau,
Daku ucapkan sekali lagi selamat berlenggang menuju keabadian
Jangan lagi menoleh ke belakang, dikau
Jangan lagi sisakan tempat untuk daku di hatimu
Hancurkanlah semua karena dakulah yang sebenarnya tidak layak untuk dikau
Jika dikau masih berkenan
Sisakanlah sedikit tempat di dalam ruang doamu, dikau
Doakanlah daku yang sedang terpuruk ini
Yang hancur jiwanya, yang busuk berbau moralnya, yang remuk redam imannya
Doakanlah, dikau, supaya daku bisa bangkit dari reruntuhan ini
Dan berdiri tegak seperti dikau sekarang...
Tuhan memberkati dikau....
Dikau harus tahu, betapa beruntungnya dikau!
Keputusan yang berani dikau ambil, perpindahan yang berani dikau jalani
Semuanya tepat, semuanya tanda kedewasaan sudah tidak dapat dikau tawar lagi
Senang hatiku mendengar dikau akhirnya berjanji setia
Gembira hatiku mendengar dikau berani keluar dari kebimbangan dan berjalan tegak menuju keabadian cinta
I’m happy for you, dikau! I really do!
Anggaplah daku hanya sebagian dari kisah lama yang kini sudah usang
Daku tidak sebaik yang dikau kira…
Dikau sudah membuat keputusan yang sangat tepat dengan memilih dia!
Jika dikau melihat daku bercahaya, itu hanya karena kulit luarku yang serba palsu
Daku selalu memakai topeng, dikau, begitu seringnya sampai daku tidak ingat lagi wajah daku yang sebenarnya
Walaupun kulit daku bercahaya
Itu semua palsu, dikau
Bagian dalam daku sebenarnya berisi kebusukan dan cacat cela
Berisi kebohongan dan kemunafikan yang tak terperi
Sangat menyanjung diri sendiri sampai daku kini terjebak dalam lingkaran setan kebohongan dan tipu muslihat
Saking seringnya bohong, dikau, sampai daku lupa caranya berkata jujur
Dikau,
Daku ucapkan sekali lagi selamat berlenggang menuju keabadian
Jangan lagi menoleh ke belakang, dikau
Jangan lagi sisakan tempat untuk daku di hatimu
Hancurkanlah semua karena dakulah yang sebenarnya tidak layak untuk dikau
Jika dikau masih berkenan
Sisakanlah sedikit tempat di dalam ruang doamu, dikau
Doakanlah daku yang sedang terpuruk ini
Yang hancur jiwanya, yang busuk berbau moralnya, yang remuk redam imannya
Doakanlah, dikau, supaya daku bisa bangkit dari reruntuhan ini
Dan berdiri tegak seperti dikau sekarang...
Tuhan memberkati dikau....
Tuesday, May 01, 2007
Hari 7 - 29 April 2007 - Ia Baik!
Mazmur Daud.
TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.
Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang;
Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.
Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.
Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah.
Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa.
Mazmur 23:1 - 6
Jangan kuatir dan jangan bersedih. Tuhan itu baik! Ia menyediakan apa yang menjadi keperluan kita, ia menjagai kita.
Kadang-kadang pukulanNya terasa keras, seringkali teguranNya terasa pedas. Namun Ia setia, Ia baik, dan Ia beserta kamu!
Janganlah patah semangat dan bersedih. Bersikaplah positif dan berdirilah tegak, supaya Ia melihat mu tidak mudah patah.
Supaya Ia melihatmu dan bagaikan seorang ayah yang menyaksikan anaknya diwisuda, seorang ibu yang menyaksikan anaknya menikah. Supaya Ia bangga, anakNya berhasil mengarungi bahaya!
TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.
Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang;
Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.
Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.
Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah.
Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa.
Mazmur 23:1 - 6
Jangan kuatir dan jangan bersedih. Tuhan itu baik! Ia menyediakan apa yang menjadi keperluan kita, ia menjagai kita.
Kadang-kadang pukulanNya terasa keras, seringkali teguranNya terasa pedas. Namun Ia setia, Ia baik, dan Ia beserta kamu!
Janganlah patah semangat dan bersedih. Bersikaplah positif dan berdirilah tegak, supaya Ia melihat mu tidak mudah patah.
Supaya Ia melihatmu dan bagaikan seorang ayah yang menyaksikan anaknya diwisuda, seorang ibu yang menyaksikan anaknya menikah. Supaya Ia bangga, anakNya berhasil mengarungi bahaya!
Hari 6 - 28 April 2007 - Mintalah, Maka Akan Diberikan!
Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu.
Markus 11:24
Mintalah, maka hal itu akan diberikan kepadamu! Sesuatu hal yang sulit bukan? Tapi ada suatu fakta yang menunjang Firman ini. Secara logis, jika manusia melakukan sesuatu yang bermanfaat, maka hal itu akan terus dilakukannya, karena ada insentif positif. Maksudnya adalah, ada keuntungan yang diperoleh dari kegiatan itu. Contohnya, bila orang makan dan merasa kenyang, maka orang akan terus makan. Tapi jika makanan itu membuat seseorang sakit, maka orang tersebut tidak akan makan lagi. Insentif positifnya adalah rasa kenyang yang nikmat itu!
Doa adalah sebuah fenomena sejarah. Sebuah tonggak rohani di tengah dunia yang kian sekuler seperti masa kini. Mengapa? Karena doa - yang begitu umum dan wajar dikenal di masyarakat - ternyata tidak memiliki bukti ilmiah! Apa gunanya berdoa? Apakah ada jaminan bahwa permohonan doa akan dikabulkan? Apakah ada efek positif dari doa yang mempengaruhi kondisi psikologis, kejiwaan, apalagi pengaruh fisik? Tidak! Tapi, di hari ini, milyaran manusia di dunia sedang berdoa. Dan manusia sudah berdoa sejak ribuan tahun yang lalu, tepatnya 2000 tahun untuk umat Kristen. Kalau doa itu omong kosong, kalau doa itu tidak membawa manfaat apa-apa - bagaimana manusia bisa tetap berdoa selama 2000 tahun?
Untuk membuktikan hal ini, coba tuliskan di selembar kertas, daftar permohonan dalam doa Anda dari kecil sampai sekarang. Lalu coba periksa: mana yang dikabulkan, mana yang tidak. Yang dikabulnya menjadi mayoritas bukan? Dan bagi yang tidak dikabulkan - misalnya keinginan untuk jadi astronot di masa kecil - pasti sudah diganti dengan suatu anugerah yang lebih mulia lagi! Nah, jelas bukan? Doa itu nyata, senyata kamu dan saya. Oleh karena itu berdoalah!
Dalam perikop diatas Tuhan Yesus menegaskan pentingnya arti doa dan iman percaya. Berdoalah, datanglah kepada Tuhan! Mintalah kepadanya - kekuatan, kepulihan, kesembuhan! Niscaya Ia akan mendengarkan doamu, seperti doa milyaran manusia sejak ribuan tahun yang lalu. Statistik membuktikan, bahwa doa itu punya kuasa. Mintalah kepadaNya, maka untukmu akan diberi!
Markus 11:24
Mintalah, maka hal itu akan diberikan kepadamu! Sesuatu hal yang sulit bukan? Tapi ada suatu fakta yang menunjang Firman ini. Secara logis, jika manusia melakukan sesuatu yang bermanfaat, maka hal itu akan terus dilakukannya, karena ada insentif positif. Maksudnya adalah, ada keuntungan yang diperoleh dari kegiatan itu. Contohnya, bila orang makan dan merasa kenyang, maka orang akan terus makan. Tapi jika makanan itu membuat seseorang sakit, maka orang tersebut tidak akan makan lagi. Insentif positifnya adalah rasa kenyang yang nikmat itu!
Doa adalah sebuah fenomena sejarah. Sebuah tonggak rohani di tengah dunia yang kian sekuler seperti masa kini. Mengapa? Karena doa - yang begitu umum dan wajar dikenal di masyarakat - ternyata tidak memiliki bukti ilmiah! Apa gunanya berdoa? Apakah ada jaminan bahwa permohonan doa akan dikabulkan? Apakah ada efek positif dari doa yang mempengaruhi kondisi psikologis, kejiwaan, apalagi pengaruh fisik? Tidak! Tapi, di hari ini, milyaran manusia di dunia sedang berdoa. Dan manusia sudah berdoa sejak ribuan tahun yang lalu, tepatnya 2000 tahun untuk umat Kristen. Kalau doa itu omong kosong, kalau doa itu tidak membawa manfaat apa-apa - bagaimana manusia bisa tetap berdoa selama 2000 tahun?
Untuk membuktikan hal ini, coba tuliskan di selembar kertas, daftar permohonan dalam doa Anda dari kecil sampai sekarang. Lalu coba periksa: mana yang dikabulkan, mana yang tidak. Yang dikabulnya menjadi mayoritas bukan? Dan bagi yang tidak dikabulkan - misalnya keinginan untuk jadi astronot di masa kecil - pasti sudah diganti dengan suatu anugerah yang lebih mulia lagi! Nah, jelas bukan? Doa itu nyata, senyata kamu dan saya. Oleh karena itu berdoalah!
Dalam perikop diatas Tuhan Yesus menegaskan pentingnya arti doa dan iman percaya. Berdoalah, datanglah kepada Tuhan! Mintalah kepadanya - kekuatan, kepulihan, kesembuhan! Niscaya Ia akan mendengarkan doamu, seperti doa milyaran manusia sejak ribuan tahun yang lalu. Statistik membuktikan, bahwa doa itu punya kuasa. Mintalah kepadaNya, maka untukmu akan diberi!
Hari 5 - 27 April 2007 - Berlarilah Ke Depan, Jangan Lihat ke Belakang!
Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.
Filipi 3:13-14
Paulus adalah seseorang yang penuh cacat cela. Ia dulunya adalah seorang penganiaya jemaat, yang rajin menyiksa dan membunuhi orang Kristen. Dari segi rohani ia adalah seorang Farisi, yang terkenal dengan kemunafikan dan berkali-kali dikritik oleh Tuhan Yesus. Paulus sebenarnya layak langsung masuk neraka! Perbuatannya penuh cela dan penganiayaan terhadap jemaat Kristen, sampai ketika Tuhan memanggilnya. Tindakan Paulus bahkan bisa disamakan dengan Yudas Iskariot, yang tega menjual guruNya hanya demi beberapa keping uang perak.
