Embun pagi adalah kristalisasi hari. Uap, asap, debu, kabut, yang terakumulasi selama sehari penuh, akan mengalami transformasi akibat kondensasi dan sublimasi, menjadi embun pagi yang murni, suci, bersih. Demikian pula Firman Tuhan, sering tersamar dalam kotornya hari, namun selalu muncul kembali dalam bentuk murni di pagi hari. Asalkan kita rela luangkan waktu, bersihkan hati, biarkan Roh itu bekerja.
Tuesday, January 08, 2008
Berkenalan Dengan Pendeta Google Dot Com
Matius 10:16
Saya pernah menghadiri sebuah kebaktian di dekat rumah saya. Liturgi berjalan seperti biasa, dengan beberapa lagu dan Pengakuan Iman Rasuli. Dan, tibalah saatnya untuk mendengarkan khotbah. Di dalam Kristen Protestan, khotbah atau Firman Tuhan menjadi pusat dari semua liturgi. Disinilah terjadi dialog antara Tuhan dengan manusia, dimana banyak orang bisa menatap wajah Yesus melalui kata-kata yang diilhami oleh Roh Kudus. Begitu pentingnya khotbah ini, sampai-sampai para anggota GKJJ (Gereja Kristen Jalan-Jalan - orang yang suka pindah-pindah gereja) biasanya memilih beribadah di tempat yang khotbahnya paling bagus. Jadi, wajar saja, kalau hati saya berdebar-debar ketika khotbah akan dimulai. Apa yang akan dikatakan Tuhan Yesus pada saya hari ini?
Dasar khotbah yang diberikan pada hari itu diambil dari Kisah Para Rasul 20:7-11. Cerita ini memang cukup aneh, menceritakan seorang pemuda bernama Eutikhus yang mengantuk lalu jatuh dari lantai atas ketika mendengarkan Rasul Paulus berkhotbah. Rasul Paulus lalu membangkitkan sang pemuda itu dari kematiannya (KIS 20:10). Wah, sebuah cerita mukjijat yang menakjubkan! Tapi, pelajaran apa yang bisa kita peroleh darinya? Memang tidak mudah, dan saya mengharapkan Pak Pendeta akan memberikn inspirasi yang baru di hari itu. „Jadi, Bapak dan Ibu sekalian...“ kata Pak Pendeta memulai khotbahnya. „Makanya, kalau mendengarkan khotbah, jangan sambil ngantuk ya! Nanti jatuh ke bawah dan mati sama seperti Eutikhus!“ kata beliau, disambut tawa hadirin. Masalahnya, Pak Pendeta tidak sedang melucu. Ia baru saja mengungkapkan inti khotbahnya.
Saya pulang, terus terang, dengan hati kesal. Masakan tidak ada makna lain selain ‚jangan ngantuk waktu berkhotbah’? Memang, ayat seperti ini tidak memiliki perintah atau ajaran tertentu yang tersurat. Karena penasaran, sayapun pulang ke rumah. Lewat internet Telkomnet yang murah tapi lambat bukan main, saya pun pergi ke www.google.com. Saya lalu memasukkan nama Eutychus, sang pemuda tadi, karena penasaran ingin mengetahui pemahaman teologis mengenai peristiwa kematiandan kebangkitannya.
Nama itu membawa saya ke website www.christiancourier.com. Ada sebuah artikel berjudul “The Case of Eutychus” oleh Wayne Jackson. Disana dibahas dengan sangat mendetail latar belakang teologis dari peristiwa tersebut. Bahkan sampai penyebutan ‚lampu’ (KIS 20:8) dijelaskan sebagai penekanan bahwa pertemuan kristiani tidak perlu dilakukan dalam gelap, seperti disyaratkan oleh beberapa aliran sesat pada waktu itu. Ternyata, peristiwa mati dan bangkitnya Eutikhus ini memiliki makna mendalam, yakni Paulus mendemonstrasikan kepada para tetua di Troas bahwa kematian bukanlah akhir dari segalanya, dan kuasa untuk melaluinya hanya ada pada Tuhan. Dan, itu baru satu website yang saya lihat. Dengan memasukkan nama Eutychus melalui Google, ada 65.700 website lain yang memuat nama tersebut. Sebuah gudang informasi yang luar biasa lengkap, tapi murah dan mudah dijangkau!
Hal yang sama juga terjadi di hari Minggu yang lain, dimana dibahas mengenai Khotbah Paulus di Athena, Kisah Para Rasul 17:22-32. Waktu itu Pak Pendeta lagi-lagi menjelaskan moral dan cerita yang bisa ditebaknya dari apa yang tersurat di Alkitab, betapa orang Yunani waktu itu adalah penyembah berhala, sehingga harus sehgera bertobat sebelum dihukum. Padahal, di dalam perikop ini disebutkan mengenai golongan Epikuros dan Stoa dan ‘Allah yang tidak dikenal’. Apakah maksud penulis Alkitab mencatat semua ini? Apakah hanya itu saja makna khotbah Paulus di Athena?
Sepulang dari gereja, saya lalu kembali ke www.google.com untuk mencari informasi. Ternyata, latar belakang sejarah yang bisa saya peroleh luar biasa banyaknya. Dengan memasukkan nama ‚Areopagus’, saya bisa memperoleh 231.000 halaman informasi. Lewat link ini pula saya bisa mengerti mengenai konsep ‚Allah yang tidak dikenal’, apa yang disebut golongan Epikuros dan Stoa (KIS 17:18 - untuk latihan, silakan masukkan kata-kata tersebut di Google dan lihatlah apa hasilnya!). Ternyata, khotbah Paulus di Athena sangatlah penting karena Paulus menantang ahli-ahli filsafat pada masa itu. Athena merupakan pusat intelektual dunia, tempat banyak orang cerdik cendekia berkumpul untuk mendiskusikan mengenai alam semesta dan konsep hidup. Bahkan nama-nama terkenal seperti Demokritos, penemu konsep atom, pernah singgah dan sekolah di Athena. Lalu, bagaimanakah seorang Paulus, yang tidak pernah sekolah, hanya berpendidikan seorang warganegara Roma, dengan konsep agama yang baru pula, bisa menantang para cerdik cendekia itu?
Dengan khotbah yang sangat singkat, Paulus ternyata memutarbalikkan pemahaman orang Yunani tentang alam semesta. Paulus menohok ke jantung kemunafikan filsafat Yunani - yang di satu sisi sangat menekankan konsep logika dan kebebasan berpikir, namun di sisi lain menganut paham polytheisme dan memiliki dewa-dewa yang begitu banyak dan tidak masuk akal. Bahkan sampai ada kuil yang ditujukan bagi ‚Dewa/Allah yang tidak dikenal’! Nah, konsep inilah yang digunakan Paulus untuk menjelaskan bahwa pastilah ada satu Zat, Sang Esa, yang berada di balik semua konsep alam semesta (KIS 17:24). Jadi, di tengah Majelis Areopagus Yunani, Kota Athena, yang merupakan jantung polytheisme, Paulus secara tajam dan ringkas berhasil memasukkan konsep monotheisme secara gamblang. Bukan main-main, sesudah khotbah Paulus, beberapa anggota Majelis Areopagus - seperti Dionysius - langsung menjadi percaya.
Hebat! Dan semuanya ini saya peroleh dalam petualangan saya ber-google dalam nama Tuhan. Dengan memasukkan kata kunci ‘Stoicism’ (bahasa Inggris dari golongan Stoa), saya mendapat 597.000 portal. Dengan kata kunci ‘Epicureanism’ (bahasa Inggris dari golongan Epikuros), saya bisa memperoleh 2.150.000 portal. Memang, isinya macam-macam - dari yang benar-benar berhubungan dengan Alkitab, sampai yang bertolak belakang. Namun, toh kita bisa mensortirnya dalam waktu singkat dan menemukan begitu banyak tafsir, latar belakang sejarah, dan artikel-artikel pendukung yang akan membuat pemahaman kita mengenai perikop tersebut lebih mendalam. Hanya butuh waktu beberapa menit dan beberapa ribu rupiah pulsa, namun informasi yang diperoleh begitu luar biasa, dibandingkan dengan membuka buku-buku tafsir yang tebal dan membingungkan. Ayo para pendeta, jangan gaptek! Bukankah Tuhan Yesus pernah berkata, kita harus cerdik seperti ular, dan tulus seperti merpati?
10 Tips Dalam Menggunakan Google Untuk Pemahaman Alkitab
1. Pastikan Anda sudah menggunakan ejaan bahasa Inggris yang benar. Sebagian besar sumber informasi kristiani berasal dari Amerika Serikat, sehingga penulisan bahasa Inggris yang tepat akan membawa hasil yang tercepat dan terbaik. Contohnya, kata kunci ‚Lukas’ akan membawa kita pada portal Lukas Haas, seorang aktor Amerika. Kata ‚Lucas’ juga langsung memberikan informasi mengenai George Lucas, sang sutradara film Star Wars. Hanya dengan menggunakan kata kunci ‚Luke’, maka urutan yang pertama keluar adalah ‚The Gospel of Luke’.
2. Bingung menentukan ejaan bahasa Inggris yang benar? Jangan putus asa. Google biasanya akan memberikan petunjuk jika Anda salah total dalam memasukkan sebuah kata kunci, dan akan mengusulkan kata terdekat yang mungkin lebih cocok.
3. Takut biaya pulsa melonjak tinggi, atau Telkomnet instan Anda terlalu terengah-engah untuk mendownload kilobyte dalam jumlah besar? Gampang. Sebagian besar informasi terdapat dalam bentuk tulisan, bukan gambar. Padahal yang banyak menyedot bandwidth adalah gambarnya. Jadi, lihatlah tulisannya saja, tidak perlu gambarnya! Caranya: di Internet Explorer, pilih menu Tools - Internet Options - Advanced. Lalu di bawah menu Multimedia, unclick (hilangkan tanda cek berwarna hijau) pada pilihan Play Animation, Play Sound, Play Video, dan Show PIctures. Setiap portal yang Anda download hanya akan menunjukkan tulisannya saja - just what you need.
4. Jika sudah menemukan portal langganan, yang selalu memberikan informasi yang benar, masukkanlah dalam Favourites (klik menu ‚Favourites’ pada Internet Explorer, lalu pilih ‚Add to Favourites’). Favourites adalah daftar kumpulan portal yang Anda pilih. Jadi, jika Anda ingin mencari informasi lagi, cobalah dulu pada daftar Favourites Anda sebelum ke Google. Siapa tahu yang Anda butuhkan sudah ada disana, dan tidak perlu berkeliling dunia lagi untuk mencarinya!
5. Gunakanlah kata kunci yang spesifik. Misalnya, untuk mencari ‚Perjamuan Terakhir’, bahasa Inggrisnya ‚The Last Supper’. Jika Anda hanya memasukkan kata ‘Supper’, maka akan muncul 20.200.000 portal, kebanyakan mengenai makanan. Pusing kan? Tapi dengan memasukkan kata kunci ‘The Last Supper’, portal yang muncul sebanyak 4.760.000 buah. Jadi, Anda menghemat 75% waktu pencarian dengan kata kunci yang lebih spesifik.
6. Gunakanlah kata-kata yang sespesifik mungkin. Jangan coba-coba mencari kata-kata umum seperti ‚berkat’ atau ‚roh’, karena akan muncul jutaan informasi yang tidak berguna buat Anda. Gunakanlah kata spesifik, misalnya ‚Areopagus’, ‚Stoa’, atau ‚Epikuros’, daripada kata-kata umum seperti ‚Paulus’ atau ‚Athena’. Pencarian Anda akan lebih tepat sasaran.
7. Hati-hati dengan apa yang Anda temukan. Dunia maya menyimpan milyaran informasi, dari yang benar sampai yang agak miring. Tidak mustahil bahwa Google akan menuntun Anda justru ke portal-portal atheis atau gnostik yang akan menjerumuskan Anda ke pengertian yang salah. Kalau yang Anda baca dirasa kurang ‚sreg’ di hati, tinggalkan saja, jangan dibaca.
8. Jika Anda menggunakan sebuah portal untuk bahan tulisan, biasakan untuk selalu mencantumkan portal tersebut dalam daftar pustaka. Selain menaati kaidah ilmiah dalam pengutipan karya orang lain, langkah ini paling tidak menghargai sang empunya ide yang menjadi sumber tulisan kita.
9. Biasakanlah untuk mengopi halaman yang menarik dan menyimpannya dalam satu file, untuk dibaca kemudian. Jarang sekali ada satu portal yang memuat semua keinginan kita - seringkali kita menemukan potongan-potongan informasi di beberapa portal, yang harus diolah lagi untuk mendapatkan benang merahnya. Jangan hanya menyalin saja - buatlah sesuatu yang baru!
10. Yang terakhir, berdoalah sebelum ber-google untuk Tuhan. Untuk makan saja kita selalu berdoa memohon bimbingan Tuhan Yesus, apalagi untuk berkelana di belantara dunia maya yang juga berisikan pornografi, kesesatan, dan bahkan portal pemandu bunuh diri? Asalkan hati kita tulus seperti merpati dan selalu berdoa dan berhati-hati, niscaya Tuhan akan beserta kita dalam ber-google ria.
Harry Nazarudin
Monday, December 10, 2007
Untuk dikau…
Dikau harus tahu, betapa beruntungnya dikau!
Keputusan yang berani dikau ambil, perpindahan yang berani dikau jalani
Semuanya tepat, semuanya tanda kedewasaan sudah tidak dapat dikau tawar lagi
Senang hatiku mendengar dikau akhirnya berjanji setia
Gembira hatiku mendengar dikau berani keluar dari kebimbangan dan berjalan tegak menuju keabadian cinta
I’m happy for you, dikau! I really do!
Anggaplah daku hanya sebagian dari kisah lama yang kini sudah usang
Daku tidak sebaik yang dikau kira…
Dikau sudah membuat keputusan yang sangat tepat dengan memilih dia!
Jika dikau melihat daku bercahaya, itu hanya karena kulit luarku yang serba palsu
Daku selalu memakai topeng, dikau, begitu seringnya sampai daku tidak ingat lagi wajah daku yang sebenarnya
Walaupun kulit daku bercahaya
Itu semua palsu, dikau
Bagian dalam daku sebenarnya berisi kebusukan dan cacat cela
Berisi kebohongan dan kemunafikan yang tak terperi
Sangat menyanjung diri sendiri sampai daku kini terjebak dalam lingkaran setan kebohongan dan tipu muslihat
Saking seringnya bohong, dikau, sampai daku lupa caranya berkata jujur
Dikau,
Daku ucapkan sekali lagi selamat berlenggang menuju keabadian
Jangan lagi menoleh ke belakang, dikau
Jangan lagi sisakan tempat untuk daku di hatimu
Hancurkanlah semua karena dakulah yang sebenarnya tidak layak untuk dikau
Jika dikau masih berkenan
Sisakanlah sedikit tempat di dalam ruang doamu, dikau
Doakanlah daku yang sedang terpuruk ini
Yang hancur jiwanya, yang busuk berbau moralnya, yang remuk redam imannya
Doakanlah, dikau, supaya daku bisa bangkit dari reruntuhan ini
Dan berdiri tegak seperti dikau sekarang...