Namun, reaksi Yudas dan Paulus sangat berbeda terhadap perbuatan mereka. Inilah yang membedakan antara iman Kristen sejati dengan jiwa pengecut! Ketika sadar bahwa dirinya sudah melakukan kesalahan, Yudas mengalami depresi. Ia begitu sedihnya, sampai diceritakan bahwa ia membunuh diri dengan menggantung dirinya di sebuah pohon. Sebuah akhir yang najis, akhir yang memalukan!
Bagaimana dengan Paulus? Ia bukannya meratapi nasibnya yang lampau, menyesali perbuatan jahatnya, tetapi ia justru begitu giat melayani Allah sampai ia menjadi salah seorang tonggak utama agama Kristen. Sebagai manusia, Paulus pasti punya penyesalan. Bahkan Ananias, seorang Kristen yang diminta Tuhan untuk menerima Paulus, mula-mula begitu ragu dan takut menemui Paulus! Begitu jahatnya Paulus, sehingga ia bisa saja menggantung dirinya ketika menyadari kesalahannya. Tapi, dalam Filipi Paulus berkeras untuk tidak melihat ke belakang dan melihat ke depan, berlari-lari ke tujuan yakni panggilan Sorgawi dari Allah dalam Yesus Kristus.
Temanku, jangan melihat ke belakang! Berhentilah meratapi dan merenungi nasib. Siaplah untuk berlari ke depan! Apa yang bisa kaulakukan untuk Tuhan di dunia ini? Apa yang ingin dinyatakanNya dalam hidupmu? Kejarlah itu! Konsentrasikanlah sisa tenagamu untuk berkarya, untuk berusaha - berlari-lari menyongsong kehadiran Allah! Contohlah Paulus yang tidak suka meratapi nasibnya, tapi lebih memilih memajukan imannya agar pertobatannya tidak sia-sia. Jangan seperti Yudas, yang mati konyol di tiang gantungan! Tumbuhkanlah semangat dalam hatimu, agat karya Tuhan segera dinyatakan dalam dirimu!
Filipi 3:13-14
Paulus adalah seseorang yang penuh cacat cela. Ia dulunya adalah seorang penganiaya jemaat, yang rajin menyiksa dan membunuhi orang Kristen. Dari segi rohani ia adalah seorang Farisi, yang terkenal dengan kemunafikan dan berkali-kali dikritik oleh Tuhan Yesus. Paulus sebenarnya layak langsung masuk neraka! Perbuatannya penuh cela dan penganiayaan terhadap jemaat Kristen, sampai ketika Tuhan memanggilnya. Tindakan Paulus bahkan bisa disamakan dengan Yudas Iskariot, yang tega menjual guruNya hanya demi beberapa keping uang perak.
Namun, reaksi Yudas dan Paulus sangat berbeda terhadap perbuatan mereka. Inilah yang membedakan antara iman Kristen sejati dengan jiwa pengecut! Ketika sadar bahwa dirinya sudah melakukan kesalahan, Yudas mengalami depresi. Ia begitu sedihnya, sampai diceritakan bahwa ia membunuh diri dengan menggantung dirinya di sebuah pohon. Sebuah akhir yang najis, akhir yang memalukan!
Bagaimana dengan Paulus? Ia bukannya meratapi nasibnya yang lampau, menyesali perbuatan jahatnya, tetapi ia justru begitu giat melayani Allah sampai ia menjadi salah seorang tonggak utama agama Kristen. Sebagai manusia, Paulus pasti punya penyesalan. Bahkan Ananias, seorang Kristen yang diminta Tuhan untuk menerima Paulus, mula-mula begitu ragu dan takut menemui Paulus! Begitu jahatnya Paulus, sehingga ia bisa saja menggantung dirinya ketika menyadari kesalahannya. Tapi, dalam Filipi Paulus berkeras untuk tidak melihat ke belakang dan melihat ke depan, berlari-lari ke tujuan yakni panggilan Sorgawi dari Allah dalam Yesus Kristus.
Temanku, jangan melihat ke belakang! Berhentilah meratapi dan merenungi nasib. Siaplah untuk berlari ke depan! Apa yang bisa kaulakukan untuk Tuhan di dunia ini? Apa yang ingin dinyatakanNya dalam hidupmu? Kejarlah itu! Konsentrasikanlah sisa tenagamu untuk berkarya, untuk berusaha - berlari-lari menyongsong kehadiran Allah! Contohlah Paulus yang tidak suka meratapi nasibnya, tapi lebih memilih memajukan imannya agar pertobatannya tidak sia-sia. Jangan seperti Yudas, yang mati konyol di tiang gantungan! Tumbuhkanlah semangat dalam hatimu, agat karya Tuhan segera dinyatakan dalam dirimu!
Hari 4 - 26 April 2007 - Datanglah Kepada Yesus!
Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu
Matius 11:28
Tuhan Yesus adalah seorang nabi yang aneh. Kalau nabi-nabi lain menguraikan aturan, mengadakan nubuat, atau melemparkan kecaman, Tuhan Yesus justru sebaliknya: Ia memberikan harapan. Harapan ini bukan untuk yang berkelimpahan, bukan untuk yang kaya raya. Harapan ini justru untuk kaum lemah, kaum miskin, kaum yang menderita. Tuhan Yesus tidak terjebak dalam konotasi Yahudi sebagai bangsa terjajah dan Romawi sebagai penjajah. Ia tetap teguh memegang prinsip bahwa Allah hadir untuk yang lemah, miskin, dan menderita, tidak peduli apakah ia orang Yahudi, Yunani, atau Romawi.
Mungkin, prinsip inilah yang membuat appeal atau daya tarik Tuhan Yesus sangat besar bagi kaum miskin dan kaum tertindas, kaum yang bahkan tidak bisa memaksa Imam Besar untuk menurunkanNya dari kayu salib. Kaum yang terpaksa berteriak ”Salibkan Dia!” karena tekanan politis, walaupun hatinya rindu akan FirmanNya. Bahkan seorang Mahatma Gandhi, yang juga berpegang teguh pada prinsip damai dan membela yang lemah, begitu terkesan dengan Khotbah di Bukit sampai-sampai pada suatu waktu ia ingin masuk ke gereja. Sayangnya, ia ditolak mentah-mentah karena hanya orang kulit putih yang diijinkan masuk gereja!
Di Bandung, ayat dalam perikop diatas diukir besar-besar di palang sebuah gereja Katolik. Seolah-olah, patung Tuhan Yesus yang sedang tersalib benar-benar bersabda memanggil semua orang yang letih lesu dan berbeban berat untuk datang kepadaNya! Jika kamu letih dan lesu, berbahagialah! Tuhan Yesus datang ke dunia khusus untuk kamu! Itulah sebabnya Ia menerima anak-anak, tukang pajak, dan orang-orang sakit. Karena Ia baik hati, karena untuk merekalah Ia datang. Jadi, datanglah kepadaNya!
Matius 11:28
Tuhan Yesus adalah seorang nabi yang aneh. Kalau nabi-nabi lain menguraikan aturan, mengadakan nubuat, atau melemparkan kecaman, Tuhan Yesus justru sebaliknya: Ia memberikan harapan. Harapan ini bukan untuk yang berkelimpahan, bukan untuk yang kaya raya. Harapan ini justru untuk kaum lemah, kaum miskin, kaum yang menderita. Tuhan Yesus tidak terjebak dalam konotasi Yahudi sebagai bangsa terjajah dan Romawi sebagai penjajah. Ia tetap teguh memegang prinsip bahwa Allah hadir untuk yang lemah, miskin, dan menderita, tidak peduli apakah ia orang Yahudi, Yunani, atau Romawi.
Mungkin, prinsip inilah yang membuat appeal atau daya tarik Tuhan Yesus sangat besar bagi kaum miskin dan kaum tertindas, kaum yang bahkan tidak bisa memaksa Imam Besar untuk menurunkanNya dari kayu salib. Kaum yang terpaksa berteriak ”Salibkan Dia!” karena tekanan politis, walaupun hatinya rindu akan FirmanNya. Bahkan seorang Mahatma Gandhi, yang juga berpegang teguh pada prinsip damai dan membela yang lemah, begitu terkesan dengan Khotbah di Bukit sampai-sampai pada suatu waktu ia ingin masuk ke gereja. Sayangnya, ia ditolak mentah-mentah karena hanya orang kulit putih yang diijinkan masuk gereja!
Di Bandung, ayat dalam perikop diatas diukir besar-besar di palang sebuah gereja Katolik. Seolah-olah, patung Tuhan Yesus yang sedang tersalib benar-benar bersabda memanggil semua orang yang letih lesu dan berbeban berat untuk datang kepadaNya! Jika kamu letih dan lesu, berbahagialah! Tuhan Yesus datang ke dunia khusus untuk kamu! Itulah sebabnya Ia menerima anak-anak, tukang pajak, dan orang-orang sakit. Karena Ia baik hati, karena untuk merekalah Ia datang. Jadi, datanglah kepadaNya!
Hari 3 - 25 April 2007 - Sampai Kapan?
Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.
Pengkhotbah 3:11
Sampai kapan semua ini harus kutanggung? Waktu adalah segalanya. Dalam bisnis, dalam kehidupan dan kematian, waktu adalah segalanya. Saya selalu ingat pengalaman pribadi ketika nenek saya sakit keras. Beliau adalah seorang Kristen yang sangat taat. Suatu hari, nenek saya jatuh sakit keras, sehingga nampaknya umurnya tidak lama lagi. Semua orang mulai meramalkan tanggal kematiannya. Ada yang bilang besok, ada yang bilang lusa. Beberapa orang saudara yang masih percaya pada dukun dan ilmu gaib bahkan menganjurkan kami untuk membuat upacara khusus, agar nenek saya cepat ’pergi’ karena saat itu ’status’ rohnya sedang tersangkut di pohon dekat rumah. Wah!
Kamipun mengadakan rapat keluarga. Apakah kami harus menyiapkan ayam cemani seperti anjuran sang dukun? Apakah betul kami harus memasang dupa di bawah ranjangnya? Kami lalu ingat akan keteguhan nenek dalam iman Kristennya. Kalau ia sadar dan melihat ada sisa-sisa ’upacara gelap’ di kamarnya, ia pasti marah besar! Oleh karena itu, kami memutuskan untuk tidak mengikuti semua anjuran itu dan hanya berdoa bersama untuk nenek saya.
Waktu itu, kondisi nenek saya begitu parahnya, sehingga jika ada yang meramalkan ia akan meninggal dunia besok, buat saya terlihat logis saja! Tapi, ternyata Tuhan menunjukkan kuasaNya. Ramalan demi ralaman kematian berlalu, dan nenek saya masih bertahan, masih bernafas. Ternyata, nenek saya bisa sembuh! Baru setahun kemudian, ketika tidak ada satu orangpun yang menyangka, nenek saya meninggal dengan tenang dalam tidurnya. Dimanakah ramalan itu? Dimanakah roh nenek saya yang katanya tersangkut di pohon? Nihil! Pada akhirnya, kehendak Tuhanlah yang terjadi!
Waktu memang sebuah elemen yang penting. Kadang-kadang, rencana Tuhan tidak bisa terbukti oleh percobaan atau ujian, tapi hanya teruji oleh waktu. Bukankah waktu adalah penguji yang terbaik? Emas dibedakan dari besi, karena emas bertahan tak lekang oleh waktu, sementara besi yang kokoh akan hancur oleh karat hanya dalam hitungan hari. Waktu! Itulah prasyarat keindahan kasih Tuhan. Jadi, kalau waktunya belum datang, kemuliaanNya belum terwujud, bersabarlah! Ia akan datang, sepasti datangnya pagi di malam yang kelam, atau sepasti datangnya angin semilir di tengah badai yang sedang menerpa. Bersabarlah - yang akan datang itu pasti, hanya tinggal menunggu waktu. Segala sesuatu akan indah pada waktunya!
Pengkhotbah 3:11
Sampai kapan semua ini harus kutanggung? Waktu adalah segalanya. Dalam bisnis, dalam kehidupan dan kematian, waktu adalah segalanya. Saya selalu ingat pengalaman pribadi ketika nenek saya sakit keras. Beliau adalah seorang Kristen yang sangat taat. Suatu hari, nenek saya jatuh sakit keras, sehingga nampaknya umurnya tidak lama lagi. Semua orang mulai meramalkan tanggal kematiannya. Ada yang bilang besok, ada yang bilang lusa. Beberapa orang saudara yang masih percaya pada dukun dan ilmu gaib bahkan menganjurkan kami untuk membuat upacara khusus, agar nenek saya cepat ’pergi’ karena saat itu ’status’ rohnya sedang tersangkut di pohon dekat rumah. Wah!
Kamipun mengadakan rapat keluarga. Apakah kami harus menyiapkan ayam cemani seperti anjuran sang dukun? Apakah betul kami harus memasang dupa di bawah ranjangnya? Kami lalu ingat akan keteguhan nenek dalam iman Kristennya. Kalau ia sadar dan melihat ada sisa-sisa ’upacara gelap’ di kamarnya, ia pasti marah besar! Oleh karena itu, kami memutuskan untuk tidak mengikuti semua anjuran itu dan hanya berdoa bersama untuk nenek saya.
Waktu itu, kondisi nenek saya begitu parahnya, sehingga jika ada yang meramalkan ia akan meninggal dunia besok, buat saya terlihat logis saja! Tapi, ternyata Tuhan menunjukkan kuasaNya. Ramalan demi ralaman kematian berlalu, dan nenek saya masih bertahan, masih bernafas. Ternyata, nenek saya bisa sembuh! Baru setahun kemudian, ketika tidak ada satu orangpun yang menyangka, nenek saya meninggal dengan tenang dalam tidurnya. Dimanakah ramalan itu? Dimanakah roh nenek saya yang katanya tersangkut di pohon? Nihil! Pada akhirnya, kehendak Tuhanlah yang terjadi!
Waktu memang sebuah elemen yang penting. Kadang-kadang, rencana Tuhan tidak bisa terbukti oleh percobaan atau ujian, tapi hanya teruji oleh waktu. Bukankah waktu adalah penguji yang terbaik? Emas dibedakan dari besi, karena emas bertahan tak lekang oleh waktu, sementara besi yang kokoh akan hancur oleh karat hanya dalam hitungan hari. Waktu! Itulah prasyarat keindahan kasih Tuhan. Jadi, kalau waktunya belum datang, kemuliaanNya belum terwujud, bersabarlah! Ia akan datang, sepasti datangnya pagi di malam yang kelam, atau sepasti datangnya angin semilir di tengah badai yang sedang menerpa. Bersabarlah - yang akan datang itu pasti, hanya tinggal menunggu waktu. Segala sesuatu akan indah pada waktunya!
Tuesday, April 24, 2007
Hari 2 - 24 April 2007 - Syukurlah, Tanjakan Itu Sudah Berlalu!
Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN.
Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.
Yesaya 55:8-9
Pertanyaan berikutnya adalah: kalau benar ini rancangan Tuhan, kalau benar ini kehendakNya, kok jelek amat ya? Mengapa harus sesakit ini, serumit ini, sesulit ini? Mengapa kok kelihatannya sekarang tidak ada titik terang di ujung terowongan? Yang ada hanyalah udara pengap, tembok yang lembab, dan ruangan sempit yang menyesakkan hati? Karena, ini baru rancangan, baru rencana.
Seorang insinyur sipil biasanya adalah orang yang paling mengerti mengenai buruk rupanya sebuah rancangan yang setengah jadi. Betapapun indah gambarnya, betapapun cantik jadinya, lihatlah sebuah proses pembangunan rumah pada tahap awal: buruk rupa, berantakan, semrawut! Yang ada adalah kebisingan, hujaman paku-paku yang tiada henti, hantaman palu yang menyayat hati. Semuanya dihancurkan: keramik dipotong, kayu digergaji, semen diaduk. Kalau benda-benda itu bisa menjerit, mereka pasti berteriak minta tolong, tidak terima, dan menangis tersedu-sedu. Hancur berantakan! Tapi, lihatlah! Pelan-pelan, bentuk akhirnya mulai kelihatan!
Dari mulai menyemen, finishing, sampai pengecatan, semuanya masih berantakan, namun bentuk akhirnya mulai kelihatan. Akhirnya, jadinya sebuah bangunan yang cantik - apakah berbentuk minimalis atau bergaya Yunani dengan tiang tinggi! Cantik nian, dan begitu jauh dari bentuk asalnya, begitu lama sejak pembangunannya. Pemilik rumah seringkali hanya tinggal masuk ke rumah jadi, sehingga kurang menghargai karya seni itu. Tapi, coba tanya sang pembangunnya! Ia akan ingat betapa sulit mendirikan atapnya. Betapa rumit proses pemasangan tegelnya. Betapa jorok proses pemasangan pipanya. Dan sekarang... semuanya selesai! Sang insinyur kini bisa menatap karyanya dengan bangga - justru karena ia merasakan kepedihan pada awalnya. Sementara, pemilik rumah seringkali hanya mencibir karena masih kurang puas!
Nah, begitu pula rancangan Tuhan. Rancangan Tuhan jauh diatas manusia. Jika seorang insinyur sipil saja bisa berasakannya, apalagi rancangan Tuhan yang jauh lebih mulia! Memang, sekadang ini rasanya sakit, rasanya sesak, rasanya sumpek. Tapi, tabahlah, dan berjalanlah terus! Suatu saat nanti, bangunan tersebut akan jadi. Berbanggalah akan setiap hari yang lewat, karena itu berarti satu langkah lebih dekat dengan bangunan jadi yang cantik. Jangan menyerah, maju terus! Jika tiba saatnya nanti, kamu bakalan berdiri di sebuah bukit, lalu menengok ke terjalnya tanjakan di belakang. Dan berpikir: indahnya pemandangan dari sini! Syukurlah, tanjakan berat itu sudah berlalu!
Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.
Yesaya 55:8-9
Pertanyaan berikutnya adalah: kalau benar ini rancangan Tuhan, kalau benar ini kehendakNya, kok jelek amat ya? Mengapa harus sesakit ini, serumit ini, sesulit ini? Mengapa kok kelihatannya sekarang tidak ada titik terang di ujung terowongan? Yang ada hanyalah udara pengap, tembok yang lembab, dan ruangan sempit yang menyesakkan hati? Karena, ini baru rancangan, baru rencana.
Seorang insinyur sipil biasanya adalah orang yang paling mengerti mengenai buruk rupanya sebuah rancangan yang setengah jadi. Betapapun indah gambarnya, betapapun cantik jadinya, lihatlah sebuah proses pembangunan rumah pada tahap awal: buruk rupa, berantakan, semrawut! Yang ada adalah kebisingan, hujaman paku-paku yang tiada henti, hantaman palu yang menyayat hati. Semuanya dihancurkan: keramik dipotong, kayu digergaji, semen diaduk. Kalau benda-benda itu bisa menjerit, mereka pasti berteriak minta tolong, tidak terima, dan menangis tersedu-sedu. Hancur berantakan! Tapi, lihatlah! Pelan-pelan, bentuk akhirnya mulai kelihatan!
Dari mulai menyemen, finishing, sampai pengecatan, semuanya masih berantakan, namun bentuk akhirnya mulai kelihatan. Akhirnya, jadinya sebuah bangunan yang cantik - apakah berbentuk minimalis atau bergaya Yunani dengan tiang tinggi! Cantik nian, dan begitu jauh dari bentuk asalnya, begitu lama sejak pembangunannya. Pemilik rumah seringkali hanya tinggal masuk ke rumah jadi, sehingga kurang menghargai karya seni itu. Tapi, coba tanya sang pembangunnya! Ia akan ingat betapa sulit mendirikan atapnya. Betapa rumit proses pemasangan tegelnya. Betapa jorok proses pemasangan pipanya. Dan sekarang... semuanya selesai! Sang insinyur kini bisa menatap karyanya dengan bangga - justru karena ia merasakan kepedihan pada awalnya. Sementara, pemilik rumah seringkali hanya mencibir karena masih kurang puas!