Tuhan memberkati dikau....
Tuesday, May 01, 2007
Hari 7 - 29 April 2007 - Ia Baik!
TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.
Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang;
Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.
Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.
Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah.
Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa.
Mazmur 23:1 - 6
Jangan kuatir dan jangan bersedih. Tuhan itu baik! Ia menyediakan apa yang menjadi keperluan kita, ia menjagai kita.
Kadang-kadang pukulanNya terasa keras, seringkali teguranNya terasa pedas. Namun Ia setia, Ia baik, dan Ia beserta kamu!
Janganlah patah semangat dan bersedih. Bersikaplah positif dan berdirilah tegak, supaya Ia melihat mu tidak mudah patah.
Supaya Ia melihatmu dan bagaikan seorang ayah yang menyaksikan anaknya diwisuda, seorang ibu yang menyaksikan anaknya menikah. Supaya Ia bangga, anakNya berhasil mengarungi bahaya!
Hari 6 - 28 April 2007 - Mintalah, Maka Akan Diberikan!
Markus 11:24
Mintalah, maka hal itu akan diberikan kepadamu! Sesuatu hal yang sulit bukan? Tapi ada suatu fakta yang menunjang Firman ini. Secara logis, jika manusia melakukan sesuatu yang bermanfaat, maka hal itu akan terus dilakukannya, karena ada insentif positif. Maksudnya adalah, ada keuntungan yang diperoleh dari kegiatan itu. Contohnya, bila orang makan dan merasa kenyang, maka orang akan terus makan. Tapi jika makanan itu membuat seseorang sakit, maka orang tersebut tidak akan makan lagi. Insentif positifnya adalah rasa kenyang yang nikmat itu!
Doa adalah sebuah fenomena sejarah. Sebuah tonggak rohani di tengah dunia yang kian sekuler seperti masa kini. Mengapa? Karena doa - yang begitu umum dan wajar dikenal di masyarakat - ternyata tidak memiliki bukti ilmiah! Apa gunanya berdoa? Apakah ada jaminan bahwa permohonan doa akan dikabulkan? Apakah ada efek positif dari doa yang mempengaruhi kondisi psikologis, kejiwaan, apalagi pengaruh fisik? Tidak! Tapi, di hari ini, milyaran manusia di dunia sedang berdoa. Dan manusia sudah berdoa sejak ribuan tahun yang lalu, tepatnya 2000 tahun untuk umat Kristen. Kalau doa itu omong kosong, kalau doa itu tidak membawa manfaat apa-apa - bagaimana manusia bisa tetap berdoa selama 2000 tahun?
Untuk membuktikan hal ini, coba tuliskan di selembar kertas, daftar permohonan dalam doa Anda dari kecil sampai sekarang. Lalu coba periksa: mana yang dikabulkan, mana yang tidak. Yang dikabulnya menjadi mayoritas bukan? Dan bagi yang tidak dikabulkan - misalnya keinginan untuk jadi astronot di masa kecil - pasti sudah diganti dengan suatu anugerah yang lebih mulia lagi! Nah, jelas bukan? Doa itu nyata, senyata kamu dan saya. Oleh karena itu berdoalah!
Dalam perikop diatas Tuhan Yesus menegaskan pentingnya arti doa dan iman percaya. Berdoalah, datanglah kepada Tuhan! Mintalah kepadanya - kekuatan, kepulihan, kesembuhan! Niscaya Ia akan mendengarkan doamu, seperti doa milyaran manusia sejak ribuan tahun yang lalu. Statistik membuktikan, bahwa doa itu punya kuasa. Mintalah kepadaNya, maka untukmu akan diberi!
Hari 5 - 27 April 2007 - Berlarilah Ke Depan, Jangan Lihat ke Belakang!
Filipi 3:13-14
Paulus adalah seseorang yang penuh cacat cela. Ia dulunya adalah seorang penganiaya jemaat, yang rajin menyiksa dan membunuhi orang Kristen. Dari segi rohani ia adalah seorang Farisi, yang terkenal dengan kemunafikan dan berkali-kali dikritik oleh Tuhan Yesus. Paulus sebenarnya layak langsung masuk neraka! Perbuatannya penuh cela dan penganiayaan terhadap jemaat Kristen, sampai ketika Tuhan memanggilnya. Tindakan Paulus bahkan bisa disamakan dengan Yudas Iskariot, yang tega menjual guruNya hanya demi beberapa keping uang perak.
Namun, reaksi Yudas dan Paulus sangat berbeda terhadap perbuatan mereka. Inilah yang membedakan antara iman Kristen sejati dengan jiwa pengecut! Ketika sadar bahwa dirinya sudah melakukan kesalahan, Yudas mengalami depresi. Ia begitu sedihnya, sampai diceritakan bahwa ia membunuh diri dengan menggantung dirinya di sebuah pohon. Sebuah akhir yang najis, akhir yang memalukan!
Bagaimana dengan Paulus? Ia bukannya meratapi nasibnya yang lampau, menyesali perbuatan jahatnya, tetapi ia justru begitu giat melayani Allah sampai ia menjadi salah seorang tonggak utama agama Kristen. Sebagai manusia, Paulus pasti punya penyesalan. Bahkan Ananias, seorang Kristen yang diminta Tuhan untuk menerima Paulus, mula-mula begitu ragu dan takut menemui Paulus! Begitu jahatnya Paulus, sehingga ia bisa saja menggantung dirinya ketika menyadari kesalahannya. Tapi, dalam Filipi Paulus berkeras untuk tidak melihat ke belakang dan melihat ke depan, berlari-lari ke tujuan yakni panggilan Sorgawi dari Allah dalam Yesus Kristus.
Temanku, jangan melihat ke belakang! Berhentilah meratapi dan merenungi nasib. Siaplah untuk berlari ke depan! Apa yang bisa kaulakukan untuk Tuhan di dunia ini? Apa yang ingin dinyatakanNya dalam hidupmu? Kejarlah itu! Konsentrasikanlah sisa tenagamu untuk berkarya, untuk berusaha - berlari-lari menyongsong kehadiran Allah! Contohlah Paulus yang tidak suka meratapi nasibnya, tapi lebih memilih memajukan imannya agar pertobatannya tidak sia-sia. Jangan seperti Yudas, yang mati konyol di tiang gantungan! Tumbuhkanlah semangat dalam hatimu, agat karya Tuhan segera dinyatakan dalam dirimu!
Hari 4 - 26 April 2007 - Datanglah Kepada Yesus!
Matius 11:28
Tuhan Yesus adalah seorang nabi yang aneh. Kalau nabi-nabi lain menguraikan aturan, mengadakan nubuat, atau melemparkan kecaman, Tuhan Yesus justru sebaliknya: Ia memberikan harapan. Harapan ini bukan untuk yang berkelimpahan, bukan untuk yang kaya raya. Harapan ini justru untuk kaum lemah, kaum miskin, kaum yang menderita. Tuhan Yesus tidak terjebak dalam konotasi Yahudi sebagai bangsa terjajah dan Romawi sebagai penjajah. Ia tetap teguh memegang prinsip bahwa Allah hadir untuk yang lemah, miskin, dan menderita, tidak peduli apakah ia orang Yahudi, Yunani, atau Romawi.
Mungkin, prinsip inilah yang membuat appeal atau daya tarik Tuhan Yesus sangat besar bagi kaum miskin dan kaum tertindas, kaum yang bahkan tidak bisa memaksa Imam Besar untuk menurunkanNya dari kayu salib. Kaum yang terpaksa berteriak ”Salibkan Dia!” karena tekanan politis, walaupun hatinya rindu akan FirmanNya. Bahkan seorang Mahatma Gandhi, yang juga berpegang teguh pada prinsip damai dan membela yang lemah, begitu terkesan dengan Khotbah di Bukit sampai-sampai pada suatu waktu ia ingin masuk ke gereja. Sayangnya, ia ditolak mentah-mentah karena hanya orang kulit putih yang diijinkan masuk gereja!
Di Bandung, ayat dalam perikop diatas diukir besar-besar di palang sebuah gereja Katolik. Seolah-olah, patung Tuhan Yesus yang sedang tersalib benar-benar bersabda memanggil semua orang yang letih lesu dan berbeban berat untuk datang kepadaNya! Jika kamu letih dan lesu, berbahagialah! Tuhan Yesus datang ke dunia khusus untuk kamu! Itulah sebabnya Ia menerima anak-anak, tukang pajak, dan orang-orang sakit. Karena Ia baik hati, karena untuk merekalah Ia datang. Jadi, datanglah kepadaNya!
Hari 3 - 25 April 2007 - Sampai Kapan?
Pengkhotbah 3:11
Sampai kapan semua ini harus kutanggung? Waktu adalah segalanya. Dalam bisnis, dalam kehidupan dan kematian, waktu adalah segalanya. Saya selalu ingat pengalaman pribadi ketika nenek saya sakit keras. Beliau adalah seorang Kristen yang sangat taat. Suatu hari, nenek saya jatuh sakit keras, sehingga nampaknya umurnya tidak lama lagi. Semua orang mulai meramalkan tanggal kematiannya. Ada yang bilang besok, ada yang bilang lusa. Beberapa orang saudara yang masih percaya pada dukun dan ilmu gaib bahkan menganjurkan kami untuk membuat upacara khusus, agar nenek saya cepat ’pergi’ karena saat itu ’status’ rohnya sedang tersangkut di pohon dekat rumah. Wah!
Kamipun mengadakan rapat keluarga. Apakah kami harus menyiapkan ayam cemani seperti anjuran sang dukun? Apakah betul kami harus memasang dupa di bawah ranjangnya? Kami lalu ingat akan keteguhan nenek dalam iman Kristennya. Kalau ia sadar dan melihat ada sisa-sisa ’upacara gelap’ di kamarnya, ia pasti marah besar! Oleh karena itu, kami memutuskan untuk tidak mengikuti semua anjuran itu dan hanya berdoa bersama untuk nenek saya.
Waktu itu, kondisi nenek saya begitu parahnya, sehingga jika ada yang meramalkan ia akan meninggal dunia besok, buat saya terlihat logis saja! Tapi, ternyata Tuhan menunjukkan kuasaNya. Ramalan demi ralaman kematian berlalu, dan nenek saya masih bertahan, masih bernafas. Ternyata, nenek saya bisa sembuh! Baru setahun kemudian, ketika tidak ada satu orangpun yang menyangka, nenek saya meninggal dengan tenang dalam tidurnya. Dimanakah ramalan itu? Dimanakah roh nenek saya yang katanya tersangkut di pohon? Nihil! Pada akhirnya, kehendak Tuhanlah yang terjadi!
Waktu memang sebuah elemen yang penting. Kadang-kadang, rencana Tuhan tidak bisa terbukti oleh percobaan atau ujian, tapi hanya teruji oleh waktu. Bukankah waktu adalah penguji yang terbaik? Emas dibedakan dari besi, karena emas bertahan tak lekang oleh waktu, sementara besi yang kokoh akan hancur oleh karat hanya dalam hitungan hari. Waktu! Itulah prasyarat keindahan kasih Tuhan. Jadi, kalau waktunya belum datang, kemuliaanNya belum terwujud, bersabarlah! Ia akan datang, sepasti datangnya pagi di malam yang kelam, atau sepasti datangnya angin semilir di tengah badai yang sedang menerpa. Bersabarlah - yang akan datang itu pasti, hanya tinggal menunggu waktu. Segala sesuatu akan indah pada waktunya!
Tuesday, April 24, 2007
Hari 2 - 24 April 2007 - Syukurlah, Tanjakan Itu Sudah Berlalu!
Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.
Yesaya 55:8-9
Pertanyaan berikutnya adalah: kalau benar ini rancangan Tuhan, kalau benar ini kehendakNya, kok jelek amat ya? Mengapa harus sesakit ini, serumit ini, sesulit ini? Mengapa kok kelihatannya sekarang tidak ada titik terang di ujung terowongan? Yang ada hanyalah udara pengap, tembok yang lembab, dan ruangan sempit yang menyesakkan hati? Karena, ini baru rancangan, baru rencana.
Seorang insinyur sipil biasanya adalah orang yang paling mengerti mengenai buruk rupanya sebuah rancangan yang setengah jadi. Betapapun indah gambarnya, betapapun cantik jadinya, lihatlah sebuah proses pembangunan rumah pada tahap awal: buruk rupa, berantakan, semrawut! Yang ada adalah kebisingan, hujaman paku-paku yang tiada henti, hantaman palu yang menyayat hati. Semuanya dihancurkan: keramik dipotong, kayu digergaji, semen diaduk. Kalau benda-benda itu bisa menjerit, mereka pasti berteriak minta tolong, tidak terima, dan menangis tersedu-sedu. Hancur berantakan! Tapi, lihatlah! Pelan-pelan, bentuk akhirnya mulai kelihatan!
Dari mulai menyemen, finishing, sampai pengecatan, semuanya masih berantakan, namun bentuk akhirnya mulai kelihatan. Akhirnya, jadinya sebuah bangunan yang cantik - apakah berbentuk minimalis atau bergaya Yunani dengan tiang tinggi! Cantik nian, dan begitu jauh dari bentuk asalnya, begitu lama sejak pembangunannya. Pemilik rumah seringkali hanya tinggal masuk ke rumah jadi, sehingga kurang menghargai karya seni itu. Tapi, coba tanya sang pembangunnya! Ia akan ingat betapa sulit mendirikan atapnya. Betapa rumit proses pemasangan tegelnya. Betapa jorok proses pemasangan pipanya. Dan sekarang... semuanya selesai! Sang insinyur kini bisa menatap karyanya dengan bangga - justru karena ia merasakan kepedihan pada awalnya. Sementara, pemilik rumah seringkali hanya mencibir karena masih kurang puas!
Nah, begitu pula rancangan Tuhan. Rancangan Tuhan jauh diatas manusia. Jika seorang insinyur sipil saja bisa berasakannya, apalagi rancangan Tuhan yang jauh lebih mulia! Memang, sekadang ini rasanya sakit, rasanya sesak, rasanya sumpek. Tapi, tabahlah, dan berjalanlah terus! Suatu saat nanti, bangunan tersebut akan jadi. Berbanggalah akan setiap hari yang lewat, karena itu berarti satu langkah lebih dekat dengan bangunan jadi yang cantik. Jangan menyerah, maju terus! Jika tiba saatnya nanti, kamu bakalan berdiri di sebuah bukit, lalu menengok ke terjalnya tanjakan di belakang. Dan berpikir: indahnya pemandangan dari sini! Syukurlah, tanjakan berat itu sudah berlalu!
Hari 1 - 23 April 2007 - Bukan Salah Siapa Siapa!