Nah, begitu pula rancangan Tuhan. Rancangan Tuhan jauh diatas manusia. Jika seorang insinyur sipil saja bisa berasakannya, apalagi rancangan Tuhan yang jauh lebih mulia! Memang, sekadang ini rasanya sakit, rasanya sesak, rasanya sumpek. Tapi, tabahlah, dan berjalanlah terus! Suatu saat nanti, bangunan tersebut akan jadi. Berbanggalah akan setiap hari yang lewat, karena itu berarti satu langkah lebih dekat dengan bangunan jadi yang cantik. Jangan menyerah, maju terus! Jika tiba saatnya nanti, kamu bakalan berdiri di sebuah bukit, lalu menengok ke terjalnya tanjakan di belakang. Dan berpikir: indahnya pemandangan dari sini! Syukurlah, tanjakan berat itu sudah berlalu!
Hari 1 - 23 April 2007 - Bukan Salah Siapa Siapa!
”Jawab Yesus, "Bukan dosa orang itu dan juga bukan dosa orang tuanya yang menyebabkan dia buta sejak lahir. Orang itu buta supaya kuasa Allah menjadi nyata di dalam dia.”
Yoh 9:3
Satu cara pikir yang harus dirubah mengenai sakit penyakit dan musibah: bahwa itu semua terjadi bukan kutukan! Itu bukan terjadi karena kesalahan, hukuman, atau karma yang tidak jelas juntrungannya. Alkitab dan kekristenan sebenarnya tidak mengenal karma! Bukankah Allah pernah bersabda, pembalasan adalah hakKu? Adakah karma pernah menimpa Yakub karena melangkahi Esau? Tidak! Toh, Ayub dihajar penderitaan walaupun hidupnya bersih - dimanakah yang namanya karma itu? Tapi, pemikiran soal karma ini selalu menghantui setiap orang yang kena musibah, sehingga separuh dari sisa tenaga yang tidak seberapa itu dihabiskan untuk menjerit: mengapa? Apa salah saya? Wahai kawan, bukan kamu yang salah! Tidak ada yang salah!
Lalu apa? Tuhan Yesus menjelaskan dengan gamblang dalam perikop ini. Sang buta dalam cerita Yohanes 9, bukan buta karena dosa orang tuanya. Bukan buta karena dosa dia sendiri. Jadi, mengapa dia layak menerima kebutaan itu? Apa sebab kebutaan itu ada padanya sejak lahir? Bukan karena dosa siapa-siapa. Lalu siapa yang bertanggung jawab? Allah! Karena Yesus berkata lantang, bahwa kebutaan itu terjadi supaya kuasa Allah menjadi nyata di dalam dia. Supaya Allah terwujud dan menjelma menjadi bentuk yang dapat diraih, diraba, dan dikagumi, lewat peristiwa ajaib yang terjadi pada seorang buta, seorang sakit, atau seorang miskin. Supaya Allah hadir di tengah manusia!
Jadi, penderitaan, sakit penyakit, apalagi yang datang begitu saja, bukanlah sesuatu yang sia-sia. Bukanlah suatu akibat dari perbuatan najis atau dosa nenek moyang. Bukan juga karena karma atau nasib belaka. Tapi, semua itu datang, karena Allah punya rencana. Karena Allah ingin menunjukkan kuasaNya melalui manusia. Karena Allah ingin kuasaNya menjadi nyata dalam diri seseorang. Untuk itu, tenangkanlah hatimu, temanku! Jangan mencari apa dan siapa yang salah. Berdirilah teguh, bersiap-siaplah. Karena Allah sendiri telah memilihmu! Karena kemuliannya akan kaunyatakan pada waktunya nanti. Berdirilah, teguh, tegap. Allah sudah memilihmu!
Yoh 9:3
Satu cara pikir yang harus dirubah mengenai sakit penyakit dan musibah: bahwa itu semua terjadi bukan kutukan! Itu bukan terjadi karena kesalahan, hukuman, atau karma yang tidak jelas juntrungannya. Alkitab dan kekristenan sebenarnya tidak mengenal karma! Bukankah Allah pernah bersabda, pembalasan adalah hakKu? Adakah karma pernah menimpa Yakub karena melangkahi Esau? Tidak! Toh, Ayub dihajar penderitaan walaupun hidupnya bersih - dimanakah yang namanya karma itu? Tapi, pemikiran soal karma ini selalu menghantui setiap orang yang kena musibah, sehingga separuh dari sisa tenaga yang tidak seberapa itu dihabiskan untuk menjerit: mengapa? Apa salah saya? Wahai kawan, bukan kamu yang salah! Tidak ada yang salah!
Lalu apa? Tuhan Yesus menjelaskan dengan gamblang dalam perikop ini. Sang buta dalam cerita Yohanes 9, bukan buta karena dosa orang tuanya. Bukan buta karena dosa dia sendiri. Jadi, mengapa dia layak menerima kebutaan itu? Apa sebab kebutaan itu ada padanya sejak lahir? Bukan karena dosa siapa-siapa. Lalu siapa yang bertanggung jawab? Allah! Karena Yesus berkata lantang, bahwa kebutaan itu terjadi supaya kuasa Allah menjadi nyata di dalam dia. Supaya Allah terwujud dan menjelma menjadi bentuk yang dapat diraih, diraba, dan dikagumi, lewat peristiwa ajaib yang terjadi pada seorang buta, seorang sakit, atau seorang miskin. Supaya Allah hadir di tengah manusia!
Jadi, penderitaan, sakit penyakit, apalagi yang datang begitu saja, bukanlah sesuatu yang sia-sia. Bukanlah suatu akibat dari perbuatan najis atau dosa nenek moyang. Bukan juga karena karma atau nasib belaka. Tapi, semua itu datang, karena Allah punya rencana. Karena Allah ingin menunjukkan kuasaNya melalui manusia. Karena Allah ingin kuasaNya menjadi nyata dalam diri seseorang. Untuk itu, tenangkanlah hatimu, temanku! Jangan mencari apa dan siapa yang salah. Berdirilah teguh, bersiap-siaplah. Karena Allah sendiri telah memilihmu! Karena kemuliannya akan kaunyatakan pada waktunya nanti. Berdirilah, teguh, tegap. Allah sudah memilihmu!
Tujuh Hari Buat Heri
Apa yang harus aku lakukan untuk temanku yang satu ini? Seorang teman sekampung, teman sepermainan. Teman yang begitu biasa, begitu normal, hingga suatu hari langit bagaikan runtuh menimpa kepalanya. Aku harus melakukan apa untuk dia? Berpuasa? Berdoa? Bernazar? Sesudah kupikirkan, aku akan berkata-kata saja. Karena, yang inilah yang paling aku bisa. Yang inilah yang paling berkekuatan untuk menopangnya. Yang inilah, mudah-mudahan, yang bisa membangkitkannya kembali.
Tujuh hari puasa, tujuh kali kata-kata untuk temanku Heri.
Her, ieu kabeh, keur maneh yeuh! Sing cageur nya!
Tujuh hari puasa, tujuh kali kata-kata untuk temanku Heri.
Her, ieu kabeh, keur maneh yeuh! Sing cageur nya!
Wednesday, August 23, 2006
Orang Kristen dan Nyanyi-Menyanyi
“Haleluya! Nyanyikanlah bagi Tuhan nyanyian baru! Pujilah Dia dalam jemaah orang-orang saleh”
Mazmur 149:1
Saya pernah melihat suatu kejadian lucu ketika berlibur di Danau Toba, Sumatera Utara. Waktu itu, diatas kapal yang membawa kami dari Parapat menuju Pulau Samosir, ada seorang bocah yang membawa gitar untuk mengamen. Menurut saya, anak ini cukup bagus suaranya, ketika menyanyikan lagu ‚O Tano Batak’ yang terkenal itu. Tetapi, di tengah-tengah lagunya, salah seorang pendengar tiba-tiba menghentikan nyanyian pengamen itu. „Stop!“ katanya. „Kurang tepat kau menyanyikannya. Sini gitarmu!“ katanya, sambil mengambil gitar dari sang pengamen. Mulailah bapak ini menyanyi sambil bergitar, wow! Ternyata suara dan lantunannya jauh lebih bagus lagi! Hmmm, rupanya, jangan main-main kalau jadi pengamen di Tanah Batak - bukannya menghibur, malah diajari oleh pendengarnya!
Di Papua, nyanyian punya makna yang lain lagi. Ketika sedang bekerja di ladang, mereka memiliki suatu struktur nyanyian yang cukup rumit. Nyanyian ini berupa teriakan singkat yang bersahutan antara pria dan wanita. Ternyata, bukan hanya pria dan wanita, melainkan setiap tingkatan dalam keluarga - misalnya paman, ayah, atau kakek - memiliki nada dan bunyi tertentu, sehingga ketika mereka bergabung di ladang, terbentuklah suatu simfoni bunyi yang indah. Kebiasaan menyanyisambil bekerja ini juga dimiliki oleh orang Israel, yang tercatat dalam Bilangan 21:17-18.
Memang, agama Kristen erat kaitannya dengan nyanyian. Bahkan, penyanyi-penyanyi ulung di negri ini banyak yang beragama Kristen, atau berasal dari daerah yang mayoritas beragama Kristen. Nama-nama dari Ambon, Irian, dan tentu saja Batak atau Sumatra Utara, banyak sekali menghiasi panggung hiburan kita. Bahkan, pemenang Indonesian Idol, yang dipilih berdasarkan jutaan sms yang masuk dari seluruh Indonesia, dua kali berturut-turut dimenangkan oleh orang Kristen!
Padahal, tidak ada tulisan dalam Alkitab yang secara khusus menganjurkan kita untuk bernyanyi. Dalam kitab Taurat tidak ada kewajiban untuk menyanyi, bahkan Tuhan Yesus pun tidak pernah memberikan perintah untuk menyanyi. Hanya sekali tercatat dalam Matius 26:30, bahwa Tuhan Yesus bersama murid-muridNya menyanyi bersama. Lalu, mengapa kebiasaan menyanyi ini selalu erat dikaitkan dengan agama Kristen? Trend ini rupanya bukan hanya di Indonesia, tapi di dunia. Lihat saja karya-karya komponis besar seperti Johann Sebastian Bach dan Wolfgang Amadeus Mozart, yang banyak sekali diinspirasikan oleh iman Kristen mereka. Jadi mengapa nyanyian begitu erat berekatan dengan iman Kristen?
Di Amerika Serikat pernah diadakan sebuah survei mengenai tema apa yang paling banyak menginspirasi sebuah lagu. Apakah perang, perdamaian, keindahan alam, atau cuaca? Jawabannya ternyata mudah saja: cinta! Ya, cinta dan kasih adalah tema yang paling banyak menginspirasi sebuah lagu. Nyaris semua lagu yang saya kenal, dari jaman The Beatles (She Loves You) sampai musik cadas seperti Avril Lavigne (Sk8ter Girl), semuanya bicara cinta. Di Tanah Air pun sama: dari Bang Thoyib yang belum pulang juga, sampai jeritan hati Glenn Fredly - semuanya berputar-putar sekitar cinta. Nah, ketika Tuhan Yesus ditanya, apakah hukum yang terpenting bagi orang Kristen? Jawabannya: kasih! (Mat 22:37-39)
Kini mulai terlihat benang merahnya. Karena esensi dari kehidupan kristiani adalah cinta kasih, maka tak heran jika kasih yang dirasakan orang-orang Kristen begitu mudahnya meluap dan mewujud menjadi jalinan nada-nada yang indah untuk didengar. Dari jaman Abad pertengahan, dimana Johann Sebastian Bach mengarang komposisinya yang terkenal: „Jesus, Joy of Man’s Desiring“, sampai akhir-akhir ini, ketika pemusik dari Hillsong Australia melantunkan „Shout to the Lord!“. Semuanya adalah hasil dari luapan cinta kasih yang mereka alami, mereka resapi, dan mereka wujudkan dalam bentuk musik dan lagu. Itulah sebabnya mengapa orang Kristen begitu mudah berdendang, dan bahkan kini musik dan lagu menjagi bagian yang tak terpisahkan dari liturgi kristiani. Karena dalam liturgi kita menyelami dan mensyukuri kasih Tuhan terhadap kita, tentu saja nyanyian menjadi alat utama untuk mewujudkannya. Nyanyian yang selalu baru, seperti tertulis dalam Mazmur 149:1. Karena, kasih Tuhan selalu baru, setiap hari! Haleluya!
Mazmur 149:1
Saya pernah melihat suatu kejadian lucu ketika berlibur di Danau Toba, Sumatera Utara. Waktu itu, diatas kapal yang membawa kami dari Parapat menuju Pulau Samosir, ada seorang bocah yang membawa gitar untuk mengamen. Menurut saya, anak ini cukup bagus suaranya, ketika menyanyikan lagu ‚O Tano Batak’ yang terkenal itu. Tetapi, di tengah-tengah lagunya, salah seorang pendengar tiba-tiba menghentikan nyanyian pengamen itu. „Stop!“ katanya. „Kurang tepat kau menyanyikannya. Sini gitarmu!“ katanya, sambil mengambil gitar dari sang pengamen. Mulailah bapak ini menyanyi sambil bergitar, wow! Ternyata suara dan lantunannya jauh lebih bagus lagi! Hmmm, rupanya, jangan main-main kalau jadi pengamen di Tanah Batak - bukannya menghibur, malah diajari oleh pendengarnya!
Di Papua, nyanyian punya makna yang lain lagi. Ketika sedang bekerja di ladang, mereka memiliki suatu struktur nyanyian yang cukup rumit. Nyanyian ini berupa teriakan singkat yang bersahutan antara pria dan wanita. Ternyata, bukan hanya pria dan wanita, melainkan setiap tingkatan dalam keluarga - misalnya paman, ayah, atau kakek - memiliki nada dan bunyi tertentu, sehingga ketika mereka bergabung di ladang, terbentuklah suatu simfoni bunyi yang indah. Kebiasaan menyanyisambil bekerja ini juga dimiliki oleh orang Israel, yang tercatat dalam Bilangan 21:17-18.
Memang, agama Kristen erat kaitannya dengan nyanyian. Bahkan, penyanyi-penyanyi ulung di negri ini banyak yang beragama Kristen, atau berasal dari daerah yang mayoritas beragama Kristen. Nama-nama dari Ambon, Irian, dan tentu saja Batak atau Sumatra Utara, banyak sekali menghiasi panggung hiburan kita. Bahkan, pemenang Indonesian Idol, yang dipilih berdasarkan jutaan sms yang masuk dari seluruh Indonesia, dua kali berturut-turut dimenangkan oleh orang Kristen!
Padahal, tidak ada tulisan dalam Alkitab yang secara khusus menganjurkan kita untuk bernyanyi. Dalam kitab Taurat tidak ada kewajiban untuk menyanyi, bahkan Tuhan Yesus pun tidak pernah memberikan perintah untuk menyanyi. Hanya sekali tercatat dalam Matius 26:30, bahwa Tuhan Yesus bersama murid-muridNya menyanyi bersama. Lalu, mengapa kebiasaan menyanyi ini selalu erat dikaitkan dengan agama Kristen? Trend ini rupanya bukan hanya di Indonesia, tapi di dunia. Lihat saja karya-karya komponis besar seperti Johann Sebastian Bach dan Wolfgang Amadeus Mozart, yang banyak sekali diinspirasikan oleh iman Kristen mereka. Jadi mengapa nyanyian begitu erat berekatan dengan iman Kristen?
Di Amerika Serikat pernah diadakan sebuah survei mengenai tema apa yang paling banyak menginspirasi sebuah lagu. Apakah perang, perdamaian, keindahan alam, atau cuaca? Jawabannya ternyata mudah saja: cinta! Ya, cinta dan kasih adalah tema yang paling banyak menginspirasi sebuah lagu. Nyaris semua lagu yang saya kenal, dari jaman The Beatles (She Loves You) sampai musik cadas seperti Avril Lavigne (Sk8ter Girl), semuanya bicara cinta. Di Tanah Air pun sama: dari Bang Thoyib yang belum pulang juga, sampai jeritan hati Glenn Fredly - semuanya berputar-putar sekitar cinta. Nah, ketika Tuhan Yesus ditanya, apakah hukum yang terpenting bagi orang Kristen? Jawabannya: kasih! (Mat 22:37-39)
Kini mulai terlihat benang merahnya. Karena esensi dari kehidupan kristiani adalah cinta kasih, maka tak heran jika kasih yang dirasakan orang-orang Kristen begitu mudahnya meluap dan mewujud menjadi jalinan nada-nada yang indah untuk didengar. Dari jaman Abad pertengahan, dimana Johann Sebastian Bach mengarang komposisinya yang terkenal: „Jesus, Joy of Man’s Desiring“, sampai akhir-akhir ini, ketika pemusik dari Hillsong Australia melantunkan „Shout to the Lord!“. Semuanya adalah hasil dari luapan cinta kasih yang mereka alami, mereka resapi, dan mereka wujudkan dalam bentuk musik dan lagu. Itulah sebabnya mengapa orang Kristen begitu mudah berdendang, dan bahkan kini musik dan lagu menjagi bagian yang tak terpisahkan dari liturgi kristiani. Karena dalam liturgi kita menyelami dan mensyukuri kasih Tuhan terhadap kita, tentu saja nyanyian menjadi alat utama untuk mewujudkannya. Nyanyian yang selalu baru, seperti tertulis dalam Mazmur 149:1. Karena, kasih Tuhan selalu baru, setiap hari! Haleluya!
Orang Kristen dan Nyanyi-Menyanyi
“Haleluya! Nyanyikanlah bagi Tuhan nyanyian baru! Pujilah Dia dalam jemaah orang-orang saleh”
Mazmur 149:1
Saya pernah melihat suatu kejadian lucu ketika berlibur di Danau Toba, Sumatera Utara. Waktu itu, diatas kapal yang membawa kami dari Parapat menuju Pulau Samosir, ada seorang bocah yang membawa gitar untuk mengamen. Menurut saya, anak ini cukup bagus suaranya, ketika menyanyikan lagu ‚O Tano Batak’ yang terkenal itu. Tetapi, di tengah-tengah lagunya, salah seorang pendengar tiba-tiba menghentikan nyanyian pengamen itu. „Stop!“ katanya. „Kurang tepat kau menyanyikannya. Sini gitarmu!“ katanya, sambil mengambil gitar dari sang pengamen. Mulailah bapak ini menyanyi sambil bergitar, wow! Ternyata suara dan lantunannya jauh lebih bagus lagi! Hmmm, rupanya, jangan main-main kalau jadi pengamen di Tanah Batak - bukannya menghibur, malah diajari oleh pendengarnya!
Di Papua, nyanyian punya makna yang lain lagi. Ketika sedang bekerja di ladang, mereka memiliki suatu struktur nyanyian yang cukup rumit. Nyanyian ini berupa teriakan singkat yang bersahutan antara pria dan wanita. Ternyata, bukan hanya pria dan wanita, melainkan setiap tingkatan dalam keluarga - misalnya paman, ayah, atau kakek - memiliki nada dan bunyi tertentu, sehingga ketika mereka bergabung di ladang, terbentuklah suatu simfoni bunyi yang indah. Kebiasaan menyanyisambil bekerja ini juga dimiliki oleh orang Israel, yang tercatat dalam Bilangan 21:17-18.
Memang, agama Kristen erat kaitannya dengan nyanyian. Bahkan, penyanyi-penyanyi ulung di negri ini banyak yang beragama Kristen, atau berasal dari daerah yang mayoritas beragama Kristen. Nama-nama dari Ambon, Irian, dan tentu saja Batak atau Sumatra Utara, banyak sekali menghiasi panggung hiburan kita. Bahkan, pemenang Indonesian Idol, yang dipilih berdasarkan jutaan sms yang masuk dari seluruh Indonesia, dua kali berturut-turut dimenangkan oleh orang Kristen!