Yoh 9:3
Satu cara pikir yang harus dirubah mengenai sakit penyakit dan musibah: bahwa itu semua terjadi bukan kutukan! Itu bukan terjadi karena kesalahan, hukuman, atau karma yang tidak jelas juntrungannya. Alkitab dan kekristenan sebenarnya tidak mengenal karma! Bukankah Allah pernah bersabda, pembalasan adalah hakKu? Adakah karma pernah menimpa Yakub karena melangkahi Esau? Tidak! Toh, Ayub dihajar penderitaan walaupun hidupnya bersih - dimanakah yang namanya karma itu? Tapi, pemikiran soal karma ini selalu menghantui setiap orang yang kena musibah, sehingga separuh dari sisa tenaga yang tidak seberapa itu dihabiskan untuk menjerit: mengapa? Apa salah saya? Wahai kawan, bukan kamu yang salah! Tidak ada yang salah!
Lalu apa? Tuhan Yesus menjelaskan dengan gamblang dalam perikop ini. Sang buta dalam cerita Yohanes 9, bukan buta karena dosa orang tuanya. Bukan buta karena dosa dia sendiri. Jadi, mengapa dia layak menerima kebutaan itu? Apa sebab kebutaan itu ada padanya sejak lahir? Bukan karena dosa siapa-siapa. Lalu siapa yang bertanggung jawab? Allah! Karena Yesus berkata lantang, bahwa kebutaan itu terjadi supaya kuasa Allah menjadi nyata di dalam dia. Supaya Allah terwujud dan menjelma menjadi bentuk yang dapat diraih, diraba, dan dikagumi, lewat peristiwa ajaib yang terjadi pada seorang buta, seorang sakit, atau seorang miskin. Supaya Allah hadir di tengah manusia!
Jadi, penderitaan, sakit penyakit, apalagi yang datang begitu saja, bukanlah sesuatu yang sia-sia. Bukanlah suatu akibat dari perbuatan najis atau dosa nenek moyang. Bukan juga karena karma atau nasib belaka. Tapi, semua itu datang, karena Allah punya rencana. Karena Allah ingin menunjukkan kuasaNya melalui manusia. Karena Allah ingin kuasaNya menjadi nyata dalam diri seseorang. Untuk itu, tenangkanlah hatimu, temanku! Jangan mencari apa dan siapa yang salah. Berdirilah teguh, bersiap-siaplah. Karena Allah sendiri telah memilihmu! Karena kemuliannya akan kaunyatakan pada waktunya nanti. Berdirilah, teguh, tegap. Allah sudah memilihmu!
Tujuh Hari Buat Heri
Tujuh hari puasa, tujuh kali kata-kata untuk temanku Heri.
Her, ieu kabeh, keur maneh yeuh! Sing cageur nya!
Wednesday, August 23, 2006
Orang Kristen dan Nyanyi-Menyanyi
Mazmur 149:1
Saya pernah melihat suatu kejadian lucu ketika berlibur di Danau Toba, Sumatera Utara. Waktu itu, diatas kapal yang membawa kami dari Parapat menuju Pulau Samosir, ada seorang bocah yang membawa gitar untuk mengamen. Menurut saya, anak ini cukup bagus suaranya, ketika menyanyikan lagu ‚O Tano Batak’ yang terkenal itu. Tetapi, di tengah-tengah lagunya, salah seorang pendengar tiba-tiba menghentikan nyanyian pengamen itu. „Stop!“ katanya. „Kurang tepat kau menyanyikannya. Sini gitarmu!“ katanya, sambil mengambil gitar dari sang pengamen. Mulailah bapak ini menyanyi sambil bergitar, wow! Ternyata suara dan lantunannya jauh lebih bagus lagi! Hmmm, rupanya, jangan main-main kalau jadi pengamen di Tanah Batak - bukannya menghibur, malah diajari oleh pendengarnya!
Di Papua, nyanyian punya makna yang lain lagi. Ketika sedang bekerja di ladang, mereka memiliki suatu struktur nyanyian yang cukup rumit. Nyanyian ini berupa teriakan singkat yang bersahutan antara pria dan wanita. Ternyata, bukan hanya pria dan wanita, melainkan setiap tingkatan dalam keluarga - misalnya paman, ayah, atau kakek - memiliki nada dan bunyi tertentu, sehingga ketika mereka bergabung di ladang, terbentuklah suatu simfoni bunyi yang indah. Kebiasaan menyanyisambil bekerja ini juga dimiliki oleh orang Israel, yang tercatat dalam Bilangan 21:17-18.
Memang, agama Kristen erat kaitannya dengan nyanyian. Bahkan, penyanyi-penyanyi ulung di negri ini banyak yang beragama Kristen, atau berasal dari daerah yang mayoritas beragama Kristen. Nama-nama dari Ambon, Irian, dan tentu saja Batak atau Sumatra Utara, banyak sekali menghiasi panggung hiburan kita. Bahkan, pemenang Indonesian Idol, yang dipilih berdasarkan jutaan sms yang masuk dari seluruh Indonesia, dua kali berturut-turut dimenangkan oleh orang Kristen!
Padahal, tidak ada tulisan dalam Alkitab yang secara khusus menganjurkan kita untuk bernyanyi. Dalam kitab Taurat tidak ada kewajiban untuk menyanyi, bahkan Tuhan Yesus pun tidak pernah memberikan perintah untuk menyanyi. Hanya sekali tercatat dalam Matius 26:30, bahwa Tuhan Yesus bersama murid-muridNya menyanyi bersama. Lalu, mengapa kebiasaan menyanyi ini selalu erat dikaitkan dengan agama Kristen? Trend ini rupanya bukan hanya di Indonesia, tapi di dunia. Lihat saja karya-karya komponis besar seperti Johann Sebastian Bach dan Wolfgang Amadeus Mozart, yang banyak sekali diinspirasikan oleh iman Kristen mereka. Jadi mengapa nyanyian begitu erat berekatan dengan iman Kristen?
Di Amerika Serikat pernah diadakan sebuah survei mengenai tema apa yang paling banyak menginspirasi sebuah lagu. Apakah perang, perdamaian, keindahan alam, atau cuaca? Jawabannya ternyata mudah saja: cinta! Ya, cinta dan kasih adalah tema yang paling banyak menginspirasi sebuah lagu. Nyaris semua lagu yang saya kenal, dari jaman The Beatles (She Loves You) sampai musik cadas seperti Avril Lavigne (Sk8ter Girl), semuanya bicara cinta. Di Tanah Air pun sama: dari Bang Thoyib yang belum pulang juga, sampai jeritan hati Glenn Fredly - semuanya berputar-putar sekitar cinta. Nah, ketika Tuhan Yesus ditanya, apakah hukum yang terpenting bagi orang Kristen? Jawabannya: kasih! (Mat 22:37-39)
Kini mulai terlihat benang merahnya. Karena esensi dari kehidupan kristiani adalah cinta kasih, maka tak heran jika kasih yang dirasakan orang-orang Kristen begitu mudahnya meluap dan mewujud menjadi jalinan nada-nada yang indah untuk didengar. Dari jaman Abad pertengahan, dimana Johann Sebastian Bach mengarang komposisinya yang terkenal: „Jesus, Joy of Man’s Desiring“, sampai akhir-akhir ini, ketika pemusik dari Hillsong Australia melantunkan „Shout to the Lord!“. Semuanya adalah hasil dari luapan cinta kasih yang mereka alami, mereka resapi, dan mereka wujudkan dalam bentuk musik dan lagu. Itulah sebabnya mengapa orang Kristen begitu mudah berdendang, dan bahkan kini musik dan lagu menjagi bagian yang tak terpisahkan dari liturgi kristiani. Karena dalam liturgi kita menyelami dan mensyukuri kasih Tuhan terhadap kita, tentu saja nyanyian menjadi alat utama untuk mewujudkannya. Nyanyian yang selalu baru, seperti tertulis dalam Mazmur 149:1. Karena, kasih Tuhan selalu baru, setiap hari! Haleluya!
Orang Kristen dan Nyanyi-Menyanyi
Mazmur 149:1
Saya pernah melihat suatu kejadian lucu ketika berlibur di Danau Toba, Sumatera Utara. Waktu itu, diatas kapal yang membawa kami dari Parapat menuju Pulau Samosir, ada seorang bocah yang membawa gitar untuk mengamen. Menurut saya, anak ini cukup bagus suaranya, ketika menyanyikan lagu ‚O Tano Batak’ yang terkenal itu. Tetapi, di tengah-tengah lagunya, salah seorang pendengar tiba-tiba menghentikan nyanyian pengamen itu. „Stop!“ katanya. „Kurang tepat kau menyanyikannya. Sini gitarmu!“ katanya, sambil mengambil gitar dari sang pengamen. Mulailah bapak ini menyanyi sambil bergitar, wow! Ternyata suara dan lantunannya jauh lebih bagus lagi! Hmmm, rupanya, jangan main-main kalau jadi pengamen di Tanah Batak - bukannya menghibur, malah diajari oleh pendengarnya!
Di Papua, nyanyian punya makna yang lain lagi. Ketika sedang bekerja di ladang, mereka memiliki suatu struktur nyanyian yang cukup rumit. Nyanyian ini berupa teriakan singkat yang bersahutan antara pria dan wanita. Ternyata, bukan hanya pria dan wanita, melainkan setiap tingkatan dalam keluarga - misalnya paman, ayah, atau kakek - memiliki nada dan bunyi tertentu, sehingga ketika mereka bergabung di ladang, terbentuklah suatu simfoni bunyi yang indah. Kebiasaan menyanyisambil bekerja ini juga dimiliki oleh orang Israel, yang tercatat dalam Bilangan 21:17-18.
Memang, agama Kristen erat kaitannya dengan nyanyian. Bahkan, penyanyi-penyanyi ulung di negri ini banyak yang beragama Kristen, atau berasal dari daerah yang mayoritas beragama Kristen. Nama-nama dari Ambon, Irian, dan tentu saja Batak atau Sumatra Utara, banyak sekali menghiasi panggung hiburan kita. Bahkan, pemenang Indonesian Idol, yang dipilih berdasarkan jutaan sms yang masuk dari seluruh Indonesia, dua kali berturut-turut dimenangkan oleh orang Kristen!
Padahal, tidak ada tulisan dalam Alkitab yang secara khusus menganjurkan kita untuk bernyanyi. Dalam kitab Taurat tidak ada kewajiban untuk menyanyi, bahkan Tuhan Yesus pun tidak pernah memberikan perintah untuk menyanyi. Hanya sekali tercatat dalam Matius 26:30, bahwa Tuhan Yesus bersama murid-muridNya menyanyi bersama. Lalu, mengapa kebiasaan menyanyi ini selalu erat dikaitkan dengan agama Kristen? Trend ini rupanya bukan hanya di Indonesia, tapi di dunia. Lihat saja karya-karya komponis besar seperti Johann Sebastian Bach dan Wolfgang Amadeus Mozart, yang banyak sekali diinspirasikan oleh iman Kristen mereka. Jadi mengapa nyanyian begitu erat berekatan dengan iman Kristen?
Di Amerika Serikat pernah diadakan sebuah survei mengenai tema apa yang paling banyak menginspirasi sebuah lagu. Apakah perang, perdamaian, keindahan alam, atau cuaca? Jawabannya ternyata mudah saja: cinta! Ya, cinta dan kasih adalah tema yang paling banyak menginspirasi sebuah lagu. Nyaris semua lagu yang saya kenal, dari jaman The Beatles (She Loves You) sampai musik cadas seperti Avril Lavigne (Sk8ter Girl), semuanya bicara cinta. Di Tanah Air pun sama: dari Bang Thoyib yang belum pulang juga, sampai jeritan hati Glenn Fredly - semuanya berputar-putar sekitar cinta. Nah, ketika Tuhan Yesus ditanya, apakah hukum yang terpenting bagi orang Kristen? Jawabannya: kasih! (Mat 22:37-39)
Kini mulai terlihat benang merahnya. Karena esensi dari kehidupan kristiani adalah cinta kasih, maka tak heran jika kasih yang dirasakan orang-orang Kristen begitu mudahnya meluap dan mewujud menjadi jalinan nada-nada yang indah untuk didengar. Dari jaman Abad pertengahan, dimana Johann Sebastian Bach mengarang komposisinya yang terkenal: „Jesus, Joy of Man’s Desiring“, sampai akhir-akhir ini, ketika pemusik dari Hillsong Australia melantunkan „Shout to the Lord!“. Semuanya adalah hasil dari luapan cinta kasih yang mereka alami, mereka resapi, dan mereka wujudkan dalam bentuk musik dan lagu. Itulah sebabnya mengapa orang Kristen begitu mudah berdendang, dan bahkan kini musik dan lagu menjagi bagian yang tak terpisahkan dari liturgi kristiani. Karena dalam liturgi kita menyelami dan mensyukuri kasih Tuhan terhadap kita, tentu saja nyanyian menjadi alat utama untuk mewujudkannya. Nyanyian yang selalu baru, seperti tertulis dalam Mazmur 149:1. Karena, kasih Tuhan selalu baru, setiap hari! Haleluya!
Friday, August 11, 2006
Hyperlink dalam Alkitab
Matius 1:17
Saya punya kebiasaan untuk membaca Alkitab secara acak sebelum tidur. Jadi, saya membuka Alkitab secara ack, lalu diantara halaman yang terbuka, tempat mata saya pertama kali tertuju, biasanya menjadi perikop pilihan malam itu. Tujuannya, supaya saya bisa membaca Alkitab secara utuh, tidak hanya ayat-ayat yang terkenal saja. Untuk tujuan ini juga, saya tidak pernah menggarisi atau mewarnai ayat-ayat Alkitab tertentu dengan stabilo. Dengan demikian, semua ayat Alkitab terlihat sama dan sama pentingnya, dimanapun ayat itu berada.
Namun, kadang-kadang kalau saya menjumpai ayat seperti Matius 1:1-17, apalagi kalau hari itu saya sudah lelah dan mata sudah sulit diajak kompromi, makin sulitlah ‘tantangan’ membaca Alkitab ini. Siapa memperanakkan siapa, siapa kakek dan siapa cucunya, menjadi sangat tidak menarik dan kadang-kadang saya berpikir, apa ada gunanya membaca silsilah seperti ini ini?
Khotbah Pdt. Bigman Sirait yang saya dengar 2 minggu lalu mengubah pandangan saya mengenai silsilah ini, khususnya yang disinggung dalam Matius. Beliau mengatakan bahwa bukankah Allah pernah berjanji kepada Abraham, bahwa keturunannya akan sebanyak bintang di langit dan pasir di laut? (Kej 22:17), bukankan Allah berjanji bahwa keturunan Abraham akan mendiami tanah Kanaan dan mengalami berbagai macam berkat?
Jika ya, nampaknya kenyataan jauh dari janji Allah. Bangsa Israel, keturunan Abraham, berkali-kali dijajah dan diusir dari tanah Kanaan. Hanya dengan pimpinan Raja Daud dan Salomo, mereka boleh dibilang berjaya. Namun, pemimpin mereka lagi-lagi berdosa dan berdosa, sehingga Allah mencampakkan mereka berkali-kali dalam penjajahan Mesir, Babel, bahkan Romawi. Sampai sekarang pun, seperti kita lihat di koran-koran, “Damai di Timur Tengah” belum bisa terwujud - sesudah ribuan tahun! Orang Israel masih belum bisa hidup tenang, selalu dihantui perang dan rasa tidak aman.
Nah, silsilah ini rupanya menjadi kunci bagi terwujudnya janji Allah. Kalau tidak ada silsilah ini, maka Yesus tidak ada hubungannya dengan Abraham. Namun, dengan adanya benang merah antara Abraham dengan Yesus, dan memperhitungkan perkataan Yesus bahwa yang percaya kepadaNya adalah anakNya, maka kita semua dengan perantaraan Yesus menjadi keturunan Abraham. Jadi, status ‚Bangsa Terpilih’ tidak lagi ditentukan oleh keturunan (ius sanguinis), tetapi oleh perbuatan dan iman terhadap Yesus. Dengan demikian, janji Allah ditepati: kaum yang percaya kepada Yesus kini semakin banyak di dunia, bahkan seperti pasir di laut! Jadi, dalam silsilah yang seolah tidak penting ini, terdapat sebuah hyperlink - yang memberika benang merah kepada seluruh Alkitab, dari Perjanjian Lama sampai Perjanjian Baru. Amin!
Wednesday, May 24, 2006
Menabur dengan Menangis
Mazmur 126:5-6
Dalam perikop ini dikisahkan sebuah peristiwa yang mengharukan, seperti dijelaskan oleh seorang pendeta asal Semarang di GKI Nurdin minggu lalu. Judul perikop yang nampaknya optimistis ini adalah ‚pengharapan di tengah-tengah penderitaan’ - dan jika Anda membawa seluruh perikop ini, Anda akan mengerti mengenai maksud yang sesungguhnya dari mazmur ini.
Pengalaman seperti ketika bangsa Israel menderita dikepung oleh bangsa-bangsa di sekelilingnya mungkin sudah sering kita alami. Membaca koran nampaknya semakin hari semakin suram saja dengan berita-berita dan isu-isu yang mengkhawatirkan, seolah-olah kita hidup di rimba belantara, siap menjadi mangsa yang lebih kuat. Sakit penyakit yang sudah lama didoakan dan diobati namun belum juga sembuh. Jodoh yang sudah dicari dengan sekuat tenaga dan sepenuh hati, mengorbankan perasaan hati ketika cinta bersemi di tempat yang tak seharusnya, justru tidak muncul-muncul juga. Yang ada hanyalah kesendirian dan kehampaan, bersama jeritan demi jeritan yang seolah menggema tak terjawab di dinding gua. Pedihnya hati ketika orang yang kita kasihi justru terhanyut oleh pengaruh buruk lingkungannya dan jatuh tanpa daya, sementara kita hanya bisa menjerit pedih menyaksikannya. Lalu, kita jugalah, yang sejak dahulu menentang, yang kini harus memungut keping-keping luka dan berusaha membangun hidup kembali. Tuhan, jika demikian adanya, kekuatan apa yang ada dalam hambaMu, yang tersisa untukMu?
Perikop ini mengajarkan kita satu hal yang penting: optimisme! Dikisahkan waktu itu betapa orang Israel menabur sambil menangis, karena benih gandum yang ditabur adalah jatah makanan yang terpaksa dikorbankan untuk ditanam. Perih perut yang kosong harus ditahan untuk menunggu sampai gandum tumbuh, tanpa bisa menjamin bahwa benih tersebut akan mati atau lenyap dibawa lari burung gagak. Tangan yang menabur tiap hari semakin gentar, gemetar menahan lapar, sementara hati sudah hancur menahan derita. Tapi, ada suatu kehangatan dalam hati, suatu teriakan penuh keyakinan dari nurani, yang terus menggema tanpa henti.
Ya! Sekarang kita menabur dengan menangis, tetapi kita akan menuai dengan sorak-sorai! Kita akan membajak sambil meringis, tapi akan memanen dengan girang! Karena Tuhan sudah menolong kita, dan pasti pertolonganNya akan datang lagi. Ia sudah menunjukkan kasihNya kepada kita selama ini, dan pasti Ia akan beraksi lagi menunjukkan kasihNya kepada kita. Tetaplah menabur, jangan berdiam diri! Tetaplah berusaha, berjalanlah terus. Ia tahu hati kita sedang tersedu, Ia mendengar senggukan napas kita. Tanah menjeritkan kepadaNya jatuhnya tetes air mata kita, dan langit memanggilNya karena gema jeritan tangis kita! Jangan kuatir dan jangan takut, tanganNya yang kuat akan menolong kita. Yang perlu kita jaga, adalah bahwa jangan sampai rasa lapar membujuk kita untuk memakan benih yang kita miliki. Jangan sampai rasa haus memaksa kita berhenti membajak. Tabur terus dengan tangis, wahai kawan - dan kita akan menuai dengan bersuka cita!
Thursday, March 09, 2006
Penjajah Yang Sesungguhnya
Markus 11:17
Tuhan Yesus adalah seorang tokoh yang kontroversial. Bukan saja untuk orang Kristen, tetapi juga untuk semua orang. Tuhan Yesus dikenal sebagai seorang tokoh reformasi, tokoh pendobrak, yang tidak takut menghadapi kekuatan yang lebih besar. Ia tetap teguh pada ajarannya, konsekuen sampai setiap senti dari kehidupannya, dan sesuai nubuat para nabi, akhirnya dijatuhi hukuman salib secara tidak adil. Tapi, pernahkah kita memperhatikan, apa yang membuat Tuhan Yesus begitu berpengaruh pada masyarakat Yahudi saat itu? Mengapa kehadiran dan ajaranNya langsung bisa diterima oleh banyak orang?
Pada masa hidup Tuhan Yesus, bangsa Yahudi berada di bawah jajahan Romawi. Setelah beberapa kali gagal melakukan pemberontakan, penjajah Romawi menghancurkan seluruh sendi pemerintahan dan keyakinan orang Yahudi sehingga hanya reruntuhan Bait Allah yang tersisa. Kebencian terhadap penjajah Romawi kemudian memuncak, sehingga ada kerinduan yang kuat dari bangsa Yahudi untuk hadirnya seorang pemimpin. Tetapi, bukan hanya itu. Ada penjajah yang justru lebih kejam, justru lebih bertangan besi. Mereka adalah golongan petinggi agama Yahudi sendiri, yakni orang Farisi, orang Saduki, dan Mahkamah Agama Yahudi.
Para petinggi agama Yahudi memang sarat dengan penyelewengan. Salah satu yang pertama tercatat adalah masalah korupsi pada seorang bujang Elia (II Raja-raja 5:26). Kekuasaan pemuka agama yang mutlak dan turun-temurun menjadi sarat dengan penyelewengan, dimana kekuasaan mereka tidak digunakan secara semestinya. Agama yang seharusnya membawa kedamaian dan ketertiban, malah membawa ketakutan dan rasa tidak aman. Setiap orang bisa diciduk dan didakwa dengan dalih agama, padahal belum tentu bersalah. Agama kemudian menjadi momok yang menakutkan! Itulah sebabnya, mereka acapkali menjadi sasaran kritik Tuhan Yesus. Berkali-kali mereka mencobai, menjebak, dan ingin menjerumuskan Tuhan Yesus, hanya karena Ia membongkar topeng dan kemunafikan mereka. Berkali-kali pula Tuhan Yesus menunjukkan sikap yang sangat kontras dengan para pemuka agama, yakni akrab dan dekat dengan kaum lemah: kaum miskin, cacat, pemungut cukai, dan kaum tuna susila. Dengan kasihNya ia menunjukkan esensi dari kehidupan beragama yang sesungguhnya, yang membawa damai dan membela yang lemah.
Kalau Tuhan Yesus mengajarkan perlawanan pada penjajah Romawi, pastilah Ia dengan mudah didakwa. Tetapi, tidak pernah sekalipun Tuhan Yesus bertindak ke arah situ. Itulah sebabnya, Pontius Pilatus sampai tidak menemukan kesalahan pada Tuhan Yesus. Mahkamah Agamalah yang sekuat tenaga mengarang cerita supaya Tuhan Yesus bersalah, dengan delik dan aturan yang tidak jelas. Misi Tuhan Yesus adalah melawan penjajah dari bangsaNya sendiri, penjajah yang konon mendapat mandat dari BapaNya, namun menyelewengkannya sekehendak hati selama ratusan tahun. Itulah sebabnya para pemuka agama sangat membenci Tuhan Yesus, namun Ia sangat dicintai oleh rakyat kebanyakan. Karena Ia menunjukkan kepada mereka, siap penjajah yang sesungguhnya!
Sunday, March 05, 2006
KPK a la Nabi Elisa
II Raja-raja 5:27, baca perikop II Raja-raja 5:15-27
Bangsa Indonesia kini sedang berjuang menghadapi penyakit yang namanya korupsi. Korupsi, dengan konsep tukang parkir atau „Kiri, kanan, prit! Seribu rupiah“ – seperti istilah seorang rekan bisnis asal Eropa – sudah begitu mendarahdagingnya di masyarakat kita sampai-sampai dianggap sebagai hal yang ‚wajar’. Saya pernah sekali tersesat di pelosok Jakarta dan terpaksa bertanya jalan kepada penduduk sekitar. Betapa terkejutnya saya, karena sesudah mendapat petunjuk dengan ramah, dia berkata „Uang rokoknya dong bos!“. Entah kenapa, hati saya rasanya kesal, karena keramahan dan bantuannya ternyata mengharapkan imbalan. Bahkan, yang tidak membantu, tetapi ikut ‚mendengar’ pun, meminta imbalan, dengan dalih ‚uang dengar’. Bukankah wajar, menerima imbalan sesudah memberikan bantuan?
Alkitab Perjanjian Lama mencata sebuah kasus mengenai seorang koruptor yang tertangkap tangan. Dalam II Raja-raja 5 dikisahkan mengenai Naaman, panglima Raja Aram yang terkena kusta. Melalui kuasa Tuhan, Elisa kemudian menyembuhkan Naaman. Namun, ketika Naaman menawarkan hadiah kepada Elisa sebagai tanda terima kasih, Elisa menolaknya dengan menekankan bahwa ia hanya seorang pelayan dan kuasa sesungguhNya adalah dari Tuhan. Setelah Naaman pergi, Gehazi, bujang Elisa, kemudian berpikir bahwa sudah selayaknyalah dia menerima hadiah dari Naaman – pada jaman sekarang disebut ‚uang dengar’. Ketika Elisa mengetahui, bahwa Gehazi mengejar Naaman dan meminta hadiah, Elisa langsung mengutuk Gehazi yang walaupun menerima harta dari Naaman tapi akan terkena penyakit kusta sampai keturunannya.
Sayangnya, KPK tidak berkuasa menjatuhkan penyakit kusta! Tapi paling tidak, kasus ini menjadi peringatan bagi semua orang kristen yang pernah terlibat dengan ‚uang jasa’ atau ‚uang dengar’. Kita harus selalu sadar, bahwa semua berkat dan talenta yang kita miliki adalah dari Tuhan – bukan hasil usaha kita sendiri. Jadi, tentu saja tidak elok meminta ‚uang jasa’ apalagi ‚uang dengar’ bagi sesuatu yang bukan milik kita. Bukannya jika Tuhan memberi berkat begitu melimpahnya, Ia juga akan mencukupi kebutuhan kita? Mengapa harus melakukan korupsi, jika kita selalu percaya bahwa berjalan bersama Tuhan adalah jalan yang paling baik? Ingatlah apa yang dialami Gehazi: harta memang bisa dimiliki, tapi kita seseorang terkena kusta atau tulah lainnya akibat perbuatan korupsi, dengan berapa talenta emaskah kesembuhan itu bisa dibayar?
Mulailah Dengan Yang Mudah
Markus 2:9
Kambing apa yang paling banyak dicari di Indonesia? Jawabannya: kambing hitam! Lelucon garing namun nyelekit ini memang sudah sering kita dengar dan kita maklumi keberadaannya. Betapa ketika kita melihat seseorang yang sedang mengalami masalah, atau bahkan kita sendiri yang sedang dirundung malang, yang selalu dicari adalah kambing hitam – siapa atau apa yang menyebabkan kemalangan ini terjadi. Dan kenapa si kambing ini harus spesifik berwarna hitam? Karena, kambing yang hitam memang sulit dibedakan satu dengan yang lainnya. Alhasil, ketika berhasil menjerat si kambing hitam, nyaris mustahil untuk mengkonfirmasi apakah ini kambing hitam yang benar-benar bertanggung jawab atau hanya kambing yang kebetulan kesasar masuk perangkap kita.
Begitulah sifat prasangka manusia. Tudingan bahwa permasalahan yang diperoleh seseorang merupakan ‘hukuman’ atas tindakan di masa lalu membuat sang penderita seperti jatuh dan tertimpa tangga. Tudingan ini bukannya meringankan beban sang penderita, tetapi justru membuatnya tambah sengsara, penasaran mencari penyebab azab yang dideritanya itu.
Dalam perikop diatas, Tuhan Yesus ingin menunjukkan hal ini kepada para ahli Taurat.
Adalah anggapan umum dalam agama Yahudi bahwa apabila seseorang menderita cacat, hal itu dianggap sebagai hukuman dari dosanya maupun dosa nenek moyangnya di masa lampau. Akibatnya, penderita cacat ini sudah menderita masih dihakimi pula, sehingga membuat penderitaannya bertambah. Lewat ungkapan cerdik “mengampuni dosa”, Tuhan Yesus ingin menunjukkan, bukankah ungkapan “dosamu diampuni”, begitu melegakan bagi para penderita cacat itu? Bukankah ungkapan bahwa apa yang terjadi sekarang hanyalah bersifat sementara dan bukan konsekuensi dari apapun, terdengar begitu indah dan menenangkan? Dan bukankah itu mudah, karena tidak beresiko? Siapapun bisa melakukannya! Tapi, untuk berkata “Bangun dan berjalanlah”, dibutuhkan kekuatan mukjijat yang luar biasa, seperti ditunjukkan Tuhan Yesus. Dengan ungkapan perikop diatas, Tuhan Yesus memberikan tantangan kepada kita: kalau memang kita tidak memiliki kuasa mukjijat, mengapa tidak melakukan hal yang sederhana: dengan meringankan beban sang penderita lewat ungkapan yang menghibur? Mulailah dengan yang mudah!
Sunday, February 19, 2006
Happy Birthday to Me!
(Sorry for the late posting!)
I'm 29 years old!