Padahal, tidak ada tulisan dalam Alkitab yang secara khusus menganjurkan kita untuk bernyanyi. Dalam kitab Taurat tidak ada kewajiban untuk menyanyi, bahkan Tuhan Yesus pun tidak pernah memberikan perintah untuk menyanyi. Hanya sekali tercatat dalam Matius 26:30, bahwa Tuhan Yesus bersama murid-muridNya menyanyi bersama. Lalu, mengapa kebiasaan menyanyi ini selalu erat dikaitkan dengan agama Kristen? Trend ini rupanya bukan hanya di Indonesia, tapi di dunia. Lihat saja karya-karya komponis besar seperti Johann Sebastian Bach dan Wolfgang Amadeus Mozart, yang banyak sekali diinspirasikan oleh iman Kristen mereka. Jadi mengapa nyanyian begitu erat berekatan dengan iman Kristen?
Di Amerika Serikat pernah diadakan sebuah survei mengenai tema apa yang paling banyak menginspirasi sebuah lagu. Apakah perang, perdamaian, keindahan alam, atau cuaca? Jawabannya ternyata mudah saja: cinta! Ya, cinta dan kasih adalah tema yang paling banyak menginspirasi sebuah lagu. Nyaris semua lagu yang saya kenal, dari jaman The Beatles (She Loves You) sampai musik cadas seperti Avril Lavigne (Sk8ter Girl), semuanya bicara cinta. Di Tanah Air pun sama: dari Bang Thoyib yang belum pulang juga, sampai jeritan hati Glenn Fredly - semuanya berputar-putar sekitar cinta. Nah, ketika Tuhan Yesus ditanya, apakah hukum yang terpenting bagi orang Kristen? Jawabannya: kasih! (Mat 22:37-39)
Kini mulai terlihat benang merahnya. Karena esensi dari kehidupan kristiani adalah cinta kasih, maka tak heran jika kasih yang dirasakan orang-orang Kristen begitu mudahnya meluap dan mewujud menjadi jalinan nada-nada yang indah untuk didengar. Dari jaman Abad pertengahan, dimana Johann Sebastian Bach mengarang komposisinya yang terkenal: „Jesus, Joy of Man’s Desiring“, sampai akhir-akhir ini, ketika pemusik dari Hillsong Australia melantunkan „Shout to the Lord!“. Semuanya adalah hasil dari luapan cinta kasih yang mereka alami, mereka resapi, dan mereka wujudkan dalam bentuk musik dan lagu. Itulah sebabnya mengapa orang Kristen begitu mudah berdendang, dan bahkan kini musik dan lagu menjagi bagian yang tak terpisahkan dari liturgi kristiani. Karena dalam liturgi kita menyelami dan mensyukuri kasih Tuhan terhadap kita, tentu saja nyanyian menjadi alat utama untuk mewujudkannya. Nyanyian yang selalu baru, seperti tertulis dalam Mazmur 149:1. Karena, kasih Tuhan selalu baru, setiap hari! Haleluya!
Mazmur 149:1
Saya pernah melihat suatu kejadian lucu ketika berlibur di Danau Toba, Sumatera Utara. Waktu itu, diatas kapal yang membawa kami dari Parapat menuju Pulau Samosir, ada seorang bocah yang membawa gitar untuk mengamen. Menurut saya, anak ini cukup bagus suaranya, ketika menyanyikan lagu ‚O Tano Batak’ yang terkenal itu. Tetapi, di tengah-tengah lagunya, salah seorang pendengar tiba-tiba menghentikan nyanyian pengamen itu. „Stop!“ katanya. „Kurang tepat kau menyanyikannya. Sini gitarmu!“ katanya, sambil mengambil gitar dari sang pengamen. Mulailah bapak ini menyanyi sambil bergitar, wow! Ternyata suara dan lantunannya jauh lebih bagus lagi! Hmmm, rupanya, jangan main-main kalau jadi pengamen di Tanah Batak - bukannya menghibur, malah diajari oleh pendengarnya!
Di Papua, nyanyian punya makna yang lain lagi. Ketika sedang bekerja di ladang, mereka memiliki suatu struktur nyanyian yang cukup rumit. Nyanyian ini berupa teriakan singkat yang bersahutan antara pria dan wanita. Ternyata, bukan hanya pria dan wanita, melainkan setiap tingkatan dalam keluarga - misalnya paman, ayah, atau kakek - memiliki nada dan bunyi tertentu, sehingga ketika mereka bergabung di ladang, terbentuklah suatu simfoni bunyi yang indah. Kebiasaan menyanyisambil bekerja ini juga dimiliki oleh orang Israel, yang tercatat dalam Bilangan 21:17-18.
Memang, agama Kristen erat kaitannya dengan nyanyian. Bahkan, penyanyi-penyanyi ulung di negri ini banyak yang beragama Kristen, atau berasal dari daerah yang mayoritas beragama Kristen. Nama-nama dari Ambon, Irian, dan tentu saja Batak atau Sumatra Utara, banyak sekali menghiasi panggung hiburan kita. Bahkan, pemenang Indonesian Idol, yang dipilih berdasarkan jutaan sms yang masuk dari seluruh Indonesia, dua kali berturut-turut dimenangkan oleh orang Kristen!
Padahal, tidak ada tulisan dalam Alkitab yang secara khusus menganjurkan kita untuk bernyanyi. Dalam kitab Taurat tidak ada kewajiban untuk menyanyi, bahkan Tuhan Yesus pun tidak pernah memberikan perintah untuk menyanyi. Hanya sekali tercatat dalam Matius 26:30, bahwa Tuhan Yesus bersama murid-muridNya menyanyi bersama. Lalu, mengapa kebiasaan menyanyi ini selalu erat dikaitkan dengan agama Kristen? Trend ini rupanya bukan hanya di Indonesia, tapi di dunia. Lihat saja karya-karya komponis besar seperti Johann Sebastian Bach dan Wolfgang Amadeus Mozart, yang banyak sekali diinspirasikan oleh iman Kristen mereka. Jadi mengapa nyanyian begitu erat berekatan dengan iman Kristen?
Di Amerika Serikat pernah diadakan sebuah survei mengenai tema apa yang paling banyak menginspirasi sebuah lagu. Apakah perang, perdamaian, keindahan alam, atau cuaca? Jawabannya ternyata mudah saja: cinta! Ya, cinta dan kasih adalah tema yang paling banyak menginspirasi sebuah lagu. Nyaris semua lagu yang saya kenal, dari jaman The Beatles (She Loves You) sampai musik cadas seperti Avril Lavigne (Sk8ter Girl), semuanya bicara cinta. Di Tanah Air pun sama: dari Bang Thoyib yang belum pulang juga, sampai jeritan hati Glenn Fredly - semuanya berputar-putar sekitar cinta. Nah, ketika Tuhan Yesus ditanya, apakah hukum yang terpenting bagi orang Kristen? Jawabannya: kasih! (Mat 22:37-39)
Kini mulai terlihat benang merahnya. Karena esensi dari kehidupan kristiani adalah cinta kasih, maka tak heran jika kasih yang dirasakan orang-orang Kristen begitu mudahnya meluap dan mewujud menjadi jalinan nada-nada yang indah untuk didengar. Dari jaman Abad pertengahan, dimana Johann Sebastian Bach mengarang komposisinya yang terkenal: „Jesus, Joy of Man’s Desiring“, sampai akhir-akhir ini, ketika pemusik dari Hillsong Australia melantunkan „Shout to the Lord!“. Semuanya adalah hasil dari luapan cinta kasih yang mereka alami, mereka resapi, dan mereka wujudkan dalam bentuk musik dan lagu. Itulah sebabnya mengapa orang Kristen begitu mudah berdendang, dan bahkan kini musik dan lagu menjagi bagian yang tak terpisahkan dari liturgi kristiani. Karena dalam liturgi kita menyelami dan mensyukuri kasih Tuhan terhadap kita, tentu saja nyanyian menjadi alat utama untuk mewujudkannya. Nyanyian yang selalu baru, seperti tertulis dalam Mazmur 149:1. Karena, kasih Tuhan selalu baru, setiap hari! Haleluya!
Friday, August 11, 2006
Hyperlink dalam Alkitab
“Jadi seluruhnya ada: empat belas keturunan dari Abraham sampai Daud, empat belas keturunan dari Daud sampai pembuangan ke Babel, dan empat belas keturunan dari pembuangan ke babel sampai Kristus”
Matius 1:17
Saya punya kebiasaan untuk membaca Alkitab secara acak sebelum tidur. Jadi, saya membuka Alkitab secara ack, lalu diantara halaman yang terbuka, tempat mata saya pertama kali tertuju, biasanya menjadi perikop pilihan malam itu. Tujuannya, supaya saya bisa membaca Alkitab secara utuh, tidak hanya ayat-ayat yang terkenal saja. Untuk tujuan ini juga, saya tidak pernah menggarisi atau mewarnai ayat-ayat Alkitab tertentu dengan stabilo. Dengan demikian, semua ayat Alkitab terlihat sama dan sama pentingnya, dimanapun ayat itu berada.
Namun, kadang-kadang kalau saya menjumpai ayat seperti Matius 1:1-17, apalagi kalau hari itu saya sudah lelah dan mata sudah sulit diajak kompromi, makin sulitlah ‘tantangan’ membaca Alkitab ini. Siapa memperanakkan siapa, siapa kakek dan siapa cucunya, menjadi sangat tidak menarik dan kadang-kadang saya berpikir, apa ada gunanya membaca silsilah seperti ini ini?
Khotbah Pdt. Bigman Sirait yang saya dengar 2 minggu lalu mengubah pandangan saya mengenai silsilah ini, khususnya yang disinggung dalam Matius. Beliau mengatakan bahwa bukankah Allah pernah berjanji kepada Abraham, bahwa keturunannya akan sebanyak bintang di langit dan pasir di laut? (Kej 22:17), bukankan Allah berjanji bahwa keturunan Abraham akan mendiami tanah Kanaan dan mengalami berbagai macam berkat?