Cheers,
-HarryHN-
Sunday, January 22, 2006
Panggilan Alah
I Sam 3:10
Saya baru saja mengalami sebuah pengalaman pahit. Ada seseorang yang memanggil saya, berusaha menegur saya, namun saya tidak mendengarkan. Saya kemudian kembali tenggelam dalam kesibukan saya, kembali tenggelam dalam keseharian saya, sementara suara yang memanggil saya semakin lemah dan waktu berjalan semakin jauh. Tanpa terasa suara itu kemudian lenyap, dan tidak terdengar lagi. Justru pada saat saya mulai menyendengkan telinga untuk mendengar, berbicara, dan bercengkerama. Justru pada saat saya mulai memalingkan hati, suara itu lenyap, hilang dan tidak ditemukan lagi. Apapun yang dilakukan kemudian sudah terlambat, dan saya hanya bisa menyalahkan diri sendiri.
Samuel nyaris mengalami hal yang sama. Ketika Tuhan memanggil Samuel, yang sebenarnya tidur 'dekat' dengan Tuhan yaitu di dekat Tabut Perjanjian, ia tidak menyadari panggilan Tuhan. Ia kembali tidur sesudah bertanya kepada Imam Eli, yang juga tidak menyadarinya. Begitu seterusnya sampai tiga kali! Persis sama dengan kita, yang mendengar panggilan Tuhan, namun kemudian hanya kembali ke kehidupan kita sehari-hari, dengan dosa-dosa dan kejijikan seperti biasa. Berkali-kali pula Ia memanggil, berkali-kali pula kita acuhkan. Untungnya, Samuel memiliki Imam Eli yang membatunya memahami pesan Tuhan yang sesungguhnya. Dan, Tuhan juga panjang sabar dan penuh kasih setia, karena Ia tetap memanggil Samuel walaupun sudah diacuhkan sebanyak 3 kali. Tuhan punya rencana besar untuk Samuel, dan Tuhan tidak mudah menyerah.
Untuk itu, kita harus selalu menjaga kepekaan telinga dan hati kita. Jangan lengah, sebab Tuhan dapat memanggil sewaktu-waktu. Jangan juga berjuang sendirian, carilah seorang pembimbing dalam Kristus, seperti Imam Eli dan Samuel, yang bisa membimbing kita mengenali suara Tuhan yang sesungguhnya. Ingat, Allah memanggil kita sewaktu-waktu. RencanaNya tetap, indah pada waktunya!
Wednesday, December 28, 2005
Tuesday, December 20, 2005
Renungan Advent Ketiga 2005
“Ketika kuberitahukan kepada mereka, betapa murahnya tangan Allahku yang melindungi aku dan juga apa yang dikatakan raja kepadaku, berkatalah mereka: “Kami siap untuk membangun!” Dan dengan sekuat tenaga mereka mulai melakukan pekerjaan yang baik itu."
Nehemia 2:18
Jumat lalu, di penghujung Minggu Advent Ketiga, saya sempat menghadiri Perayaan Natal Persekutuan Karyawan Kristen se-Karawang (PDK3). Tema yang diambil menurut saya cukup berani, yakni “Dipulihkan Untuk Menjadi Pemenang”. Mengapa berani? Ya, karena di jaman yang serba terpuruk ini, dimana segala sesuatunya serba sulit dan suram, memang tidak mudah untuk berdiri tegak dan membulatkan tekad untuk jadi pemenang.
Apakah kalimat terakhir diatas terasa logis bagi Anda? Jika demikian, maka boleh jadi Anda sudah termakan oleh pemberitaan media massa yang serba negatif! Saudaraku, sadarkah Anda, bahwa kita harus bersyukur atas keadaan kita sekarang? Bahwa krisis moneter adalah cara Tuhan untuk menyaring perusahaan-perusahaan yang bobrok sehingga yang baik bisa berkembang? Bahwa Tuhan sudah memberikan anugerah yang luar biasa berupa kebebasan dari tirani dan kelangsungan demokrasi? Bahwa selama 6 tahun belakangan ini, bangsa Indonesia begitu diberkatinya, sehingga adalah mukjijat bahwa negara ini masih utuh sampai sekarang? Itulah karunia Tuhan yang paling besar! Dan begitu sedihnya hati saya, dan juga saya rasa hati Tuhan, melihat umatnya yang sudah diberkahiNya dengan begitu melimpah tetapi yang dirasakan dan didoakannya hanyalah terpuruk, terpuruk, dan terpuruk terus?
Nabi Nehemia boleh dibilang berada dalam kondisi serupa dengan kita. Setelah Israel hancur, beliau memiliki sebuah visi untuk membangun kembali Bait Allah dan mengembalikan kejayaan Rumah Tuhan. Bukan hal yang mudah, karena Israel sendiri sudah nyaris rata tanah. Bahkan dari bangsa Israel sendiripun, seperti tertulis dalam ayat 19, banyak orang yang mencemooh Nehemia, yang menganggap bahwa kondisi terpuruk ini sudah tidak dapat dibangkitkan lagi. Namun, Nabi Nehemia dengan gagah berani menentang mereka dan berkata seperti tertulis dalam ayat 20: “Allah semesta langit, Dialah yang membuat kami berhasil!”. Lihatlah bangsa Israel sekarang, yang masih eksis walaupun silih berganti dihancurkan selama ribuan tahun. Itulah hasil dari optimisme mereka karena kasih Allah!
Kita sebagai orang Kristen memang dituntut untuk menjadi pemenang. Karya Agung Allah yang menghadirkan AnakNya yang Tunggal menjadi pemulihan yang hakiki bagi setiap orang kristen. Oleh karena itu, kita dilarang jadi pecundang, melainkan harus jadi pemenang! Sekarang ini, orang kristen seringkali ‘terjebak’ untuk ikut menyanyikan koor ‘terpuruk’ yang kini sedang populer di kalangan bangsa Indonesia. Dimana kita merasa diri hancur, lebur, dan ya itu… terpuruk! Orang kristen harus keluar dari stigma ini dan bangkit untuk menjadi pemenang, karena Allah sudah begitu mengasihi kita. Kita harus menjadi kesaksian dengan menunjukkan sikap positif sebagai seorang pemenang, karena Allah sudah memenangkan kita. Dengan demikian, niscaya kesaksian kita akan menerangi bangsa ini bagaikan lilin di kegelapan malam!
Wednesday, December 07, 2005
Renungan Advent Kedua 2005 - Setan Yang Sulit Diusir
Yoh 4:50
Ada hal yang cukup ironis pada waktu saya menghadiri kebaktian di sebuah gedung di Jakarta minggu lalu. Karena cenderung beraliran Pentakosta, sang Pendeta sebelum mulai khotbah dengan gagah ‚mengusir’ semua roh-roh jahat yang akan mengganggu kebaktian. “Dalam nama Yesus!” katanya lantang, “Kepada semua roh-roh yang akan mengganggu aliran Firman Tuhan di tempat ini, saya perintahkan keluar dari sini!”. Jemaat pun menyambut dengan hentakan dan desisan suara yang tak kalah ganasnya. Saya membayangkan, roh-roh jahat itu pasti sudah lari kocar-kacir sekarang! Namun, rupanya belum semua setan terusir keluar. Bahkan setan ini, persis di ruang kebaktian, masih berani mengganggu konsentrasi khotbah dengan bunyi-bunyian yang nyaring! Herannya, bukannya diusir dengan desisan garang, tapi jemaat malah pura-pura tidak tahu. Setan apa gerangan yang begitu besar nyalinya?
Ya, setan itu bernama handphone alias ponsel alias telepon genggam! Sangat sulit dipercaya, bahwa setelah upacara pengusiran setan yang garang itu, masih begitu banyak bunyi ponsel, dari yang polifonik sampai yang WAV, yang mendadak muncul di tengah-tengah khotbah. Kadang-kadang ada bunyi dari ponsel yang sama, bunyi berkali-kali, sementara sang empunya hanya duduk diam dengan muka tak berdosa. Malah ada yang diam-diam mengangkat ponsel dan menjawabnya sambil berbisik! Menurut saya, hal ini sangatlah tidak sopan, hampir sama dengan penghujatan. Bayangkan, kalau Anda sedang berbicara dengan seorang boss besar di perusahaan Anda, pastilah ponsel Anda dimatikan atau paling tidak diatur dalam mode sunyi, untuk menghormati lawan bicara Anda. Jika Tuhan sedang berbicara pada Anda, betapa tidak sopannya apabila ponsel Anda bertulalit melulu!
Namun, sebagai manusia modern saya menyadari betapa sulitnya hidup tanpa ponsel, bahkan untuk satu jam saja sekalipun. Bagaimana jika ada teman yang sangat membutuhkan saya, bagaimana jika terjadi sesuatu yang darurat di pabrik, bagaimana dengan janji saya nanti siang, bagaimana, bagaimana, bagaimana? Sehingga, saya pun sempat ‚menurunkan’ level hormat saya kepada Tuhan dengan mengubah mode ponsel menjadi sunyi, namun tidak dimatikan. Toh, kalau ada telepon atau sms masuk, akan terekam sehingga saya bisa menelepon lagi kemudian. Hmm, betapa sulitnya yah, hidup tanpa ponsel!
Justru disinilah iman kita diuji. Di jaman modern ini, dimana kita semakin bergantung pada teknologi – atau kita dibuat menjadi semakin tergantung pada teknologi - sungguh sulit membayangkan iman seperti pegawai istana pada perikop diatas. Bahwa ketika Yesus berkata, „Anakmu sembuh!“, ia dengan yakin pulang ke rumah, dan sungguh-sungguh mendapati anaknya sembuh. Keyakinan iman seperti inilah yang perlu kita miliki untuk mematikan ponsel selama kebaktian – bahwa janji saya tidak akan berantakan, bahwa pabrik saya tidak akan kebakaran, bahwa Tuhan pasti akan menolong teman kita dengan cara yang lain. Intinya: bahwa dalam satu jam itu, kita percayakan kehidupan kita, janji-janji kita, teman-teman kita, dan semua milik kita, hanya kepada Tuhan. Tidak sulit bukan? Mari kita coba bersama!
Renungan Advent Pertama 2005 - Batu Yang Salah Tempat
Lukas 12:28
Jika batu-batu bisa berbicara, tentulah mereka protes keras jika ditempatkan Tuhan di sungai atau di tepi pantai. Untuk apa batu ditempatkan disana? Bukankah bebatuan yang berada di sungai ataupun di pantai hanyalah akan habis digerus air perlahan-lahan? Seolah-olah Tuhan hanya menciptakan bebatuan itu untuk dihancurkan saja. Seolah-olah rencana Tuhan untuk bebatuan itu, hanyalah untuk kebinasaan saja!
Namun, lihatlah Pantai Tanjung Tinggi di Belitung, misalnya, atau komposisi sungai berbatu di Baturaden, Jawa Tengah! Lihatlah betapa cantiknya bentuk batu yang serba tumpul, berpadu dengan aliran air. Betapa aliran air bisa memahat batu-batu itu sedemikian rupa sehingga mencapai bentuk yang cantik, kolosal, dan terus berubah seiring waktu. Jika manusia mampu menciptakan patung yang statis, maka bebatuan di sungai dan pantai adalah dinamis, selalu berubah dan makin memukau secara alamiah. Bayangkan, berapa banyak orang yang dijernihkan pikirannya, dan berapa banyak jiwa yang terselamatkan, setelah menyaksikan betapa indahnya karya Tuhan itu! Ternyata, inilah maksud Tuhan meletakkan bebatuan di aliran air. Memang, pada suatu saat, mereka akan binasa. Tetapi, lihatlah betapa keindahannya menyelamatkan ribuan jiwa yang sesak dengan permasalahan!
Kadang-kadang rencana Tuhan akan hidup kita pun nampak seperti bebatuan di sungai atau pantai tadi. Kelihatannya semua jalan serba buntu, kelihatannya yang ada hanyalah tantangan dan masalah, dan menjadi binasa adalah suatu proses yang perlahan tapi pasti. Bahkan, hidup kita serba kacau, seolah-olah semuanya berada tempat yang salah! Namun, ingatlah akan bebatuan tadi. Tujuan Tuhan sebenarnya selalu indah, dengan cara-cara yang jauh diatas jangkauan nalar kita. Jikalau Anda memegang teguh pada kehandalan rencana Sang Perencana Agung, maka Anda kelak akan menjadi batu paling cantik yang pernah ada!
Wednesday, September 28, 2005
Beban yang Ringan
Mat 11:28
Kadang-kadang saya sering heran jika mendengar ada orang terkenal, hebat, dan kaya, yang melakukan bunuh diri. Sebut saja Elvis Presley, Marilyn Monroe, atau Kurt Cobain, vokalis grup Nirvana. Mereka kaya raya, ganteng dan cantik. Hidupnya pun dipenuhi pesta pora dan gelimang uang, tanpa harus bekerja keras. Bayangkan, untuk satu kali show saja kelompok Nirvana bisa dibayar jutaan dollar, belum lagi hasil penjualan album, iklan, dan sebagainya. Rasanya, semua masalah yang kita punya : kenaikan harga BBM, korupsi, gaji UMR yang tak kunjung naik – belum pernah menyentuh kehidupan mereka. Toh, mereka memutuskan untuk mencabut nyawanya sendiri, yang berarti ada sesuatu yang begitu membuat stress sampai-sampai tak tertahankan lagi. Barangkali, bagi mereka makan nasi goreng Seafood pun sudah serasa nasi putih dan ikan asin saja!
Dalam perikop Matius 11:25-30, Tuhan Yesus menunjukkan keberpihakannya pada rakyat kecil, wong cilik, ya kita-kita ini. Kita memang tidak terlepas dari ‘beban’ yang sesungguhnya, seperti beban yang juga dirasakan oleh Elvis Presley dan kawan-kawannya. Kaya atau miskin, pandai atau bodoh, hidup di dunia memang selalu dibayangi beban – mungkin berbeda antara besok makan apa dan besok apa makan – tetapi tetap saja beban adalah beban! Melalui perikop ini, Tuhan Yesus menunjukkan kepeduliannya dan juga mengajukan janji yang tidak muluk, yakni ‘beban (kuk) yang enak dan ringan’, bukannya lepas sama sekali dari beban.
Yah, menjadi Kristen bukanlah berarti seluruh beban kehidupan kita akan sirna. Menjadi Kristen, berarti menyerahkan beban dan kuk duniawi kita kepadaNya, dan memakai beban dan kuk dariNya yang ringan dan enak, sehingga makan nasi dengan ikan asin pun serasa nasi goreng Seafood! Tidak percaya? Buktikan saja sendiri!
Thursday, August 25, 2005
Khotbah Paulus di Athena
KIS 17:23b
Bagi Paulus, berkhotbah di Athena bukanlah suatu hal yang mudah. Orang-orang Yunani, terutama di Athena, merupakan bangsa yang berbudaya sangat tinggi dan sangat tekun mendalami filsafat dan ilmu pengetahuan (KIS 17:21). Disinilah asal mula filsuf-filsuf terkenal yang gaungnya masih terdengar sampai sekarang, seperti Plato, Epikuros, dan Hippocrates. Jadi, untuk berkhotbah pada golongan orang-orang cerdik cendekia seperti ini, pastilah merupakan tantangan yang berat bagi Paulus.
Dalam ayat 18 disebutkan bahwa Paulus sempat bersoal jawab dengan orang-orang dari golongan Epikuros dan Stoa. Epikuros (hidup kira-kira pada 340 – 200 SM) adalah pendiri dan nama suatu aliran filsafat yang mengajarkan materialisme, paham yang mendewakan materi. Dari aliran ini lahir Demokritus, pencetus ide mengenai atom, dan kemudian banyak ilmuwan lain seperti John Dalton, Charles Darwin, dan Friedrich Nietzsche. Kesemuanya memiliki tendensi yang sama, yakni berpendapat bahwa Tuhan dan Ketuhanan hanyalah suatu konsep definisi materi yang berbeda dengan materi yang menyusun darah dan daging. Stoa, adalah golongan filsafat yang pada masa itu menjadi lawan dari golongan Epikuros, yakni paham yang mengajarkan logika, kebenaran, dan keadilan. Golongan Stoa mengajarkan saling tolong menolong sebagai kewajiban karena hal itu adalah baik dilakukan, tetapi tanpa campur tangan Tuhan. Golongan ini meskipun tidak sebesar Epikuros, tetapi sempat melahirkan nama besar seperti kaisar Roma Marcus Aurelius dan filsuf Cicero.
Salah satu aliran filsafat yang juga dominan pada masa itu adalah Plato, yang mengajarkan kesadaran akan adanya Sang Pencipta yang tercermin dalam setiap ciptaanNya di dunia ini. Meskipun beliau tidak menunjuk pada satu bentuk dewa, paham ini begitu dekat dengan kekristenan sehingga beberapa buku atheis bahkan mencap paham kekristenan yang diajarkan Paulus sebagai salah satu cabang dari filsafat Plato. Jika demikian, harus berkata apa Paulus agar kaum cerdik cendekia ini mau mendengar?
Sialnya, Paulus bukan saja harus berkhotbah bagi orang biasa, melainkan di depan sidang Areopagus (KIS 17:19). Areopagus berasal dari kata ‚Areios Pagos’ yang berarti bukit Ares. Bukit Ares merupakan tempat persidangan bagi dewan kota Athena yang pada saat itu dipilih dari orang-orang paling pandai dan terpandang di kota itu. Ares sendiri menurut legenda adalah orang yang pernah disidang oleh para dewa di bukit ini karena membunuh anak Dewa Laut Poseidon bernama Alirrothios. Dewan Areopagus kemudian dikenal sebagai pengadilan pertama di dunia yang khusus mengadili kasus-kasus pembunuhan. Di depan orang-orang terpandang yang kenyang ajaran filsafat, yang (seperti disebutkan dalam ayat 21) tidak punya pekerjaan lain selain menguji, mencecar, dan menggojlok pencetus-pencetus ajaran baru inilah, seorang Paulus yang bahkan dulunya pernah menjadi penindas ajaran Kristen harus berkhotbah. Bisakah Anda membayangkan betapa besar tantangan yang dihadapi Paulus?
Disinilah kita bisa melihatbetapa hikmat Tuhan benar-benar dicurahkan pada Paulus pada saat itu. Paulus dengan cerdik memilih konsep ‚Allah yang tidak dikenal’ (KIS 17:23) atau Agnostos Theos untuk menunjukkan kelemahan filsafat Yunani. Di tengah kebebasan berpikir dan penekanan pada logika dan filsafat, bagaimana mungkin orang Yunani masih percaya pada dewa-dewa yang ratusan jumlahnya, yang bersifat seperti manusia: bisa berbohong, berkhianat, menikah dan berzinah? Bagaimana mungkin mereka mengakui memiliki kemegahan dewa yang tak lain hanyalah buatan tangan mereka sendiri?
Sebenarnya, melalui konsep Allah yang tidak dikenal, orang Yunani sudah menyadari adanya Tuhan yang Maha Kuasa, yang tidak bisa dijangkau akal manusia, yang menciptakan alam semesta dan seisi dunia. Paulus kemudian menambahkan, bahwa Sang Kuasa ini akan menjamah ciptaanNya manusia dengan segala keterbatasannya. Keindahan alam pikiran dan buah tangan manusia hanyalah cerminan dari kasih dan kebesaran Sang Kuasa. Ia selalu rindu untuk melihat ciptaanNya mengabdi padaNya dalam hidup dan matinya. Akan tiba suatu waktu dimana Ia akan mengadili umat manusia dan supaya semua tidak musnah. Ia menganugerahkan anakNya yang Tunggal dan membangkitkan Dia dari liang kubur, supaya ada harapan bagi ciptaanNya itu selain daripada binasa. Luar biasa! Paulus telah membelokkan ajaran filsafat Yunani, menunjukkan dimana kelemahannya, dan sekaligus melengkapinya dengan warta tentang kebangkitan Tuhan Yesus. Paulus menjelaskan semuanya dengan logis. Ia bahkan begitu penuh hikmat sehingga berhasil menggunakan paham polytheisme Yunani untuk menunjukkan Tuhan yang Esa.
Ada beberapa pelajaran yang bisa kita ambil dari peristiwa diatas ini. Yang pertama, perhatikanlah cara Paulus menginjili orang Yunani. Ia tidak melakukan penginjilan secara hantam kromo dengan argumen ‚saya benar, kamu salah’. Ia dengan cerdik memanfaatkan paham polytheisme Yunani, untuk kemudian memasukkan ide mengenai kebangkitan Tuhan Yesus dari situ. Ia berbicara dalam bahasa dewa-dewa, bahasa yang sangat dimengerti oleh orang Yunani pada waktu itu. Paulus tidak ragu untuk ‚memanfaatkan’ paham Yunani yang notabene tidak sesuai dengan ajaran Kristen, sebagai cara untuk masuk ke dalam alam budaya Yunani.
Memang, menginjili orang yang memiliki pengetahuan luas dan intelejensia tinggi tidak semudah membalik telapak tangan. Pengetahuan yang dipandang secara manusia seringkali menjadi penghalang sehingga paham iman dan pengharapan dirasa sebagai sesuatu yang tidak logis dan absurd. Saya kenal beberapa orang pandai yang atheis, yang dengan gagah bercerita bahwa mereka sudah ‚mengetahui’ inti ajaran Kristen, sudah ‚hapal’ urut-urutan sejarah Kristen dan tidak menganggap kekristenan sebagai sesuatu yang sakral dan suci. Ada pepatah Cina yang mengatakan, bahwa hanya cangkir kosong yang bisa diisi cairan baru. Paulus, telah berhasil mengosongkan cangkir pikiran orang Yunani, dan mengisinya dengan Roh Kudus.
Lalu apa hasil dari semua ini? Memang, Alkitab mencatat bahwa banyak orang kemudian mencemooh dan melecehkan Paulus. Tetapi, toh ada beberapa orang yang disebutkan dalam perikop ini yang akhirnya bertobat, seperti Demetrius, yang adalah salah seorang anggota Dewan Areopagus. Buah penginjilan Paulus juga terlihat sampai hari ini, dimana dari semua daerah yang disinggahi Paulus, hanya Yunanilah yang sampai sekarang masih didominasi oleh masyarakat Kristen. Wilayah lainnya, seperti Siprus, Turki (Asia Kecil), Mesir, Lybia, satu-persatu jatuh dan tidak lagi didominasi oleh orang-orang Kristen. Menginjili orang pandai memang sulit. Tetapi, sekali dia berhasil diyakinkan, dia juga akan lebih teguh memegang imannya, tidak modah dibelokkan oleh paham-paham lain. Siapkah Anda meneladani Paulus?
Tuesday, April 26, 2005
Obituari untuk Iie Soan, Iie Cilacap, Emilia
Ketika saya melihatnya pada hari Jumat, 22 April 2005, semuanya telah berubah. Yang saya lihat hanyalah sebuah tubuh lemah yang tergolek diatas tempat tidur, dengan masker oksigen tertancap di mulut. Napas Iie pun satu-satu, seolah-olah setiap napas diawali dengan perjuangan hebat dan diakhiri dengan pertanyaan, apakah akan ada napas berikutnya. Iie mengeluarkan napas seolah berteriak ketika ia membuang napas, namun tubuhnya terlalu lemah untuk menghela napas berikutnya. Kita harusnya bersyukur, karena bisa bernapas dengan mudah. Jika untuk bernapas saja seseorang harus berjuang sekeras itu, maka cahaya di ujung lorong nampaknya sudah di pelupuk mata. Setelah berjuang dengan gagah berani selama hampir 4 hari, Iie Soan dipanggil Tuhan pada hari Sabtu, 23 April 2005, jam 17.30.
Saya teringat khotbah Pendeta Astri Sinaga di GKI Nurdin yang saya dengar pada hari Minggu sebelumnya. Ketika berkhotbah mengenai makna kebangkitan, Pendeta Astri menekankan betapa tubuh yang kita miliki sekarang ini hanyalah tubuh jasmani yang lemah dan rapuh. Suatu saat nanti, Ia akan membangkitkan kita, atau lebih tepatnya menganugerahkan tubuh rohani yang kekal untuk kita. Seperti apa bentuknya, tidak seorangpun tahu. Yang pasti, tubuh rohani nanti akan lebih mulia dari tubuh yang sekarang. Tubuh yang tidak terkungkung oleh belenggu sakit penyakit, kelumpuhan, dan kerapuhan. Saya membayangkan, kini pastilah Iie Soan sudah memulai petualangan barunya di Sorga, terlepas dari belenggu kelumpuhan yang memenjarakannya pada beberapa tahun terakhir hidupnya.
Sampai menjelang ajal pun, Iie Soan selalu mengundang tawa. Keluarga yang panik dan menangis ketika alarm berbunyi, karena mengira Iie sudah meninggal, langsung tertawa terbahak-bahak ketika mengetahui itu cuma alarm bahwa obat infus sudah habis. Iie, Iie, dalam kondisi seperti itu saja, masih bisa membuat orang tertawa! Ha ha ha ha.
Selamat jalan Iie Soan.
„Demikianlah pula halnya dengan kebangkitan orang mati.
Ditaburkan dalam kebinasaan, dibangkitkan dalam ketidakbinasaan.
Ditaburkan dalam kehinaan, dibangkitkan dalam kemuliaan.
Ditaburkan dalam kelemahan, dibangkitkan dalam kekuatan.“
I Korintus 15:42-43
Friday, April 15, 2005
Senjata Makan Tuan
Lukas 6:9
Di daerah sekitar Biak, Papua, terdapat sebuah kepulauan kecil bernama Padaido. Kepulauan ini terdiri dari puluhan pulau-pulau kecil dengan lokasi yang sangat strategis secara militer, sehingga digunakan sebagai pangkalan militer Sekutu pada Perang Dunia II. Sampai sekarang pulau-pulau Padaido masih memiliki reruntuhan sisa Perang Dunia II baik di daerah pantai maupun di dasar lautnya.
Alkisah, pernah di salah satu pulau yang bernama Pulau Meosmanggwandi, sebuah pesawat terpaksa mendarat darurat setelah sayapnya terkena tembakan tentara Jepang. Suaranya yang keras mengagetkan penduduk asli pulau itu yang segera menghampiri ke lokasi jatuhnya pesawat. Sang pilot yang luka parah kemudian menembakkan sisa pelurunya ke langit, supaya tidak dapat dipergunakan musuh, lalu dengan radionya memanggil bantuan ke pangkalan. Beberapa lama kemudian datanglah sebuah motorboat menjemput sang pilot, meninggalkan seluruh bangkai pesawat di dekat pantai. Penduduk yang keheranan menyaksikan burung besi itu kemudian mulai memreteli bagian-bagian dari pesawat. Mula-mula plat besinya dijadikan panci dan wajan, kemudian laras senjatanya digunakan sebagai jangkar untuk kapal-kapal mereka. Begitu seterusnya, sampai yang tersisa hingga sekarang adalah blok mesin delapan silinder yang terlalu berat untuk diangkat, teronggok begitu saja di tempat semula. Sangat indah untuk menyadari bahwa pesawat tempur, mesin yang diciptakan untuk menghancurkan dan membunuh, bisa berubah fungsi dan digunakan sebagai panci, wajan, jangkar, dan barang-barang lain untuk tujuan damai, oleh orang-orang yang hatinya bersih dan tidak memiliki niat untuk berperang.
Dalam perikop diatas diceritakan mengenai komentar Tuhan Yesus mengenai hari Sabat. Sabat, seperti tertulis dalam Imamat 16:31, adalah kesempatan yang diberikan Allah untuk „merendahkan diri dan berpuasa“. Sabat adalah waktu untuk introspeksi, kontemplasi, berdiam diri dan mengkoreksi diri di hadapan Allah. Namun, dengan perkembangan waktu, para Ahli Taurat mengubah Sabat menjadi keharusan yang menyeramkan. Sabat bukan lagi tanda damai, melainkan dijadikan alasan untuk mencelakakan, bahkan membunuh orang. Dalam perikop diatas, terlihat jelas sikap munafik Ahli Taurat dan orang Farisi: bukannya membantu orang cacat, melainkan mau menggunakan aturan Sabat untuk menjebak Tuhan Yesus! Sabat seperti logam, yang diciptakan Allah untuk kebaikan, namun diubah oleh tangan manusia jahat menjadi mesin pembunuh yang kejam.
Namun Tuhan Yesus dengan kemurnian hatiNya mampu mengubah senjata Sabat menjadi tangan Allah untuk menolong orang. Dengan tegas Ia menyatakan kembali maksud Sabat, dengan menantang maksud aturan ‘boleh’ dan ‘tidak boleh’. Ia meluruskan kembali Sabat ke makna aslinya, yakni sebagai waktu istirahat, bukan waktu dimana seseorang dikekang dari kebebasannya. Ia mengetahui maksud jahat orang Farisi dan ahli Taurat untuk menggunakan Sabat sebagai alat untuk membinasakan orang! Dengan tegas, Ia kemudian menyembuhkan si sakit, dan mencengangkan semua pengunjung yang ada di Bait Allah saat itu. Dengan ketulusan hatiNya, Ia telah mengubah senjata menjadi alat yang berguna bagi kehidupan!
Friday, April 08, 2005
Quo Vadis
Konon, ketika Petrus hendak meninggalkan Roma karena melarikan diri dari kejaran Kaisar Nero, ia mendapatkan penglihatan. Waktu itu ia melihat Tuhan Yesus yang sedang berjalan berlawanan arah, ke arah Roma. Petrus pun lalu bertanya :”Quo Vadis, Domine?” – mau kemana Tuhan? Tuhan Yesus menjawab, “Aku mau disalibkan kembali, karena engkau meninggalkan Aku”
Petrus pun menyadari kesalahannya, lalu berbalik ke arah Roma. Di kota itulah Petrus, sebagai Paus yang pertama, kemudian mati sebagai martir, disalib terbalik di tempat yang sekarang menjadi kota Vatikan, pusat Gereja Katolik seluruh dunia.