Jika ya, nampaknya kenyataan jauh dari janji Allah. Bangsa Israel, keturunan Abraham, berkali-kali dijajah dan diusir dari tanah Kanaan. Hanya dengan pimpinan Raja Daud dan Salomo, mereka boleh dibilang berjaya. Namun, pemimpin mereka lagi-lagi berdosa dan berdosa, sehingga Allah mencampakkan mereka berkali-kali dalam penjajahan Mesir, Babel, bahkan Romawi. Sampai sekarang pun, seperti kita lihat di koran-koran, “Damai di Timur Tengah” belum bisa terwujud - sesudah ribuan tahun! Orang Israel masih belum bisa hidup tenang, selalu dihantui perang dan rasa tidak aman.
Nah, silsilah ini rupanya menjadi kunci bagi terwujudnya janji Allah. Kalau tidak ada silsilah ini, maka Yesus tidak ada hubungannya dengan Abraham. Namun, dengan adanya benang merah antara Abraham dengan Yesus, dan memperhitungkan perkataan Yesus bahwa yang percaya kepadaNya adalah anakNya, maka kita semua dengan perantaraan Yesus menjadi keturunan Abraham. Jadi, status ‚Bangsa Terpilih’ tidak lagi ditentukan oleh keturunan (ius sanguinis), tetapi oleh perbuatan dan iman terhadap Yesus. Dengan demikian, janji Allah ditepati: kaum yang percaya kepada Yesus kini semakin banyak di dunia, bahkan seperti pasir di laut! Jadi, dalam silsilah yang seolah tidak penting ini, terdapat sebuah hyperlink - yang memberika benang merah kepada seluruh Alkitab, dari Perjanjian Lama sampai Perjanjian Baru. Amin!
Matius 1:17
Saya punya kebiasaan untuk membaca Alkitab secara acak sebelum tidur. Jadi, saya membuka Alkitab secara ack, lalu diantara halaman yang terbuka, tempat mata saya pertama kali tertuju, biasanya menjadi perikop pilihan malam itu. Tujuannya, supaya saya bisa membaca Alkitab secara utuh, tidak hanya ayat-ayat yang terkenal saja. Untuk tujuan ini juga, saya tidak pernah menggarisi atau mewarnai ayat-ayat Alkitab tertentu dengan stabilo. Dengan demikian, semua ayat Alkitab terlihat sama dan sama pentingnya, dimanapun ayat itu berada.
Namun, kadang-kadang kalau saya menjumpai ayat seperti Matius 1:1-17, apalagi kalau hari itu saya sudah lelah dan mata sudah sulit diajak kompromi, makin sulitlah ‘tantangan’ membaca Alkitab ini. Siapa memperanakkan siapa, siapa kakek dan siapa cucunya, menjadi sangat tidak menarik dan kadang-kadang saya berpikir, apa ada gunanya membaca silsilah seperti ini ini?
Khotbah Pdt. Bigman Sirait yang saya dengar 2 minggu lalu mengubah pandangan saya mengenai silsilah ini, khususnya yang disinggung dalam Matius. Beliau mengatakan bahwa bukankah Allah pernah berjanji kepada Abraham, bahwa keturunannya akan sebanyak bintang di langit dan pasir di laut? (Kej 22:17), bukankan Allah berjanji bahwa keturunan Abraham akan mendiami tanah Kanaan dan mengalami berbagai macam berkat?
Jika ya, nampaknya kenyataan jauh dari janji Allah. Bangsa Israel, keturunan Abraham, berkali-kali dijajah dan diusir dari tanah Kanaan. Hanya dengan pimpinan Raja Daud dan Salomo, mereka boleh dibilang berjaya. Namun, pemimpin mereka lagi-lagi berdosa dan berdosa, sehingga Allah mencampakkan mereka berkali-kali dalam penjajahan Mesir, Babel, bahkan Romawi. Sampai sekarang pun, seperti kita lihat di koran-koran, “Damai di Timur Tengah” belum bisa terwujud - sesudah ribuan tahun! Orang Israel masih belum bisa hidup tenang, selalu dihantui perang dan rasa tidak aman.
Nah, silsilah ini rupanya menjadi kunci bagi terwujudnya janji Allah. Kalau tidak ada silsilah ini, maka Yesus tidak ada hubungannya dengan Abraham. Namun, dengan adanya benang merah antara Abraham dengan Yesus, dan memperhitungkan perkataan Yesus bahwa yang percaya kepadaNya adalah anakNya, maka kita semua dengan perantaraan Yesus menjadi keturunan Abraham. Jadi, status ‚Bangsa Terpilih’ tidak lagi ditentukan oleh keturunan (ius sanguinis), tetapi oleh perbuatan dan iman terhadap Yesus. Dengan demikian, janji Allah ditepati: kaum yang percaya kepada Yesus kini semakin banyak di dunia, bahkan seperti pasir di laut! Jadi, dalam silsilah yang seolah tidak penting ini, terdapat sebuah hyperlink - yang memberika benang merah kepada seluruh Alkitab, dari Perjanjian Lama sampai Perjanjian Baru. Amin!
Wednesday, May 24, 2006
Menabur dengan Menangis
“Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan sorak sorai. Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya“
Mazmur 126:5-6
Dalam perikop ini dikisahkan sebuah peristiwa yang mengharukan, seperti dijelaskan oleh seorang pendeta asal Semarang di GKI Nurdin minggu lalu. Judul perikop yang nampaknya optimistis ini adalah ‚pengharapan di tengah-tengah penderitaan’ - dan jika Anda membawa seluruh perikop ini, Anda akan mengerti mengenai maksud yang sesungguhnya dari mazmur ini.
Pengalaman seperti ketika bangsa Israel menderita dikepung oleh bangsa-bangsa di sekelilingnya mungkin sudah sering kita alami. Membaca koran nampaknya semakin hari semakin suram saja dengan berita-berita dan isu-isu yang mengkhawatirkan, seolah-olah kita hidup di rimba belantara, siap menjadi mangsa yang lebih kuat. Sakit penyakit yang sudah lama didoakan dan diobati namun belum juga sembuh. Jodoh yang sudah dicari dengan sekuat tenaga dan sepenuh hati, mengorbankan perasaan hati ketika cinta bersemi di tempat yang tak seharusnya, justru tidak muncul-muncul juga. Yang ada hanyalah kesendirian dan kehampaan, bersama jeritan demi jeritan yang seolah menggema tak terjawab di dinding gua. Pedihnya hati ketika orang yang kita kasihi justru terhanyut oleh pengaruh buruk lingkungannya dan jatuh tanpa daya, sementara kita hanya bisa menjerit pedih menyaksikannya. Lalu, kita jugalah, yang sejak dahulu menentang, yang kini harus memungut keping-keping luka dan berusaha membangun hidup kembali. Tuhan, jika demikian adanya, kekuatan apa yang ada dalam hambaMu, yang tersisa untukMu?
Perikop ini mengajarkan kita satu hal yang penting: optimisme! Dikisahkan waktu itu betapa orang Israel menabur sambil menangis, karena benih gandum yang ditabur adalah jatah makanan yang terpaksa dikorbankan untuk ditanam. Perih perut yang kosong harus ditahan untuk menunggu sampai gandum tumbuh, tanpa bisa menjamin bahwa benih tersebut akan mati atau lenyap dibawa lari burung gagak. Tangan yang menabur tiap hari semakin gentar, gemetar menahan lapar, sementara hati sudah hancur menahan derita. Tapi, ada suatu kehangatan dalam hati, suatu teriakan penuh keyakinan dari nurani, yang terus menggema tanpa henti.
Ya! Sekarang kita menabur dengan menangis, tetapi kita akan menuai dengan sorak-sorai! Kita akan membajak sambil meringis, tapi akan memanen dengan girang! Karena Tuhan sudah menolong kita, dan pasti pertolonganNya akan datang lagi. Ia sudah menunjukkan kasihNya kepada kita selama ini, dan pasti Ia akan beraksi lagi menunjukkan kasihNya kepada kita. Tetaplah menabur, jangan berdiam diri! Tetaplah berusaha, berjalanlah terus. Ia tahu hati kita sedang tersedu, Ia mendengar senggukan napas kita. Tanah menjeritkan kepadaNya jatuhnya tetes air mata kita, dan langit memanggilNya karena gema jeritan tangis kita! Jangan kuatir dan jangan takut, tanganNya yang kuat akan menolong kita. Yang perlu kita jaga, adalah bahwa jangan sampai rasa lapar membujuk kita untuk memakan benih yang kita miliki. Jangan sampai rasa haus memaksa kita berhenti membajak. Tabur terus dengan tangis, wahai kawan - dan kita akan menuai dengan bersuka cita!
Mazmur 126:5-6
Dalam perikop ini dikisahkan sebuah peristiwa yang mengharukan, seperti dijelaskan oleh seorang pendeta asal Semarang di GKI Nurdin minggu lalu. Judul perikop yang nampaknya optimistis ini adalah ‚pengharapan di tengah-tengah penderitaan’ - dan jika Anda membawa seluruh perikop ini, Anda akan mengerti mengenai maksud yang sesungguhnya dari mazmur ini.
Pengalaman seperti ketika bangsa Israel menderita dikepung oleh bangsa-bangsa di sekelilingnya mungkin sudah sering kita alami. Membaca koran nampaknya semakin hari semakin suram saja dengan berita-berita dan isu-isu yang mengkhawatirkan, seolah-olah kita hidup di rimba belantara, siap menjadi mangsa yang lebih kuat. Sakit penyakit yang sudah lama didoakan dan diobati namun belum juga sembuh. Jodoh yang sudah dicari dengan sekuat tenaga dan sepenuh hati, mengorbankan perasaan hati ketika cinta bersemi di tempat yang tak seharusnya, justru tidak muncul-muncul juga. Yang ada hanyalah kesendirian dan kehampaan, bersama jeritan demi jeritan yang seolah menggema tak terjawab di dinding gua. Pedihnya hati ketika orang yang kita kasihi justru terhanyut oleh pengaruh buruk lingkungannya dan jatuh tanpa daya, sementara kita hanya bisa menjerit pedih menyaksikannya. Lalu, kita jugalah, yang sejak dahulu menentang, yang kini harus memungut keping-keping luka dan berusaha membangun hidup kembali. Tuhan, jika demikian adanya, kekuatan apa yang ada dalam hambaMu, yang tersisa untukMu?