Selamat jalan, Bapa Paus. Terima kasih atas keputusan untuk kembali ke Roma.
Lima Tema Utama Minggu Pra-Paskah Gereja Kristen Indonesia – Sebuah Pandangan Lain
Invocabit (Berseru)
“Bila ia berseru kepadaKu, Aku akan menjawab, Aku akan menyertai dia dalam kesesakan, Aku akan meluputkannya dan memuliakannya”
Mazmur 91:15
Panggilan Tuhan untuk keluar dari kehidupan keduniawian kita biasanya diawali dengan seruan. Ego kita yang selama ini dominan dan terus berjuang menyelesaikan masalah dan problema yang datang bertubi-tubi, pada saatnya akan menyadari bahwa berjuang sendiri tidak akan membawa hasil. Sang ego kemudian dipaksa mengakui, baik sengaja maupun tidak, akan adanya kekuatan diluarnya yang Maha Kuat, Maha Kuasa. Sang ego menyadari bahwa tanpa menggapai suatu kekuatan Mutlak, ia akan mengalami fase self-destruct dan hancur perlahan-lahan. Sang ego pun lalu berseru – sebagai tanda takluk. Seruan ini tidak perlu dihiasi bunga kata-kata dan puitis puja-puji seperti layaknya doa orang Farisi. Cukup satu kata: tolong! Dan sang ego pun takluk
Reminiscere (Mengingat)
“Ingatlah segala rahmatMu dan kasih setiaMu, ya Tuhan, sebab semuanya itu sudah ada sejak purbakala”
Mazmur 25:6
Setelah seruan terucap, sang ego akan terduduk lunglai dan terpaksa merenung. Ketika asanya sudah habis, yang dapat dilakukannya hanyalah menggeletak dan mencari kekuatan Yang Maha Kuasa itu. Dimanakah Ia? Secara logis sang egopun lalu mulai menelisik masa lalunya sendiri. Ditelitinya setiap jejak langkah dalam bentuk fragmen-fragmen memori dalam otak, dianalisanya setiap peristiwa yang dialaminya. Sang ego kemudian menyadari bahwa Sang Kuasa sudah meninggalkan sidik jariNya nyaris di semua tempat. Waktu kecil, Ia ada. Waktu susah, Ia tersenyum. Waktu tak kuat berjalan, Ia menggendong. Bahkan jauh sebelum sang ego berkembang seperti bentuknya sekarang. tanganNya sudah merengkuh dan menimang. Sang ego pun menyadari, betapa Sang Kuasa sudah ada sejak awal, sudah berperan aktif sejak awal, namun dengan senyum sabar dan bijak mengamati sang ego yang kemudian merajalela menyangkalNya. Air mata mulai menitik, karena sang ego yang membelalak ini, ternyata buta!
Oculi (Melihat)
“Mataku tetap terarah kepada Tuhan, sebab Ia mengeluarkan kakiku dari jaring”
Mazmur 25:15
Dengan seruan dan ingatan akan Sang Kuasa, kini sang ego mulai bisa bangkit. Dengan kesadaran dan ketaklukan, yaitu iman, kepadaNya, kini sang ego tidak lagi menempati seluruh hati, melainkan memberikan tempat bagiNya untuk bertahta dan berperan aktif. Ia mulai bergerak, Ia membenahi, Ia memberikan energi baru bagi sang ego yang sudah lunglai sehingga bergairah lembali. Sang egopun kini tidak buta lagi – ia bisa melihat! Jalan begitu lurus dan jelas, indah tak terperi. Semuanya hanya dengan satu langkah mudah: iman dan percaya! Takluk akan kuasaNya.
Laetare (Bersuka cita)
“Bersukacitalah bersama-sama Yerusalem, dan bersorak-soraklah karenanya, hai semua orang yang mencintainya! Bergiranglah bersama-sama dia segirang-girangnya, hai semua orang yang berkabung karenanya!”
Yesaya 66:10
Sang ego pun bersuka cita. Kali ini bukan suka cita karena uang yang mengalir lebih deras. Bukan suka cita karena kemenangan atas suatu pertarungan. Bukan suka cita melihat sang musuh kalah bertekuk lutut. Bukan pula sika cita karena kenikmatan badani. Suka cita ini lain – tak masuk hitungan materi, apalagi seksual, tetapi terasa sangat menentramkan. Terasa sangat sempurna, sehingga suka cita tidak berasal dan asa yang tercapai melainkan suka cita yang bersuka cita atas apa adanya. Suka cita yang bukan berasal dari dunia, suka cita yang diwariskan oleh senyumNya yang sabar dan penuh kasih. Suka cita yang tidak terlihat sebagai suka cita, tetapi terasa sebagai suka cita. Suka cita pada hakekat sesungguhnya, yang terbebas dari ikatan materi, badani, dan duniawi.
Judica (Keadilan)
“Berilah keadilan kepadaku, ya Allah, dan perjuangkanlah perkaraku terhadap kaum yang tidak saleh! Luputkanlah aku dari orang penipu dan orang curang!”
Mazmur 43:1
Maka, keadilan Allah pun nampak! Tidak ada lagi kecurangan dan penipuan. Ia yang memegang kendali, Sang Hakim Agung yang menghakimi. Manusia tidak perlu takut lagi haknya dilanggar. Manusia tak perlu memutar otak membela nasibnya. Tidak ada pengacacara, tidak ada hukum. Yang ada hanya keadilan hakiki daripadaNya, yang tidak memerlukan kodifikasi undang-undang maupun penurutan peraturan. Keadilan hakiki, dimana yang punya banyak tidak berlebih dan yang punya sedikit tidak kekurangan. Keadilan tanpa kerling iri hati, keadilan tanpa dendam kesumat. Keadilan, yang hanya bisa terjadi di Surga, dimana hukum termodinamika tidak berlaku lagi.
Amin! Selamat Paskah.
Thursday, March 24, 2005
Mohon Dukungan Doa
Mohon dukungan doa untuk penulis yang sedang mengalami masalah besar.
Memang karunia Tuhan datang dengan bentuk yang tak terduga, kadang-kadang diliputi kekecewaan dan kebimbangan. Namun tolong doakan agar saya mampu berjalan bersamaNya, agar Ia tidak meninggalkan saya.
Terima kasih dalam Kristus,
-HarryHN-
Tuesday, March 22, 2005
Renungan Paskah 2005 (1) - Vonis Mati
Yesaya 53:4-5
Hari ini koran-koran di Jakarta memberitakan mengenai eksekusi mati yang dialami Ny Astrini (50). Ny. Astrini adalah pelaku pembunuhan dengan mutilasi atas tiga orang, semuanya ibu rumah tangga yang memiliki keluarga. Masalahnya sepele, hanya masalah hutang. Salah satu korbannya bahkan hanya meminjamkan Rp 20.000,-, tetapi kemudian ketika menagih ia dibunuh dan dimutilasi sehingga sampai kini tidak ditemukan jenazahnya. Hari ini, Ny. Astrini dihukum mati di depan regu tembak Brimob Polda Jatim dengan enam peluru bersarang di jantungnya.
Kengerian mengenai hukuman mati seringkali diangkat menjadi film, diantaranya adalah The Green Mile. Dalam film itu diceritakan seorang lelaki berkulit hitam yang difitnah sehingga terancam dihukum mati. Uniknya, ia memiliki kekuatan untuk ’menyerap’ penyakit seseorang, lalu ’menghembuskannya’ keluar tubuhnya sehingga penyakitnya sembuh. Penjaga penjara yang diperankan oleh Tom Hanks sempat merasakan kesembuhan ini, sehingga ia bersimpati kepada napi ini. Buat saya, suatu keadaan dimana seseorang yang memiliki kemampuan untuk menyembuhkan penyakit tetapi berada dalam daftar hukuman mati, merupakan perumpamaan yang modern tentang Tuhan Yesus.
Tuhan Yesus juga sama, Ia yang berkuasa menyembuhkan penyakit, bahkan membangkitkan orang mati, tetapi harus masuk daftar hukuman mati di kayu salib. Dan, seperti digambarkan juga dalam film The Green Mile, dimana akhirnya sang napi itu mati karena dosa orang lain, Yesus juga telah mati karena dosa-dosa kita. Kengerian hukuman mati, seperti yang dialami oleh Ny. Astrini, mungkin dirasa wajar untuk mengganjar kekejaman yang telah dilakukannya. Tetapi jika kita bayangkan, bahwa ada orang yang mau menggantikan Ny. Astrini untuk dihukum mati, maka lebih luar biasanya kengerian yang dihadapi orang itu, karena sebenarnya ia tidak bersalah. Itulah Tuhan Yesus Kristus, Sang Penyelamat yang sudah rela mati di kayu salib demi menyembuhkan bilur-bilur kita.
Repotnya membasuh noda
Yesaya 1:18
Pengalaman memiliki binatu atau laundry kecil-kecilan membuat saya paham betapa sulitnya membersihkan noda. Rupanya ada berbagai macam teknik khusus untuk membersihkan noda. Noda tinta, bisa dihilangkan dengan aseton, sementara noda minyak dengan pelarut organik nonpolar seperti toluen. Noda darah, bisa dihilangkan dengan 3-5% Hidrogen Peroksida (H2O2), suatu oksidator yang sangat kuat. Setiap noda harus dihilangkan dengan cara yang spesifik, misalnya noda minyak, seberapapun kecil, tidak akan hilang dengan peroksida. Alih-alih bersih, warna asli pakaian bisa rusak karena efek peroksida!
Adanya noda sendiri merupakan ketidaksempurnaan yang sulit dihilangkan. Sekali warna baju rusak karena pemutih, misalnya, tidak akan mungkin kembali ke asalnya. Jika baju menjadi luntur, atau cat mobil tergores, maka cacat itu akan dibawa selamanya oleh benda itu. Seringkali nasib si baju luntur akan berakhir di lemari, seberapapun mahal dan indahnya baju itu sebelum luntur. There’s no turning back!
Hidup kita juga sebenarnya demikian. Jika diibaratkan kain, maka noda dosa kita sudah sebegitu banyaknya sehingga hidup kita seperti kain gombal – kain lap yang jorok dan penuh noda. Keagungan dan keindahan kain kehidupan kita, sudah sangat tertutupi oleh bebagai macam noda sehingga tidak terlihat lagi!
Untung kita punya Allah yang Maha Pemurah. Dalam Yesaya 1:18, Ia mengatakan bahwa selama kita patuh dan taat, noda dosa kita akan dihilangkannya. Ia tahu bahwa kain kehidupan kita yang putih sudah merah, bersimbah darah dan noda. Tidak ada peroksida yang cukup kuat membersihkannya, kecuali peroksida 100% yang akan menghancurkan kainnya sekalian. Tapi Ia yang Maha Pemurah masih memberikan kesempatan bagi kita sehingga noda itu dihapuskannya. Sekarang, kain kita telah bersih – mari kita jaga agar jangan ternoda lagi!
Sunday, March 20, 2005
Bagian 5 – Kesimpulan : Allah, Sang Manager yang Agung
Bayangkan seorang yang dilahirkan buta, tanpa pendidikan sama sekali, tidak mungkin bisa baca tulis. Bertahun-tahun orang ini hidup terlunta-lunta, merasa dirinya dibebani dosa dan berada diluar kasih Allah. Tiba-tiba, sebagai ’Siloam’, Tuhan Yesus datang kepadanya dan menyembuhkan matanya dengan cara yang ajaib. Bertahun-tahun sesorang yang didera kebutaan ini sudah ditempa begitu hebatnya, sehingga kesembuhannya menjadi titik balik yang tidak pernah dibayangkannya sebelumnya!
Tetapi, cerita tidak berakhir disini, happy ending belum tiba. Sang pengemis yang sembuh ini, ternyata kemudian juga teguh mempertahankan imannya. Ia berani menantang Ahli Taurat dan kaum Farisi, walaupun penampilannya masih sebagai pengemis miskin. Entah darimana kata-kata yang keluar dari mulutnya, tetapi kita bisa melihat bahwa Tuhan tidak salah pilih: orang ini benar-benar memiliki keteguhan hati sekuat baja. Bahkan orang tuanya pun ragu-ragu, tetapi sang pengemis ini terus tanpa bisa dihentikan, melaju dengan berita tentang Firman Tuhan. Kualitas ini tidak dimiliki oleh semua orang, bahkan oleh Petrus sekalipun – Tuhan sudah memilih orang yang tepat!
Kemudian, orang ini lalu berkesempatan kembali bertemu Tuhan Yesus. Sekali lagi, Tuhan Yesus menguji imannya dan mendapatkan orang ini masih setia. Tentu saja happy ending belum tercapai, karena Ahli Taurat dan Kaum Farisi masih berdiri disana dengan kepala tegak dan sombong. Kemudian dengan perkataan terakhirnya, Tuhan Yesus menyindir dengan begitu elegannya dengan berkata: ”Sekiranya kamu buta, kamu tidak berdosa, tetapi karena kamu berkata: Kami melihat, maka tetaplah dosamu.”. Inilah happy ending yang ditunggu-tunggu! Ahli Taurat dan kaum Farisi hanya bisa bungkam seribu basa, sementara pengemis yang terbebas menjadi pengikut Yesus yang setia, dan Tuhan Yesus melangkah pergi tanpa bisa diganggu. And they lived happily ever after!
Cerita memang mudah saja dibuat, perumpamaan pun sangat gampang dituturkan. Tetapi, peristiwa yang terjadi dalam Yohanes 9 adalah peristiwa nyata, sebuah fragmen kehidupan dari seseorang yang benar-benar ada. Sang pengemis bukan rekaan, melainkan sungguhan, dan cerita inipun bukan perumpamaan. Disini kita melihat, bahwa meskipun sang pengemis sejak lahir mengalami penderitaan hebat, tetapi Tuhan sudah punya rencana sejak dia dilahirkan dengan kebutaannya. Semuanya, bahkan fakta bahwa ia mengemis di tempat dimana Tuhan Yesus lewat, sudah direncanakan dengan begitu detailnya. Inilah sebabnya mengapa Tuhan Yesus menggunakan kata ’Siloam – yang diutus’, karena sejak lahir, dengan segala kekurangannya, Allah sudah mempersiapkan orang ini untuk menjadi utusan Allah. Mungkin semuanya ini tak terbayangkan oleh sang pengemis, tetapi – begitulah indahnya rencana Allah – semuanya terjadi, indah pada waktunya!
Dengan perikop ini, kita dibuat untuk kembali memahami fakta bahwa Allah sudah menyiapkan suatu rencana bagi kita, semenjak kita lahir. Ini bukan berarti kita bisa bertindak pasif, karena menurut perkataan Tuhan Yesus pada Yoh 9:4 – ’kita’-lah – Tuhan dan saya – yang harus mengerjakan pekerjaan Tuhan. Kalau sang pengemis menyerah dan bunuh diri, atau sesudah melek lalu kabur seperti banyak penerima mukjijat lainnya, pastilah rencana besar ini tidak akan terwujud. Tetapi, Allah Yang Mahatahu tentu saja tidak sembarangan memilih orang!
Jadi, sebagai orang pilihan Tuhan, kita harus percaya bahwa sesuatu yang indah sedang direncakanNya untuk kita. Apapun masalah yang Anda hadapi – keuangan, karir, jodoh, keluarga, ekonomi, atau lainnya – hanyalah caraNya untuk menyiapkan kita, seperti kebutaan yang mendera sang pengemis sejak lahir. Tetaplah teguh, berjalanlah dalam iman! Pada saatnya nanti, akan tiba giliran Anda untuk membasuh diri Anda dalam kolam Siloam. Dan ingat – teguhlah pada saat ujian itu datang! Karena pada akhirnya nanti Tuhan Yesus akan menepuk punggung kita dengan bangga sambil berkata: ”Engkau bukan saja melihat Dia; tetapi Dia yang sedang berkata-kata dengan engkau, Dialah itu!” (Yoh 9:37)
Amin.
Bagian 4 – Yang Buta Melihat, Yang Melek Tidak Melihat
Orang Farisi yang tidak sadar akan kebutaannya, dan dengan keras kepala memegang prinsip dosa sebagai sebab dari kebutaan, kembali meninggikan dagunya sambil menyangkal (ayat 40). Seorang Farisi, turun-temurun taat pada Hukum Taurat, bagaimana bisa punya dosa, sehingga dijatuhi hukuman dan menjadi ’buta’? Jawaban Tuhan Yesus kemudian begitu tegas, lugas, dan tuntas: ’Sekiranya kamu buta, kamu tidak berdosa, tetapi karena kamu berkata: Kami melihat, maka tetaplah dosamu.’
Peringatan Tuhan Yesus ini ditujukan kepada kita semua yang mengaku ’melek’ rohani, ’melek’ Alkitab, dan ’melek’ Firman Tuhan. Kita tahu sendiri betapa seorang Farisi adalah ahli dalam masalah peraturan agama, tetapi begitu terpakunya pada aturan itu, sehingga mengabaikan cinta kasih dan kerendahan hati, yang justru menjadi dasar peraturan agama. Seringkali kita yang sudah beragama, justru kurang beriman. Kita begitu teguh berpegang pada aturan keagamaan kita sehingga lupa akan esensi dari peraturan tersebut. Banyak gereja yang melakukan hal ini, dengan memperkaya diri dan berlomba-lomba membangun gereja yang megah diantara pemukiman kumuh. Bukan berarti gereja harus selalu jelek, tetapi tidak bisakah gereja dibuat selaras dengan lingkungannya, dan tidak menjadi menara gading yang mengundang kebencian dan iri hati?
Kita yang sudah ’melek’ rohani justru memiliki tanggung jawab yang lebih besar. Jika seseorang ’buta’ rohani, maka bukan salahnya jikalau kelakuannya pun tidak baik. Tetapi dosa kita akan tetap, seperti yang Tuhan Yesus katakan, jika sudah ’melek’ rohani tapi justru tidak melakukan apa yang seharusnya kita lakukan. Panca indera yang dianugerahkanNya kepada kita juga mengandung tanggung jawab, yaitu penggunaannya harus sesuai dengan kehendakNya. Demikian pula iman dan pengetahuan rohani kita, justru harusnya membuat kita lebih sadar akan kelemahan kita dan mencoba menyelaraskan diri denganNya. Saya teringat kepada Romo YB Mangunwijaya almarhum, yang meskipun dengan label Katolik berhasil masuk ke kehidupan rakyat kecil, karena kesahajaannya dan kedekatannya dengan mereka. Toh, disini aturan agama menjadi tidak penting, karena Kasih Allah terwujud nyata dalam setiap lekukan asri pemukiman Kali Condet yang memenangkan penghargaan Aga Khan Award, suatu penghargaan arsitektur bagi dunia Islam. Indah bukan? Romo Mangun adalah seorang yang ’melek’ rohani dan ’melek’ kasih. Apakah Anda sudah ’melek’ rohani? Jika sudah, maka sekarang saatnya Anda mengingat akan kewajiban yang melekat padanya.
Monday, March 07, 2005
Yohanes 9 Bagian 3 - Bersaksi dengan Perbuatan
“Pak, tetapi PKI kan komunis? Kita kan beragama, mengapa Bapak mau ikut mereka?” tanya sang Jenderal yang masih keheranan.
”Nak, saya tidak peduli apa PKI itu komunis apa bukan. Yang jelas seumur hidup saya berhutang, lalu ketika PKI datang saya terbebas. Apapun juga yang dikatakan PKI, saya akan ikut!”
Ilusrtrasi diatas menggambarkan taktik PKI dalam melakukan penyebaran ideologinya, yang sebenarnya sangat bagus. Sadar bahwa ideologinya sulit diterima mentah-mentah, PKI menggunakan cara yang jitu – membuat targetnya merasakan langsung kehadiran PKI. Tanpa banyak pidato, tanpa banyak propaganda, cukup dengan niat tulus melunasi hutang, membelikan rumah, atau membayar uang sekolah, sudah cukup untuk membuat orang menerima PKI begitu saja. Karena jelas: manfaatnya sudah terasa!
Dalam perikop Yohanes 9, kita dapat mengamati hal yang sama pada sang pengemis yang buta. Karena kebutaannya, tentu saja orang ini juga tidak berpendidikan. Seorang pengemis lagi: pasti kumal dan miskin. Namun, sesudah sembuh, orang ini berkali-kali dengan tegas, bahkan lebih tegas daripada Petrus, mengakui kuasa Yesus yang menyembuhkannya (Yoh 9:13-34). Bahkan, di ayat 34, orang ini mampu memberikan jawaban yang membuat muka para Farisi yang terpelajar itu memerah, sampai ia diusir keluar. Bahkan orang tuanya sekalipun takut pada orang Yahudi – tetapi dia dengan gagah berani membela kesembuhannya di depan orang Farisi. Mengapa si pengemis buta bisa begitu teguhnya? Mengapa si kumal miskin ini begitu penuh hikmat berbicara di depan orang Farisi? Jelas – karena ia sembuh! Ia sudah merasakan manfaat dari kasih Kristus. Walaupun tanpa pengetahuan agama, tanpa latar belakang Taurat, ia dengan gamblang mengakui (Yoh 9:25), bahwa baginya semua itu tidak penting. Yang paling penting hanya satu: ia sembuh!
Banyak gereja yang melupakan prinsip ini ketika melakukan penginjilan atau menyebarkan Firman Tuhan. Yang dilakukan adalah dengan menegur orang dalam bis, di pasar, atau di mal. Disangkanya ketika mengatakan Firman Tuhan maka ada cahaya dari langit yang akan mempertobatkan orang yang tak dikenal. Kemungkinan itu memang ada, tetapi sangat kecil. Kemungkinan besar orang itu akan tersinggung dan malah antipati terhadap iman kita. Lalu caranya bagaimana? Sama seperti dalam perikop ini – buatlah orang itu merasakan manfaatnya! Berikanlah sesuatu – pakaian bagi yang telanjang, makanan bagi yang lapar, rumah bagi yang terlantar. Pastikan dahulu bahwa sebanyak mungkin orang merasakan manfaat langsung dari kekristenan! Baru kita bicara Firman Tuhan lebih dalam. Contohnya misalnya Ibu Theresa, yang bersedia berkorban demi melayani kaum miskin di Calcutta, India. Walaupun agama mayoritas di India adalah Hindu, tetapi Ibu Theresa dihormati oleh semua kalangan. Mengapa? Karena ia tidak berfokus pada penginjilan secara harafiah, melainkan memberikan kesempatan bagi masyarakat umum untuk merasakan kasih Allah yang dirasakannya, dan juga yang kita rasakan setiap hari, supaya masyarakat bisa merasakan sendiri manfaat dari kasih itu. Jika Sang Kasih itu sudah mengalir – siapa yang dapat menghentikanNya?
Yohanes 9 Bagian 2 : Siloam, "Yang Diutus"
Akhirnya, dengan mantap, kami memutuskan untuk tidak melakukan sesajen apapun selain mengundang pendeta dan mengadakan kebaktian di rumah. Kami pun juga berdoa setiap malam agar Simak sembuh. Beberapa keluarga sempat mencibir dan memvonis bahwa Simak pasti akan meninggal dalam hitungan hari atau minggu saja. Bahkan ada paranormal yang berani meramalkan tanggal Simak akan meninggal! Terus terang, melihat kondisi Simak yang sangat lemah, semua ramalam itu masuk akal.
Namun, dalam kelemahan itu, Tuhan menunjukkan kuasaNya. Percaya atau tidak, kondisi Simak kemudian membaik, dan beliau bertahan hidup setahun lagi, sebelum akhirnya meninggal dengan tenang dalam tidurnya, tanpa sakit penyakit. Satu persatu ramalan ’tanggal kematian’ Simak tidak terbukti, sampai perlahan-lahan kondisi Simak pulih kembali. Semua ritual, sesajen, ayam cemani, atau ramalan tanggal dari sang dukun sakti sekalipun, bungkam seribu basa di hadapan Allah: jika Ia belum memutuskan waktunya, waktu itu tak akan datang. Kami sendiri sulit percaya bahwa Simak bisa bertahan setahun sesudah sakitnya itu! Dengan kelemahan Simak, Tuhan sudah menunjukkan kuasaNya!
Begitulah seringkali Tuhan bekerja, yakni lewat orang-orang yang dianggap lemah dan tak berdaya. Dalam perikop Yohanes 9 ini, orang yang buta sejak lahir, seorang pengemis pula, digunakan Tuhan untuk menunjukkan kuasanya. Tetapi ada satu syaratnya: kuasa Tuhan baru bisa nampak jika dilakukan bersama, yakni Tuhan dengan kita sendiri. Dalam Yoh 9:4 Tuhan Yesus mengatakan bahwa ’kita’ harus bekerja, bukan hanya ’Dia’. Berarti, peranan sang manusia lemah juga penting dalam hal ini. Sang pengemis misalnya, memiliki iman yang teguh. Tidak seperti kebanyakan orang, ia dengan tegas mengakui kesembuhannya berasal dari Yesus (Yoh 9:9). Simak juga sama, beliau semasa hidupnya memiliki iman yang kuat, Alkitab selalu tidak pernah dilepas dari tangannya.
Tuhan sudah menyiapkan kita untuk rencanaNya. Adalah persoalan waktu saja, sampai tiba saatnya dimana Tuhan Yesus akan nemcampur ludahNya dengan tanah, mengoleskannya pada mata kita, dan menyuruh kita membersihkan diri di kolam Siloam (Yang diutus, Yoh 9:7). Mata kita pun akan dicelikkan – dan rencana AgungNya diwujudkan! Siapkah Anda?
Yohanes 9 Bagian 1 : Dosa siapa? Salah siapa?
Reaksi para murid untuk mencari siapa yang bertanggung jawab atas kebutaan si pengemis itu merupakan ‘penyakit’ yang sering juga menjangkiti kita. Jika terjadi musibah atau penderitaan, maka yang dicari adalah ‘salah siapa’, atau ‘siapa yang bertanggung jawab’. Dalam banyak kasus, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam kehidupan di tempat kerja, banyak sekali waktu, uang, dan tenaga disia-siakan utnuk sekadar mencari siapa yang bersalah. Si kambing hitam itu dicari dengan sepenuh tenaga, bahkan kalau perlu berbohong, sehingga dengan bangga kita bisa menunjuk mukanya dan berkata “Bukan saya Pak, itu salah dia”. Apakah dengan demikian masalahnya selesai? Problemnya terpecahkan? Tidak. Siapapun yang berdosa, si pengemis tetaplah buta. Siapapun yang bersalah, mesin produksi tetap saja rusak. Jadi, apalah gunanya mencari siapa yang salah? Lebih baik energi itu digunakan untuk mencari solusi, menemukan penyelesaikan untuk masalah yang terjadi.
Tuhan Yesus melakukan ini, yakni dengan tanpa tedeng aling-aling, tanpa menghakimi sang pengemis maupun nenek moyangnya, menyembuhkan mata sang pengemis itu. Ia memberikan solusi, Ia tidak membuang waktu untuk mencari siapa yang salah. Ia bahkan berkata, bahwa kebutaan sang pengemis diakibatkan oleh karena pekerjaan Allah yang harus dinyatakan dalam dia (Yoh 9:3).
Sampai sekarang, kita sering berpikiran sama dengan para murid Yesus. Ketika melihat seseorang yang terkena musibah, atau memiliki cacat sejak lahir, kita cenderung ’menghakimi’ orang tersebut dengan anggapan bahwa itu adalah ’karma’ akibat perbuatan seseorang. Inilah yang membuat sang penderita semakin sedih, karena tidak tahu apa yang dilakukannya sehingga ia menerima ’hukuman’ semacam ini! Tuhan Yesus dalam perikop ini menjelaskan dengan gamblang, bahwa tidak semua musibah yang menimpa seseorang diakibatkan oleh kutuk. Ada juga orang, seperti sang pengemis ini, yang memang memiliki cacat dengan tujuan supaya rencana Allah digenapi. Jadi, kebutaannya merupakan anugerah, bagian daripada rencana Allah untuk menyatakan kuasaNya. Kita sering mendengar tentang kisah Hellen Keller atau Fanny Crosby yang tuna netra, tetapi dalam kekurangannya kemudian menjadi kesaksian yang luar biasa bagi namaNya. Jika Tuhan punya rencana begitu indah untuk mereka, apalagi bagi kita, yang dianugerahi kelengkapan jasmani dan rohani. Pasti kita juga memiliki tempat dalam rencanaNya, memiliki andil dalam skenarioNya. Jadi, jangan rendah diri dengan kekurangan apapun yang kita miliki. Karena, seperti dibuktikan dalam perikop ini, Tuhan mampu mengubah kelemahan yang paling lemah sekalipun untuk menunjukkan kuasaNya!
Yohanes 9 - Perikop yang Unik dan Penuh Hikmat
Pendeta Jeffrey Rachmat dari JPCC menggunakan sebagian dari perikop ini dalam khotbahnya. Ketika saya baca lagi seluruh perikop ini di rumah, saya baru menyadari, bahwa cerita yang terdapat dalam Yohanes 9 ini sangat spesial. Berkali-kali membaca kitab Yohanes, baru setelah mendengar khotbah Pendeta Jeffrey mata saya terbuka, dan tiba-tiba aliran pemahaman dan pencerahan muncul dengan derasnya.
Perikop ini akan saya bagi menjadi beberapa bagian dan dibahas menurut tema tertentu. Selamat menikmati dan Tuhan memberkati!
-HarryHN-