Perikop ini mengajarkan kita satu hal yang penting: optimisme! Dikisahkan waktu itu betapa orang Israel menabur sambil menangis, karena benih gandum yang ditabur adalah jatah makanan yang terpaksa dikorbankan untuk ditanam. Perih perut yang kosong harus ditahan untuk menunggu sampai gandum tumbuh, tanpa bisa menjamin bahwa benih tersebut akan mati atau lenyap dibawa lari burung gagak. Tangan yang menabur tiap hari semakin gentar, gemetar menahan lapar, sementara hati sudah hancur menahan derita. Tapi, ada suatu kehangatan dalam hati, suatu teriakan penuh keyakinan dari nurani, yang terus menggema tanpa henti.
Ya! Sekarang kita menabur dengan menangis, tetapi kita akan menuai dengan sorak-sorai! Kita akan membajak sambil meringis, tapi akan memanen dengan girang! Karena Tuhan sudah menolong kita, dan pasti pertolonganNya akan datang lagi. Ia sudah menunjukkan kasihNya kepada kita selama ini, dan pasti Ia akan beraksi lagi menunjukkan kasihNya kepada kita. Tetaplah menabur, jangan berdiam diri! Tetaplah berusaha, berjalanlah terus. Ia tahu hati kita sedang tersedu, Ia mendengar senggukan napas kita. Tanah menjeritkan kepadaNya jatuhnya tetes air mata kita, dan langit memanggilNya karena gema jeritan tangis kita! Jangan kuatir dan jangan takut, tanganNya yang kuat akan menolong kita. Yang perlu kita jaga, adalah bahwa jangan sampai rasa lapar membujuk kita untuk memakan benih yang kita miliki. Jangan sampai rasa haus memaksa kita berhenti membajak. Tabur terus dengan tangis, wahai kawan - dan kita akan menuai dengan bersuka cita!
Thursday, March 09, 2006
Penjajah Yang Sesungguhnya
“Lalu Ia mengajar mereka, kataNya: ‘Bukankah ada tertulis: rumahKu akan disebut rumah doa bagi segala bangsa? Tetapi kamu ini telah menjadikannya sarang penyamun!’”
Markus 11:17
Tuhan Yesus adalah seorang tokoh yang kontroversial. Bukan saja untuk orang Kristen, tetapi juga untuk semua orang. Tuhan Yesus dikenal sebagai seorang tokoh reformasi, tokoh pendobrak, yang tidak takut menghadapi kekuatan yang lebih besar. Ia tetap teguh pada ajarannya, konsekuen sampai setiap senti dari kehidupannya, dan sesuai nubuat para nabi, akhirnya dijatuhi hukuman salib secara tidak adil. Tapi, pernahkah kita memperhatikan, apa yang membuat Tuhan Yesus begitu berpengaruh pada masyarakat Yahudi saat itu? Mengapa kehadiran dan ajaranNya langsung bisa diterima oleh banyak orang?
Pada masa hidup Tuhan Yesus, bangsa Yahudi berada di bawah jajahan Romawi. Setelah beberapa kali gagal melakukan pemberontakan, penjajah Romawi menghancurkan seluruh sendi pemerintahan dan keyakinan orang Yahudi sehingga hanya reruntuhan Bait Allah yang tersisa. Kebencian terhadap penjajah Romawi kemudian memuncak, sehingga ada kerinduan yang kuat dari bangsa Yahudi untuk hadirnya seorang pemimpin. Tetapi, bukan hanya itu. Ada penjajah yang justru lebih kejam, justru lebih bertangan besi. Mereka adalah golongan petinggi agama Yahudi sendiri, yakni orang Farisi, orang Saduki, dan Mahkamah Agama Yahudi.
Para petinggi agama Yahudi memang sarat dengan penyelewengan. Salah satu yang pertama tercatat adalah masalah korupsi pada seorang bujang Elia (II Raja-raja 5:26). Kekuasaan pemuka agama yang mutlak dan turun-temurun menjadi sarat dengan penyelewengan, dimana kekuasaan mereka tidak digunakan secara semestinya. Agama yang seharusnya membawa kedamaian dan ketertiban, malah membawa ketakutan dan rasa tidak aman. Setiap orang bisa diciduk dan didakwa dengan dalih agama, padahal belum tentu bersalah. Agama kemudian menjadi momok yang menakutkan! Itulah sebabnya, mereka acapkali menjadi sasaran kritik Tuhan Yesus. Berkali-kali mereka mencobai, menjebak, dan ingin menjerumuskan Tuhan Yesus, hanya karena Ia membongkar topeng dan kemunafikan mereka. Berkali-kali pula Tuhan Yesus menunjukkan sikap yang sangat kontras dengan para pemuka agama, yakni akrab dan dekat dengan kaum lemah: kaum miskin, cacat, pemungut cukai, dan kaum tuna susila. Dengan kasihNya ia menunjukkan esensi dari kehidupan beragama yang sesungguhnya, yang membawa damai dan membela yang lemah.
Kalau Tuhan Yesus mengajarkan perlawanan pada penjajah Romawi, pastilah Ia dengan mudah didakwa. Tetapi, tidak pernah sekalipun Tuhan Yesus bertindak ke arah situ. Itulah sebabnya, Pontius Pilatus sampai tidak menemukan kesalahan pada Tuhan Yesus. Mahkamah Agamalah yang sekuat tenaga mengarang cerita supaya Tuhan Yesus bersalah, dengan delik dan aturan yang tidak jelas. Misi Tuhan Yesus adalah melawan penjajah dari bangsaNya sendiri, penjajah yang konon mendapat mandat dari BapaNya, namun menyelewengkannya sekehendak hati selama ratusan tahun. Itulah sebabnya para pemuka agama sangat membenci Tuhan Yesus, namun Ia sangat dicintai oleh rakyat kebanyakan. Karena Ia menunjukkan kepada mereka, siap penjajah yang sesungguhnya!
Markus 11:17
Tuhan Yesus adalah seorang tokoh yang kontroversial. Bukan saja untuk orang Kristen, tetapi juga untuk semua orang. Tuhan Yesus dikenal sebagai seorang tokoh reformasi, tokoh pendobrak, yang tidak takut menghadapi kekuatan yang lebih besar. Ia tetap teguh pada ajarannya, konsekuen sampai setiap senti dari kehidupannya, dan sesuai nubuat para nabi, akhirnya dijatuhi hukuman salib secara tidak adil. Tapi, pernahkah kita memperhatikan, apa yang membuat Tuhan Yesus begitu berpengaruh pada masyarakat Yahudi saat itu? Mengapa kehadiran dan ajaranNya langsung bisa diterima oleh banyak orang?
Pada masa hidup Tuhan Yesus, bangsa Yahudi berada di bawah jajahan Romawi. Setelah beberapa kali gagal melakukan pemberontakan, penjajah Romawi menghancurkan seluruh sendi pemerintahan dan keyakinan orang Yahudi sehingga hanya reruntuhan Bait Allah yang tersisa. Kebencian terhadap penjajah Romawi kemudian memuncak, sehingga ada kerinduan yang kuat dari bangsa Yahudi untuk hadirnya seorang pemimpin. Tetapi, bukan hanya itu. Ada penjajah yang justru lebih kejam, justru lebih bertangan besi. Mereka adalah golongan petinggi agama Yahudi sendiri, yakni orang Farisi, orang Saduki, dan Mahkamah Agama Yahudi.
Para petinggi agama Yahudi memang sarat dengan penyelewengan. Salah satu yang pertama tercatat adalah masalah korupsi pada seorang bujang Elia (II Raja-raja 5:26). Kekuasaan pemuka agama yang mutlak dan turun-temurun menjadi sarat dengan penyelewengan, dimana kekuasaan mereka tidak digunakan secara semestinya. Agama yang seharusnya membawa kedamaian dan ketertiban, malah membawa ketakutan dan rasa tidak aman. Setiap orang bisa diciduk dan didakwa dengan dalih agama, padahal belum tentu bersalah. Agama kemudian menjadi momok yang menakutkan! Itulah sebabnya, mereka acapkali menjadi sasaran kritik Tuhan Yesus. Berkali-kali mereka mencobai, menjebak, dan ingin menjerumuskan Tuhan Yesus, hanya karena Ia membongkar topeng dan kemunafikan mereka. Berkali-kali pula Tuhan Yesus menunjukkan sikap yang sangat kontras dengan para pemuka agama, yakni akrab dan dekat dengan kaum lemah: kaum miskin, cacat, pemungut cukai, dan kaum tuna susila. Dengan kasihNya ia menunjukkan esensi dari kehidupan beragama yang sesungguhnya, yang membawa damai dan membela yang lemah.
Kalau Tuhan Yesus mengajarkan perlawanan pada penjajah Romawi, pastilah Ia dengan mudah didakwa. Tetapi, tidak pernah sekalipun Tuhan Yesus bertindak ke arah situ. Itulah sebabnya, Pontius Pilatus sampai tidak menemukan kesalahan pada Tuhan Yesus. Mahkamah Agamalah yang sekuat tenaga mengarang cerita supaya Tuhan Yesus bersalah, dengan delik dan aturan yang tidak jelas. Misi Tuhan Yesus adalah melawan penjajah dari bangsaNya sendiri, penjajah yang konon mendapat mandat dari BapaNya, namun menyelewengkannya sekehendak hati selama ratusan tahun. Itulah sebabnya para pemuka agama sangat membenci Tuhan Yesus, namun Ia sangat dicintai oleh rakyat kebanyakan. Karena Ia menunjukkan kepada mereka, siap penjajah yang sesungguhnya!
Subscribe to:
Posts (Atom)